
.
.
.
Diana dibawa ke Taman biasa, lalu Irina mengunci kursi Roda Diana dan berpindah tempat dengan bersimpuh didepan Diana.
"Nona maafkan saya". ucap Irina dengan lirih.
Diana meraba-raba wajah Irina dan menghapus air matanya hal itu dilihat oleh Cashel, mengapa Ia merasa tergelitik dengan apa yang Diana lakukan.
"tidak apa Irina, aku yang seharusnya minta maaf". Diana berkata tanpa suara.
Irina menangis pilu lalu memeluk Diana seperti sahabat baiknya, diantara mereka berdua tidak ada kasta.
Diana melepaskan pelukannya dari Irina lalu mengatakan dengan gerakan tangan bahwa Ia sangat haus, Irina menghapus air matanya lalu meminta Diana untuk tidak kemana-mana sampai Irina kembali membawa minuman untuknya.
Cashel melihat Irina berlari meninggalkan Diana lalu matanya beralih ke Diana yang masih memandang kosong ke arah depan.
"aku ingin mati". batin Diana.
Cashel kaget mendengar perkataan Diana yang jauh dari ekspetasinya, ternyata kata-kata yang pernah Ia dengar itu berasal dari Diana. Cashel teringat perkataan Lionel yang bilang setiap manusia punya ambisi termasuk perempuan, tapi baru kali ini Cashel mendengar ambisi seorang wanita adalah kematian.
Cashel mendatangi Diana, "ekhemm".
Diana memutar kepalanya tapi pandangannya masih lurus, "siapa?". gerakan bibir Diana.
"apa kamu tidak mengenalku?". tanya Cashel dengan gugup tidak berani memandang manik mata Diana yang gelap tapi jujur saja Cashel masih curi-curi pandang.
"Tuan baik?". tebak Diana dengan gerakan bibir.
Cashel melepas kunci kursi Roda Diana lalu mendorong Kursi Roda Diana ke Kursi Taman yang biasa menjadi tempat duduk Cashel jika seorang diri di taman itu.
anehnya Diana tidak takut dengan Cashel hal itu membuat Cashel bertanya saat kini mereka sudah berhadapan, "kamu tidak takut padaku?".
Diana tersenyum untuk pertama kalinya hingga Cashel tertegun melihat bibir mungil itu bisa menyunggingkan senyum tipis,
"si*l...? kenapa terlihat seksi?". batin Cashel terkesima.
__ADS_1
"anda sangat baik Tuan, kalung saya mungkin tidak ada artinya bagi Tuan tapi bagi saya sangat berarti, anda menyimpan kalung itu sudah membuktikan bahwa anda adalah orang yang sangat baik". batin Diana.
Cashel menggeleng kepalanya saat matanya hampir tenggelam lagi dengan sorot mata Diana, Ia sudah gila dan sekarang makin gila saja.
sebenarnya Cashel ingin meletakkan tangannya di tenggorokan Diana dan membuat gadis itu bisa bersuara tapi Ia urungkan karna Cashel bukan orang bodoh yang tidak tau situasi yang terjadi dengan Eliziany tadi, Cashel mengerti ada hal serius dengan apa yang terjadi dengan Diana saat ini.
"aku membuatkan Kue, kamu mau?". tanya Cashel.
"benarkah? tapi bagaimana bisa? ada acara apa?". tanya Diana dengan senyum hampir merekah.
Cashel memandang gerakan bibir Diana, ia terkesima tapi tau apa yang Diana katakan.
"aku sedang membuat menu baru, aku ingin kamu jadi temanku untuk mencoba rasanya". kata Cashel dengan kikuk.
"teman?". beo Diana dengan raut wajah bingung bahkan wajahnya yang menunduk kian mendongak hingga Cashel bisa melihat paras Diana dan sorot mata Diana semakin jelas.
"ekhemm..! iya teman, aku Cash adalah anak biasa kamu mau berteman denganku? tapi kamu kan Putri Mahkota mana mungkin mau berteman denganku". kata Cashel gelagapan melihat arah lain sesekali melihat mata Diana.
Cashel seperti orang bodoh padahal Diana tidak bisa melihat Cashel tapi mengapa Cashel malu memandang mata Diana.
Diana mengatakan bahwa dirinya pembawa sial dan seharusnya Cashel lah yang malu berteman dengannya, Cashel merasa bersalah telah menyebut gelar lama Diana padahal Cashel sendiri bingung mengapa Ia gugup berbicara dengan gadis yang maaf di kata Cacat.
Diana memiringkan kepalanya, "Cashel?". bisiknya tak ada suara.
Cashel menepuk keningnya karna lupa bahwa Diana kan Buta jadi tidak bisa melihat tangannya, lalu Cashel mengambil tangan Diana dan berjabat tangan.
"Diana". panggil Cashel membuat Diana terdiam dengan tatapan kosongnya itu.
"ada apa?". tanya Cashel memperhatikan wajah Diana yang mematung dan sekali lagi matanya bertabrakan dengan tatapan Diana yang tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.
"matamu indah". kata Cashel membuat Diana sontak saja memundurkan wajahnya mencium aroma segar dari mulut Cashel, Diana seperti itu karna terlalu dekat dengan Cashel.
Cashel meminta maaf lalu menoleh ke Irina yang memanggilnya, Cashel memberikan bungkusan Kue yang Ia buat dan meminta Diana menilai rasa masakannya.
Irina menunduk sopan ke Cashel sebagai rasa hormatnya pada orang yang telah menjaga kalung peninggalan ibunya Diana, Cashel pun pergi dan tak terlihat lagi.
"Nona? kenapa Tuan itu bisa ada disini? bukankah Tuan itu tidak mau ke taman ini?". tanya Irina sambil duduk dihadapan Diana membukakan botol minuman ke Diana.
"dia ingin berteman denganku". kata Diana dengan gerakan bibir membuat Irina yang melihat gerakan bibir Diana pun tersentak nyaris saja Ia menjatuhkan minuman untuk Diana.
__ADS_1
"teman?". beo Irina.
Diana menjelaskan alasannya tapi Irina yang berpikir Cashel orang baik pun tidak mengira bahwa Cashel punya perasaan lain, Irina senang ada orang yang mau berteman dengan Diana.
"coba Nona cicipi dan katakan pada Tuan itu bagaimana rasanya? bukankah indera pengecap Nona sangat hebat?". tanya Irina bersemangat.
Diana meremas plastik kue yang Ia pegang, jantungnya berdebar untuk pertama kalinya bukan karna Cinta tapi merasa berguna bagi seseorang adalah bagian dari impiannya.
.
siang hari,
Cashel berkacak pinggang menunggu sosok yang mengganggu benaknya dan Ia segera memperbaiki ekspresinya saat melihat Diana di dorong oleh Irina.
Lionel melihat pemandangan itu dari atas dan memotretnya tak lupa mengirimnya pada Crystal, bukannya marah Crystal malah langsung menyukai gadis itu walau cacat tapi Crystal yakin ada yang spesial dari gadis itu sampai bisa membuat Putranya tertarik.
"Tuan?". panggil Irina.
Cashel berbalik tapi matanya melihat ke arah Diana, Cashel berjongkok membuat Irina membekap mulutnya tapi perkataan Cashel memang benar bahwa Cashel dari kalangan bawah, jujur saja Irina merasa terharu masih ada orang yang menghargai Diana sebagai mantan Putri Mahkota.
"bagaimana rasanya Nona?". tanya Cashel memandang mata Diana.
Diana menjelaskan semuanya lewat pikirannya, betapa kagetnya Cashel saat Diana menjelaskan bumbu-bumbu yang Cashel gunakan saat membuat Kue itu begitu detail bersama takar-takarnya.
"ada apa Cashel?". tanya Diana mengulurkan tangannya dan tanpa sengaja mengenai wajah Cashel.
Diana yang kaget mengangkat tangannya dan meminta maaf karna tidak sengaja, Cashel merasa tergelitik dengan ucapan maaf Diana padahal wanita lain pasti mencari alasan untuk bisa menyentuhnya tapi Diana malah ketakutan tidak sengaja menyentuh wajahnya.
"kenapa takut?". tanya Cashel penasaran sambil menatap mata Diana yang keliatan panik dan takut.
"a.. aku takut kamu memutuskan pertemanan denganku". kata Diana dengan gerakan bibirnya.
Cashel terhenyak melihat kedua tangan Diana bertautan seperti takut kehilangan benda berharga, Cashel memandang ke arah Irina yang berbicara dalam pikirannya kalau Diana baru saja punya teman dan sekarang harus kehilangan teman.
.
.
.
__ADS_1