
.
.
.
Bubby mengantar Gadis menyedihkan itu ke sebuah pemukiman apartemen Mewah yang ternyata semua itu milik Bubby, Ia terbilang muda tapi punya banyak penghasilan.
"tunggu...!." Bubby menahan Gadis itu yang gerakannya terhenti seketika.
Bubby mengambil sebuah jaket dibelakang mobilnya dan melemparnya ke pangkuan Gadis itu.
"Pakai..! gaunmu koyak nanti penghuni Apartemenku mengira kalau aku melec*hkanmu." kata Bubby dengan santai.
Gadis itu pun segera memakai jaket Bubby dan mengucapkan Terimakasih, Ia saja kaget melihat Gaunnya wajah Gadis itu merona bukan karna Cinta tapi malu entah sejak kapan Bubby melihat tubuhnya.
"cepat keluar..! akan aku antar." kata Bubby keluar terlebih dahulu sambil membawa plastik berisi makanan yang Ia beli tadi.
Gadis yang terlihat berantakan itu melihat kepergian Bubby, "dia Pria yang baik! setidaknya aku tidak membuat namanya buruk." gumam Gadis itu segera membenahi rambutnya.
setelah merapikan diri, Gadis itu pun Keluar dari Mobil Bubby tanpa menunggu si gadis itu Bubby langsung berjalan didepan Gadis itu yang setengah berlari mengejar Bubby.
"aahh"
Bubby menghentikan langkahnya, "huhh"
Bubby melangkah mundur dan menodorkan ujung Jaketnya alangkah patuhnya gadis itu bangkit menggenggam erat ujung jaket Bubby memasuki Lift sampai ke Apartemennya.
"sandinya 569246" kata Bubby.
"t.. tunggu.. Tuan..? s.. saya tidak mengerti, ap.. apa saya akan tinggal disini? apa tidak merepotkan?." tanya Gadis itu.
"apa keahlianmu? apa kau bisa bersih-bersih? aku butuh asisten Rumah tangga." Bubby berkata dengan tenang.
"b. bisa Tuan Muda..! saya bisa melakukan apa saja dan tidak perlu dibayar hanya biarkan saya tinggal disini saja." jawab Gadis itu seketika tersenyum lebar.
"siapa namamu?." tanya Bubby tanpa melihat sama sekali ke Gadis itu.
"Permata Rara Tuan Muda..! anda bisa memanggil saya Rara." kata Rara dengan senyuman sembari mengikuti Bubby masuk ke Apartemen Bubby.
"setidaknya menjadi pembantu lebih baik daripada menjadi jal*ng, tapi aku butuh uang untuk Biaya Rumah Sakit Ibu? aah.. ya sudahlah..! yang penting aku punya tempat tinggal dan bisa cari pekerjaan lain." batin Rara.
Bubby tentu mendengar pikiran Rara, Ia cukup tertegun saat tau cerita Rara yang ternyata Uang penghasilan Rara diambil oleh Ayah kandungnya main jud* ditambah tabungan Rara yang mau sambung Kuliah di Luar Negri diambil juga.
"dasar Pria brengs*k...! main jud* tidak akan membuat dahagamu puas." batin Bubby menggeleng kepalanya mendengar segala kesedihan Rara.
Bubby menjelaskan semua Kamarnya, segala tempat dan hanya satu tempat yang Rara tidak boleh masuki yaitu Kamar Bubby karna ada Ruang Kerja juga disana, Rara mengingatnya baik-baik karna merupakan Privasi Bubby tentu saja harus dihargai.
__ADS_1
Bubby tak lupa meninggalkan nomor ponselnya ke Rara dan minta nomor rekening Rara, Rara menautkan kedua alisnya tapi dipaksa akhirnya diberikan juga.
tringggg!!
Rara melihat ponselnya dan matanya melebar kaget dengan nominal yang dikirim oleh Bubby.
"urus dengan benar..! itu upahmu karna sudah menyimpan kalung Kakak iparku, untuk malam ini saja aku beri ini makananmu, besok akan aku beli segala keperluan dapur untukmu masak sendiri." kata Bubby meletakkan plastik berisi makan malamnya Bubby diberikan untuk Rara.
"ta.. tapi Tuan? s.. saya ikhlas menyimpannya." Rara setengah berlari mengejar Bubby yang jalan terus tanpa menoleh atau berhenti sekedar mendengar ocehan Rara.
Rara terdiam ditempat saat pintu Apartemen Bubby terkunci, Ia mengedarkan pandangannya ke Plastik yang Bubby tinggalkan lalu beralih ke Layar Ponselnya dan berkaca-kaca.
"T.. Terimakasih Tuhan.! terimakasih telah menolongku lewat tangan orang baik, aku bisa bayar operasi Ibu." gumam Rara menangis seketika.
.
di dalam Mobil,
Bubby melihat panggilan telfon dari Cashel membuatnya mematikan mesinnya lalu mengangkat panggilan sang Kakak.
"apa kak? aku tidak mengganggu Kakak Ipar." bela Bubby yang mengira Cashel akan menuduhnya yang tidak-tidak.
"apa kau melihat kalung Kakak Iparmu? aku sedang di Rumah Sakit..! bantu aku mencarinya!." kata Cashel disebrang sana.
Bubby seketika menghilang dan muncul didepan Cashel yang melirik mematikan panggilannya, Ia tidak kaget dengan kedatangan Bubby yang tiba-tiba.
"sudah jam 12 malam masih aja mencari kalung itu, apa Kakak tidak takut melihat hantu?." celutuk Bubby.
Bubby menghela nafas panjang lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu dari sana, "ini.?"
Cashel menoleh dan terkejut kalung itu ada di tangan Bubby, "dimana?."
Bubby menjawabnya dengan rinci tapi tidak memberitau Cashel kalau Bubby tengah menampung Gadis itu di Apartemennya.
"syukurlah..! apa kau sudah membayarnya?." tanya Cashel menyimpan kalung Diana.
"sudah..! cepat ganti..!" titah Bubby mengulurkan tangannya sambil menaikkan kedua alisnya tersenyum picik.
"apa maumu?." tanya Cashel.
"aku mau tambahan dana memperluas Apartemenku kebelakang, aku akan buat Taman khusus disana Kak." jawab Bubby dengan bangga.
inilah awal bisnis Bubby selalu malakin Kakaknya tapi Cashel tidak mempermasalahkannya karna Uangnya memang sangat banyak.
"berapa?." tanya Cashel.
Bubby merasa senang Cashel memberinya bonus dari jumlah yang Ia inginkan, betapa beruntungnya Bubby padahal Ia mengeluarkan uang tidak sampai milyaran ke Rara sebagai rasa terimakasih tapi Cashel memberinya berkali-kali lipat.
__ADS_1
"terimakasih Kak..!" ucap Bubby dengan senyum lebar.
"hmm." jawab Cashel yang langsung menghilang dari pandangan Bubby.
"waah...! aku untung besar, hahahaha." tawa puas Bubby menggelegar.
Bubby tau betapa berharganya Diana bagi Cashel, itu sebabnya Bubby mau menampung Rara yang telah menemukan kalung Diana.
.
ke esokan harinya,
Diana tersentak bangun lalu meraba lehernya, "ka.. kalungku?." pekik Diana yang teringat kemarin malam Cashel membuatnya tertidur supaya melupakan kalungnya.
Diana berusaha bangkit sambil memegang perutnya dan Ia terkejut melihat sebuah kotak mewah yang terbuka memperlihatkan Liontin bulan merah kesayangannya.
"Cashel? kamu manis sekali." Diana berjalan ke meja riasnya tanpa alas kaki.
"Terimakasih suamiku telah menemukan kalung peninggalan Ibundaku." Diana mencium kalungnya itu lalu menutupnya dan diletakkan di Brankas pentingnya.
"aku tidak mau kalungku menghilang lagi." kata Diana pelan.
Diana segera membersihkan diri lalu Keluar mencari suaminya di Ruang Kerja, Cashel dengan cepat berlari ke Diana merangkul istrinya berjalan menuju Sofanya untuk duduk dengan sangat hati-hati karna perut Diana sangat besar. namun, ajaibnya kaki Diana kuat sekali berjalan kesana-kemari.
"kenapa berjalan juga hmm? aku kan udah bilang tetap saja didalam Kamar, apa kamu tidak menunggu Eka yang sedang membuatkanmu sarapan sayang?." cecar Cashel.
Diana tersenyam-senyum menggenggam tangan Cashel, "aku mau berterimakasih Beb..!."
"Karna?."
"kalungku." jawab Diana tersenyum lebar.
Cashel meraba leher Diana lalu bertanya dimana kalung itu ternyata Diana tidak mau menghilangkannya lagi, Diana menyimpannya didalam brankas.
Cashel tersenyum tampan lalu bangkit menuju Meja Kerjanya mengambil sesuatu dari laci nya dan kembali ke Diana.
"ehh?." Diana kaget Cashel memperlihatkan kalung mungil berbentuk bulan merah unik seperti milik Diana cuma versi Cashel lebih menggemaskan serta rantainya tidak terlalu panjang dan Bulan merahnya tidak terlalu besar.
"dimana kamu membelinya Beb?." tanya Diana berbinar saat Cashel memasangkan kalung itu dilehernya.
"aku memesannya." bisik Cashel mengecup leher Diana.
Diana tersenyum bahagia memegang mata kalungnya, "tapi takut hilang..! boleh aku simpan?."
Cashel menggeleng kepalanya, "aku bisa memesannya lagi untukmu tapi peninggalan Ibumu tidak boleh hilang dan tidak akan bisa diganti dengan apapun." kata Cashel lembut.
.
__ADS_1
.
.