
.
.
.
sebelumnya Nae minta maaf kalau Karakter Cashel menyebalkan diawal-awal itu karna Cashel belum melihat paras Diana, harap maklum yaa?? Terimakasih...
.
.
malam harinya,
Cashel memandang bentuk kalung bulan merah yang Ia lihat, Ia berpikir tanda putih itu bintang tapi juga mirip awan.
"apa punya gadis itu?". gumam Cashel menebak.
"biarlah, aku yakin pemiliknya akan datang". sambung Cashel lagi menyimpan kalung itu di laci lemarinya.
Cashel bahkan tidak melihat baru saja kalung itu memancarkan cahaya merah darahnya, Crystal lahir di bulan purnama merah tentu saja mengalir di dalam darah Cashel, sepertinya kalung itu mengetahui hal itu hingga memancarkan cahaya merah darahnya.
.
ke esokan paginya, di kastil tua dan usang.
gadis dengan bola mata warna biru pekat seperti samudra yang sangat dalam dan sorot matanya kosong memperlihatkan kesedihan, siapapun yang bisa mengenali tatapan gadis itu pasti sangat mengasihaninya, gadis itu ialah Putri Diana sedang menatap lurus kedepan lalu meraba-raba kalungnya dan tertegun merasakan kalung peninggalan Ibu nya tidak ada.
"ka.. kalungku?". gumam Diana tanpa suara.
Diana meraba-raba kasurnya yang keras, Ia terlihat khawatir membayangkan kalungnya entah dimana, Diana berharap kalungnya tidak jauh darinya.
bruughhh...
Diana tersungkur,
"Nona?". Irina yang baru saja masuk membawa segelas susu berkat Ayahanda Diana kini ada di tempat ini jadi makanan untuk Diana tidak memalukan.
Irina segera meletakkan nampan berisi susu dan Rotinya lalu berlari mendekati Diana membantu gadis itu berdiri.
"ka.. kalungku Irina". kata Diana tanpa mengeluarkan suara.
__ADS_1
"ada apa Nona?". tanya Irina yang kebetulan tidak melihat gerakan bibir Diana sehingga tidak tau Diana berbicara apa.
Diana menggerakkan jemari tangannya dengan gemetar hingga Irina kaget,
"bagaimana bisa hilang Nona?". Irina pun segera mengobrak-ngabrik kamar Diana membantu Nona nya menemukan kalung itu sementara Diana meraba-raba tempat yang dekat dengannya.
selama beberapa jam Diana dan Irina tidak menemukan kalung itu, tapi Diana tidak bisa menolak datang ke kampus yang ada nanti dirinya mempermalukan Ayahnya, dalam kasus Keluarganya jika salah satu ada diantara mereka bunuh diri adalah hal yang paling memalukan dan bisa membuat Ayahnya di lengserkan jika itu memang terjadi, itu sebabnya Diana tidak pernah mencoba bunuh diri walau Ia sendiri sudah tidak tahan dengan masalah hidupnya.
.
di Kampus,
Irina melihat Diana yang sangat murung, bahkan saat Dosen menjelaskan materi pun tidak fokus sementara si Dosen terlihat tidak peduli sama sekali jika Diana fokus atau tidak sebab tugasnya hanya menyampaikan materi.
selesai dengan penjelasan Dosen, Diana tersentak mendengar pintu di tutup dengan keras.
"apa sudah selesai?". tanya Diana dengan gerakan tangannya ke Irina yang ia tau ada didekatnya sebab aroma Irina ada sekitarnya.
"iya Nona". jawab Irina membenahi perlengkapan Diana lalu memasukkannya ke dalam tas.
Diana tidak punya buku tapi hanya bermodal rekaman saja, pena pun hanya sekedar menambah ramai tasnya saja padahal Diana tidak bisa melihat dan tidak tau apa yang ia tulis walaupun Diana tau huruf dari buku yang tulisannya timbul bukan modal tinta.
"saya lihat Nona tidak fokus belajar tadi, Nona sedang memikirkan kalung itu kan?". tanya Irina duduk bersimpuh di depan Diana.
"apa Nona? dimana tinggalnya?". tanya Irina yang tidak sempat melihat gerakan bibir Diana yang begitu cepat tidak seperti biasanya sehingga Irina tidak tau Diana bicara apa.
"Toko Roti, Tuan Introvert". Diana menggunakan bahasa tangannya.
Irina membelalak, "a.. akan saya cari Nona".
.
Cashel yang membawa kalung itu kini berada di perpustakaan, Ia diasingkan karna bukan dari kalangan orang kaya dan tidak ada juga yang mau dekat dengannya walau Cashel tampan juga jenius tapi di negara ini Kekayaan serta sistem Kasta sangat diutamakan walaupun wajahnya tidak terlalu bagus yang penting kekuasaan.
Cashel mendengar bisikan para wanita yang melewatinya menggosipkan hal biasa yaitu Putri Diana yang tidak punya malu atau muka tembok, setelah apa yang Diana lakukan karna kesialannya itu masih berani datang ke kampus.
"apa mereka tidak punya perbincangan lain?". batin Cashel menggeleng kepalanya.
sementara Irina sudah keliling Kampus mencari keberadaan Cashel, Ia tidak menyerah hingga Irina ingat dengan sosok Lionel tapi nyatanya kedua Pria tampan itu sepertinya tidak akan ditemukan jika dicari-cari.
Irina kembali ke taman dimana Diana masih menunggunya, Diana memasang raut wajah penuh harap dan cemas mendengar panggilan Irina, sungguh Ia takut kalung itu sampai hilang.
__ADS_1
"saya tidak menemukan Tuan itu Nona, sepertinya kita harus mencarinya di Toko". kata Irina sambil terengah-engah.
Diana semakin gelisah, Ia tidak tau harus berbuat apa jika kalung itu tidak ada pada Pria itu sebab dari kepribadian Cashel mungkin akan menyimpan kalungnya karna Ia tebak Cashel adalah lelaki yang baik, tapi masalahnya apa Cashel tidak muak berurusan dengan gadis pembawa sial sepertinya, Diana takut kalung itu dibuang oleh Cashel apalagi berita tentang dirinya di hujat berbagai media telah menjadi bulian publik, apapun yang bersangkutan dengan Diana pasti akan dihancurkan.
Irina dan Diana menunggu di Toko Roti tempat Cashel bekerja, Ia dengan sabar menunggu tapi sampai sudah malam pun belum ada tanda-tanda toko itu akan buka.
.
Cashel dan Lionel sedang berada di acara party besar anak Dosen, mereka sebenarnya enggan bergabung tapi karna penasaran akhirnya mereka berdua ikutan namun tidak ada yang menarik dari acara itu.
"kenapa kita harus kesini? aku mau pulang saja". teriak Lionel merasa pusing dengan gemerlap malam di acara party itu.
"aku juga". jawab Cashel
Cashel penasaran apa yang menarik dari party, nyatanya tidak ada yang hebat dari acara itu hanya minum-minuman, berjoget, bermain dengan para jal*ng dan berakhir di ranj*ng, jujur saja semua itu tidak membuat Cashel senang malah kebalikannya.
"aku tidak mau datang ke acara seperti itu lagi, telingaku berdengung didalam sana". geram Lionel mengusap-ngusap daun telinganya.
"hmm". Cashel berdehem saja.
"kalau begitu lebih baik kita bekerja saja tadi, kenapa malah buang-buang waktu kesana he?". dumel Lionel.
Cashel mengambil kunci mobil Lionel dan hal itu membuat Lionel senang sebab Ia tidak menyetir, Lionel heran saat Cashel membawa nya ke Toko Roti.
"kenapa kesini?". tanya Lionel mengedarkan pandangannya.
"aku kira ada yang kesini". jawab Cashel santai lalu memilih pergi.
"hujan-hujan begini? siapa yang mau datang coba?". kekeh Lionel.
Cashel mengeluarkan kalung bulan merah dari saku celana nya, Cashel bahkan tidak sadar kalau kalung itu tadi sempat terjatuh tapi anehnya kalung itu kembali ke kantong Cashel.
"kenapa membawanya kemana-mana?". tanya Lionel melihat kalung yang Cashel pegang.
"aku rasa kalung ini spesial". jawab Cashel.
"iyalah spesial, bentuknya saja antik". keluh Lionel memutar bola matanya dengan malas akan kata-kata Cashel.
.
.
__ADS_1
.