Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
alasan saja


__ADS_3

.


.


.


sementara di luar Istana Irina sudah seperti orang setrikaan saja selalu mondar-mandir di sekitar mobil Lionel.


"bisakah kamu berhenti?". tanya Lionel yang mulai pusing dengan tingkah Irina.


Irina mendumel dan mengatakan Ia tidak bisa tenang sebelum melihat langsung keadaan Nona nya didalam sana baik-baik saja.


Lionel menggeleng kepalanya pelan, "selama ada Cashel, semua akan baik-baik saja".


Irina masih belum percaya lalu Lionel mendekati Irina dan tiba-tiba saja Ia menggendong gadis sederhana itu seperti karung beras, Irina membelalak memegang punggung Lionel.


"aku sungguh lapar..! perutku tidak akan kenyang melihatmu mondar-mandir seperti gosokan". kata Lionel dengan santai.


Irina tidak lagi bersuara bahkan menjerit saja Ia tidak berani, makin malu saja Irina mendengar perutnya meronta meminta makan sedangkan Lionel yang mendengarnya sangat jelas pun menahan tawa saja sekuat tenaga.


Irina seperti gadis penurut jika Lionel sudah menggunakan kekuatannya tapi jika membahas Diana pasti Irina akan lupa pada Lionel, Irina mana mungkin melupakan Nona nya walau Irina kagum pada ketampanan Lionel, tapi jujur saja rasa kagum Irina hanya sebatas mengidolakan Aktor saja mana berani Irina yang seorang pelayan rendahan menginginkan Pria seperti Lionel sebagai suami masa depannya.


.


di Ruangan Penting Rajab dan En,


Tidak ada Pengawal didalam sana yang artinya pembahasan mereka sangat pribadi dan tidak boleh sampai tersebar keluar.


"apa bayaran yang anda mau Tuan?". tanya Rajab dan En tampak harap-harap cemas semoga bukan hal sulit.


"nyawa dibalas nyawa". jawaban Cashel terlalu santai.


seketika mereka semua membeku ditempat, wajah mereka kian memucat.


"maksudnya bagaimana Cashel?". tanya Diana tidak mengerti.


"mereka ingin aku menyembuhkan Putri mereka yang nyawanya sudah digenggam oleh malaikat pencabut nyawa". ujar Cashel dengan tenang.


mereka semua menundukkan kepala dengan sedih memang apa yang Cashel katakan benar adanya, Putri bungsu mereka dikatakan para Dokter dan Para Tabib kuno tidak tertolong lagi.


Deniel ternganga tak percaya, padahal mereka belum menjelaskan soal keinginan mereka pada Cashel tapi Pria itu sudah tau saja bahkan seperti sudah melihat keadaan Adiknya.


"jika sudah di genggam oleh malaikat pencabut nyawa apa yang harus kita lakukan?". tanya Diana penasaran.


"apalagi? melawannya butuh pertimbangan yang besar". kata Cashel lagi.

__ADS_1


Cashel sengaja menguji ketulusan mereka semua sebenarnya mudah baginya menyelamatkan nyawa seseorang yang Ia inginkan, tapi Cashel sengaja mempersulit supaya mereka semua berpikir untuk meminta bantuan pada seorang Cashel yang Tidak Punya Hati adalah hal yang patut diperhitungkan.


Cashel tidak mau menjadi dewa yang menyelamatkan nyawa orang, takdir? siapa yang bisa melawan takdir jika Cashel pun hanya ingin mencari ketenangan dengan tidak menggunakan kekuatannya sesuka hati, bisa kacau hidup Cashel nanti apalagi yang meminta bantuan anggota kerajaan.


"apa nyawa saya bisa digantikan Tuan?". tanya Rajab.


"tidaaak..! kamu tidak boleh suamiku, biar aku yang melakukannya karna kamu masih dibutuhkan rakyat sedangkan aku adalah Ibunya". sahut En tidak terima Rajab harus berkorban.


Cashel memandang mereka semua dengan datar, bisa-bisanya mereka berdebat dan bertengkar didepan Cashel yang tidak suka keributan.


"sudah mainnya?". tanya Cashel dengan sorot mata tajam.


seketika semua kembali hening,


"kalian tidak menarik bagi malaikat pencabut nyawa itu, sudah aku bilang harus ada harga yang setara. kalian tinggal pilih Putri kalian atau Putra kalian yang harus tetap hidup". kata Cashel dengan santai melipat kakinya dengan pandangan dingin ke Deniel.


mana pernah Cashel memandang orang tidak penting dengan hangat.


DEG...!!


mereka semua membatu seperti tidak bisa bernafas, sungguh pilihan yang sangat sulit.


Diana melihat ke arah Deniel yang kian memucat, mana mungkin Deniel mau memberikan nyawanya demi adik perempuannya itu.


Cashel seketika berdiri membuat yang lainnya ikut berdiri, Diana bangkit masih memegang tangan Cashel.


"kalau tidak bisa kenapa harus membuatku menunggu? kalian membuang waktuku saja". kata Cashel dengan dingin lalu melepaskan tangannya dari pegangan Diana tapi merangkul bahu Diana dan berbalik.


"apa nyawa kami sebagai orangtuanya tidak bisa dijadikan penggantinya Tuan?". tanya Rajab dan En serentak dengan nada yang sudah putus asa.


"sudah aku bilang hal itu tidak setara, Kalian tidak ditakdirkan memiliki 2 matahari". kata Cashel yang enggan berbalik.


Rajab dan En menoleh sedih ke Deniel, apa yang Cashel katakan memang benar karna semua ramalan tentang tahta mereka juga seperti itu.


Diana tidak mengerti, "2 Matahari?". beo Diana sungguh pelan.


Cashel yang enggan menunggu lagi segera membawa Diana menghilang membuat Keluarga Deniel terduduk lemas di lantai, sungguh ketidakberdayaan itu datang lagi.


"apa salah satu dari kami harus ada yang mati Ayah?". tanya Deniel dengan wajah memucatnya.


Rajab dan En menoleh ke Deniel namun tidak menjawab mereka berdua terlihat berpelukan sedih saja, Deniel terduduk di sofa dengan pandangan kosong.


Deniel ingin tahta tapi naruninya juga tidak bisa diabaikan melihat adik perempuan kesayangannya harus meregang nyawa demi keinginannya untuk mendapatkan tahta, adik Deniel tidak ingin tahta tapi Takdir mengatakan bahwa adik Deniel juga akan menjadi seorang Ratu yang bijaksana dan disayangi Rakyat.


.

__ADS_1


"kenapa kalian lama sekali?". tanya Lionel dengan malas melihat Cashel yang baru muncul bersama Diana di Kastil Tua Diana.


Irina berlari ke Diana dan memperhatikan tubuh Nonanya itu, Ia beberapa kali berkeliling untuk memastikan Diana tidak terluka.


"kalau begitu kami pulang dulu, Istirahatlah! ". pinta Cashel mengelus kepala Diana yang menganggukkan kepala sambil tersenyum.


Lionel ingin berpamitan pada Irina namun Cashel sudah membawa Lionel menghilang dari sana dan muncul di Kontrakan mereka berdua.


"kenapa kau membawaku menghilang? kau pikir kekuatanku tidak ada untuk kembali pulang ha?". tanya Lionel mengomel.


Cashel mengabaikan omelan Lionel lalu berjalan ke arah Sofa dan merebahkan tubuhnya disana sambil menghela nafas, Lionel melihat hal itu pun yakin kalau ada masalah di Istana itu tadi.


"apa lagi?". tanya Lionel.


Cashel menjelaskan semua dengan singkat, padat dan jelas tanpa banyak bicara tapi Lionel langsung mengerti.


"dasar manusia memang serakah". kata Lionel sambil menggeleng kepalanya dan ikut duduk disofa tak jauh dari Cashel.


"hmm". sahut Cashel memang tidak mengelak.


.


di Kamar Diana,


"ada apa Nona?". tanya Irina heran melihat Diana sejak tadi tidak bisa tidur dan terlihat memikirkan masalah serius.


Diana menceritakan hal tadi ke Irina hingga Pelayannya itu melototkan matanya tak percaya, Ia juga tidak tau mau berkomentar apa tapi yang membuat Irina sedih adalah Diana yang takut Cashel meninggalkannya.


"Nona tenang saja...! Tuan Cashel tidak akan seperti itu". kata Irina dengan senyuman.


"kenapa kamu bisa begitu yakin?". tanya Diana dengan lemas ke Irina.


"karna hanya Nona yang bisa menjinakkan Tuan Cashel". jawab Irina tersenyum lebar.


Diana terkekeh hambar saja, "hiburanmu cukup menarik tapi kenapa aku tidak juga tenang?". tanya Diana dengan lirih.


"Nona harus yakin kalau Nona tidak memanfaatkan Tuan Cashel, masalah Tuan Cashel akan meninggalkan Negara ini dalam waktu 3 bulan lagi bukankah Tuan Cashel menawarkan ke Nona jika mau ikut? apa Nona tidak mau ikut?". tanya Irina.


"aku mau ikut". jawab Diana dengan kepala tertunduk tapi tidak tau apakah dirinya disukai sebagai teman Cashel oleh Keluarga Cashel yang sangat ternama di Indonesia.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2