Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
bujukan (Part. 2)


__ADS_3

.


.


.


setelah berbicara dengan Elizia pun Diana diantar ke Kampusnya, tidak ada yang berani mendekati Diana sejak kasus kaki Deniel gatal-gatal juga kaki Ibunya Deniel, saat ini kedua Orang yang terkena kesialan Diana itu belum juga sembuh.


"Nona?". bisik Irina menahan tangis melihat semua Orang menjauhi Diana.


Diana tersenyum saja, "apalagi? apa Dosennya tidak mau datang?". tanya Diana menebak saja.


Irina menganggukkan kepalanya, "katanya tidak mau terkena sial, Nona akan diberi materi lewat buku timbul yang akan menjadi bahan pembelajaran Nona". jelas Irina.


Diana menganggukkan kepalanya, "bawa aku ke Taman". pinta Diana.


Irina membawa Diana ke Taman dan raut wajah sedih Irina seketika berubah senang melihat sosok yang tengah duduk di kursi Panjang yang artinya Diana tidak akan sedih.


"Nona?". bisik Irina.


Diana tersenyum melihat Cashel yang sangat gagah dari belakang, sungguh Diana merutuki dirinya jika mengingat saat di Kontrakan Cashel mesum padanya seharusnya terbalik jika dilihat dari penampilan fisik Cashel yang menggiurkan para kaum wanita.


Cashel menyunggingkan senyum tipisnya mendengar rutukan Diana dan lucunya gadis itu malah berceloteh sendiri karna lupa Cashel bisa mendengar pemikirannya.


"maaf". cicit Diana saat sudah berada didekat Cashel.


Irina menautkan kedua alisnya mengapa Diana tiba-tiba meminta maaf padahal tidak melakukan kesalahan apapun, Irina pun memilih pergi karna tidak mau menjadi pengganggu walau tidak tau masalah Diana hingga meminta maaf pada Cashel.


Irina mendongak dan saat Ia mengedarkan pandangannya tak sengaja melihat sosok diatas gedung yang tengah bersidakap dada memandang ke arah Cashel sambil tersenyum.


"sangat tampan". pujian Irina dalam hati dan betapa terkejutnya Irina saat Pria itu melihat ke arahnya.


Irina langsung menurunkan pandangannya dan lari dari sana, "kenapa dia tiba-tiba melihat kearahku?". gumam Irina yang tidak tau kalau Pria itu bisa mendengar pikirannya.


Lionel tertawa melihat Irina lari terbirit-birit yang tampangnya seperti kucing kelaparan langsung tertangkap basah tengah mencuri ikan besar di Rumah orang lain.


"imut juga". gumam Lionel tersenyum memikat lalu berbalik kembali duduk di kursinya.


.

__ADS_1


Cashel menganggukkan kepalanya,


"jadi apa maumu?". tanya Cashel setelah mendengar cerita Diana yang mana Elizia ingin sekali bertemu dengannya.


"a.. aku tidak tau, bukankah kau temanku? beri aku masukan yang baik". jawab Diana.


Cashel menatap Diana hingga gadis itu meraba kedua pipi nya entah apa yang salah dengannya sehingga Cashel memandangnya seperti itu.


"ada apa Cashel? apa ada sesuatu?". tanya Diana yang tidak berani berpikir Cashel suka padanya.


"apa kau tidak marah pada mereka yang melukaimu dan menjauhimu? apa kamu tidak mau aku balaskan perbuatan mereka?". tanya Cashel penasaran.


Diana seketika tersenyum dan hal itu tidak luput dari pandangan Cashel, gadis cacat ini sangat menawan bahkan pandangannya yang dulu kosong dan tidak ada binar kehidupan kini berubah menjadi pandangan polos yang haus akan keingintahuan sesuatu (ilmu) sebab Diana baru bisa melihat dan belum tau apapun dengan baik.


satu hal yang Cashel ketahui pandangan Diana itu unik tidak seperti kebanyakan wanita yang Ia ketahui.


"mereka hanya memang sial saja dan kebetulan akulah yang mengatakannya, Deniel seperti itu karnamu sedangkan Ibunya seperti itu karna Heelsnya sendiri". jawab Diana sembari membenarkan rambutnya yang diterpa angin lembut.


"aku rasa wanita berkepala 3 dan ekor rubah bercabang itu tidak akan menyerah menjilatimu sebelum aku bertemu dengannya kan?". tanya Cashel masih asik memandang wajah Diana.


"Elizia, namanya Elizia". ralat Diana sambil memandang ke arah Cashel.


sorot mata Cashel dan mata Diana bertabrakan tapi Diana tidak terpancar apapun dibola matanya, sedangkan Cashel suka dengan tatapan Diana yang sangat unik dan imut.


Cashel sebenarnya mencari alasan saja supaya bisa memandang mata Diana tapi gadis polos itu tidak berpikir kesana.


"suka". jawab Diana lalu mengucapkan terimakasih dengan tulus ke Cashel bahkan gadis cantik itu berjanji akan melakukan apapun untuk Cashel sebagai balas budi.


Cashel tersenyum saja, "aku tidak butuh apapun selain kamu tumbuh menjadi gadis kuat seperti kemarin, aku bangga". kata Cashel mengusap kepala Diana yang merasa senang dengan pujian Cashel terhadapnya.


.


.


malam harinya,


Diana menatap kosong kearah balkon sementara Irina menyumpah serapah didalam hati melihat Elizia datang ke Kamar Diana membawa bantal dan selimut untuk tidur dikamar Diana.


"Diana? kamu mengizinkanku tidur disini kan?". tanya Elizia semangat tak lupa juga nada bicaranya sangat lembut dan minta belas kasihan.

__ADS_1


"tidak apa Elizia tapi aku tidak bisa tidur jika terang". jawab Diana.


"baiklah kalau begitu kita tidak usah tidur saja bagaimana? aku tidak akan tidur kalau gelap karna tidak bisa gelap dan aku juga tidak akan tidur walau terang jadi kita harus bersama sampai pagi". tawar Elizia membuat Irina dongkol saja dan ingin mencongkel mulut Elizia yang suka-suka saja kalau bicara.


"aku harus bertemu dengan hantunya Diana malam ini juga". batin Elizia dengan senyum lebar dan semangatnya.


Diana menghela nafas panjang, Ia ingin menolak tapi sepertinya Elizia tidak juga menyerah seperti yang dikatakan oleh Cashel walau Diana sudah menakut-nakuti Elizia tentang Cashel tapi namanya wanita Ular kepala 3 dan Ekor Rubah bercabang tidak akan menyerah.


.


Elizia duduk disamping Diana yang menatap lurus ke arah balkon, "kenapa Diana? apa kamu tidak dingin?". tanya Elizia dengan sok perhatiannya.


"tidak". jawab Diana singkat tapi pandangannya tidak berubah.


Elizia tersenyum dan memegang tangan Diana, "aku ingin bertemu dengan hantumu itu dan meminta padanya supaya kamu bisa melihat juga berjalan dengan normal". kata Elizia dengan sangat meyakinkan.


Diana tersenyum tipis saja padahal Ia sudah sembuh tapi masih saja bersikap penakut belum berani menunjukkan pada Elizia dan Elizart bahwa dirinya sudah sembuh, Diana tidak mau konflik berkepanjangan tentang tahta itu padahal Diana tidak mau menjadi penerus tahta.


"aku tidak yakin kamu bisa melihatnya Elizia". kata Diana.


Elizia tetap tersenyum, "aku percaya kamu akan melindungiku Diana seperti aku melindungimu". kata Elizia dengan nada bangga padahal hatinya sangat kesal tak juga melihat tanda-tanda kedatangan makhluk spiritual milik Diana.


sekitar jam 01.09,


Diana memejamkan matanya saat ada angin lembut menerpa wajahnya, "kamu datang Ander?". tanya Diana dengan pelan.


Elizia yang sibuk memainkan ponselnya seketika meletakkan ponselnya sambil celingukan kesana-kemari.


Wushh...!


Elizia memperhatikan situasi yang tidak melihat tanda-tanda kedatangan sosok itu sementara Diana terus saja berbicara, Elizia terbelalak mendengar suara seseorang tapi tidak ada wujud sama seperti saat Elizia diusir oleh sosok itu.


"kenalkan dia Elizia yang ingin bertemu denganmu". kata Diana menunjuk sopan ke Elizia tapi bukan dengan mata sebab Diana tidak mau kesembuhannya diketahui.


"kenapa dia kesini?". tanya sosok itu dengan nada malas.


Elizia walau takut berusaha menjernihkan pikirannya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2