
.
.
.
beberapa hari kemudian,
Irina menatap kesal Eliziany tengah bermanis-manis pada Diana.
"mulai sekarang kamu panggil aku Elizia ya? tidak usah Putri". pinta Elizia dengan senyuman.
Diana diam saja tanpa tau apa rencana Elizia yang jelas Ia tau kalau Elizia punya niat terselubung.
"kamu mau apa Diana? apa perlu aku belikan sesuatu? kita ke Kampus bersama? mau ya?". bujuk Elizia.
Diana menolak dengan halus tapi bukan Elizia namanya jika tidak berhasil membuat Diana mendengarkannya, Diana tidak bisa berbuat apa-apa saat Elizia mendorong kursi Rodanya hingga Irina panik tapi dicegah oleh Pelayan Elizia.
"ikuti saja!". pinta Pelayan nya Elizia dengan ramah.
Irina terpaksa berlari mengikuti Elizia yang tampak seperti malaikat pada Nonanya, Ia mengerutkan keningnya tidak percaya, "sebenarnya apa rencana nenek lampir ini? apa yang dia inginkan dengan berbuat baik pada Nona? jangan harap dia bisa menjadi Putri Mahkota lagi setelah semua yang dia lakukan pada Nona". cerocos Irina dalam hati.
Diana tetap diam dengan pandangan kosong, Ia menoleh sesekali saat Elizia menceritakan kesehariannya bahkan Elizia membuatkan gaun khusus untuk Diana di hari ulang tahun Kampus beberapa hari yang akan datang.
"kenapa Diana? apa kamu tidak suka?". tanya Elizia dengan nada sedih.
Diana menggeleng kepalanya, "terimakasih Elizia".
"aku baikkan?". tanya Elizia tersenyum lebar dan Diana mengangguk saja biar masalah selesai membuat Elizia beryes ria dan hal itu terlihat oleh Irina.
Irina penasaran rencana si Iblis betina disampingnya itu, Elizia adalah orang yang sangat pendendam dan menurut Irina mustahil Elizia bisa berubah baik pada Diana secepat itu apalagi status nya telah dicopot.
Diana tampak dibantu oleh Elizia dan Irina saat menaiki Mobil, Bart Singh memicingkan matanya melihat gerak-gerik Elizia.
"sudah aku bilang kan yang mulia? Elizia sudah berubah". ujar Elizart tiba-tiba ada disamping Bart.
Bart berkata, "jika dia berbuat sesuatu dengan anakku, aku tidak segan langsung menghabisinya".
Elizart tercengang, "kenapa kamu berubah Bart?". tanya Elizart tidak percaya akan perubahan drastis Bart akhir-akhir ini.
__ADS_1
Bart tidak menjawab langsung pergi meninggalkan Elizart, sebenarnya saat Istri pertama nya meninggal dunia Ia tidak mau menikah lagi tapi nama nya manusia tamak yang ingin naik tahta dengan cara merangkak ke ranjang pejabat-pejabat penting, apapun akan halal dilakukan asalkan mendapatkan posisi tertinggi.
Elizart mengepalkan tangannya menatap Mobil yang telah pergi dari kawasan Kastil megah mereka, "tidak akan aku izinkan dia menjadi Putri Mahkota lagi Bart, kau salah telah meremehkanku, hanya karna dia bisa berbicara bukan berarti dia bisa kau jadikan Putri Mahkota kembali". gumam Elizart dengan sinis.
"Putri Mahkota dan Mahkota Tahta ini hanya pantas untuk Putriku Eliziany". sambungnya lagi tersenyum misterius.
Elizart berbalik pergi karna Ia tau rencana anaknya yang ingin mendapatkan hantu tak terlihat, si malaikat yang menyembuhkan Diana.
.
di Kampus,
Diana turun dari Mobil dan diturunkan dengan hati-hati oleh pengawal kerajaan, Irina bertindak cepat membersihkan Kursi Roda untuk Putri Diana.
seorang Pria bermata Elang menatap pemandangan itu, "si*l...! kenapa aku ingin melihatnya dari dekat? ada apa denganmu Cashel? bukankah kau suka dengan matanya? kau kasihan padanya? lalu kenapa kau gelisah saat tidak melihatnya?". gerutu Pria tampan yang tak lain adalah Cashel.
selama beberapa hari Cashel menahan diri untuk tidak bertemu dengan Diana untuk menguji perasaannya sendiri.
"aku tidak bisa menahannya". gumam Cashel berubah lirih melihat rambut Diana diterpa angin dan terlihatlah kecantikan Diana yang sangat menghanyutkan pandangan Cashel apalagi sorot matanya yang tidak berubah.
Cashel meraup wajahnya, "aku ingin melihat matanya". gumam Cashel sungguh pelan.
Irina sedari tadi menahan rasa kesal saja, Ia tidak tau apa rencana Elizia hingga mau berbuat seperti itu.
.
jam Istirahat,
Putri Diana berada di Taman seorang diri, "apa dia tidak mau berteman denganku lagi?". gumam Diana dengan nada pelan.
Diana menoleh ke samping saat ada seseorang melepas ikat rambutnya dan Ia tersenyum mencium aroma tubuh Cashel.
"Cashel? kamu ganti parfum ya?". tanya Diana yang tidak protes saat Cashel melepas ikat rambutnya.
"iya". jawab Cashel.
Diana mengerutkan keningnya, "kamu tidak bertanya kenapa aku bisa bicara?". tanya Diana penasaran.
Cashel tersentak lalu berdehem, "kabarmu bisa bicara telah sampai ke penjuru kampus ini Diana". elak Cashel.
__ADS_1
Diana pun percaya lalu melihat ke arah depannya dan Cashel mengelus dada dengan lega karna Diana tidak menyadarinya.
sejak Diana mengenali dirinya sebagai Ander dan Cashel pun membuat Cashel harus berganti gaya dan memakai Parfum untuk membedakan sosok Ander dan Cashel dalam benak Diana, itulah alasan utama Cashel tidak menemui Diana akhir-akhir ini padahal Ia rindu dengan mata Diana.
"kamu ingin bisa berjalan?". tanya Cashel
Diana menggeleng kepalanya, "aku tidak mau karna kakiku mati rasa, aku tidak bisa menggerakkannya".
Cashel menepuk keningnya karna Ia saat ini sebagai Cashel bukan sebagai Ander.
"Diana?". panggil Elizia dari jauh.
Cashel menoleh begitu juga Diana, Elizia berlari ke arah Diana dan menarik Kursi Roda Diana menjauh dari Cashel.
"siapa kau? kenapa kau mendekati adikku?". tanya Elizia dengan mata melotot seperti benar-benar marah.
"tidak apa Elizia, dia temanku". jelas Diana tapi Elizia mengatakan pada Diana dizaman sekarang tidak ada yang bisa dipercaya hal itu membuat Cashel muak padahal Ia tau isi pikiran Elizia yang ingin cari muka dari Diana.
"pergi...! jangan harap kau yang rendahan bisa berteman dengan adikku yang seorang bangsawan". usir Elizia.
"Elizia? jangan usir temanku, dia temanku". pinta Diana memelas.
Cashel berdiri membenarkan pakaiannya hal itu terdengar oleh Diana pun langsung cemas,
"Cashel? kamu tidak akan pergi kan? kamu temanku kan?". Diana meraba-raba tangan Cashel tapi Elizia menahan tangan Diana.
Elizia mengatakan kata-kata kejam mengenai Cashel yang hanya orang rendahan yang ingin naik pangkat menjadi bangsawan, Cashel menghela nafas panjang dan Ia melihat Diana tampak menangis meminta maaf padanya sesekali Diana melawan tangan Elizia yang berusaha menahan tangan Diana supaya tidak menyentuh tangan Cashel.
"saya pergi Putri Diana". ucap Cashel dengan nada formal.
Diana berkaca-kaca dan menggeleng kepalanya dengan kuat, "Tidak...! Cashel...! jangan begitu, Cashel...! kita teman, Casheelll".
Cashel memilih pergi karna tidak mau membuat Diana terluka oleh Elizia, biarlah Cashel mendekati Diana sebagai Ander karna Cashel mendengar pikiran Elizia yang ingin bertemu dengan hantunya Diana yang artinya adalah dirinya sendiri.
.
.
.
__ADS_1