Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
terlihat


__ADS_3

.


.


.


beberapa Mahasiswa/i melihat Diana berjalan diatas koridor panggung acara membuat acara meribut, padahal masih latihan bukan acara sesungguhnya.


"sedang apa gadis buta dan lumpuh itu disana?".


"apa dia sedang berpose? haha".


"kenapa dia tidak punya malu? dia mau mencalonkan diri menjadi Putri mahkota?".


"apa-apaan itu? dia sengaja menjadikan dirinya menjadi bahan tertawaan?".


"sepertinya beberapa hari lagi akan menjadi hal yang menggembirakan? dia akan menjadi bahan bulian".


"ahaha".


Eliziany yang mendengar kata-kata mereka malah tertawa tanpa suara, "masih awal-awal, Acara puncak itu lah yang akan membuatmu menangis darah Diana".


Diana memandang kosong menjalankan kursi rodanya, Cashel diatas panggung terpana melihat wajah Diana dari atas.


"cantik". bisik Cashel mengulas senyum.


Lionel tertawa kecil, "kau tidak malu lagi memujinya didepanku?".


Cashel mengangkat bahunya acuh dengan perkataan Lionel mau Lionel tau apa tidak, mungkin Cashel tidak peduli sebab yang merasakan sakitnya Cashel tidak bisa melihat paras Diana hanya Cashel sendiri bukan Lionel, selagi hati Cashel puas maka tidurnya akan nyenyak.


Cashel tidak akan menahan diri lagi, Ia menyukai Diana yang sangat cantik walau tertutupi dengan kecacatan itu tapi Cashel bisa menyembuhkan Diana bahkan sekarang gadis itu sudah sempurna hanya saja masih di tutupi.


"Cashel kamu dimana? sejak tadi aku tidak melihatmu, apa kamu tidak mau berteman denganku lagi? setidaknya biarkan aku melihatmu sekali saja, aku penasaran denganmu". batin Diana.


Cashel memejamkan matanya mendengar bisikan halus Diana, sungguh suara Diana kini menggetarkan dirinya.


Lionel menggeleng kepalanya lalu memilih pergi karna Cashel sudah menjadi Manusia Normal yang jatuh cinta pada seorang gadis.


"bersabarlah Diana, aku akan mengatakan kebenarannya padamu". bisik Cashel tentu hanya Cashel saja yang tau dan Diana tidak tau kalau Cashel menjawab pikirannya.


Diana tau Cashel bisa mendengar pikirannya, itu lah sebabnya gadis itu bersuara didalam pikirannya.


Diana selesai berpose di atas panggung itu, Diana bahkan tidak peduli dirinya menjadi bahan tertawaan sebab Ia sudah biasa.

__ADS_1


"Diana?". Elizia mendekati Diana dengan nada bergetar.


"sebenarnya dimana hantunya itu? kenapa tidak muncul? apa munculnya hanya di malam hari?". batin Elizia menerka-nerka.


Diana menolehkan kepalanya ke Elizia tapi sorot matanya tetap kosong belum ada tanda-tanda kehidupan.


"maafkan aku, apa kamu mau berhenti saja? aku akan minta Ayah menghentikan semua ini, Ayah akan mengatakan sesuatu pada Dosen kita". bujuk Elizia merasa sebagai Saudara yang sangat baik hati.


"iya". jawab Diana tidak mengelak.


"kamu yakin? jadi pelatihan tadi bagaimana? kamu tidak marah? kamu akan menjadi calon putri mahkota tapi tidak ikut acara seperti itu". Elizia memastikan lagi dengan sangat lembut dan penuh kesabaran.


Diana menggeleng kepalanya lalu mengatakan Elizia lah yang pantas karna Diana tidak punya apapun untuk menjadikan dirinya pantas menjadi calon penerus tahta.


Elizia bersorak dalam hati, "baiklah, aku akan hubungi Ayah".


Diana menganggukkan kepalanya lalu Elizia segera mengeluarkan ponselnya dan memainkan perannya sebagai Saudara yang sangat baik kepada Bart, Bart tau kalau Elizia hanya bermain trik saja tapi selama Bulan Merah Diana ada didekat Diana maka Putrinya akan baik-baik saja, Bart hanya mengikuti permainan orang-orang jahat demi mencari keamanan putri kandungnya saja.


Bart punya impian ingin menghancurkan kerajaannya sendiri dan hidup bebas diluar sana walau hanya sebagai rakyat biasa, tapi saat ini Bart tidak bisa melakukannya sebab Rakyatnya bisa menderita jika Bart hanya mementingkan diri sendiri.


Bart tidak boleh membiarkan tahta jatuh di tangan orang yang salah, biarlah Ia menjadi Raja boneka asalkan Rakyatnya aman. seorang pemimpin yang baik akan mementingkan Rakyatnya diatas kepentingan keluarganya sendiri.


.


Irina mendengar semuanya pun hanya bisa menangis, Diana meminta Irina membawanya ke tempat yang sepi tanpa berbicara lagi Irina mendorong Kursi Roda Diana menjauh dari kebisingan itu.


Diana tiba di Taman yang biasa, Diana terpana melihat Taman yang menjadi tempat favoritnya selama ini ternyata sangat luas dan indah, Irina mengunci kursi roda Diana lalu berpindah tempat hingga bersimpuh didepan Diana sambil memegang tangan Diana.


"Nona harus kuat ya? Nona tidak boleh sedih, yakinlah kalau semua penderitaan Nona akan membuahkan kebahagiaan yang tidak disangka-sangka". kata Irina dengan nada bergetar.


"kamu lucu sekali Irina". kata Diana menggerakkan bola matanya dan memandang mata Irina.


Irina sontak saja terjengkang kebelakang dan Diana langsung berdiri membantu Irina, Kaki Irina seketika lemas melihat Diana bisa berdiri dan membantunya bahkan mata Diana terlihat memandang matanya padahal Diana tidak pernah memandang mata siapapun karna tidak bisa melihat.


"N.. N.. Nona?". Irina terbata-bata.


"Ander menyembuhkan kecacatanku". jawab Diana sambil tersenyum.


Irina menangis seperti anak kecil seketika mendengar kata sembuh dari kecacatan yang artinya Diana tidak lagi menderita, Diana memeluk Irina sambil tersenyum.


Diana segera duduk di kursi Roda, "aku mendengar seseorang datang, aku mohon rahasiakan semuanya Irina".


Irina mengangguk-nganggukkan kepalanya tapi air matanya terus saja mengalir deras, hingga Elizia muncul melihat Diana dari kejauhan bibirnya melengkung sempurna, ditambah lagi Irina menangis terisak-isak.

__ADS_1


Elizia mengatakan hal manis pada Diana lalu Diana mengucapkan terimakasih dan ingin pulang saja, dengan senang hati Elizia menurutinya tapi Ia tidak bisa pulang.


"kenapa kamu menangis terus Irina?". tanya Elizia dengan khawatir.


"tidak apa Nona, saya hanya sedih". jawab Irina yang kembali menangis.


.


malam harinya,


Irina tersenyum senang berbicara dengan Diana yang bisa melihat matanya, "Nona sangat cantik".


Diana menghela nafas panjang, "aku tidak melihat Cashel".


Irina sudah bisa tenang saat ini padahal sejak tadi selalu saja menangis, Irina mengatakan bahwa Cashel menjauh pasti hanya ingin Diana aman.


Irina dan Diana menoleh ke arah pintu Balkon yang tiba-tiba terbuka, "ke.. kenapa?". Irina tergagap.


"Ander?". tebak Diana.


perlahan angin menghembus wajah Diana yang memejamkan matanya seketika, "Ander? kamu datang?". senyum lebar Diana.


Irina menatap sekeliling, "N.. Nona?". gagap Irina.


Wushhh...!


Irina berdiri seketika melihat penampakan sosok Pria yang sangat tampan, yang menjadi keanehannya yaitu mata pria itu Violet.


"s.. siapa?". Irina membulatkan matanya sambil melangkah mundur.


"Ander?". Diana berdiri di kasurnya lalu meloncat dan berlari ke arah Pria itu tanpa aba-aba memeluk Pria itu dengan erat sambil tersenyum cerah mengalahkan terang bulan purnama malam ini.


Irina terkulai lemas melihat pemandangan itu, sosok yang tidak berwujud selama ini tengah memperlihatkan wujud aslinya selama ini dianggap teman oleh Diana.


Cashel membalas pelukan Diana, Ia hanyut dengan kenyamanan saat memeluk gadis itu.


"hmm?". Diana perlahan membuka matanya lalu hidungnya mengendus-ngendus bahu Cashel.


"Ba.. Bau ini?". gumam Diana tampak mengingat-ngingat sekiranya Ia tau aroma khas itu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2