Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
berpikir


__ADS_3

.


.


.


Elizia semakin menggila saja saat ini, Diana yang hendak memasuki acara pemakaman kecil Elizart yang statusnya telah jatuh dan nama baiknya juga hancur seketika ditahan oleh Cashel.


"ada apa?". tanya Diana menoleh ke Cashel dengan pandangan polos.


"apa kamu tidak tau kalau orang itulah yang menghukum Irina". bisik Cashel.


Diana membulatkan matanya, "masa seorang pejabat Be mau melakukan hal itu? setau aku dia hanya mau berurusan dengan bangsawan bukan Irina dari kalangan biasa".


Cashel membawa Diana pergi dan kembali ke Kastil Kamar Diana, "biarkan saja ya? aku tidak mau ular kepala 3 ekor rubah bercabang itu mencakar-cakar wajahmu lagi". peringatan Cashel.


"tapi dia ibuku, aku harus melihatnya walaupun dia kejam apa kata rakyat nanti? mereka bisa salah faham lagi padaku". bela Diana.


Cashel membenarkan juga dan pada akhirnya membiarkan Diana mengantarkan Elizart ke tempat peristirahatan permanennya, Diana menjauh saja dari Elizia sebab Diana tidak mau membuat saudara tirinya itu semakin stres saja melihatnya, Eliziany sangat membenci Diana.


Elizia tidak melihat Diana tapi Para Pelayan tau bahwa Diana datang dengan cara sembunyi-sembunyi seperti seorang pencuri, ada sebagian para pelayan Elizart merekam situasi itu demi keuntungan pribadi, Elizart selama hidupnya tidak pernah berbuat baik pada Pelayannya jadi tidak ada yang sedih dengan kematian Elizart selain Putri Kandungnya sendiri.


segala pujian terlontar lagi untuk Diana yang diam-diam mendatangi pemakaman Ibu Tirinya yang jahat bahkan tidak mau bertemu dengan Elizia demi menghargai Elizia yang pasti menggila nanti jika melihat Diana yang sudah sembuh menjadi halangan terbesar Elizia menduduki tahta.


.


di Kamar Cashel,


Diana diam sambil menatap lurus kedepan, tampaknya Cashel belum memberi izin Diana pulang ke Kastil Tua nya itu sebab masih belum aman.


"Nona?". panggil Irina.


Diana menoleh dan tersenyum ke arah Irina, "bagaimana keadaanmu Irina?".


"terimakasih Nona sudah merawat saya". ucap Irina malu-malu yang baru tau dari Lionel kalau selama berbaring Diana lah yang merawatnya padahal Irina hanya seorang Pelayan rendahan.

__ADS_1


Diana menggeleng kepalanya, "aku yang minta maaf, aku tidak tau mengapa Cashel menyembunyikanmu tapi aku yakin kamu terluka parah kan?".


"hanya retak tulang saja Nona". jawab Irina dengan senyuman tidak mau Diana bersedih hati karna luka yang Irina alami sudah Irina tebak akan terjadi saat tangannya begitu berani memposting semua rekaman Elizart.


Irina merasa sudah siap mati tapi Cashel malah meminta Lionel menjaganya hingga Ia pulih ditangan Pria kekuatan super itu.


Diana tersenyum memeluk Irina dengan lembut Irina bertanya apa yang menjadi beban pikiran Diana saat ini.


"aku hanya tidak tau kenapa Bunda dan Pejabat Be bisa melakukan hal itu sampai meninggal dunia". keluh Diana.


Irina sudah tau kebenaran itu dari Lionel yang minta Irina menjaga rahasia itu sampai kapanpun, alasan Lionel memberi tau Irina supaya gadis itu tenang dendam dan rasa sakitnya terbalas, tapi Irina bukan senang karna rasa dendam akan luka di tubuhnya melainkan senang karna berkurang 1 orang yang menyakiti Diana dulu.


"kalau itu saya tidak tau Nona, ada baiknya Nona harus cepat menikah biar tau". jawab Irina dengan malu-malu.


Diana seketika merona mendengar perkataan Irina yang malu-malu, tentu saja Diana malu saat diminta menikah biar tau melakukan hubungan itu.


"siapa yang mau menikah denganku Irina?". tanya Diana sambil menangkup kedua pipinya yang terasa panas.


"pasti ada Nona misalnya Tuan Cashel". jawab Irina tanpa di blur membuat Diana membulatkan matanya.


"marah? kenapa Nona?". tanya Irina juga berbisik.


"aiihh... sudahlah, kenapa aku harus bicara denganmu yang tidak tau soal perasaan yang tau mengkhayal saja". kekeh Diana merasa lucu melihat ekspresi Irina.


Irina tak terima memukul kasur Cashel hal itu makin membuat Diana tertawa memperlihatkan gigi putihnya yang rapi.


.


Diana diam-diam memperhatikan Cashel yang belajar dengan sangat baik.


"kemarilah !". pinta Cashel tanpa menoleh sudah tau kalau Diana penasaran akan yang dilakukan Cashel.


Diana gelagapan, "Cash..? aku tidur di Sofa saja ya? aku tidak mau tidur di Ranjangmu lagi, aku tidak enak padamu karna aku hanya bisa merepotkanmu saja".


Cashel melihat Diana berdiri dan berlari hendak keluar kamarnya tapi tiba-tiba Diana memekik dengan kemunculan Cashel didepannya hingga Diana menabrak tubuh kekar Cashel.

__ADS_1


"mau lari kemana? kalau kamu tidak mau merepotkanku berarti kamu mau kita tidur bersama di Ranjang kecil itu?". tanya Cashel tersenyum tipis melihat wajah merah Diana.


Diana menggeleng-geleng kepalanya, "aku akan tidur diluar saja".


"aku tidak sekejam itu membiarkan gadis tidur di sofa sementara aku sebagai lelaki malah berbaring di ranjang empuk". kata Cashel sambil melangkah mendekati Diana yang terus saja melangkah mundur dan mundur.


Diana sampai bersandar di dinding kamar Cashel yang memang tidak luas tapi sangat mewah dibanding ukuran anak Kos di Indonesia.


"C.. Cash?". Diana menundukkan pandangannya saat Cashel semakin mendekatinya padahal jelas Diana sudah terkunci saat ini.


"Diana?". panggil Cashel seketika Diana mendongakkan pandangannya bertemu dengan bola mata Cashel yang unik dan sangat langka.


Diana yang tidak tahan bertatap mata dengan Cashel segera melihat arah lain bahkan kini Ia mencoba berputar arah sehingga berhadapan dengan dinding lebih baik baginya dari pada bertatapan dengan Cashel.


Cashel hanya memperhatikan saja Diana yang masih menghindar darinya seolah masih ada jarak diantara mereka berdua, Ia menghela nafas panjang.


"dia belum menyukaiku sebagai lawan jenis". batin Cashel menebak lalu berbalik pergi meninggalkan Diana yang masih kebingungan menghadap dinding.


"ada apa dengan Cashel? kenapa dia seperti itu? apa dia sengaja menggodaku? mentang-mentang tampan, bukankah aku ini temannya?". gerutu Diana.


Cashel duduk di Sofa luar sambil melanjutkan tugasnya, sepertinya Cashel bisa mendapatkan gelar S3 lebih cepat dari perkiraan mungkin sekitar 5 bulan lagi padahal jika diperkiraan masih lama kalau hitungan normal.


"bagaimana caranya biar dia juga menyukaiku sebagai lawan jenis?". gumam Cashel malah tidak bisa fokus dengan tugasnya.


Cashel menoleh ke arah Kamarnya yang didalamnya ada Diana, "apa dia tidak tau kalau aku ini bulan merahnya? kenapa dia tidak menyukaiku sebagai lawan jenisnya?". gerutu Cashel.


Cashel malah protes dengan apa yang Diana lakukan tadi saat bertatapan dengannya, jika Diana langsung memeluknya atau memegang rahangnya mungkin sudah terjadi hal romantis tadi tapi Diana malah berbalik karna tidak mau bertatapan lama-lama dengan Cashel.


Cashel memegang bibirnya yang terakhir pernah menempel dengan bibir Diana yang memiliki garis bibir yang cantik dan tidak terlalu tebal juga tidak terlalu tipis, Cashel sudah membayangkan mereka akan berciuman tadi pasti lezat sekali rasanya bibir Diana itu.


"haissh...? apa kau fikir bibirnya makanan?". Cashel memukul kepalanya sendiri yang berpikir bibir Diana lezat.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2