Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
memenuhi


__ADS_3

.


.


.


Diana tidak mengindahkan gosip para pelayan itu sebab dirinya tidak berpikir Cashel menyukainya, mana Diana yakin jika Cashel itu jatuh Cinta pada gadis cacat yang tidak memiliki status sepertinya.


"Diana?". panggil Elizia.


Diana menoleh ke Elizia yang tengah tersenyum manis padanya sembari melangkah ke arah Diana.


"apa Pria yang bersamamu malam itu Tuan Cashel mu? hm..? hantu yang menyembuhkanmu". tanya Elizia memegang kedua tangan Diana dengan pandangan lembutnya.


Diana menganggukkan kepalanya, "dia memang Cashel, kenapa Elizia?". tanya Diana memperhatikan wajah Elizia yang pasti banyak maunya.


Diana sudah tau malam itu Elizia berusaha memanggil Cashel dan itu sungguh mengganggu Cashel.


"hmm...?". Elizia terlihat bingung mau bicara dari mana.


Diana menghela nafas lalu memperingati Elizia untuk tidak memanggil Cashel lagi betapa terkejutnya Elizia melihat Diana yang tau bahwa dirinya memanggil Cashel.


"dia tidak suka dipanggil Elizia karna dia punya banyak kesibukan". ujar Diana lagi.


"lalu kamu? kenapa kamu bisa memanggilnya? bukankah dia sibuk?". tanya Elizia sambil tersenyum tapi hatinya sangat dongkol pada Diana yang terlihat sombong mentang-mentang memiliki Cashel.


"aku tidak memanggilnya tanpa alasan saat itu Kak Lionel memintaku memanggilnya demi menguji ajarannya, aku tidak akan memanggilnya lagi kalau dia tidak datang sendiri". jawab Diana.


"jangan kamu kira semua orang itu sama, Cashel tidak suka dimanfaatkan olehmu Elizia jadi ku peringatkan sekali lagi jangan memanggilnya". kata Diana dengan tegas lalu meninggalkan Elizia yang mengepalkan tangannya melihat kepergian Diana.


"anak itu sangat sombong, berani-beraninya dia mengancamku padahal Tuan Cashel bukan kekasihnya". geram Elizia.


Elizia menyibakkan rambutnya sambil tersenyum sinis lalu berkata dengan bangga bahwa dirinya akan merebut Cashel dari Diana sehingga gadis itu tidak akan berani berbicara begitu lagi pada Elizia.


"mana mungkin aku melepaskan Tuan sehebat itu, selain kuat juga sangat tampan bahkan mengalahkan Pangeran Deniel". Elizia berusaha menenangkan diri untuk tidak terpancing emosi.


Elizia sibuk mencari cara mendekati Cashel tanpa gangguan oleh Diana sementara Bart diam-diam mulai menyingkirkan Para pejabat yang dahulu berpihak pada Elizart dan pasti sekarang masih berpihak pada anaknya Elizart yaitu Elizia.


.


ke esokan harinya (sore hari).


"acara apa?". tanya Diana menoleh ke Irina yang baru saja datang membawa sebuah Undangan dari Keluarga Deniel.


"saya tidak tau Nona". jawab Irina memberikan Undangan yang ada ditangannya ke Diana.

__ADS_1


Diana membuka isi Undangan itu dengan kening mengkerut, "apa tujuannya? bukankah hubungan kami sudah terputus".


"apa perlu saya tolak Nona?". tanya Irina penasaran.


Diana menggeleng kepalanya pelan, "ini bukan kuasa kita Irina, jika kita menolak nama baik Ayah akan menjadi ancaman dan bisa saja terjadi peperangan".


Irina membelalakkan matanya, "kenapa bisa seserius itu Nona? bukankah Nona hanya tidak datang bukannya mengacau di Istana mereka".


Irina sangat tidak terima penjelasan Diana tentang hukum itu.


"kamu lihat undangan ini warnanya emas Irina, artinya ini undangan sangat penting". Diana memperlihatkan kartu undangan yang Irina.


Irina terperangah mengetahui hal itu lalu meminta Diana untuk membawa Cashel ke acara itu.


"benarkah?". tanya Diana dengan ragu.


Irina mengangguk, "lagian Nona bukan memanfaatkan kekuatannya tapi meminta pertolongannya sebagai teman lelaki yang lelaki manapun bisa melakukannya, Nona harus ingat kalau Nona tidak boleh berpegangan dengan Pria manapun".


"kalau begitu kita ke Kontrakannya". Diana berdiri dari duduknya.


Irina tersenyum saja mengikuti Diana yang punya kuasa penuh memanggil Cashel tapi Diana malah mendatangi Cashel.


.


di Kontrakan Cashel,


"Diana?". Lionel mendekati Diana dan Irina yang tadi tampak berdebat antara mau masuk atau tidak.


"Kak?". Diana kikuk melihat Lionel.


Lionel melihat gerak-gerik Diana dan Irina pun segera membawa kedua gadis itu masuk ke Kontrakannya.


"Cashel??? ada Diana". teriak Lionel.


Diana gelagapan saat Lionel berteriak memanggil Cashel.


"Dianaaa?". sahut Cashel turun dari lantai atas dengan jubah mandi dan sempat kaget melihat Diana.


awalnya Cashel mengira Lionel berbohong saja sebab Ia tidak ada janji dengan Diana hingga Gadis itu datang secara tiba-tiba ke Kontrakannya.


"Diana?? ada apa?". tanya Cashel melangkah mendekati Diana.


Lionel melihat penampilan Cashel memandang datar Pria itu, "apa lagi masalah kamar mandimu?". tanya Lionel.


"lebih dekat dari tempat olahraga mu". jawab Cashel santai.

__ADS_1


Lionel segera menarik Irina pergi menaiki kamarnya, Irina awalnya tidak mau ditarik oleh Lionel tapi kekuatan Irina sangat kecil dibanding Lionel yang punya kekuatan Super.


Cashel membawa Diana ke Kamarnya dan meminta Diana untuk menunggunya berganti pakaian, gadis bermata biru gelap itu dengan patuh mengangguk sambil membuang muka saat Cashel melepaskan jubah mandinya memperlihatkan ototnya yang kekar tapi masih memakai celana pendek.


"aahh?". Diana kaget saat Cashel tiba-tiba mengecup pipinya.


"kenapa? aku suka sekali melihat muka merahmu ini saat kaget". Cashel menoel-noel hidung Diana juga mencubit pipi Diana.


Diana melihat Cashel tidak memakai baju pun melihat arah lain, "ken..kenapa tidak pakai baju?". tanya Diana dengan gugup.


Cashel melihat tubuhnya sendiri, "kenapa? aku kan lelaki jika kamu mau lihat saja, aku tidak keberatan". seringai Cashel dengan sangat santainya.


Diana berdehem beberapa kali sebab akhir-akhir ini Cashel sangat berbahaya selalu saja menggodanya padahal Diana sudah tau kalau Cashel adalah Pria berbahaya yang bisa membuat perempuan kehilangan akal sehatnya.


Cashel tersenyum melihat Diana yang mengalami perubahan, "jangan tekan hatimu Baby..! cintaiku dan aku akan membahagiakanmu". batin Cashel mengulum senyum tampannya.


Diana melirik Cashel sesekali sambil memberitau keinginannya kepada Cashel, Cashel meletakkan keningnya di bahu Diana.


"kenapa bicara seperti itu saja susah sekali hmm?". tanya Cashel dengan gemas.


Diana terbatuk-batuk saja dengan perkataan Cashel, "a.. aku keluar ya?".


Cashel lalu mengangkat pandangannya hingga mata mereka berdua bertemu namun dengan cepat Diana bangkit dan keluar dari Kamar Cashel sambil berlari kecil, hal itu membuat Cashel tertawa.


malam harinya,


Cashel menemani Diana ke Undangan Keluarga Deniel tapi Cashel tidak menunjukkan wujudnya, Cashel terpaksa memperlihatkan wujudnya saat dipintu pemeriksaan Diana tidak diizinkan masuk walau beberapa kali Diana mengatakan bahwa Ia datang dengan seseorang.


"ehh?".


para penjaga seketika gemetar melihat penampakan itu, Diana menarik tangan Cashel masuk ke Istana Keluarga Deniel sedangkan Irina bersama Lionel berada di luar sambil menunggu pasangan itu keluar dari Istana itu.


masuk ke Istana sangat ketat harus ada Undangan dan juga berpasangan.


"maaf ya Cash..? aku jadi membuatmu terekspos". ucap Diana dengan nada merasa bersalah.


Cashel tersenyum, "tidak apa..! 3 bulan lagi aku selesai kuliah disini dan pada akhirnya semua orang akan tau kalau aku Cashel Alexander Asiantama".


Diana terdiam, "apa kamu akan pergi setelah 3 bulan?". tanya Diana terlihat dari sorot matanya yang seolah tidak ingin Cashel pergi darinya.


Cashel tersenyum sungguh tampan, "kamu mau ikut denganku ke Indonesia?".


Diana hendak menjawab tapi mendengar panggilan seseorang membuat mereka berdua menoleh ke asal suara.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2