
.
.
.
Diana menatap aneh Irina yang tengah senyam-senyum memandangnya.
"ada apa Irina? kenapa kamu tersenyum seperti itu?". tanya Diana dengan heran.
"saya senang Nona akhirnya akan terbebas dari belenggu ini, Nona sudah sembuh dan sekarang Nona akan berlatih fisik". kata Irina dengan nada gembira.
Diana tersenyum, "dia ingin aku kuat sebagai ungkapan rasa terimakasihku padanya".
Irina tersenyum cerah, "saya ingin berterimakasih pada Tuan Ungu".
"Ungu?". beo Diana.
Irina menjelaskan bahwa sosok Ander memiliki mata ungu lalu Diana bertanya warna mata Cashel yang Ia kenal, tentu Irina menjawab warna mata Cashel biasa saja hitam.
"benarkah?". tanya Diana tidak mengerti.
"ada apa Nona?". tanya Irina penasaran.
Diana menjelaskan bahwa Cashel dan Ander adalah orang sama, sontak saja Irina membekap mulutnya tak percaya lalu kalau dipikir-pikir bisa saja hal itu terjadi sebab sosok Ander bisa menghilang artinya pasti bisa mengelabui setiap mata manusia.
"ada apa Nona? kenapa menatap saya seperti itu?". tanya Irina memegang pipinya sendiri yang ditatap oleh Diana.
"apa kamu suka hal fantasi? kenapa khayalanmu bisa setinggi itu?". tanya Diana merasa heran.
Irina senyam-senyum, "kalau begitu saya juga akan berterimakasih pada Tuan Cashel".
Diana menggeleng kepala dengan perubahan Irina, awalnya gadis itu terlihat syok berat tapi hanya sebentar sekarang sudah menerima semua itu padahal Diana cukup lama memahami hal yang menimpa dirinya tapi Irina tidak butuh waktu lama memahami semuanya.
Irina adalah Pelayan yang setia pada Diana, setiap hari Ia selalu berkhayal akan ada seorang Pangeran berkuda putih menyelamatkan Diana dari belenggu penderitaan itu, saat semua itu terjadi tentu Ia tidak syok malah senang seolah doanya dan khayalannya selama ini telah menjadi kenyataan.
.
Diana diam-diam berlatih dengan Bart Singh di Ruangan baca Bart selama 2 hari penuh dan Diana tidak mengeluh dengan derita fisiknya, mungkin semua luka yang menimpa Diana selama ini sudah membuatnya kebal jadi tidak merasa sakit lagi dengan segala pelatihan fisik dari Ayahnya.
Elizart yaitu Ibu Tiri Diana melihat Diana keluar dari Ruangan Baca Bart, Ia mendekati Diana yang memandang kosong kedepan.
"ada apa Irina? kenapa berhenti?". tanya Diana berpura-pura tidak tau ada Elizart didepannya.
__ADS_1
"ada Ratu Nona". bisik Irina.
"Ratu?". Diana memperbaiki gerakan tangannya lalu memberi hormat pada Ibu Tirinya.
Elizart menarik nafas dalam-dalam, Ia harus bertindak baik pada Diana sampai sosok yang menjaga Diana berpindah ke Putrinya Elizia.
"Diana? kenapa selama beberapa hari ini kamu sering keluar masuk Ruangan Ayahmu? apa kamu mau mengganggunya?". tanya Eliza dengan lembut dan sebaik mungkin.
Diana menolehkan kepalanya ke suara itu tapi matanya masih kosong, Diana tidak mau ada yang tau bahwa Ia bisa melihat sebelum Ia menjadi kuat.
"Maaf Ibu, Ayah meminta saya untuk melatih kaki saya tapi saya sudah berusaha dengan segala kemampuan saya". jawab Diana senatural mungkin memegang kakinya.
Eliza memperhatikan itu sontak bibirnya berkedut, "benarkah? apa ada perubahan?". tanya Eliza.
Diana menggeleng dengan sedih, "tapi Aku tidak mau membuat Ayah sedih, jadi biarkan Ayah melakukan apapun yang Ayah inginkan Ibu". kata Diana dengan lirih.
Irina diam, dalam hatinya memuji kehebatan Diana yang mengarang cerita sedemikian rupa sebab sebelumnya mereka sudah tau hal seperti ini akan terjadi.
Elizart menyemangati Diana padahal hatinya tertawa dengan perbuatan Bart Singh yang ingin Diana sembuh, Ia membiarkan apapun yang Bart Singh lakukan karna Elizart yakin racun serta jampi-jampi yang Ia berikan tidak akan bisa disembuhkan dengan pelatihan fisik Bart Singh.
Irina membawa pergi Diana dari Elizart, Elizart memandang sinis Ruangan Bart Singh.
"kau tidak akan bisa membuatnya sembuh, aku akan menghancurkan rencanamu yang ingin menjadikan dia Putri Mahkota lagi". seringai Elizart.
.
.
hari dimana acara Kampus pun tiba,
Diana berada di lantai atas, Ia mendengar pesan bahwa Elizia ingin bertemu dilantai atas.
"Diana?". panggil Elizia.
Diana menoleh, "iya? ada apa Elizia?". tanya Diana dengan wajah polosnya yang tidak tau apapun.
"aku ingin tau dimana hantu yang menyembuhkan suaramu?". tanya Elizia to the point.
Diana tampak terkejut, "a.. aku tidak tau Elizia, dia selalu menghilang dan muncul sesuka hati".
"jadi ini yang Ayah katakan, Elizia diam-diam mencari tau tentang Cashel". batin Diana.
Elizia bersemangat dan memegang tangan Diana ingin dipertemukan dengan hantu yang menyembuhkan suara Diana, Elizia ingin Diana melindunginya jika hantu itu marah karna selama ini Ia sudah berbuat baik pada Diana.
__ADS_1
"akan aku tanyakan kalau dia muncul". kata Diana.
Elizia tersenyum paksa, Ia melihat ke lantai bawah ingin sekali Elizia melempar Diana jatuh tapi harus ditahan olehnya sampai Elizia bertemu dengan hantu yang menyelamatkan Diana, Elizia tidak akan bisa bertemu dengan hantu itu jika Diana tidak mempertemukan mereka.
.
Diana menghela nafas saat Elizia tak terlihat lagi, "sekarang aku punya alasan untuk hidup". gumam Diana tersenyum tulus.
Irina yang tengah bersembunyi segera keluar dari Persembunyiannya dan bertanya keadaan Diana yang baik-baik saja.
"apa kamu bertemu dengan Cashel?". tanya Diana.
"belum Nona, saya tidak mengerti mengapa kedua Pria itu sulit sekali ditemukan jika dicari". jawab Irina dengan nada sedikit jengkel.
"kedua Pria?". beo Diana.
Irina menjelaskan bahwa Cashel memiliki teman sekamar jurusan bisnis internasional, Diana akhirnya menemukan ide meminta Irina mencari alamat tempat tinggal Cashel dan Lionel.
Diana mengulum senyum, Ia merasa senang dengan idenya dan akan mengatakan pada Cashel bahwa Ia sedang berlatih untuk menjadi gadis yang kuat.
"kalau begitu ayo kita turun Nona..! acara sudah dimulai". ajak Irina.
Irina membawa Diana ke acara kampus, beberapa kali kursi Roda Diana harus terseret kesana-kemari karna keusilan mahasiswa/i disana tapi Diana tetap teguh pada pendiriannya untuk bertindak setelah menjadi kuat.
kaki Irina sampai terluka mendorong kursi Roda Diana, Ia berhasil menyelamatkan Diana dari kejahatan anak-anak Kampus itu yang tidak bermoral juga tak punya belas kasih.
"Nona?". Irina duduk disamping Diana.
Diana meminta maaf pada Irina yang terluka karnanya, Irina tersenyum mendengarnya inilah alasan Irina rela menyerahkan hidup dan matinya untuk Diana karna Nonanya itu tidak pernah merendahkannya.
Diana hendak berbicara tapi acara sudah dimulai, diam-diam Elizia tersenyum dibalik Tirai memperhatikan Diana yang duduk di bawah panggung.
.
Cashel berdiri tak jauh dari Diana, Ia mengawasi Diana dari jauh jika ada yang melukai Diana.
"tadi kenapa diam saja?". tanya Lionel disamping Cashel.
"Pelayannya berguna juga". jawab Cashel dengan santai membuat Lionel memutar bola matanya dengan malas karna Cashel berlagak sebagai Pria keren melindungi Diana tanpa sepengetahuan Diana.
.
.
__ADS_1
.