Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
masalah kecil


__ADS_3

.


.


.


Acara berlangsung meriah,


Diana mendengar nama Elizia di elu-elukan walau beberapa waktu yang lalu Elizia sempat di cela karna bertindak gila hingga statusnya dilepas tapi tak membuat siapapun waras jika sudah melihat Elizia diatas panggung.


Irina hanya memperhatikan pose Elizia sambil berdecak dalam hati, Ia selalu memasangkan Diana gaun jadi bentuk tubuh Diana hanya Irini lah yang tau.


"Nona?". bisik Irina.


Diana menoleh ke Irina, "ada apa?". tanya Diana dengan pandangan kosong.


"Nona tidak sedih?". tanya Irina.


Diana tersenyum, "aku punya Ayah dan Ander, aku tidak butuh apapun". jawabnya pelan membuat Irina tersenyum lebar.


"tapi dimana Tuan Cashel ya Nona? bukankah Nona mengatakan kalau orangnya sama?". Irina celingukan.


Diana memutar pandangannya, "aku tidak tau, dia sangat misterius".


Elizia terus saja berpose diatas panggung, anehnya panggung itu seolah milik Elizia saja sehingga membuat siapapun yang tidak suka Elizia jengah.


prok.. prookk.. prok..


suara tepuk tangan meriah pun terdengar oleh Diana, Diana merasa tidak nyaman akan sesuatu.


"ada apa Nona?". tanya Irina memandang wajah Diana yang memerah seperti tidak tahan akan sesuatu.


"t.. tubuhku gatal sekali". bisik Diana.


Irina melebarkan matanya lalu memegang tangan Diana dan memperhatikan lengan Diana yang memang merah, Irina melihat dibalik gaun Diana dengan hati-hati hingga Irina panik.


"Nona..? sepertinya ada yang sengaja mengerjai Nona, Gaun ini pasti di sirami sesuatu". Kesal Irina.


Diana mulai terasa gatal menggaruk-garuk punggungnya, Irina yang khawatir dan cemas segera membawa Diana pergi dari kerumunan yang menyesakkan itu.


Irina membawa Diana ke suatu Ruangan yang terang dan berniat hendak melepas gaun Diana tapi tiba-tiba cahaya di Ruangan itu mati, "l..loh? kenapa mati?". gumam Irina celingukan.


Diana tidak tahan terus menggaruk punggungnya, "Irina..? gatal". ringis Diana.


"i.. iya Nona". Irina hendak membawa Diana keluar Ruangan itu tapi Ia tertegun seketika melihat Cashel tengah bersidakap dada didepan pintu.


"Ehh?".

__ADS_1


"Ruangan ini ada CCTV". kata Cashel dengan tenang hingga Irina sadar akan kesalahannya pun meminta maaf.


"s.. saya terlalu panik Tuan". cicit Irina yang hampir saja melakukan kesalahan yang sangat fatal.


"biar aku yang bawa". kata Cashel mendekati Diana yang tengah menggaruk-garuk wajahnya yang kian memerah.


Irina celingukan melihat situasi yang masih gelap tapi Irina yakin Diana tidak ada didekatnya, alhasil Irina menunggu Diana di tempat itu sambil menggigit ujung kukunya dengan khawatir dan cemas.


Cashel bisa menutup CCTV itu tapi entah apa rencananya sehingga membawa kabur Diana entah kemana.


.


Cashel membawa Diana ke Kontrakannya, "tanggalkan pakaianmu". kata Cashel.


Diana melebarkan matanya, "t.. tidak mau".


Cashel menggaruk kepalanya yang tak gatal, "lalu bagaimana caraku melihat lukamu jika aku tidak melihatnya? aku tidak akan macam-macam".


Diana akhirnya berdiri karna Ia tidak tahan dengan rasa gatal di tubuhnya, Diana berdiri membelakangi Cashel lalu menyibakkan rambutnya kedepan sehingga Cashel bisa melihat punggung mulus Diana.


"ce..cepatlah..! aku tidak tahan". pinta Diana gemetar.


Cashel segera menurunkan resleting gaun Diana, "sebentar ya? aku akan cari tau apa yang ada dibalik gaunmu". bisik Cashel yang berusaha meluruskan pikirannya yang berbelok-belok entah kemana.


Diana mengangguk dengan tangan kiri menggaruk lehernya dan tangan kanan Diana memegang gaun depannya takut tiba-tiba jatuh dan Cashel bisa melihat semuanya, Diana masih memiliki akal pikiran walau situasinya terdesak.


"la..lalu bagaimana? aku tidak punya baju ganti". tanya Diana tergagap.


Cashel sudah tau rencana Elizia yang ingin membuat Diana membuka gaunnya di Ruangan itu yang sudah dikelilingi CCTV, Cashel datang tepat waktu.


"kalau begitu tidak usah pakai baju". kata Cashel.


Diana membulatkan matanya, "a.. apa maksudmu?". tanya Diana menoleh ke arah samping tapi masih membelakangi Cashel.


"Ehh? hmm.. maksudku ganti saja pakaianmu". ralat Cashel yang aneh mulutnya berbicara sendiri tanpa Cashel kendalikan.


"iya ganti sama apa?". tanya Diana menggaruk kepalanya yang kebagian gatalnya juga.


Diana melihat tangannya sudah bengkak-bengkak begitu juga wajahnya, Cashel memegang puncak kepala Diana lalu segala gatal dan rasa sakit di tubuh Diana menghilang begitu saja.


Diana menekuk kedua alisnya membuat kening Cashel bertaut melihat ekspresi Diana yang terbilang lucu.


"kenapa?". tanya Cashel.


"aku melakukan kesalahan memperlihatkan tubuh belakangku padamu, kamu pasti sengaja mencari kesempatan kan?". tanya Diana penuh selidik.


"ha? aku? cari kesempatan apa?". tanya Cashel celingukan.

__ADS_1


"kamu bisa menyembuhkanku dengan mudah terus kenapa menurunkan resleting gaun belakangku kalau tidak mencari kesempatan namanya, walaupun aku cacat tapi kamu harus tau aku ini gadis". celoteh Diana.


Cashel berdehem pelan, "hmmm? ituu?". Cashel menunjuk punggung Diana.


Diana terpaksa berbalik dengan mata setengah terpejam Cashel memasang kembali resleting gaun Diana.


"aku sangat ingin melihatmu tapi kamu datang hanya ingin melihat punggungku saja, aku tidak menyangka kamu Pria mesum". sambar Diana.


Cashel melebarkan matanya, "apa?? kamu mengataiku mesum?".


Diana memperhatikan wajah Cashel, "tapi kenapa mata dan rambutmu berbeda?". tanya Diana tiba-tiba melupakan kekesalannya.


Cashel membuang muka berjalan ke arah dapurnya lalu Diana tersadar dengan keadaan sekeliling, Ia bertanya apakah ini Rumah Cashel dan dibalas anggukan saja oleh Cashel yang diam-diam mencuri lirikan ke Diana.


.


di tempat lain,


Irina membulatkan matanya saat banyak rombongan lelaki memasuki Ruangan itu bersama para Dosen wanita dan lelaki.


"a.. apa maksudnya? untung saja Tuan Cashel datang tepat waktu". Irina tidak bisa membayangkan jika Irina melepas gaun Diana disini sudah yakin reputasi Diana akan rusak.


"periksa cepat..!". teriak salah satu wanita yang tiba-tiba datang.


Irina langsung panik mendengar suara cempreng itu karna pemilik suara itu adalah teman baiknya Eliziany, "ba.. bagaimana ini?". bisik Irina.


para lelaki dan wanita pun menggeledah tempat itu, tiba-tiba Irina memejamkan mata karna Ia akan tertangkap tapi entah mengapa Ia merasa pusing saat membuka mata betapa terkejutnya Irina berada di Taman luas yang biasa tempat Diana menenangkan diri.


"ke.. kenapa aku bisa disini?". Irina celingukan melihat sekeliling.


Lionel diatas gedung memperhatikan Irina, "dasar si Cashel, kenapa aku harus membantunya mengeluarkan gadis itu?". gerutu Lionel lalu berbalik pergi.


Irina berlari kembali ke Acara, Irina tidak tau mengapa Ia bisa ada disana tapi yang jelas seseorang menolongnya dari bahaya.


"pasti itu rencana mak lampir itu, aku tidak tau apa yang akan terjadi jika Nona ada didalam sana". Irina mengoceh sambil berlari.


Irina melihat sekeliling sungguh sepi hanya beberapa orang saja yang ada didalam sana, "apa acaranya sudah selesai?". gumam Irina.


Irina mencari-cari keberadaan Diana yang terdampar entah dimana. Irina berlari menuju Ruangan tempat Irina membawa Diana tadi sebelum dibawa pergi oleh Cashel, Ia membekap mulutnya syok saat banyak para mahasiswa/i berada di Ruangan itu bersama para dosen. mereka semua sedang menggeledah sesuatu.


"ja.. jadi ini Ruangan ganti laki-laki?". batin Irina dengan syok.


"kami selamat". bisik Irina merasa ngeri jika Diana ataupun Irina tertangkap berada di Ruangan ganti lelaki.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2