Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
beda


__ADS_3

.


.


.


Cashel diperlakukan dengan baik oleh Madam pemilik Toko Roti itu sebab Cashel adalah alasan omset Madam itu naik drastis bahkan Ia sampai kebanjiran uang masuk.


Lionel juga diperlakukan dengan baik karna Kerja Lionel sangat baik bisa mengendalikan 2 macam pekerjaan yaitu sebagai OB dan Pelayan, mereka berdua sebagai Raja bagi Madam pemilik Toko.


"kalian juga orang Indonesia?". tanya Lionel kagum mendengar bisik-bisik kedua karyawan barunya.


kedua Karyawan itu terkejut bukan main, mereka tidak diberitau oleh Bos baru mereka kalau Senior mereka orang Indonesia melainkan hanya diberi tau kalau Senior mereka kuliah di Kampus Elit.


"i.. iya Tuan". jawab kedua pekerja itu dengan gugup karna tidak mengira bahwa kedua seniornya orang Indonesia otomatis mendengar ocehan mereka yang mengatakan senior mereka dingin dan judes, hingga merasa umur mereka bekerja di Toko itu tidak akan bertahan lama.


"tidak apa...! semoga kita akur ya? sebentar lagi Toko akan buka, mulai bekerja oke?". kata Lionel dengan semangat.


"ba.. baik Tuan". jawab kedua pekerja itu berumur 25 tahun.


kedua Pria itu bisa dikatakan pekerja dari Indonesia yang ingin mengadu nasib di Luar Negri, Cashel terlihat cuek saja sebab pekerjaannya hanya di dapur yaitu membuat Kue sementara Lionel di depan walau begitu Cashel membuat Kue pun bisa dilihat oleh para pengunjung sebab Ia memegang brankas Toko Roti itu, Ia menerima pemesanan pengunjung Toko Roti.


saat Toko pertama kali dibuka sekitar 5 menit kemudian, kedua pekerja baru itu langsung kocar-kacir tidak tau harus berbuat apa saking banyaknya pembeli namun Lionel dengan sabar mengajarkan mereka mengambil bagian pekerjaan masing-masing, betapa beruntungnya kedua Pria itu memiliki Senior yang baik yaitu mau mengajari mereka yang masih amatiran.


"akhirnya pekerjaan kita selesai juga". Lionel meregangkan jemari tangan dan otot-otot tubuhnya setelah toko di tutup (Close).


"benar Tuan". sambung kedua pekerja baru itu merasa gugup.


Lionel melihat ke arah kedua pemuda itu, "Jone dan Jomes ya?".


"be. benar Tuan". jawab keduanya kembali panas dingin.


"santai saja, kita sama-sama cari uang untuk makan jadi anggap saja kita ini senasib jangan terlalu tegang dengan kami". jelas Lionel lalu kedua pria tidak terlalu tampan dan tidak terlalu buruk itu menoleh ke arah Cashel.


"ohh..! dia itu tiket emasnya Madam kita, biarkan saja dia seperti itu asalkan kalian tidak mengusiknya dia tidak akan menggigit, kedepannya kalian fokus dengan pekerjaan yang aku atur tadi ya? supaya kedepannya kita tidak kerepotan". jelas Lionel membuat Jone dan Jomes tersenyum ke arah Lionel walau sedikit takut mendengar perkataan Lionel yang bilang Cashel menggigit.


.


di Kos-an,


"kenapa wajahmu datar begitu pada Karyawan baru itu heh? bukankah kamu yang mau kita harus cari pekerja dari Indonesia? mereka terlihat takut padamu". kekeh Lionel pada Cashel yang terlihat santai saja memainkan Ipednya.


"terserahku". jawab Cashel seolah tidak peduli.


Lionel menggeleng kepalanya, "siapa yang akan jatuh Cinta dengan Pria sepertimu Cash". ledek Lionel membuat Cashel meliriknya sekilas sementara Lionel mengangkat bahunya acuh.


"emang iya kan?". kata Lionel dengan santai.

__ADS_1


"kau selalu mengatakan hal itu Kak". kata Cashel lalu kembali melanjutkan aktifitasnya melihat ipednya.


"hmm, aku tidur cepat". Lionel melenggang pergi menaiki tangga kecil menaiki kamarnya dilantai atas sementara Cashel dilantai bawah.


Cashel masih fokus dengan pekerjaannya, sebenarnya Ia sudah punya tugas kampus tapi mudah baginya mengerjakan semua itu, walau Ia jauh dari Perusahaan tak membuatnya malas mengawasi Perusahaan Alex, Cashel tidak suka membuang waktu.


.


pagi-pagi,


Lionel terkejut melihat Cashel terbangun di sofa, "Cash? kamu tidur di Sofa?". tanya Lionel.


"hmm..! aku menghitung ulang pembagian uang ke Perusahaan cabang". jawab Cashel memijit lehernya yang terasa pegal.


"ada yang tidak beres?". tanya Lionel melangkah mendekati Cashel dan duduk disamping Cashel.


Cashel mengangguk sambil memutar lehernya yang berbunyi, "mereka mengira bisa mengelabuiku walau aku tidak ada disisi mereka". kata Cashel dengan suara beratnya khas bangun tidur.


"ck.. ck... ck..! mereka menyedihkan sekali". gumam Lionel yang merasa kasihan pada orang yang berani mempermainkan Cashel yang tak akan berbelas kasih pada seorang penghianat.


"sepertinya aku tidak bisa memasak sarapan". kata Cashel melirik ke arah Lionel.


"aku pesan makanan saja, sana mandi !". titah Lionel.


Cashel pun bangkit, sementara Lionel tidak menyentuh satu lembarpun kertas-kertas Cashel karna tau Cashel paling anti pekerjaanya di sentuh, Cashel adalah Pria yang rapi jika berantakan artinya pekerjaan Cashel belum selesai.


.


"jadi mau naik sepeda atau ikut aku?". tanya Lionel melihat Cashel masih sibuk dengan pekerjaannya.


"boleh". jawab Cashel.


"ya, jangan sampai ada yang tau kamu itu sedang menghitung nominal uang bisa-bisa para dosen langsung serangan jantung melihatmu berhitung dengan jumlah yang tidak biasa". peringatan Lionel.


"Arsitek tidak berbeda jauh dengan perhitungan". jawab Cashel tenang.


"ya.. ya.. ya..". balas Lionel.


satu kampus sudah tau kalau Lionel dan Cashel satu tempat tinggal, tapi semua mahasiswa/i kampus tidak ada yang tau kalau keduanya Si Konglomerat Asiantama, Lionel saat ini juga Kaya walau hidupnya biasa sederhana di pulau Nethal tapi Ia juga sekolah seperti Cashel dan punya usaha, menurut Rey anak laki-laki memang harus berpendidikan tinggi sebab Ia punya tanggung jawab kedepannya saat sudah menikah dan punya anak.


di tengah perjalanan Cashel menutup laptop dan Ipednya,


"kenapa? apa sudah siap?". tanya Lionel melirik Cashel sesekali.


"belum..! tinggal konfirmasi". jawab Cashel.


Lionel mengangguk, "otakmu terkadang terlalu encer".

__ADS_1


Cashel mengabaikannya saja padahal otak mereka berdua sama-sama encer bedanya Lionel lebih malas saja sedangkan Cashel tidak suka membuang waktu, bahkan saat tidur pun otaknya bekerja jika dipanggil ia akan menyahut walau sedang tertidur pulas.


Cashel melihat ke arah jendela dan melihat mobil yang sama, sudah 5 kali Ia melihat mobil itu tapi tampaknya Ia belum menyadarinya hanya sekedar melihat saja, sebenarnya jarak Kos-an ke Kampus dekat tapi jika naik mobil akan cukup lama sebab banyak anak kampus dan para pekerja hampir menggunakan mobil hingga lalu lintas padat padahal mereka bisa jalan kaki.


"ckk...! mobil itu lagi, apa mereka tidak punya otak saat berkendara? kali ini mereka kesal karna apa lagi?". gerutu Lionel.


"kenapa?". tanya Cashel dengan tenang tapi tidak melihat ke Lionel melainkan memejamkan matanya saja.


"apa kamu tidak tau kalau ada seorang gadis didalam sana? dia mantan putri mahkota di negara sebelah, dia dibuang karna cacat". kata Lionel sesekali melihat Cashel.


"oh". jawab Cashel terlihat tidak tertarik sama sekali.


"ciih...! mereka ingin sekali aku habisi". gerutu Lionel lagi saat mobil didepannya berbelok-belok seperti sengaja membuat penumpangnya ketakutan padahal kecepatannya lambat.


"gunakan saja kekuatanmu, tidak ada yang tau". kata Cashel masih dengan mata terpejam.


"iya juga". Lionel menganggukkan kepalanya seolah baru sadar bahwa Ia Pria memiliki kekuatan super.


"tapi biarlah..! aku tidak mau ikut campur, nanti gadis malang itu dibilang pembawa sial lagi". kata Lionel teringat kejadian beberapa hari yang lalu.


"ck.. memangnya apa yang kau lakukan kak?". tanya Cashel.


"biasalah, aku menyentil telinga salah satu pengawal karna dia menggendong Putri terbuang itu seperti hama dan dijatuhkan seperti sebuah kotoran". jelas Lionel.


"belas kasihmu sangat tinggi". kata Cashel masih dengan mata terpejam dan sudut bibir tertarik ke atas.


"bukan belas kasih tapi rasa kemanusiaan". ralat Lionel.


"apa bedanya". gumam Cashel.


"ya bedalah.. belas kasih itu terkait cinta sementara aku tidak Cinta tuh padanya, rasa kemanusiaan itu tidak ada rasa cinta hanya prihatin sebagai sesama ciptaan makhluk Tuhan". jelas Lionel.


"ya". balas Cashel tidak peduli.


"haishh..! kenapa jalanan ini semakin macet sih". Lionel berdecak melihat kendaraan yang sangat padat memenuhi kota.


"hari minggu". jawab Cashel.


"iya juga, ngapain juga setiap hari minggu tempat ini semakin padat". celoteh Lionel.


Lionel terus mendumel, untuk kedepannya Ia akan naik sepeda saja setiap hari minggu, padahal jarak ke Kampus mereka tidaklah jauh tapi karna naik mobil tentu harus lewat jalan besar dan harus menghadapi kemacetan padahal kalau jalan kaki tidak akan lama.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2