
.
.
.
Diana terharu lalu mengusap bahu Cashel yang sudah rapi.
"tinggal berangkat kerja". kata Diana mengalihkan diri.
Cashel tertawa sungguh tampan sekali lalu mengecup lama kening Diana, "waktu itu akan tiba sayang, tunggulah beberapa hari lagi".
Diana tersenyum malu, "dulu aku selalu berkhayal akan ada waktunya aku hidup sebagai manusia normal, aku memasang kancing baju suamiku, kerah bajunya, setiap kali aku membayangkan itu selalu saja menangis".
"benarkah? kalau begitu limpahkan semuanya padaku jangan menangis ya?". balas Cashel mengelus kepala sang kekasih.
Diana menganggukkan kepalanya, "kamu adalah orang yang sangat baik Cashel walaupun adikmu mengatakan kamu kejam". ujar Diana.
"kan aku sudah bilang hanya kamu saja yang mengataiku baik". Cashel tersenyum miring.
Diana menatap mata violet Cashel, Cashel terhipnotis lagi dengan tatapan mata Diana yang tidak ada kesan keserakahannya, sungguh bola mata Diana selalu bisa membuat Cashel terkesima.
"sorot mata adalah gambaran jiwa". kata Cashel.
"hm?". Diana meraba matanya.
"memang jiwaku seperti apa?". tanya Diana mengerjabkan matanya.
"cantik sangat cantik". jawab Cashel.
Diana mendorong dada bidang Cashel hingga Cashel mengulum senyum melihat wajah Diana yang sepertinya tidak percaya akan pujian Cashel.
"aku mau ikut mereka". ujar Diana yang memang tidak percaya akan pujian Cashel.
Diana tidak merasa dirinya cantik, jika jiwanya penuh luka mungkin Diana akan percaya tapi jawaban Cashel dianggap untuk menghibur Diana saja karna menurut Diana Kekasihnya itu sangat baik padanya.
"kalau begitu bersihkan dirimu..! kita harus ke Kastilmu". balas Cashel.
"lalu? apa aku tidak boleh ke Kampus?". tanya Diana penasaran.
"boleh tapi dihari Wisudaku". balas Cashel.
Diana terperangah, "Cash..?"
"sudah aku bilang aku sangat serius". potong Cashel lalu meradu keningnya dengan kening Diana dan menghilang dari sana muncul di Kastil Diana.
__ADS_1
"Nonaa?". Irina dan Eka tersentak melihat kedatangan Diana bersama Cashel dengan posisi membuat mereka berdua malu.
"aku pulang ya? nanti sore Keluargaku akan kesini, persiapkan kamar untuk mereka". bisik Cashel mengecup mesra pipi Diana dan tak terlihat lagi di pandangan Diana.
"Cash..?". Diana bahkan belum sempat bicara apa-apa.
Diana menoleh ke Eka dan Irina, "bagaimana ini? Keluarga Cashel akan ke sini".
Irina tersenyum lebar dan Eka memekik senang, "kami akan membantu Nona persiapan menyambut tamu". ujar kedua pelayan Diana serentak.
alhasil Diana dibimbing oleh Irina dan Eka menyiapkan kamar untuk calon tamunya, Bart sampai berdiri dari duduknya saat dapat laporan dari Eka bahwa Keluarga Cashel akan datang di sore hari.
Bart sampai memundurkan semua rapatnya, pekerjaannya bahkan ikut turun tangan membenahi Ruangan pertemuannya dengan tamu dibantu oleh Para Pengawal dan Pelayan Bart.
di Dapur,
"Nonaa?? sampai kapan Nona memasak? Nona sudah hampir menghabiskan berkilo-kilo beras, tomat, sayur". omel Irina.
Eka tertawa cekikikan melihat Diana menoleh dengan wajah menghitam, Diana seperti itu pun sangat cantik.
"diamlah Irina..! aku harus fokus merasakan masakanku". gerutu Diana.
"saya akan tambah stok makanannya Nona". kata Eka membuat Diana tersenyum lebar ke Eka sambil mengacungkan ibu jarinya.
Irina mendengus melihat Eka begitu semangat membela Diana walau bahan makanan pada habis menjadi bahan pelatihan Diana memasak spesial untuk Keluarga Cashel.
.
Diana bertepuk tangan gembira saat mencoba masakan terakhir yang sangat pas di lidahnya, Eka pun ikut senang sedangkan Irina hanya menatap datar melihat banyaknya hidangan diatas meja panjang dari masakan Diana yang pertama sampai terakhir.
"aku sudah dapat resepnya..! ayo bantu aku Eka". pinta Diana memegang tangan Eka dengan senang.
"iya Nona". jawab Eka juga ikut senang.
Eka baru merasa hidup setelah bekerja dengan Putri Diana, pantas saja Irina sangat betah bekerja dengan Putri Diana dulu walau dicemooh banyak orang tapi Irina tidak pernah mundur bahkan rela terluka demi Putri Diana. kini Eka tau alasannya dan ingin menjadi Irina kedua bagi Putri Diana.
.
Sore harinya,
Diana telah berpakaian rapi tapi tidak berdandan berlebihan layaknya putri malah seperti gadis biasa, Diana tidak menyesal menjual semua gaun dan perhiasannya untuk rakyat, Diana menunggu kedatangan Keluarga Cashel bersama Bart yang gugup dan banyak orang lagi sebagai penjaga.
mobil sewaan mewah akhirnya memasuki Kastil mereka, keluarlah seluruh Keluarga Cashel dengan berturut-turut.
Tyara menggandeng tangan Lionel layaknya sebagai kekasih dan terlihat oleh Irina, Irina menurunkan pandangannya tapi tidak berbicara dalam pikiran melainkan ditahan saja olehnya karna Lionel bisa dengar pikirannya.
__ADS_1
"waah..? ini Kastilnya?". gumam Tyara tersenyum lebar.
Lionel tersenyum saja sambil menggeleng kepalanya melihat tingkah Tyara, mana Irina tau kalau Tyara adalah adik kandung Cashel.
Bart melihat sosok Crystal berambut perak dan matanya Violet sungguh seperti dewi khayangan, Crystal adalah satu-satunya wanita didunia ini lahir di Bulan Merah bahkan Bulan merah selalu muncul di hari kelahiran Crystal namun beberapa puluh tahun ini tidak lagi muncul.
Bart tidak tau masalah Crystal tentang bulan merah itu menjadi ingatan masa lalu Crystal tentang Alex yang seorang titisan dewa dimasa lalu, saat ingatan Crystal kembali tentu bulan merah itu tidak lagi muncul.
"salam hormat saya Nyonya..! Tuan". sapa Bart menundukkan kepalanya kepada Alex dan Crystal.
Dewi Par, Indiro dan Endang pun di hormati. Bubby disamping Lionel pun mengangguk-ngangguk melihat sekeliling.
Cashel seketika tiba di hadapan Diana, "kamu terluka sayang?". pertanyaan Cashel membuat semua orang menoleh ke Cashel.
Diana gelagapan, "t.. tidak Cash..!".
"apa nya yang tidak, ini apa?". Cashel menyibakkan lengan baju Diana hingga terlihat kulit putih susu Diana penuh luka khas sebagai ibu rumah tangga di dapur.
"Cash". rengek Diana seolah tatapannya meminta Cashel jangan membuatnya malu karna tidak bisa menyambut Keluarga Cashel dengan baik.
Cashel menghela nafas panjang lalu mengecup punggung tangan Diana dan telapak tangan Diana yang langsung sembuh.
Bart mengalihkan perhatian membawa Keluarga Cashel untuk masuk ke Ruangan tamu nya.
Cashel menarik pergelangan tangan Diana yang gelagapan dibawa lari oleh Cashel, pelayan Diana tidak berani mengikuti Diana jika dibawa oleh Cashel.
"Cash? kamu bawa aku kemana?? keluargamu ada disana". protes Diana.
Cashel tidak menjawab tapi tetap menyeret Diana namun tidak melukai, Diana berlari mengikuti Cashel yang berjalan dengan langkah lebar.
"Cash?". rengek Diana lagi.
Cashel menghentikan langkahnya tepat di taman Kastil Diana lalu Ia berbalik dan menyambar bibir Diana cukup agresif, Diana memejamkan matanya meremas lengan Cashel yang Ia tebak kekasihnya ini sedang marah.
"Cash?". batin Diana memanggil Cashel untuk menenangkan amarah Cashel.
Cashel melepaskan ciumannya dari Diana sambil menenangkan diri dan dahinya menyatu dengan dahi Diana, "aku tidak suka kamu terluka sayang". bisik Cashel.
Diana tersenyum lembut lalu tanpa mengatakan apa-apa Diana memeluk Cashel dengan erat.
"aku tidak apa Cash". jawab Diana dengan penuh keyakinan.
.
.
__ADS_1
.