
.
.
.
waktu terus berlalu hingga hari keberangkatan Tyara pun tiba, semua orang telah bersiap mengantar Tyara ke Bandara kecuali yang sedang sibuk mengurus Baby Lion juga Baby Kembarnya Diana dan Cashel.
"sayangg?? dek Dylon sama dek Tasya tunggu Aunty cantik ya?." gemas Tyara yang merasa berat meninggalkan sikembar sementara Ia harus lanjut Kuliah.
Eka dan Diana tersenyum lebar melihat Tyara yang berpakaian simpel sudah memakai tas sandang tapi masih sempatnya berlarian menuju Baby kembar serta berpamitan pada keponakan lucunya itu.
"heii! disini rupanya." Cashel mendengus melihat Tyara tengah nangkring dipinggir tempat tidur Bayi.
"bentar Kak..! selama 2 tahun aku nggak lihat si kembar." oceh Tyara.
Cashel mendekat ke Tyara yang sibuk menciumi kening Tasya sedangkan Dylon masih menggeliat saja di tempat tidurnya, Cashel berubah sumringah menggendong Putranya.
alhasil mereka terlalu hanyut dengan kedua baby lucu itu hingga Dewi Par menjemput serta mengomeli Tyara yang bisa saja ketinggalan pesawat, mau tidak mau Tyara harus berpisah dari Keponakan kecilnya yang lucu bahkan Ia ingin sekali melihat bayi lucu itu membuka mata.
"Kakak Ipar? Tyara pergi ya? jaga Keponakan Tya dengan sangat baik." kata Tyara dengan penuh drama.
Diana terkekeh bersama Eka yang tak sungkan tertawa karna Ia sudah dekat dengan Tyara yang tak memandang rendah pekerjaannya.
"dasar aneh..! ya iyalah Diana akan melakukannya, yang kamu bilang Keponakan lucumu itu darah dagingnya, tentu saja dia akan menjaga anaknya." omel Dewi Par.
"Ohh... Keponakan Kembarku!! jangan lupakan Aunty sayang-sayangku." kata Tyara semakin dramatis hingga Dewi Par menyeret lengan gadis cantik penuh drama itu.
Cashel melihat Diana tertawa selepas itu merasa gemas tiba-tiba saja Ia mengecup bibir Diana dan berlari meninggalkan Kamar Baby kembar, Diana mematung lalu memutar kepalanya ke Eka yang tertawa cekikikan semakin merah saja wajah Diana.
"dasar tidak tau malu..! udah jelas ada Eka disini." batin Diana menggerutu.
Cashel mendengarnya sudah pasti tertawa lalu wajahnya kembali datar saat Tyara menatap sengit dirinya, Tyara merasa kesal saja pada Cashel menemukannya di kamar Sikembar padahal jika ketinggalan pesawat pun tidak masalah sebab Tyara bisa menghilang.
.
__ADS_1
Bubby tidak mengantar Rara sama sekali hanya mengantar adiknya, Ia tentu memikirkan Adiknya dari pada Rara yang jelas Ibunya Rara akan dalam pengawasan Bubby. sedangkan Rara tidak mungkinlah berani meminta Bubby mengantarnya, memangnya siapa Rara bagi Pria sempurna seperti Bubby?
setelah mengantar Tyara ke Bandara, Bubby tidak pulang bersama dengan Keluarganya malah pergi ke Rumah Sakit menemui Ibunya Rara.
"permisi..! ada Pasien atas nama Ibu Lily?." tanya Bubby dengan ramah.
"sebentar ya Tuan Muda." jawab Suster ramah terkesan malu-malu.
"cepetan ya?." pinta Bubby dibalas anggukan semangat oleh perawat itu.
Bubby memang ramah tapi banyak perempuan yang salah faham padanya karna suka padahal Bubby orangnya memang jahil dan usil, suka sekali menjahili siapa saja yang diajak bicara olehnya.
"terimakasih!" ucap Bubby tersenyum ramah lalu melenggang pergi.
perawat itu menyibakkan rambutnya merasa Bubby tertarik padanya, percaya diri sekali Ia padahal niat Pria jahil itu tidak pernah seperti itu emang dasarnya saja Ia jahil.
Bubby mencari nomor kamar yang Ia dapatkan lalu masuk tiba-tiba saja kaget melihat Kamar itu kosong.
"Loh..? dimana Pasiennya Sus?." tanya Bubby masuk ke Ruangan Inap kelas Ekonomi itu.
"haiissh..! kenapa aku harus bicara sama perempuan bisu." batin Bubby segera celingukan dan meninggalkan perempuan itu yang belum sempat berbicara.
Bubby memejamkan matanya mencari keberadaan Ibunya Rara itu lewat bau khasnya hingga Ia menemukan tempatnya, "Ok..! rupanya dia buru-buru pulang." gumam Bubby tersenyum tampan dan berlari dengan langkah lebar lewat jalan belakang.
ditempat yang sepi Bubby menghilang dan muncul dihadapan seorang wanita yang terlihat sangat kurus.
"aaah." pekik Wanita itu kaget melangkah mundur melihat Bubby.
"Violet?? apa ini Keturunan Keluarga Asiantama? kenapa tiba-tiba muncul disini? apa salah tempat?." batin Ibu Lily penasaran.
"halo ibu Lily? kenalkan nama saya Bubby Lealexander Asiantama, temannya Rara." sapa Bubby dengan sangat ramah jauh dari kesan Pria Kaya yang dikenal Kejam serta sombong.
"Ehh? te.. teman?." Lily tampak syok melihat Bubby dari ujung kepala sampai ujung Kaki mana mungkin Pria sempurna seperti Bubby berteman dengan anaknya yang bisa dikatakan Upik Abu.
Bubby menjelaskan semuanya sambil menuntun Ibu Lily duduk, betapa sedihnya Lily dan hendak bersimpuh pada Bubby demi mengucapkan rasa terimakasih. Bubby tentu menahannya karna Ia tidak suka ada orangtua yang tunduk padanya kecuali memang orang itu bersalah.
__ADS_1
"kalau begitu tolong ikut saya ya Bu? Apartemen saya dekat dengan Rumah Sakit, anda bisa terapi setiap hari di Rumah Sakir jika mau." kata Bubby tapi Ibu Lily menolak ke RS dan Bubby pun meminta Ibu Lily terapi biasa saja di sekitar Apartemen berjalan tanpa alas kaki.
Bubby mengantar Ibu Lily ke Apartemennya, Pria seramah dan sesabar Bubby tentu bisa membuat siapapun percaya padanya. jika Cashel? mungkin harus ada ancaman atau terpaksa baru bisa bawa Ibu Lily.
"ini Kamar Rara Bu..! tolong pekerjaan ibu jangan terlalu berat ya? dan saya mohon jangan Keluar dari Area Apartemen ini supaya selamat dari suami Ibu." kata Bubby.
"apa dia masih hidup Tuan?." tanya Ibu Lily seperti benci dengan suaminya sendiri.
dulu saat bangkrut suaminya memang main jud*, sekali menang tapi saat ketagihan selalu kalah hingga beberapa kali Ia harus dijadikan budak na*su rekan Kejamnya hingga berakhir sakit keras bahkan Lily ingin mati saja, tapi demi sang Putri harus bertahan.
"hmm..? saat saya cari tau sehari yang lalu Dia masih ketar-ketir dikejar kawanannya, biasalah main jud* pasti harus ada yang dipertaruhkan apa lagi tidak punya apa-apa." Bubby.
"Terimakasih Tuan sudah mau menyelamatkan Putri Saya, pasti hidupnya menderita sekali jika Tuan tidak membantunya." Ibu Lily menangis membayangkan anaknya yang hampir menjadi jal*ng pria brengs*k.
Ibu Lily terima nasib malangnya menjadi jal*ng karna ulah suaminya sendiri tapi tidak bagi Putrinya, masa depan Putrinya dipertaruhkan jika sampai menjadi jal*ng dimasa muda, mereka sebagai orang miskin tidak ada yang lebih berharga dari mahkota kehormatan itu sendiri.
"tenang saja..! Putrimu aman di sana, jangan mengatakan pada siapapun kalau Putrimu sedang melanjutkan sekolahnya di Luar negri." kata Bubby.
.
malam hari,
Bubby pulang ke Mansion dan kaget melihat Crystal tengah menunggu kepulangannya.
"kemana saja sayang? Bunda baru sadar akhir-akhir ini kamu sering pulang larut malam." Crystal mendekat sambil mengelilingi Putra bungsunya bukan anak bungsu (Tyara).
"hehe..! Bunda?." cengir Bubby.
Crystal memicingkan curiga, "apa kamu main di Kelab Malam?."
"tidaaakkk!!!!" jawab Bubby kencang lalu meminta maaf pada Crystal karna menjawab terlalu keras.
.
.
__ADS_1
.