Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
kesederhanaan


__ADS_3

.


.


.


"Nonaaa?." pekik Irina seketika melihat Diana masuk ke Rumah Sederhana milik Lionel.


Diana tersenyum lebar dan kemunculan Eka membuat Irina semakin senang, Cashel? dia ke Rumah Jessica dan Rey yang tak jauh dari Rumah Lionel dan Irina.


Irina mendekati Diana dan Eka, mereka berpelukan bertiga dengan gembira.


"Irina dimana Tuan Lionel?." tanya Eka was-was.


Irina tertawa lebar melihat Eka dan Diana celingukan seperti seorang pencuri saja.


"Kak Lionel sedang pergi bekerja, dia sedang buka Usaha Kuliner." jawab Irina membuat Eka dan Diana lega.


Eka mulai menyerocos gemas akan tempat tinggal Irina, sedangkan Diana mengangguk-ngangguk setuju perkataan Eka. Irina sangat malu saat kedua temannya itu iri dengan kehidupan sederhana nya.


"Kak Lionel sangat baik hati, walaupun hidup kami disini sederhana tidak punya tetangga lain tapi aku bahagia." kata Irina dengan senyuman mengelus perutnya.


"benar itu..! aku sangat senang kamu menikah Kak jadi aku bisa mengikuti Nona Diana kemana saja dia pergi.. wleeekkk!!" Eka menjulurkan lidahnya karna tidak terima dibuat iri jadi membuat iri Irina.


mereka berdua sangat dekat padahal tidak lama juga berteman, Iri sudah biasa tapi jika dengki itu tidak terbesit sedikitpun diantara pertemanan mereka.


Irina mengerucutkan bibirnya dan Diana mencubit pipi kedua pelayan setianya itu.


"kalian ini tetap menjadi temanku walaupun sudah punya Keluarga." kata Diana dengan gemas lalu mereka tertawa bersama.


"aku dengar kamu hamil Irina? apa benar?." tanya Diana memastikan.


Irina dengan ekspresi malunya memegang perutnya dan mengangguk pelan, "iya Nona."


"baguslah..? aku juga hamil." jawab Diana dengan bangga.


giliran Eka yang mereka ledek tapi gadis manis itu tidak mendengarkan mereka malah mata nya tampak mengedar, Eka begitu suka dengan desain Rumah Irina sederhana jauh dari masyarakat.


"apa enak tidak punya tetangga Kak?." tanya Eka penasaran.

__ADS_1


Diana menoleh ke Irina, "aku juga tidak punya tetangga, mansion Asiantama terlalu luas tapi aku punya banyak teman seperti para pelayan dan Keluarga yang sayang padaku." Diana menjawab sembari menatap Irina.


Irina tersenyum lebar, "awalnya aku takut juga Nona jika punya tetangga karna Kak Lionel sangat keren dan tampan memiliki Istri dengan kasta rendah sepertiku aku takut dia direndahkan, tapi lama-lama aku nyaman tinggal disini tanpa tetangga."


Eka manggut-manggut, "memang suasana nya sangat tentram dan asri."


Eka dan Diana diajak berkeliling Rumah Sederhananya bersama Lionel, betapa takjubnya mereka ternyata ada Ruang bawah tanah yang sangat luas padahal dari Luar Rumah itu terlihat kecil dan biasa saja tapi interiornya megah di bawah tanah.


"waaahhh...!! kalau aku pasti betah di dalam Rumah terus Kak." heboh Eka.


Diana tertawa saja mendengarnya, memang Rumah Irina dan Lionel sangat megah dibawah tanah.


sebenarnya Lionel selalu tidak nyaman meninggalkan Irina yang sedang mengandung tapi Irina pengertian menjelaskan betapa bahagia nya Ia satu atap dengan Lionel, Lionel semakin tergila-gila saja pada gadis pelayan yang manis serta menggemaskan itu.


.


"ini dapur atau istana?." pekik Eka.


"aku juga berkata seperti itu pada Kak Lionel tapi dia selalu bilang kalau aku suka masak jadi membuat Dapurku bernuansa pink-silver, aku sangat terharu dan semakin betah disini." jawab Irina.


Diana memandang dapur Irina dengan takjub, "aku baru tau kamu suka masak Irina, kenapa tidak bilang?". tanya Diana.


Irina tersenyum, "sebelum kita bertemu dengan Pangeran Kita Nona, aku selalu memasak untuk Nona di Dapur karna Para Pelayan menjauh saat saya masuk alasannya takut terkena kesialan." jawab Irina pelan hingga mencicit.


Diana tertawa melihat wajah mereka berdua terlihat sedih seakan Diana adalah Nona yang suka tersinggung akan sesuatu.


"aku baik-baik saja..! kamu Irina adalah sahabat baik aku dan aku senang kamu memiliki Pria yang sangat mencintaimu sedangkan kamu Eka? aku tau kamu hanya belum mengenal aku, kamu datang ke Kastil kami sebagai Pelayan Elizia sudah jelas kamu harus menurutinya kan?." Diana.


Irina dan Eka memeluk Diana dengan erat lalu memuji Diana yang punya hati begitu lembut.


tak berapa lama kemudian mereka masak bersama dan Cashel masuk ke Rumah Lionel seperti Rumah sendiri bersama Jessica juga Rey, mereka sudah tau letak sudut Rumah Irina tentu tau dimana keberadaan Irina yaitu dapur.


mereka bertiga terkekeh melihat Diana, Irina dan Eka tampak asik membuat masakan, ketiga perempuan cantik itu begitu ribut seperti emak-emak dipasar jual ikan saja.


Cashel begitu gemas melihat Diana sebagai tukang cicip makanan, wanita nya itu malah keasikan makan hingga Irina mengomel-ngomel membawa lari makanan yang dipegang Diana.


"apa kami boleh ikut makan?." tanya Jessica.


"Ehh?." Eka, Diana dan irina seketika terbelalak baru menyadari ada orang lain disana.

__ADS_1


"tenang saja..! disini tidak ada kasta jangan anggap kami seperti tamu tapi KELUARGA!" tegas Rey.


alhasil mereka makan bersama-sama, tak lupa Irina menyimpan beberapa makanan untuk sang suami nanti pulang Kerja, tidak ada yang keberatan akan hal itu sebab Irina selalu saja mengutamakan Lionel diatas keinginan Irina sendiri, itulah alasan utama Lionel semakin menyayangi Istrinya begitu juga mertuanya.


.


Cashel mengajak Diana ke dalam hutan, Diana sampai gemetar memeluk lengan Cashel dengan erat melihat sekeliling banyaknya kucing Caracal yang ukurannya sangat besar persis seperti macan besar.


"jangan takut..! mereka terlihat garang tapi sebenarnya mereka sangat imut sepertimu sayang." kata Cashel menggoda.


"imut dari mana? aku tidak punya taring seperti kucing-kucing itu, mulutnya besar sekali mungkin bisa menelan kepalaku." cerocos Diana.


Cashel tergelak, "aku akan hilangkan taring mereka jika berani menggigitmu sayang." kata Cashel.


Diana memekik pelan memeluk Cashel semakin erat saat salah satu Caracal mendekatinya, "B.. Beb? ja.. jauhkan dia." gagap Diana.


Cashel mengelus kepala hewan itu hingga Diana membuka matanya lalu memutar kepalanya ke arah hewan itu yang tampak lucu di belai oleh Cashel, Diana memberanikan diri menyentuh kepala hewan mengerikan itu.


seketika Diana melebarkan senyumnya, Ia tergelitik saat yang lainnya juga saling menyeruduk satu sama lain minta dielus oleh Diana yang hatinya sangat murni.


"masih takut?."tanya Cashel lalu Diana menoleh ke Cashel tertawa ceria.


Cashel mengecup puncak hidung Diana perlahan rangkulan Diana di lengan Cashel terlepas, Ia mengelus-ngelus semua hewan itu dengan riang.


Cashel mengibaskan tangannya seketika banyak ayam rebus di sekitar Diana, sepertinya Cashel sudah merencanakan semua ini.


"ahahahaha!! pelan-pelanlah..! aku tidak merebut makanan kalian." pekik Diana kegelian.


Diana didorong-dorong oleh sekumpulan hewan itu seperti melarang Diana ikut andil mengambil makanan pemberian Cashel hingga Diana tiba disisi Cashel yang langsung merangkul pinggang Diana dan mengecup pelipis Diana yang tampak gembira melihat sekumpulan hewan itu.


"mereka sangat lucu Beb..! apa kamu sudah biasa memberi mereka makan seperti ini?." tanya Diana melihat ke arah Cashel sesekali.


"hmm! habitat mereka kami jaga, Pulau Nethal seperti Rumah kedua bagiku sedangkan bagi Kak Lionel Rumah pertama baginya."


"oh yaa?." Diana tampak antusias mendengar cerita Cashel.


"aku berlatih mengendalikan kekuatan disini." jawab Cashel.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2