Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
Putri Awan


__ADS_3

.


.


.


akhirnya mereka tiba juga di kawasan kampus,


"setiap hari minggu aku akan naik sepeda saja". gerutu Lionel sambil memijit pangkal hidungnya.


"hmm". jawab Cashel melenggang pergi meninggalkan Lionel yang geleng-geleng kepala.


"entah siapa yang mau hidup dengan Pria itu". gumam Lionel berjalan ke arah lain sebab kelas mereka berdua berbeda.


Mobil mewah yang membawa Diana dan Irina tiba juga di tempat biasa, Kursi Roda keluar dengan kasar.


"aahhh". Diana meringis tanpa suara saat tubuhnya diangkat paksa lalu di jatuhkan lebih kasar dari sebelumnya di kursi Rodanya.


"apa kau gila hah? apa kau mau aku laporkan pada Yang Mulia?". teriak Irina dengan bahasa Inggris.


si Pengawal mengabaikan saja malah mendorong Irina hingga pelayan pribadi Diana terjatuh dan tangan serta siku nya lecet, sementara yang mendorong langsung masuk mobil dan pergi tanpa merasa bersalah.


"Irina...? Irina...?". panggil Diana tanpa suara sambil merentangkan tangannya meraba-raba Pelayannya, Diana mendengar pelayannya terjatuh.


"saya tidak apa Nona". Irina merangkak ke arah Diana dan menyambut tangannya.


"Nona tidak apa-apa? apa ada yang sakit Nona?". tanya Irina dengan suara bergetar.


Diana menggeleng kepalanya seolah menjawab dirinya tidak terluka, Diana berusaha membantu Irina berdiri sebab Ia hanya memiliki Irina yang selalu setia padanya walau diperlakukan tidak adil sejak bersamanya.


sebenarnya ini bukan pertama kalinya Diana diperlakukan seperti ini, Ia memang sudah biasa dianggap sampah dan hama tapi jujur saja Diana tidak mau orang sekitarnya terluka karna dirinya termasuk Irina.


"Nona..? maafkan saya yang tidak bisa menolong Nona". lirih Irina memeluk Diana dengan sedih.


Diana mengelus punggung Irina dengan raut wajah cemas memikirkan luka Irina, ia tidak bisa melihat sehingga tidak tau seberapa parah luka Irina.


"Tuhannn...! ku Mohon...! aku tidak minta apapun untukku tapi aku hanya minta engkau Berikan Nona-ku Kebahagiaan supaya bisa bebas dari derita nya". batin Irina menangis sesegukan.

__ADS_1


Diana semakin khawatir, Ia mengira Irina menangis karna luka nya yang sangat sakit tanpa Diana ketahui bahwa hati Irina lah yang sakit sehingga gadis itu menangis memeluknya.


Diana melepaskan pelukannya dengan Irina, "maafkan aku Irina..! karna kamu bersamaku, kamu jadi diperlakukan tidak baik". kata Diana dengan bahasa isyarat.


"tidak Nona..! saya senang melayani Nona yang baik hati". jawab Irina dengan sesegukan.


"lalu kenapa tangismu tidak berhenti? apakah kamu menangis bukan karna terluka?". tanya Diana lagi dengan pandangan kosong tak lupa dengan bahasa tangan.


"Nona..? saya menangis karna hati saya sakit melihat Nona diperlakukan dengan kasar padahal Nona adalah Putri Tunggal dari mantan Ratu pertama, Nona adalah Putri Mahkota walaupun status Nona sudah di copot setidaknya mereka masih menghormati Nona sebagai Tuan Putri". jelas Irina.


Diana menghela nafas lega ternyata Irina tidak terluka seperti yang ia pikirkan, Diana tidak berharap apapun terhadap hidupnya selain ingin mati saja.


"ayo kita pergi..!". ajak Diana menggenggam tangan Irina dengan gerakan bibir saja.


Irina menghapus air matanya lalu berdiri berjalan sedikit tertatih ke belakang kursi roda Diana, dengan hati-hati Irina mendorong Kursi Roda Diana sambil berkaca-kaca.


begitulah keseharian Diana, Ia tidak pernah bisa bernafas lega dari namanya derita dan segala penderitaan, ada saja masalah yang menimpanya hingga Diana lupa kapan terakhir kali Ia tersenyum apalagi tertawa, kapan Ia diperlakukan layaknya manusia normal.


.


di tempat lain,


"bagaimana pertanyaan saya sebelumnya? apa anda menemukannya di Internet?". tanya Cashel tersenyum miring membalik kata-kata Dosen itu dengan bahasa Rusia sebab si Dosen dari Rusia.


merasa di rendahkan akhirnya Dosen itu berdehem meminta Cashel kembali duduk, beruntung Mahasiswa/i didalamnya tidak ada yang tau bahasa mereka.


Cashel kembali duduk dengan tenang, para Mahasiswa/i yang lain hanya memandang heran saja apa yang Cashel katakan hingga Dosen mereka tidak jadi memulangkan hasil tugas Cashel padahal jelas tadi dosen mereka mengatakan Cashel menjiplak dari Internet.


.


jam Istirahat,


Cashel melewati banyak wanita yang menggosipkan tentang gadis kursi Roda, hampir setiap tempat menggosipkan hal yang sama bahkan sudah beberapa minggu berlalu selalu saja itu berita yang Cashel dengar tapi tidak membuatnya penasaran.


Cashel tiba di tempat biasa nya yaitu taman di lantai teratas (Rooftop), Ia melanjutkan pekerjaannya yaitu memecat secara tidak hormat orang-orang yang mempermainkannya saat Cashel tidak ada di Indonesia, Cashel ingin memperlihatkan pada mereka semua bahwa Cashel selalu mengawasi pekerjaan mereka walau Ia tidak ada di Indonesia.


"beres..!". gumamnya pelan lalu menutup laptopnya dan Ipednya.

__ADS_1


Cashel berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah depan hingga Ia bisa melihat taman yang sebelumnya menjadi tempatnya menenangkan diri, Cashel tidak lagi datang ke taman itu karna sudah di huni oleh gadis berkursi roda.


Cashel memicingkan matanya melihat seorang gadis di kursi Roda tengah melamun seorang diri, "dimana temannya? apa sedang mencari makan lagi?". gumam Cashel mengedarkan pandangannya.


"apa dia tidak takut seorang diri? bagaimana jika ada yang menyakitinya? dasar perempuan". decak Cashel memalingkan muka mencari pemandangan lain.


Cashel menoleh kebelakang mendengar seruan Lionel,


"sedang apa kau disana Cash? mau terjun?". celutuk Lionel.


"aku terjun pun bisa mendarat dengan baik". jawab Cashel dengan santai.


"iya aku tau..! dasar tidak asik sama sekali". Lionel seperti biasa membawa makanan sehat untuk Cashel sebab tadi pagi Cashel tidak sempat membuat bekal untuk makan siang di Kampus.


Cashel melihat Lionel dengan santainya duduk di tepian gedung, Ia pun mengikuti Lionel dan menjuntaikan kakinya ke bawah.


"kenapa cuaca sangat mendung ya? apa langit sedang bersedih? padahal ramalan cuaca mengatakan hari ini bakalan panas terik". gumam Lionel membuka kotak makanannya sambil mendongak melihat langit yang mendung.


Lionel melihat ke arah Cashel yang diam saja, Ia berdecak lalu memutar pandangannya dan melihat sosok gadis di kursi roda.


"pantas saja langit bersedih". gumam Lionel.


"maksudnya kak?". tanya Cashel melirik ke arah Lionel dan Lionel pun beralih ke Cashel.


"Putri Diana sedang bersedih". jawab Lionel menunjuk gadis di kursi roda dengan ekor matanya.


"ckk...! apa hubungannya, apa dia Putri Awan". Cashel malah tidak percaya.


"iya.. bagaimana kamu tau? dia Putri Diana, dunia mencela nya padahal dia seorang Tuan Putri tentu saja langit ikut sedih dengan ratapan hatinya". jelas Lionel.


"dia Putri Awan?". tanya Cashel seperti meledek.


"entahlah..! kamu cari tau sendiri, dia lahir dengan cara yang istimewa tapi hidupnya menderita karna perebutan tahta, aku pernah dengar Ibu nya membawanya ke Indonesia tapi entah bagaimana ceritanya dia ada di Negara ini lagi". ujar Lionel.


"kau juga suka bergosip kak". Cashel menggeleng kepalanya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2