
.
.
.
"sebenarnya kamu bukan manusia ya?". tanya Diana penasaran.
Cashel melihat sudut bibir Diana yang masih berdarah lalu Ia memegang luka Diana, seketika luka itu sembuh tanpa jejak, Diana? Ia bahkan tidak tau kalau bibirnya berdarah.
"menurutmu?". tanya Cashel balik lalu Diana mulai mengendus-ngendus.
"apa kamu bawa makanan?". tanya Diana.
Cashel menoleh ke sudut meja yang usang, Ia memang meletakkan Roti sempurna yang Cashel buatkan untuk Diana disana, Cashel heran padahal Diana tidak bisa melihat tapi mengapa Cashel bersusah payah membuat Roti yang cantik tanpa cacat.
"iya". jawab Cashel.
.
Irina masuk ke Kamar Diana sambil tersenyum namun tiba-tiba Ia memekik melihat sebuah Roti melayang ke arah Diana dan Diana malah mengunyahnya.
Diana kaget sementara Cashel tidak kaget hanya menatap datar Irina padahal Pelayan Diana itu tidak bisa melihat wujudnya.
"Nona...? Nonaa?? a.. ada hantu?". pekik Irina.
"buk.. bukan, dia temanku". kata Diana sambil tersenyum meraba-raba dan berhasil memegang bahu Cashel.
Cashel melihat ke tangan Diana lalu pandangannya beralih ke Diana.
"apa salahnya jika aku berteman dengannya? dia sangat baik bisa menyembuhkan suaraku". senyum lebar Diana.
Irina merasa ngeri melihat sekeliling tidak ada siapapun, "Nona..? anda jangan bercanda mau berteman dengan hantu".
"aku bukan hantu". ujar Cashel.
"aaahhhh". jerit Irina seketika Cashel membuat Pelayan Diana itu tertidur.
"Irinaaa?". panggil Diana.
Cashel menghela nafas panjang, "Pelayanmu berisik sekali".
"tapi dia baik-baik saja kan?". tanya Diana cemas.
"hmm.. aku tidak membunuhnya". jawab Cashel membuat Diana lega.
Bruuukkkhhh..
Diana terlonjak kaget mendengar pintu dibuka dengan paksa, Eliziany berjalan dibantu para pelayan sebab luka cambuk di tubuhnya belum pulih, Cashel membuang nafas panjang ada saja gangguan.
"aku benar-benar tidak tau kalau semua itu akan terjadi, aku bermimpi Diana terluka Ayah". kata Eliziany dengan raut wajah yang begitu khawatir.
__ADS_1
"Putri Diana?". panggil Bart Singh.
"Ayah?". sahut Diana.
semua Pelayan, Pengawal dan Eliziany sendiri terkejut melihat Diana baik-baik saja.
Bart Singh melihat sekeliling lalu matanya mendapati Irina yang pingsan, Ia mendekati Diana dengan raut wajah cemas dan seketika Bart menghela nafas lega melihat kalung Diana bersinar yang artinya Bulan Merahnya sedang berada disisi Diana.
"lihat kan Ayah? Diana pasti terluka, buktinya Pelayannya pingsan". Eliziany memainkan perannya sebagai kakak yang baik.
Diana mengerutkan keningnya, "aku baik-baik saja Ayah, aku tidak akan membuat nama Ayah tercoreng". ujar Diana dengan senyuman.
"suaramu sudah kembali Putri?". tanya Bart tanpa mendekati Diana sebab Ia yakin Bulan merah Diana ada disamping Diana walau tidak bisa melihat wujud Pria itu.
"sudah Ayah". jawab Diana lagi.
semua orang celingukan melihat sekeliling, Eliziany terkejut menyadari kamar Diana masih rapi dan bersih.
"apa semua itu tidak berhasil?". batin Eliziany.
"Ayah..? aku benar-benar tidak sengaja Ayah, saat itu aku ingin Diana menjadi adikku tapi dia memintaku untuk mencambuknya setelah itu dia akan menjadi adikku, aku tidak tau bagaimana semua itu terjadi Ayah". Eliziany berurai air mata.
Diana diam saja karna Ia sudah biasa mendengar drama Eliziany yang membuatnya tampak seperti adik yang sangat jahat padahal dialah si Kepala Ular dengan Ekor Rubah yang sebenarnya.
Cashel mengerutkan keningnya mendengar perkataan Eliziany, "dia benar-benar menjijikkan". batin Cashel.
"cukupp....!!". Bart Singh melirik tajam ke Eliziany.
"Ayah? apa Ayah akan seperti ini? kenapa Ayah berubah?". tanya Eliziany berkaca-kaca.
"Ayahh??". protes Eliziany.
"diammmm!!". suara Bart menggelegar.
"Ayah? bagaimana bisa dia dipanggil Putri Ayah? dia akan mencoreng nama baik Ayah". protes Eliziany akhirnya sedikit membuka topengnya.
Bart diam saja lalu menoleh ke Diana, "Putri? kamu harus istirahat ya? jaga bulan merahmu baik-baik, Ayah akan keluar ! maafkan Ayah yang mengganggumu". kata Bart dengan lembut.
Diana berkaca-kaca padahal Ia tidak tau siapa bulan merahnya tapi perhatian Bart membuatnya terharu, sedangkan Eliziany tidak terima melihat Bart memperlakukan Diana dengan lembut padahal dulu Bart memilih membuang muka.
Bart Keluar dari Kamar Diana disusul oleh Pengawalnya, tinggallah Eliziany dengan Pelayannya.
"heiii... Gadis Cacat? apa yang kau lakukan pada Ayah hah? kenapa Ayah berubah lembut padamu?". bentak Elizia dengan marah.
Diana menggeleng kepalanya, "mungkin Ayah sudah tau kalau kamu jahat". ujar Diana.
"sial*n...! sepertinya aku harus memberimu pelajaran ya? kau pikir aku akan bertindak baik walau statusku di copot hah? hanya karna status itu lepas dariku bukan berarti kau menjadi Putri mahkota lagi Cacat". kata Elizia mendekat ke Diana dengan segala kemampuannya.
Eliziany begitu marah dengan Diana yang berhasil mencuci otak Ayahnya, Elizia bahkan tidak peduli dengan luka di tubuhnya selagi bisa membuat Diana menderita.
"huaaahhh?? ". Cashel menguap lebar.
__ADS_1
hening seketika,
"heii.. jelek silahkan kau kembali sebelum aku melemparmu ke udara". kata Cashel.
Pelayan Eliziany menatap sekeliling kamar Diana, Elizia melangkah mundur seketika melihat situasi.
"2 orang suruhanmu itu tidak berguna, silahkan pergi sebelum aku membuat topengmu itu lepas, apa pelajaran yang aku berikan tidak membuatmu jerah ya? sepertinya aku harus menggantungmu seperti hari kau mengumpat di udara waktu itu". kata Cashel.
Eliziany bergetar seketika, "s.. si.. siapa kau?".
"malaikat mautmu". jawab Cashel.
"akkkkkkkkhhh". Eliziany lari terbirit-birit keluar kamar Diana sampai bertabrakan dengan para Pelayannya sendiri, darah bekas cambuknya kembali mengalir tapi rasa takut sudah menguasai segalanya hingga sakit fisik tidak terasa lagi olehnya.
Diana terdiam, "apa saat itu juga perbuatanmu Ander?". tanya Diana teringat akan sesuatu.
"saat itu yang mana?". tanya Cashel dengan malas.
"kenapa nada bicaramu seperti itu? apa kamu benci padaku?". tanya Diana berubah sedih.
"bukan, aku tidak mengerti dirimu Diana! kenapa kamu diam saja diperlakukan seperti itu oleh wanita ular kepala 3 dengan ekor rubah bercabang itu?". Cashel.
Diana yang tadinya sedih tersenyum seketika, "hewan seperti apa itu?". tanya nya pelan.
"ya seperti dia". jawab Cashel.
Diana tertawa kecil hal itu tak luput dari pandangan Cashel, suara Diana saat tertawa menggelitik hati Cashel seperti ada air segar yang menyiram tumbuhan di hatinya.
"tapi aku dengar Elizia sangat cantik". kata Diana sembari tersenyum.
Cashel mendekati Diana hingga gadis itu terbelalak saat hidung Cashel bertabrakan dengan hidung mungilnya.
"kamu jauh lebih cantik". kata Cashel dengan bisikan khasnya.
Diana mengerjab-ngerjab, "A.. Ander..?". Diana tergagap.
"hmm? maaf, kamu cantik saat tertawa". Cashel menjauhi Diana hal itu membuat kening Diana mengkerut.
"kenapa setiap aku bersamamu aku teringat dengan temanku Cashel?". tanya Diana merasa heran.
Cashel tersentak kaget mendengarnya, "apa maksudmu?".
"entahlah, aku merasa kalian memiliki hal yang sama". kata Diana sambil menyibakkan rambutnya kebalik daun telinganya.
Cashel membuang muka melihat leher Diana,
"suara kalian berbeda tapi cara bicara kalian sama, bahkan dari segi meminta maaf". jelas Diana.
"Instingnya kuat sekali". batin Cashel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
.
__ADS_1
.
.