Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
manis


__ADS_3

.


.


.


Cashel memejamkan matanya sambil mengusap lembut kepala Diana yang tiada henti berterimakasih padanya.


beberapa saat kemudian,


Cashel melepaskan pelukannya lalu menangkup pipi Diana yang matanya memerah karna tangis bahagianya itu, "udah kenyang nangisnya?".


Diana tersenyum dengan mata berkaca-kaca lalu menganggukkan kepalanya dan Cashel mengecup kening, hidung serta pipi Diana.


"kamu suka sekali menangis". bisik Cashel sedangkan Diana makin melebarkan senyumnya dengan mata terpejam.


hidung Diana tadi yang merah kembali normal berkat kecupan Cashel.


"lapar?". tanya Cashel.


"iya". jawab Diana dengan rengutan khas nya yang tidak terlalu berlebihan namun membuat Cashel mengulum senyum karna Diana sudah berubah si Putri Manja yang pasti Cashel suka Diana hanya manja padanya saja.


Cashel membuatkan sarapan untuk Diana yang baru saja bangun tidur sementara Diana disuruh ke Kamar mandi untuk membersihkan diri, Diana belum tau tentang apa yang terjadi pada Elizia karna Ia sedang berbahagia setelah bertemu dengan Ibundanya dialam mimpi.


hap...!


Cashel melirik kesamping dimana Diana memeluknya dari belakang, Cashel mematikan kompornya dan berbalik sambil duduk diwestafelnya jadi sejajar dengan Diana.


Cashel memperbaiki rambut Diana lalu menyibakkannya, Cashel tersenyum tampan lalu melancarkan aksinya memberi kecupan manis di leher Diana tanpa jejak.


"wangimu unik sekali sayang". bisik Cashel.


Diana memukul pelan bahu Cashel, "aku tidak tau kenapa kamu seperti ini, aku sampai buru-buru mandi takut kamu mengintipku tadi".


Cashel melingkarkan tangannya di pinggang Diana sambil tertawa melihat wajah masam Diana yang sungguh takut diintip olehnya.


"tidak..! aku tau batasanku walaupun aku mengintipmu aku tidak akan memakanmu sebelum waktu itu tiba, tapi melihatnya saja boleh kan?". gemas Cashel.


Diana melebarkan matanya, "jangan...! aku maluu". ucap Diana dengan nada cukup tinggi lalu mencicit pelan dibagian malu.


Cashel mencium bibir Diana berkali-kali namun Diana menundukkan wajahnya yang merona dan langsung memeluk Cashel supaya bisa menyembunyikan wajahnya yang malu ditatap dan dicium oleh Pria setampan Cashel.

__ADS_1


"kenapa malu hmm? aku akan bertanggung jawab". Cashel berbisik di telinga Diana membuat wajah Diana yang bersembunyi di bahu Cashel semakin merah saja.


"sudah Cash...! jangan menggodaku lagi, aku sungguh malu jangan mengintipku ya?". pinta Diana.


Cashel pun mengalah padahal hatinya enggan lah, sebab tubuh Diana memang sangat bagus dan sayang sekali tidak dilihat, tapi Cashel berkata seperti itu biar Diana tidak malu padanya dan Cashel juga tidak akan mengatakan bahwa Cashel melihat tub*h Diana.


"tadi aku tidak mengintipmu sayang..! aku membuatkanmu sarapan". ujar Cashel.


"iya..! aku lapar". jawab Diana akhirnya melepaskan pelukannya dari Cashel.


Cashel mengelus pipi Diana yang merah dengan gemas Ia mencubit pipi Diana sambil tertawa, wajah Diana seperti hiburan tersendiri bagi Cashel.


mereka menikmati hari bersama-sama di Kontrakan, Lionel entah kemana membawa Irina yang tak juga kembali di siang hari kini.


Cashel dan Diana sedang berada di Sofa, Cashel mengerjakan tugasnya begitu juga Diana melihat-lihat materi belajarnya lewat Iped milik Cashel.


drrrtt...!!


Ponsel Cashel bergetar dan saat Cashel lihat ternyata pesan dari Dosen Kampusnya.


"sayang..? aku harus ke Kampus". Cashel menoleh ke Diana.


Diana memutar wajahnya ke Cashel, "ada apa? apa ada masalah?". tanya Diana sambil meletakkan Iped Cashel di meja Sofa.


Diana melebarkan matanya, "berarti masalah besar dong!".


Cashel menggeleng kepalanya, "dia hanya berprasangka karna namaku juga Cashel dan kabar Cashel Asiantama sedang Kuliah di Luar Negri sudah tersebar tapi dinegara mana tidak ada yang tau, aku rasa dia bukan Dosen yang bodoh". jelas Cashel.


Diana tertawa kecil, "Cashel tidak ada Dosen yang bodoh".


Cashel tersenyum tampan lalu mencium bibir Diana menduselkan hidungnya dengan hidung mungil Diana, "aku akan kembali..! apapun yang terjadi jangan pernah keluar atau membukakan pintu untuk siapapun..!".


"kalau Kak Lionel bagaimana?". tanya Diana dengan raut wajah penasaran.


"dia bisa masuk sendiri". jawaban Cashel membuat Diana mengangguk patuh.


Cashel pun segera menghilang setelah memberi pesan serius untuk kekasihnya, Diana kembali mengambil Iped Cashel dan melihat-lihat materinya.


DEG...!!


Diana melihat notif yang tertera bahwa Elizia sudah hancur.

__ADS_1


"apa maksudnya?". gumam Diana dengan was-was lalu menekan notif itu untuk melihat kejelasannya.


Diana terbelalak membaca berita itu sampai Ia berdiri dari tempatnya, "haaa?".


Diana hampir saja ingin berlari keluar dari Kontrakan Cashel namun sejenak Ia teringat pesan Cashel, terpaksa Diana menghubungi Eka yaitu Pelayannya di Kastil beruntung Diana ingat nomor ponsel Eka.


mendengar penjelasan Eka membuat Diana mengerti bahwa Cashel menyelamatkannya dari perbuatan jahat yang direncanakan Elizia padanya, kini Elizia menjadi gila karna kejahatannya terbongkar tanpa ada yang tau semua itu adalah ulah Cashel.


Diana mematikan panggilannya lalu meletakkan Iped Cashel di meja yang ada didepannya.


"Cashel menyelamatkanku..! aku tidak bisa pergi". lirih Diana merasa kasihan pada Elizia tapi Diana juga tidak bisa berbuat apa-apa sebab media sudah tau kebusukan Elizia.


"maaf Elizia..! Aku tidak bisa datang menemuimu karna kamulah yang sudah menghancurkan kehidupanmu sendiri, aku sudah berulang kali memperingatimu". gumam Diana yang tidak bisa lagi menolong Elizia.


Elizia memang jahat tapi menurut Diana itu karna didikan Elizart yang salah, Elizia sudah diajarkan jahat oleh Elizart demi tahta namun walau begitu Diana masih mau memberi kesempatan pada Elizia supaya berubah, tapi seperti kata Cashel hati yang sudah sepenuhnya kotor tidak akan bisa dirubah sampai mereka mati sekalipun.


1 jam kemudian,


Cashel kembali ke Kontrakannya dan Diana melihat kekasihnya sudah kembali langsung berlari ke arah Cashel menanyakan tentang Elizia.


"kamu sudah tau sayang?". tanya Cashel sambil merangkul Diana ke arah Sofa dan mereka duduk bersama.


"jelaskan padaku Cash..! aku tau kamu melindungiku tapi bisa kamu jelaskan lewat bibirmu?". pertanyaan Diana membuat Cashel tertawa lalu jari tangannya menjepit dagu lancip Diana.


"jelaskan apa lewat bibirku?". tanya Cashel menggoda.


Diana gelagapan lalu memegang lengan Cashel, "Cashh?? aku serius". rengek Diana dengan pandangan kemana-mana karna sedikit panik.


"bukankah sudah jelas? aku hanya melindungimu saja". jawab Cashel memainkan bibir Diana yang tidak terlalu tipis dan tidak terlalu tebal.


awalnya Diana gerogi di perlakukan seperti itu tapi akhirnya Ia mulai fokus mendengarkan cerita Cashel yang sebenarnya namun jemari Cashel sepertinya tidak mau berhenti bermain di bibir Diana.


Cashel menaikkan sebelah alisnya tak suka dengan kebaikan hati Diana yang masih saja kasihan pada Elizia yang sudah jelas Cashel katakan bahwa Ular kepala 3 itu berencana membunuh Diana malam itu.


cup..!


Cashel membungkam bibir Diana yang masih saja mengocehi Elizia yang anak yatim-piatu.


"kamu boleh baik sayang tapi jangan buat dirimu menjadi lemah, karna hatimu yang terlalu lembut itu akan menjadi senjata musuh untuk mengendalikanmu sayang". peringatan Cashel.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2