Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
menunggu


__ADS_3

.


.


.


Bart Singh masih menunduk lalu beranjak pergi dengan cara melangkah mundur sampai keluar dari kamar Diana, Bart Singh menutup pintu kamar Diana dan berbalik pergi.


Cashel memandang kalung Diana, "bulan merah? apa maksudnya? apa aku bulan merahnya?". gumam Cashel menerka-nerka.


Cashel segera menghilang dan cahaya di kalung Diana juga redup sedangkan Diana masih terlelap walau lengan Ander tak lagi dipeluk olehnya.


.


Cashel tengah duduk sambil mencari-cari tentang Kalung Bulan Merah yang pernah disentuh olehnya.


"aku Cashel, bukan bulan merah". gerutu Cashel.


"iya kamu emang Cashel". Lionel muncul dengan penampilan rapinya.


"mau kemana?". tanya Cashel melihat penampilan Lionel sambil menaikkan sebelah alisnya.


"ckk.. aku bertanya kau malah bertanya balik". oceh Lionel lalu memilih langsung pergi meninggalkan Cashel yang mengangkat bahunya acuh.


Cashel melanjutkan pencariannya mengenai kalung misterius Diana yang tidak ada petunjuk di Internet, "haiiss...! sebenarnya apa misteri bulan merah itu? bukankah Bunda yang lahir di bulan merah? kenapa aku disebut tuan bulan merah?".


Cashel tidak menemukan apa-apa, saat ini Ia tidak ke kampus karna masalah besar tentang Eliziany berdampak pada para Dosen disana hingga mereka harus diliburkan selama beberapa hari.


Cashel berangkat ke tempat kerjanya.


Jone dan Jomes melihat kedatangan Cashel pun gelagapan sambil melihat kebelakang mencari Lionel yang tidak terlalu menakutkan, Cashel melihat gerak-gerik mereka berkata, "aku tidak tau dia kemana".


DeG...!!


seketika nyali Jone dan Jomes pun menciut, mereka berdua segera melakukan tugasnya masing-masing dengan pikiran yang sudah kemana-mana.


"kalian bisa tenang?". suara Cashel mulai terdengar dingin hingga Jone dan Jomes menoleh ke Cashel dengan pandangan bingung.


"kalian berisik sekali, aku tidak akan memakan kalian". ujar Cashel dengan dingin lalu melanjutkan pekerjaannya yaitu membuat menu baru.


kedua pekerja Toko itu saling melihat satu sama lain, mereka bertanya-tanya dalam hati sebab tidak tau mengapa Cashel berbicara seperti itu hingga Jone dan Jomes melompat kaget saat Cashel melempar salah satu sumpit ke arah mereka berdua, situasi menjadi menegangkan.


"sekali lagi pikiran kalian itu meribut aku akan buat kalian tertidur untuk selamanya". kata Cashel yang saat ini memang sedang sensitif karna tidak menemukan bukti tentang kalung Diana.


Jone dan Jomes pun tidak berani berbicara didalam pikiran, mereka lanjut bekerja dengan tangan gemetar serta kaki gemetaran.

__ADS_1


siang harinya,


"haii??". Lionel masuk ke Toko sambil tersenyum miring.


Cashel terlihat cuek saja sementara Jone dan Jomes berlari ke arah Lionel memegang tangan Lionel disisi kiri dan kanan hingga Lionel mengerutkan keningnya.


"Cash? kau apakan mereka berdua?". tanya Lionel ke Cashel sebab Lionel melihat kedua pria yang tengah memegang tangannya gemetar juga pucat pasi, dan tersangka utama nya adalah Cashel.


"mereka sangat ribut, mood ku sedang tidak baik". jawab Cashel dengan santai.


Lionel menghela nafas berat, "kan aku sudah bilang dia itu gila, dia tidak akan menggigit kalau kalian tidak mencari masalah". omel Lionel.


"ta.. tapi kami tidak mengatakan apapun bang". ucap Jone.


"iya tuan, tiba-tiba saja sumpit melayang ke kami, hampir saja kepala kami putus bang". sambung Jomes.


Lionel menggeleng-geleng kepala, "dia begitu karna kalian mengoceh dalam pikiran, kalian lupa aturan didepan?".


Jone dan Jomes seketika tersentak, "ha?".


Lionel menjelaskan aturan lamanya yang akhir-akhir ini mereka berhasil melaluinya tapi entah mengapa hari ini Jone dan Jomes melakukan kesalahan dengan mengoceh dalam pikiran.


"dia itu tiket emasnya madam, dia tau isi pikiran kalian". jelas Lionel singkat lalu melangkah pergi ke Ruang ganti, lucunya Jone dan Jomes mengikuti Lionel seperti anak ayam mengikuti induknya.


.


.


Toko telah tutup, Jone dan Jomes sudah naik ke lantai teratas yaitu menjadi kamar dan tempat tinggal mereka setelah selesai bekerja.


"ada apa Cash? kenapa kamu sangat sensitif?". tanya Lionel.


"kau lihat kalung bulan merah yang pernah aku pegang kak? kalung gadis cacat itu". tanya Cashel serius.


Lionel mengangguk, "iya aku ingat, emang kenapa?".


Cashel menceritakan semua yang membuat otak jeniusnya bercabang karna tidak menemukan jawaban.


"kalau begitu tanyakan pada Ayahnya, mengapa dia memanggilmu bulan merah". saran Lionel sambil mengangguk-ngangguk serius mencerna kata-kata Cashel.


"bukankah sudah jelas? aku lahir bukan dibulan merah Kak tapi Bunda yang lahir dibulan itu". ujar Cashel mengacak rambutnya.


Lionel memperhatikan Cashel, "kenapa kamu stres hanya karna kalung itu hmm? kalau memang tidak berbahaya kenapa harus dipusingkan?".


pertanyaan Lionel seketika membuat Cashel mematung ditempat, "iya juga, kenapa aku memusingkan kalung itu?".

__ADS_1


"nah itu dia, seharusnya aku yang bertanya seperti itu". kekeh Lionel merasa Cashel sudah benar-benar gila lalu Lionel hendak memakan Roti buatan Cashel namun Ia meringis seketika saat Cashel memukul lengannya.


"makan roti yang sana". tunjuk Cashel dengan ekor matanya.


Lionel melihat ke arah tatapan Cashel lalu menganga sambil membandingkan Roti disana dengan Roti yang ada didekat Cashel, "kau memberiku Roti yang cacat?". tanya Lionel.


"hmmm, tapi rasanya tidak cacat". jawab Cashel santai.


Lionel menggeleng kepalanya, "ckk.. mungkin itu yang kau suka dari gadis Cacat itu". gerutu Lionel sambil berjalan ke Roti yang bentuknya berantakan dan perkataan itu membuat hati Cashel tergelitik.


"tapi rasanya tidak cacat". beo Cashel pelan lalu memperhatikan Roti yang Ia buat untuk Gadis Cacat yang selalu Ia pikirkan.


Lionel melihat ke arah Cashel yang sudah tidak ada ditempat bersama Roti yang dibuat oleh Cashel tadi, Ia menggeleng-geleng kepala lalu tiba-tiba Lionel tertawa.


.


.


malam hari tepatnya di balkon Kastil tua,


"sedang apa kau dibalkon? apa kau tidak kedinginan?". tanya Cashel tiba-tiba muncul namun wujudnya tidak ada.


"Tuan Ander?". sapa Diana memutar kursi rodanya ke asal suara lalu meraba-raba ke arah depan karna pendengarannya yang tajam merasa yakin Cashel berada hadapannya.


Cashel melihat jemari lentik tangan Diana tengah meraba-raba ke arahnya, gadis itu tampak tersenyum seperti sedang menunggu kedatangannya.


Cashel terlalu hanyut dengan manik mata Diana hingga tiba-tiba ia terbelalak melihat Diana tersungkur dan ditimpa kursi rodanya sendiri.


"Diana?". Cashel membantu Diana kembali ke kursi rodanya.


Cashel tertegun melihat sudut bibir Diana berdarah tapi gadis buta itu tidak menangis malah tersenyum dengan pandangan kosongnya itu.


"maaf ya? aku tidak bisa menyambutmu dengan baik, aku tidak bisa melihatmu". ucap Diana dengan senyuman.


"kau ingin melihat dunia ini?". tanya Cashel.


Diana terdiam, "apakah bisa?". tanyanya balik.


"mudah bagiku tapi masalahmu terlalu menyebalkan, kamu akan dalam bahaya jika kamu sembuh total". kata Cashel.


Diana tidak mengerti, Cashel teringat kata-kata Bart Singh yang meminta dirinya untuk melindungi Diana sebab semua orang menginginkan tahta ini, itu sebabnya Diana menderita seperti sekarang.


"tapi aku akan membuatmu bisa melihatku walau hanya sebentar". kata Cashel menggenggam tangan Diana yang menghangat hatinya mendengar perkataan Cashel.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2