
.
.
.
di kamar lain,
Elizia mengamuk melihat Elizart telah cacat, Wanita itu tidak memiliki tangan dan kaki yang di gunakan menyakiti Putri Diana selama ini.
Elizart pun marah dengan situasinya karna pejabat yang selama ini berpihak padanya malah membuang muka, tidak ada yang berguna satupun diantara mereka.
"bagaimana dengan jari kelingkingmu sayang?". tanya Elizart yang terbaring di tempat tidur dengan banyaknya perban disekujur tubuhnya.
"aku cacat Bunda..! aku cacat". pekik Elizia dengan frustasi memperlihatkan jari kelingking kanannya yang sudah tidak ada.
"kamu tenang saja sayang..! ibunda mu ini masih hidup, aku akan balas perbuatan mereka semua". Elizart.
setelah apa yang terjadi dengan Elizart tidak ada yang perlu Elizart takuti lagi, kini mereka diasingkan dan tidak lagi di Kastil utama.
"apa rencana bunda?". tanya Elizia.
"Ibundamu ini tidak akan menahan diri, dia telah memperlihatkan cakarnya maka Ibundamu ini akan memperlihatkan taring serta tandukku...! tidak akan aku biarkan si jal*ng kecil bangga dengan cakarnya". kata Elizart.
"sebenarnya semua bisa tertutupi Bunda tapi rekaman itu yang membuat semuanya kacau". Elizia duduk disamping Elizart yang masih berbaring.
"Bunda tau, saat kita menyiksa nya hanya ada pelayan bodoh itu saja". kata Elizart dengan wajah pucatnya itu masih bisa berpikiran jahat padahal sudah tidak ada tangan juga kaki.
"apaa?? jadi Irina pelakunya?". seketika Elizia syok karna baru mengerti makna kata-kata Elizart.
"Bunda akan beri dia pelajaran". seringai Elizart.
Elizia yang akan mengambil alih demi kesehatan Elizart yang belum sembuh, Elizart tidak peduli karna semuanya sudah hilang jadi sekalian saja semua di hilangkan, Elizart akan meruntuhkan kesombongan Diana yang belum ada apa-apanya dengan dirinya.
"aku akan buat dia menyesal dengan segala sandiwaranya itu". kata Elizart dengan mata terpejam merasakan denyut kaki dan tangannya yang sakit.
rasa sakit di kaki dan tangannya tidak seberapa dibanding dengan rasa sakit serta geramnya Elizart akan kesombongan Putri Diana, semua tidak akan berhenti walau Elizart tidak punya kaki dan tangan.
di Kastil Tua,
"hah? ja.. jadi Irina akan dalam bahaya?". tanya Diana dengan mata melebar kaget.
Cashel mengangguk, "hmm".
Diana terdiam beberapa saat lalu Cashel memegang tangan Diana dan berjanji semua akan baik-baik saja.
"bukan begitu Cashel, aku tidak menyangka mereka masih bisa berpikiran jahat setelah semua kejahatan mereka terbongkar". kata Diana dengan nada sedih.
__ADS_1
Cashel terkekeh hal itu membuat Diana menautkan kedua alisnya memandang Cashel yang tertawa.
"apa yang lucu?". tanya Diana dengan bingung.
"orang seperti itu tidak akan menyerah, kamu yang memberi mereka kesempatan untuk hidup dan gunakan media sebagai pembelaanmu karna hukum negara ini tidak kokoh para pejabat berpihak pada mereka berdua". kata Cashel.
"bagaimana caranya biar mereka berubah?". tanya Diana penasaran.
"mati". jawab Cashel memandang Diana yang memiliki sorot mata yang unik.
mungkin wujud malaikat yang berwajah manusia pantas pada Diana, bisa-bisanya Diana masih ingin orang yang telah menyakitinya berubah.
"hah?? apa kamu tidak bisa membuat mereka baik? kamu bisa menyembuhkanku kan? artinya membuat mereka baik tidak susah kan?". cecar Diana menggenggam tangan Cashel balik dengan sorot mata memelas.
Cashel tersenyum miring, "aku mungkin punya kekuatan super, semua organ tubuh manusia bisa aku kendalikan tapi hati? aku tidak bisa menyentuh hati manusia dengan kekuatanku karna hati hanya spesial untuk iman mereka kepada Tuhan saja".
"maksudnya?". tanya Diana tidak mengerti.
Cashel mencubit pipi Diana, "hati mereka itu sudah terlanjur kotor Diana, dan aku tidak bisa membersihkan hati mereka walaupun aku membuat mereka melupakanmu tapi hati mereka akan selalu membencimu, kejahatan itu akan terus berlanjut karna hati mereka yang sudah kotor".
"aku tidak mau membuang waktu untuk mereka, kematian saja yang bisa membuatmu aman". sambung Cashel lagi.
Diana tersenyum lalu Cashel bertanya mengapa Diana seperti itu, tak disangka oleh Diana bahwa kekuatan Cashel yang luar biasa juga tidak bisa menyentuh hati manusia.
"hati dibalas dengan hati juga Diana, jika aku ingin mendapatkan hati seseorang aku harus gunakan hatiku juga bukan kekuatan". kata Cashel dengan seringai.
.
.
ke esokan harinya,
Diana mencari Irina yang tidak ditemukan,
"kalian tidak melihat Irina?". tanya Diana dengan khawatir.
para pelayan yang dulu bekerja dengan Elizart kini menjadi pelayan Diana, mereka sepertinya merasakan kalau Putri Diana memang baik hati.
"tidak Nona". jawab mereka berlima sopan.
Diana gelisah, "Irina? kamu dimana?". gumam Diana.
Diana meminta tolong pada kelima pelayannya untuk membantunya mencari Irina, selama 2 hari Diana mencari Irina yang tidak tau keberadaannya.
di malam hari,
"sedang apa?". tanya Cashel melihat Diana tengah melamun menghadap ke arah pemandangan balkon.
__ADS_1
Diana sudah beberapa kali ingin dipindahkan ke Kastil utama tapi tidak mau karna tempat ini telah membuat Diana tenang.
Diana menoleh ke Cashel lalu berlari ke Cashel dan memeluk Cashel.
"ada apa? baru 2 hari aku tidak melihatmu sudah seperti ini? aku sibuk dengan toko rotiku". kata Cashel membalas pelukan Diana.
"Irina hilang". isak Diana tertahan.
Cashel tersentak, "aku akan carikan untukmu". kata Cashel melepaskan pelukannya dengan Diana dan menangkup pipi Diana.
"aku ikut". Diana menahan lengan Cashel dengan pandangan penuh harap.
"biar aku yang cari". kata Cashel yang tau bahwa Irina pasti meregang nyawa dengan siksaan yang menyakitkan.
"Cashell?". Diana menggapai angin saat Cashel tak lagi terlihat didepannya.
Cashel yang punya kekuatan tentu mudah menemukan Irina walau butuh waktu, Cashel mengumpat melihat Irina berada di penjara bawah tanah dengan luka di kaki yang tidak manusiawi.
Sriinnngg....!
Cashel membawa Irina menghilang dan muncul di Kontrakannya sedang Lionel menyemburkan minumannya melihat kedatangan Cashel membawa seorang mayat.
"Cashell? kamu bawa mayat?". pekik Lionel.
"bukan..! dia masih hidup". jawab Cashel segera meletakkan Irina di Sofa.
Lionel mengelap bajunya dengan tisu sambil berjalan ke arah Cashel yang membaringkan sosok yang Ia kira mayat itu.
"siapa ini?". tanya Lionel.
"aku tau dia akan menjadi incaran ular kepala 3 ekor rubah bercabang itu tapi tidak menyangka mereka bergerak cepat". gerutu Cashel.
"apa maksudmu? siapa mayat ini?". tanya Lionel yang menganggap sosok itu mayat sebab kondisinya seperti mayat sangat mengerikan.
"aku tugaskan kamu menjaga pelayan Diana Kak, aku percaya padamu. aku akan kembali ke Diana". ujar Cashel menepuk pundak Lionel lalu menghilang dari pandangan Lionel.
"Cashhh?". panggil Lionel, Ia menatap datar saja Cashel yang sudah menghilang lalu Lionel beralih ke sosok menyedihkan itu.
"apa ini perbuatan manusia ular kepala 3 katanya itu?". gumam Lionel merasa perbuatan orang itu benar-benar tidak manusiawi.
Lionel yakin jika dibawa ke dokter sudah jelas sosok itu tidak akan bisa berjalan dan lumpuh atau kakinya akan di potong, Cashel membawa Diana ke Lionel karna kekuatan mereka 11, 12 sama saja.
.
.
.
__ADS_1