Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
mendengar


__ADS_3

.


.


.


hening...!!


"kenapa diam?". tanya Diana meraba-raba ke depan.


Cashel mengeluarkan kalung Diana yang panjang, Diana terkejut lalu meraba-raba kalungnya.


"apa itu kalung mistis?". tanya Cashel serius.


Diana menganggukkan kepalanya,


"kalung ini peninggalan Ibundaku, katanya kalung ini akan memberi kebahagiaan untukku". Kata Diana tanpa binar dimatanya seolah kepercayaan itu hanya dongeng semata, Diana menjaga kalung itu karna satu-satunya peninggalan Ibunya.


Cashel menaikkan sebelah alisnya, "siapa makna bulan merah yang dimaksud ibumu? apa kamu tau?". tanya Cashel.


Diana menggeleng kepalanya, "aku tidak tau, tapi mungkin Ayahku tau".


Cashel mengetuk-ngetuk meja usang didekatnya, "Ayahmu tau ya?".


"ada apa?". tanya Diana mengelus kalung bulan merahnya tapi Diana sudah tidak tau warna nya saking lama nya Ia tidak bisa melihat.


Cashel menghilang tanpa izin pada Diana, Diana memanggil Ander tapi tidak ada sahutan membuatnya diam karna menebak Pria itu sudah pergi.


"ada apa dengan kalungku? kenapa dia bertanya kalung ini?". gumam Diana memainkan kalungnya dengan pandangan kosongnya.


.


Cashel kini ada di Ruangan Rapat Bart Singh, Pria itu tampak masih gagah dengan caranya membaca petisi-petisi rakyat.


Cashel tersentak kaget seketika melihat Bart Singh tertawa, "kenapa dia tertawa sendiri?". batin Cashel.


"akhirnya penderitaan anakku berakhir juga, sudah cukup lama aku menjadi boneka para pejabat itu dan aku sudah lelah pura-pura tidak tau dengan apa yang menimpa anakku". gumam Bart Singh sembari tersenyum.


kekuasaan dinilai orang adalah hal yang paling tertinggi dan paling berkuasa hingga bisa melakukan apapun sesuka hati, tapi kenyataannya tidak menjamin ketentraman hidup sebab setiap manusia memiliki sifat tamak nya sendiri.

__ADS_1


demi menyelamatkan hidup Putri Diana, Bart Singh memang berpura-pura acuh dengan keadaan anaknya itu tapi sejak melihat kalung bulan merah Diana bersinar membuatnya bangkit dan bersemangat, selama ini Bart Singh tidak peduli dengan kedudukannya tapi hanya Diana saja yang membuatnya harus bertahan menjadi boneka para pejabat.


"dasar raja bodoh..! dia memang bodoh". batin Cashel akhirnya mengerti mengapa Bart Singh berpura-pura tidak tau dengan apa yang menimpa Putrinya.


Cashel bergidik ngeri seketika melihat Bart Singh yang tadi tertawa terbahak-bahak kini menangis tersedu-sedu dengan bahu bergetar, Pria itu seperti baru saja lepas dari penjara bawah tanah yang sangat menyesakkan.


Cashel berbaring di udara sembari menunggu Bart Singh selesai dengan kegilaannya, Ia sampai tertidur seperti ayam beberapa kali saking lama nya menunggu Bart Singh yang belum selesai juga dengan kegiatan aneh bin ajaibnya itu.


"siapa disana?". tanya Bart Singh merasa diawasi.


"akhirnya sadar juga". ujar Cashel membuat Bart Singh melihat ke atas tapi tidak ada siapa-siapa.


Cashel pun memijakkan kaki di karpet merah Bart Singh, "aku ingin bertanya satu hal, bukankah kau yang menyapaku Tuan Bulan Merah? kau memintaku melindungi putrimu kan?".


Bart Singh berdiri dari kursi kebesarannya dan meletakkan petisi penting, Ia melepaskan jubahnya dan berdiri disamping Kursinya sambil membungkukkan badannya.


"bagus juga..! ternyata kau tidak takut padaku". kata Cashel dengan senyum miringnya.


"saya akan jelaskan apapun yang Tuan inginkan asalkan Tuan mau menunjukkan diri". kata Bart Singh dengan sopan.


Cashel terdiam beberapa saat, "apa kau tidak percaya padaku? kalian memuja hal mistis bukan?".


Bart Singh menjelaskan kepercayaannya dan ingin memastikan bahwa Cashel memanglah manusia seperti ramalan yang Ia percaya bahwa sosok bulan merah untuk anaknya akan datang dari Indonesia, itu sebabnya mereka semua bisa berbahasa Indonesia bahkan sangat lancar.


Cashel mengibaskan tangannya sehingga wujud aslinya terlihat jelas, melihat sepasang sepatu didepan Bart Singh dengan gerakan lambat Bart Singh menaikkan pandangannya hingga matanya bisa melihat paras Cashel yang seperti dewa, Bart Singh bisa melihat mata Elang Cashel berwarna Violet.


"terimalah salam hormat saya yang mulia". Bart Singh bersimpuh didepan Cashel hingga Cashel menguap lebar.


"aku tidak butuh salammu, cepat beritau aku". titah Cashel.


Bart Singh meminta Cashel untuk duduk di Singgasana nya tapi Cashel tidak mau karna Ia tidak mau membuang waktu.


Bart Singh menyiapkan teh untuk Cashel, sungguh aneh tapi Bart Singh memang sangat menghormati Pria didepannya ini sebab sudah lama di tunggu-tunggu kedatangannya hingga Bart mau menyerahkan tahta nya, tapi berdasarkan ramalannya Cashel sangat berkuasa hingga tidak butuh tahta melainkan Kekasih hatinya saja.


"ckk...! aku memperlihatkan wujudku padamu bukan untuk minum teh dari tanganmu". kata Cashel dengan dingin.


"baik Tuan, silahkan Tuan bertanya apapun itu". kata Bart Singh yang tidak mau membuang waktu Cashel lagi.


Cashel bertanya tentang kalung itu, Bart Singh menceritakan semua dari awal tanpa ada yang di tutupi hingga raut wajah Cashel berubah-ubah.

__ADS_1


.


"jadi kau tau aku akan datang?". tanya Cashel yang akhirnya mendapatkan semua jawaban yang sebelumnya membingungkan nya.


"benar yang mulia". jawab Bart Singh.


Cashel mengangguk-nganggukkan kepala, "aku memang bisa menyembuhkan Putrimu dengan sekejab mata jika aku mau tapi kalau Cinta? aku rasa kalian salah, aku hanya kasihan padanya". jelas Cashel.


Bart Singh hanya menundukkan kepala, Ia tidak mau membuat Pria didepannya marah karna berdasarkan penggambaran sifat ramalan dari Istrinya, Cashel sangat Arogan mengakui hatinya, Dingin, Tidak punya Hati, dan suka berbuat apapun tanpa memikirkan konsekuensi.


.


Ke esokan harinya.


di Kamar Diana,


"Nona?". panggil Irina membawa sarapan untuk Diana.


"Irina?". sapa Diana berbalik dan itu membuat Irina tersenyum lebar karna Nona nya bisa berbicara kembali.


"kemana dia ya? kenapa dia tidak datang lagi?". tanya Diana dengan pandangan kosongnya.


Irina menghela nafas panjang lalu berkata bahwa Diana tidak boleh berharap pada sosok bebas seperti yang Diana katakan, orang yang bisa menghilang kesana-kemari tanpa kendaraan adalah sosok yang suka kebebasan.


"iya juga". gumam Diana tersenyum kecut.


Diana menjalani kesehariannya di Kastil bersama Irina.


sementara Eliziany meringkuk di Kamarnya masih sedikit trauma memikirkan sosok hantu yang berkeliaran di sekitar Diana.


"a.. aku harus pikirkan sesuatu supaya hantu itu berpihak padaku, ta. tapi bagaimana caranya?". bisik Elizia celingak-celinguk.


Elizia mendengar pembicaraan Diana dengan Irina saat Ia diam-diam datang ke Kastil Diana namun menguping dibalik pintu, Eliziany sampai membekap mulutnya tak percaya bahwa Diana bisa berbicara karna sosok hantu itu, tentu jiwa serakahnya meronta-ronta tapi masih memiliki rasa takut.


"jika hantu itu berpihak padaku maka aku bisa menjadi putri mahkota lagi, tapi bagaimana caranya? apa aku harus membunuh Diana? aku bahkan tidak bisa melihat hantu itu, pasti dia selalu mengikuti Diana". gumam Elizia.


Eliziany mengacak rambutnya dengan frustasi, Ia tidak tau sejak kapan Diana punya peliharaan berupa hantu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2