
.
.
.
"bukankah kamu bisa ilmu penutup raga? coba ikuti dia tapi jangan gunakan kemampuanmu untuk melihatnya tidak berpakaian". ujar Lionel.
Cashel termenung mendengarnya sedangkan Lionel geleng-geleng kepala, memang benar jatuh cinta bisa membuat siapapun menjadi gila tidak memandang gelar seseorang.
Cashel pun langsung mencari tau tempat tinggal Putri Diana tapi mencari tempat tinggal seorang keluarga kerajaan memang sulit, Cashel kini menyembunyikan raganya dan tidak ada yang bisa melihatnya hingga Ia melihat mobil mewah milik Putri Eliziany yang pernah Cashel lihat.
"dia pasti kembali". gumam Cashel mengikuti mobil itu dengan cara terbang dan duduk bersila diatas mobil itu.
Cashel mengepalkan tangannya seketika mendengar ocehan pelayan Eliziany yang mengatakan bahwa Diana sedang meregang nyawa.
"bodoh sekali Aku..! seharusnya aku sadar lebih cepat". batin Cashel.
setibanya di sebuah Kastil megah berlapis emas menjulang tinggi, Cashel mengikuti Eliziany yang dihormati oleh siapapun hingga sampai ke kamar mewah.
"dimana Diana? kenapa wanita lampir ini kesini? apa ini kamarnya?". batin Cashel.
Cashel keluar dari kamar Eliziany, tidak ada minat sedikitpun bagi Cashel menemui Eliziany selain ingin melihat Diana saja.
"huuh..! hidup menjadi Tuan Putri sangat menyenangkan". senyum bahagia Eliziany lalu membalik tubuhnya menjadi telungkup.
Cashel cukup kewalahan mencari setiap sudut kamar di Kastil megah itu tidak ada tanda-tanda keberadaan Diana hingga tiba-tiba Ia mendengar perkataan salah satu pengawal yang melaporkan yang Mulia akan menjenguk mantan Putri Mahkota.
tak lama kemudian Bart Singh datang dengan baju kebesarannya, Ia adalah sosok Raja yang sangat dihormati dan kini berjalan cukup jauh hingga Cashel beberapa kali harus mengumpat dalam hati tempat tinggal Diana mengapa jauh sekali.
Bart Singh memandang bangunan kastil tunggal dihadapannya yang kumuh, berantakan, tidak ada tumbuhan sama sekali dan Cashel yang menebak semua itu pun seketika membelalak tak percaya.
"Raja bodoh". kata Cashel dengan geram.
Bart Singh seketika menghentikan langkah kakinya membuat para pengawalnya kebingungan, Bart Singh melihat sekeliling merasa mendengar sesuatu sedangkan Cashel sudah terbang ke Kastil yang dilihat Bart Singh tadi dan tiba dibalkon Kastil tempat tinggal Putri Diana.
Cashel mendekati Irina yang menangis pilu menggenggam tangan Diana yang wajahnya kian memucat, hal itu membuat tangan Cashel mengepal kuat, mata Elangnya kini menyala-nyala seperti bara api yang siap membakar siapapun yang menghalanginya.
__ADS_1
"Nona bangunlah Nona..! Nona sudah berjanji tidak akan meninggalkanku". ujar Irina dengan tangis kerasnya.
Irina seketika menghentikan tangisnya mendengar seruan pengawal yang mengatakan Raja akan masuk, Irina menatap benci ke arah pintu kamar usang Diana.
"kenapa Raja bodoh itu harus kesini? kenapa harus Nonaku yang menderita? kenapa tidak dia yang mati". geram Irina dengan sesegukan terpaksa Ia bangkit dan berjalan tertatih-tatih ke arah pintu kamar.
Cashel mendekati Diana dan bisa melihat wajah Diana sangat pucat, "Diana?". bisik Cashel.
Diana yang tadinya tenang seperti bersiap akan kematiannya seketika terusik dengan suara itu, kalung yang Diana pakai bersinar yaitu warna darah yang pekat.
pintu terbuka dan Cashel menatap tajam ke arah rombongan itu, kini Ia terpaksa menjauh dengan cara terbang ke udara dan memperhatikan pemandangan itu.
"kalung itu?". gumam Bart Singh tak sengaja melihat kalung bulan merah milik mendiang Istrinya bersinar di leher Diana.
Irina seketika berlari ke arah Diana dan menutupi kalung itu seperti memberi tau bahwa Bart Singh tidak boleh merampas kalung peninggalan Ratu terdahulu di leher Nona nya.
Bart Singh mengangkat tangannya saat para pengawal hendak membunuh Irina yang begitu berani menepis tangan Bart Singh saat ingin menyentuh kalung Diana, Bart Singh melihat sekeliling.
"Apa belahan jiwanya sudah ditemukan?". batin Bart Singh.
Cashel tidak peduli pikiran Bart Singh hingga Ia mulai geram lalu mengibaskan tangannya dan pintu usang kamar Diana terbuka-tertutup, para pengawal berusaha menahan pintu itu tapi tidak bisa malah mereka terlempar kesana-kemari.
Irina melihat sekeliling tidak mengerti, sebab selama ini tidak pernah mengalami hal aneh seperti sekarang.
"ayo kita keluar!". ajak Bart Singh.
para pengawal tidak tau apa pun menuruti Raja mereka saja, pintu itu masih bergerak-gerak mengusir siapapun yang ada didalamnya.
"cepat kau keluar juga". titah Bart Singh ke Irina.
Irina mengabaikannya masih menggenggam tangan Diana, Ia tidak peduli dengan perkataan Raja nya itu malah Irina terus saja menangis meminta Diana untuk bangun.
Bart Singh ingin menarik Irina keluar tapi tiba-tiba ia melayang ke luar Kastil bersama para bawahannya dan mendarat tak elit di luar Kastil bukan lewat pintu lagi melainkan Cashel melempar mereka semua lewat balkon, tapi Cashel tidak membunuh.
.
Cashel membuat Irina tertidur dan memindahkan gadis itu di sofa lusuh dengan cara diterbangkan, "kenapa aku jadi begini? apa yang salah denganku". geram Cashel merasa marah melihat ketidakadilan yang menimpa Diana.
__ADS_1
Cashel mendekati Diana lalu keningnya menyatu di kening Diana beberapa lama hingga cahaya putih terpancar diantaranya, Cashel memejamkan matanya tidak melihat kalung Diana juga kedap-kedip (cahaya warna merah menyala dan meredup).
"aku minta maaf terlambat menyadarinya". bisik Cashel akhirnya mengerti bahwa Ia tidak terima Diana memilih mati.
perlahan Diana membuka matanya dan sorot matanya yang kosong bersitatap dengan mata Violet Cashel, Cashel berdebar melihat tatapan itu dan Diana masih sama dengan tatapan kosong yang tidak ada semangat hidup.
"kenapa aku masih hidup?". batin Diana meraba wajahnya sendiri hingga Cashel menatap dalam-dalam sorot mata kosong yang menginginkan kematian itu.
"kamu tidak akan mati". bisik Cashel dengan suara berat membuat bola mata Diana membelalak seketika.
"s.. siapa kamu?". Diana meraba-raba ke arah depan karna ia yakin suara itu ada atasnya tapi tidak menemukan apa-apa.
"aku sudah menyembuhkan suaramu". kata Cashel lalu menghilang ditelan angin.
Diana memegang lehernya seketika, "su.. suaraku? suaraku?". gumam Diana semakin terbelalak.
"aaaaakkkkkkkkkhhhhh......!! ". jerit Diana melengking seketika membuat semua orang melihat ke arah Kastil itu dan Irina pun terbangun.
"Siapa ituu?". teriak Irina melihat kekiri dan kekanan tapi tidak ada siapapun.
"Irinaa? suaraku?". Diana memanggil Irina.
Irina sontak saja melihat ke arah kasur dan terduduk lemas mendengar suara Diana, "N.. Nona? N.. Nona?".
Diana menangis, "suaraku telah kembali". kata Diana memegang lehernya seperti benda berharga yang tidak boleh lepas.
.
Kabar Putri Diana yang suaranya telah kembali pun cepat menyebar di area Kastil sampai ke telinga Bart Singh yang berdiri dari duduknya.
"artinya tadi itu suara Diana, akhirnya belahan jiwanya telah ditemukan". Bart Singh akhirnya tersenyum untuk pertama kalinya.
selama ini Bart Singh memang tutup mata dan telinga mengira ramalan dulu bohong belaka sebab sudah bertahun-tahun lamanya keajaiban itu belum datang pada Putrinya, sekarang suara Diana telah kembali yang artinya ramalan itu benar dan Diana akan sembuh total.
.
.
__ADS_1
.