
.
.
.
Diana menikmati kesehariannya di Mansion Cashel, terkadang Ia memberi makan Ikan-ikan mahal Cashel hingga tiba-tiba Eka berlari ke arah Diana setelah mendengar bisikan Pelayan Mansion Asiantama.
"Nona? burung Kakatua Pesanan Nona sudah ada." ujar Eka tersenyum lebar.
"loh? kenapa cepat sekali? aku baru saja mengadu dengan Cashel kemarin." Diana kaget pesanannya sudah datang.
"tapi Nona harus melihat kedepan." pinta Eka.
Diana melihat ke Para Pelayan Asiantama yang memberi jalan padanya, Diana menautkan kedua alisnya mengikuti mereka hingga tiba di depan Mansion. lalu, Diana menjatuhkan rahangnya yang selebar-lebarnya melihat pemandangan didepannya.
Mobil besar berisi banyak Kandang burung Kakatua, bertingkat-tingkat mungkin jumlah semua hewan bersayap itu sekitar ratusan.
"salam hormat kami Nona..! kami hanya memiliki jenis Kakatua yang seperti ini Nona." kata 20 pekerja penjual hewan yang dilindungi itu.
"Nona?." sapa Eka memegang lengan Diana yang seketika tersadar menoleh ke Eka yang tersenyum melihat mulut Diana yang terbuka.
walau Diana seorang mantan Tuan Putri tapi Diana tidak pernah diperlakukan seperti itu, wajar saja Diana tidak percaya dan syok dengan segala kejutan dari Cashel.
"apa ada yang tidak Nona Suka? maafkan kami Nona, bisakah Nona memberi kami waktu? kami akan carikan yang jenis terbaru." tanya si pemilik penjual hewan dilindungi itu.
Cashel datang padanya menanyakan 2 ekor burung Kakatua Jambul hitam. tapi, tidak ada yang betina nya jadi Cashel meminta mereka membawa semua jenis burung Kakatua ke Diana, bahkan jika Diana mau semua hewan itu pasti tanpa ragu Cashel langsung membeli nya untuk sang kekasih hati.
mana mungkin si Penjual hewan mau kehilangan Pelanggan seperti Cashel, ternyata Cashel menyerahkan semua keputusan pada Diana. beginilah asal muasalnya hingga mereka mendatangi Mansion Asiantama untuk bertanya pada Putri Diana yang terkenal akan kerendah hatiannya itu.
"bu.. bukan begitu? a.. apa ini kemauan Cashel? dia yang memintaku memilih?." tanya Diana dengan cepat merubah raut wajahnya. namun, ekspresinya masih bingung juga.
"benar Nona." jawab mereka semua serentak.
Diana jadi gelagapan saat mereka semua menundukkan kepala ke dirinya meminta tenggang waktu sebab mereka tidak punya hewan bagus yang mau dijual lagi selain 2 Kakatua yang Diana mau itupun jantan semua tidak ada yang betina, sedangkan Diana minta sepasang.
Diana tersenyum tapi isi kepalanya tengah mengomeli Cashel yang membuat masalah sampai seperti ini.
__ADS_1
"kalau begitu apa yang kalian inginkan?." tanya Diana dengan ramah.
mereka menjelaskan semuanya lalu Diana pun mau melihat semua jenis kakatua itu, segera saja 20 Pekerja Pria itu menurunkan semua jenis burung Kakatua dan diperlihatkan pada Diana.
Diana sampai bingung memilihnya saking suka nya dengan warna serta kecantikan bulu-bulu hewan bersayap itu, pada akhirnya Diana mengambil 10 ekor yang tidak bisa Ia tahan karna gemas.
.
di Taman belakang,
Diana tersenyum cerah melihat semua peliharaan barunya tidak terbang berjauhan, semua tampak akur dan lucu hingga Diana tidak bisa menahan tawanya saat suaranya di tiru oleh hewan-hewan lucu itu.
"Nona? ini Tuan Cashel." Eka yang tengah bermain dengan salah satu Kakatua Diana pun seketika kaget melihat Ponsel Diana yang Ia pegang ada nomor Cashel.
Diana menerima panggilan itu, "Cash?." sapa Diana tersenyum lebar.
bibir Eka berkedut mengingat nama Cashel di layar ponsel Diana, "Bulan Merah-Ku ❤."
"apa kamu sedang sibuk sayang? aku sangat lapar, kamu bersiap 3 jam lagi ya? kita akan makan diluar." tanya Cashel dengan nada membujuk.
Diana mendengarkan dengan senyuman lalu Ia akan membuatkan masakan untuk Cashel, tapi saat Cashel bertanya mengapa dan ternyata alasan Diana hanya belum siap tampil berdua didepan publik, mereka berdebat cukup lama. tapi pada akhirnya Cashel mengalah, sungguh hanya Diana yang bisa membuat seorang Cashel mengalah.
"kenapa Nona harus memasak? padahal Tuan Muda tidak mau Nona terluka." tanya Eka dengan cemas Diana terluka nanti Cashel akan marah besar walau Cashel mengizinkan karna tidak tega tapi jika Cashel melihat Diana terluka sudah jelas Cashel akan naik tensi.
sedang yang ditanya hanya tersenyum tanpa merasa berdosa.
.
.
Diana meminta bantuan pada salah satu Pengawal mengantarnya tanpa membuat Diana menunggu salah satu Pengawal berlari kocar-kacir menjemput mobil, Diana hanya bisa menghela nafas lalu memberitau mereka semua untuk tidak terlalu takut padanya karna Diana tidak enak, mendengar perkataan Diana yang tidak nyaman dengan perlakuan mereka itu membuat semua Pengawal disana berubah pucat lalu meminta maaf, Diana memaafkan tapi dengan syarat mereka tidak ketakutan seperti itu lagi padanya.
di jalan,
"ada apa pak?." tanya Diana.
"Nona? saya rasa kita harus lewat jalan pintas sepertinya jalan pusat sangat ramai dan saya takut Nona terlalu lama di dalam Mobil." kata si Pengawal dengan sopan.
__ADS_1
"baiklah, lewat mana saja." jawab Diana sedangkan Eka celingukan memang jalanan terlihat sangat padat dari kejauhan.
Diana terlihat tidak keberatan pun Pengawal melajukan kendarannya, Ia berpikir Diana akan protes sebab para wanita selalu ingin lewat jalan utama walau sangat padat dan macet, semua wanita berbondong-bondong ingin berhenti dan masuk ke Mal Asiantama. itulah sebabnya Jalanan sangat macet karna mobil yang mau masuk parkiran Mal yang jumlahnya tidak normal padahal ada Polisi lalu lintas.
.
di meja reseptionis,
"permisi?." sapa Diana.
ternyata kedua perempuan di meja reseptionis tidak ada, sepertinya mereka sedang istirahat makan siang jadi meninggalkan meja kerjanya.
"kalau begitu telfon Tuan saja Nona." saran Eka sambil menenteng ransel berisi bekal Diana untuk Cashel.
Diana mengeluarkan Ponsel dari tasnya lalu Ia berbalik dan terus berjalan hingga tiba-tiba Diana terjatuh tidak sengaja menabrak seseorang.
"Nonaa?." pekik Eka segera meletakkan bekal makan untuk Cashel dan membantu Diana.
"aku tidak apa-apa." jawab Diana mengedarkan pandangannya mencari ponselnya saat Diana memungut ponselnya ternyata layarnya pecah.
"woooi..!" pekik Eka hendak menjambak rambut wanita yang berjalan tanpa merasa bersalah itu.
"maaf ya? maaf, kami sedang terburu-buru karna terlambat." kata Kru wanita segera menahan Eka yang sejak awal memang mengikuti wanita seksi tadi.
Diana fokus dengan ponselnya, Eka yang tampak ingin sekali melempar sepatunya ke wanita yang tidak tau sopan santun itu tapi Ia tahan saat Diana memanggilnya, segera Ia mendekat ke Diana.
"Ka? Ponselku mati." rengek Diana.
Eka melihat Ponsel Diana lalu mencoba menghidupkannya dan Diana mengambil alih bekal yang dipeluk oleh Eka supaya gadis pelayannya itu bisa lebih leluasa melihat ponselnya, Eka mengguncang-guncang Ponsel Diana lalu berdecak sebal memaki wanita tidak tau adab itu.
"tidak apa ... yang penting bekal Cashel baik-baik saja." Diana tersenyum memeluk bekalnya.
Eka memijit pelipisnya seketika, "tapi Nona? nomor Ponsel Tuan Muda ada disini, saya tidak bawa Ponsel karna tadi Ponsel saya habis total jadi ditinggal ngecas aja tadi, lagian saya tidak ada nomor Tuan Muda." cerocos Eka yang heran mengapa Diana bisa sebaik itu tidak marah didorong dan ponselnya pecah bahkan orang itu tidak meminta maaf pun Diana tidak marah.
.
.
__ADS_1
.