Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
desain Rumah masa depan


__ADS_3

.


.


.


Diana mendengarkan cerita Cashel dengan serius hingga hari mulai malam, Diana seketika memekik mendengar suara Serigala.


Cashel merangkul Diana yang memeluknya dengan erat, "jangan takut."


"kenapa bisa ada suara Serigala Beb?." tanya Diana dengan raut wajah cemas.


"kan aku sudah bilang disini hutan, semua binatang ada ditempat ini." gemas Cashel.


Diana mendongak, "semua hewan? apa Jerapah ada?."


Cashel menggeleng, "belum ada tapi Ular banyak." bisik Cashel.


Diana bergidik ngeri kembali memeluk Cashel, "k. kita pulang saja ya? a.. aku seram."


Cashel tertawa saja mendengar Diana semakin erat saja memeluknya hanya karna suara Serigala. bahkan, sekali Cashel mengibaskan tangannya bukankah Diana akan aman? Cashel terkadang gemas dengan Diana yang menganggapnya manusia biasa padahal di Luar sana banyak wanita berlomba-lomba ingin bersamanya karna Kekuatan super juga kekayaannya.


"aaahh." Diana memekik saat Cashel kini menggunakan kekuatannya melayang di Udara.


Diana merangkul erat leher Cashel sambil celingukan juga terkadang melihat kebawah, Ia seketika memekik lagi saat Cashel membawanya terbang seperti Cashel punya sayap saja.


"lihatlah kebawah sayang..! ini bentuk matamu." pinta Cashel.


Diana awalnya takut lalu Ia pun menurut saat Cashel berhasil membujuknya, Diana terperangah melihat pantulan cahaya bulan purnama biasa di lautan lepas.


"bagaimana? bukankah aku romantis kenapa kamu takut hmm? aku tidak akan menjatuhkan Istriku yang sedang mengandung anakku." kekeh Cashel.


Cashel pun perlahan menurunkan kakinya ke pijakan air, Diana merasa sejuk dan Ia mulai menikmati semua ajakan Cashel.


.


"aaaahhh??? hahaha.... aaahhhh." Diana tertawa riang dibawa terbang oleh Cashel melintasi Lautan lepas, pepohonan yang luas hingga tiba di Pemukiman Rumah megah.


Cashel ikut senang melihat Diana tertawa begitu lepas setidaknya Ia bisa membahagiakan Diana yang selalu Ia tinggal di Mansion, sejujurnya Cashel ingin sekali meninggalkan pekerjaannya demi Diana tapi ada saja masalah di Perusahaannya terutama di Kantor Cabang, beruntung Cashel bisa menghilang kemana saja yang Ia mau tanpa memakan waktu panjang dalam perjalanan.


sejak Diana hamil Cashel memang banyak mempersingkat waktu dengan cara menghilang ke tempat tujuan, jika Cashel bilang mau Keluar Kota sudah jelas Diana akan ditinggal karna tidak mungkin Cashel membawa Diana yang sedang hamil muda berkendara.


.


Diana berbinar bahagia saat kakinya sudah menginjak halaman luas Mansion Asiantama, Ia menoleh ke Cashel yang tersenyum lembut menyisir rambutnya yang sedikit berantakan tapi tetap halus dan lembut.

__ADS_1


"rasanya menegangkan tapi seruu!." girang Diana melompat-lompat lalu memeluk Cashel dengan gembira.


Cashel terkekeh mengelus punggung Diana juga merangkul pinggang Diana, Cashel tidak mau Diana sampai celaka dan membahayakan janinnya.


"ayo istirahat..!" ujar Cashel dan Diana mengangguk-ngangguk.


"Ehh?? Eka bagaimana?." tanya Diana tiba-tiba.


Cashel menjawab bahwa Eka sudah sampai di Mansion diantar oleh Lionel, mana mungkin Lionel mengizinkan ada orang lain disekitar Istrinya yang pasti membuat perhatian Irina berpaling darinya, padahal Lionel saja yang memang cemburuan.


.


.


Ke esokan harinya,


Diana kaget Cashel berada disisinya tak jua bangun, Diana mengguncang bahu Cashel.


"Beb? kamu enggak kerja?." tanya Diana.


Cashel memeluk Diana, "aku kerja di Mansion sayang." jawab Cashel dengan suara berat.


Diana melepas pelukannya dari Cashel, "Beb? kamu beritau aku dimana Bubby? kenapa kamu menyingkirkan adikmu sendiri? kalau kamu memang tidak mau bagaimana jika kita saja yang pindah?."


Cashel terdiam, "kamu mau pindah? tapi Rumah yang aku bangun belum siap."


"Pulau Nethal..! aku harus buat Rumah disana untuk bersantai saat melatih anak-anak kita nanti." jawab Cashel.


"benarkah?." Diana begitu antusias.


Cashel terkekeh, "aku sudah buat desainnya kamu mau lihat sayang?." tanya Cashel.


Diana tentu saja bersemangat ingin melihatnya sebab Ia tau kalau jurusan Cashel Arsitek pasti gambar Rumah masa depannya sangat indah.


.


siang harinya,


Diana mengerucutkan bibirnya sejak tadi pagi berdiam diri didalam kamar bahkan setelah Eka sudah berkali-kali keluar masuk Kamar Diana untuk antar makan serta keperluan lainnya.


"ayolah Nona..! Tuan Muda nanti akan menepati janjinya." kata Eka yang sudah kesekian kalinya.


"aku mau melihat desain Rumahnya." jawab Diana dengan rengekannya.


Eka geleng-geleng kepala sambil memijit pelipisnya, Diana sedang mode anak-anak yang permintaannya harus dipenuhi.

__ADS_1


"lebih baik kita buka paketan bagaimana?." celutuk Eka tiba-tiba yang membuat Diana langsung berbinar semangat sambil mengangguk-ngangguk.


Eka lega bisa mengalihkan perhatian Diana sampai Cashel tiba, benar saja Cashel tiba mood Diana berubah semakin ceria.


"Beb?? mana desainnya? aku mau lihat!! apa kerjaannya udah siap?." tanya Diana sembari berlari kecil mendekati Cashel.


Cashel meminta maaf pada Diana yang selalu saja hampir menunda janjinya, "ayo sekarang katakan hukumanku?."


Diana memeluk Cashel, "cepetin...! aku mau lihat desain Rumah masa depan kita."


Eka pura-pura tidak lihat kemesraan pasangan sejoli itu, Cashel menggendong Diana yang semakin manja saja persis seperti bayi besarnya Cashel.


"apa karna hormon kehamilannya?." batin Cashel menebak.


Cashel melangkah pelan membawa Diana ke Kamarnya yang banyak buku, Cashel mendudukkan Diana di Ranjangnya lalu Ia beranjak mengambil 1 buku warna hitam dan memberikannya pada Diana.


Diana sangat bersemangat membukanya, matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru melihat hal baru, Cashel menggeleng-geleng kepalanya yang menurut Cashel sudah tidak salah lagi memang bawaan Diana sedang hamil.


"ini apaa?." tanya Diana semangat.


Cashel menjelaskan setiap rinci desain setiap lembar dari bukunya, Diana begitu serius mendengarkannya dengan bibirnya selalu melengkung sempurna.


.


malam hari,


Cashel keluar dari kamar Diana yang sudah terlelap menuju Ruangan Kerjanya, Ia menghubungi Abin yang sejak tadi menghubunginya tapi Cashel abaikan sebab masih bersama Diana.


"Tuan?? kenapa lama sekali??." omel Abin.


"berisik..! cepat katakan!" titah Cashel tegas.


Abin menghela nafas berat lalu menceritakan semua pencarian yang Ia dapatkan sementara Cashel diam mendengarkan.


"periksa Perusahaan cabang disana, pecat semua pekerja jalannya..! aku tidak terima penggelapan dana dengan alasan apapun." titah Cashel.


setelah selesai berbincang tentang hal pekerjaan Cashel menutup panggilannya, Ia menggeleng kepalanya pelan.


"kenapa semua orang semakin berani? bukankah mereka sudah tanda tangan kontrak? aku sudah berikan Copy-annya tapi tetap saja mereka langgar, apa dia pikir aku baik hati mau menerima alasan mereka? bekerja juga butuh komitmen..!"


akhirnya Cashel menggerutu juga, Ia merasa muak dengan pekerjaan manager-manager kecil yang mencari keuntungan dari semua investasi yang Cashel lakukan, Cashel mana peduli dibilang Kejam yang penting dalam hal pekerjaan Kejujuran itu sangat penting untuk keuntungan bersama bukan keuntungan sendiri-sendiri hingga yang lain di rugikan. Cashel paling benci hal seperti itu dan wajar saja membuatnya geram sehingga banyak mengoceh.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2