
.
.
.
"Cashel? ini bau Cashel". gumam Diana merasa yakin dengan aroma Ander.
Diana melepaskan pelukannya dari Cashel dan menatap Cashel dengan bingung, "Ander? kenapa baumu?".
"akan aku jelaskan". kata Cashel seketika Cashel membawa Diana menghilang.
Irina yang melihat itu sontak saja berdiri, "N.Nona?Nona?? Nona dimana?". teriak Irina.
Irina mencari-cari keberadaan Diana tapi tidak ketemu, Ia yang kehabisan akal segera menemui Bart Singh tapi cerita Irina malah membuat Bart Singh tersenyum hal itu tentulah Irina gelisah karna tidak mengerti arti senyuman Bart Singh.
Irina tercengang mendengar peringatan Bart Singh untuk tidak memberitau siapapun, bulan merahnya Diana akan menjaganya dengan baik, untuk itu Irina tidak boleh khawatir atau curiga dengan Pria yang menyembuhkan suara Diana itu pasti tidak akan melukai Diana, jika Iya ! sudah pasti Diana tidak akan disembuhkan dan masih bisu sampai detik ini.
.
di tempat lain,
Diana menatap sekeliling, kali ini tempatnya berbeda yaitu di suatu Vila yang diluarnya banyak salju.
"i.. ini dimana?". tanya Diana yang belum beradaptasi dengan kemampuan Cashel.
"namaku Cashel Alexander Asiantama". ujar Cashel dengan serius.
Diana yang tadinya melihat sekeliling seketika beralih ke Cashel, "Cashel?". beonya pelan.
"aku Cashel yang sama". jawaban Cashel tentu membuat Diana terkulai lemas lalu dengan cepat Cashel menahan lengan Diana sehingga Diana memegang lengan Cashel.
Diana mendongakkan pandangannya hingga bisa melihat manik mata Cashel, "be.. benarkah? kamu Cashel temanku?".
"hmm". jawab Cashel.
Diana meminta penjelasan yang lebih rinci karna otaknya tidak bisa mencerna semuanya dengan baik, Cashel menceritakan asal-usulnya memang berasal dari Indonesia dan Putra sulung Alex bersama Crystal.
"Crystal?". bisik Diana merasa nama itu tidak asing.
Diana terbelalak seketika saat mengingat nama itu adalah alasan ibu nya Diana membawa Diana pergi ke Indonesia dan tinggal disana selama beberapa tahun namun kematian Ibu nya membuat Diana harus kembali ke negara ini, masa lalu Diana cukup pelik dan menyesakkan untuk diingat.
"Ja.. Jadi?". Diana menatap Cashel dengan tak percaya.
"iya, aku tidak tau kenapa aku bisa terlibat padamu padahal aku hanya ingin mencari ketenangan saja, Ayahmu memintaku untuk melindungimu". ujar Cashel yang belum siap menyatakan perasaannya pada Diana.
__ADS_1
harga diri Cashel bisa jatuh karna begitu mudahnya jatuh cinta pada seorang gadis buangan seperti Diana, biarlah Cashel memendamnya sendiri sampai Ia merasa yakin kalau Diana juga menyukainya atau bahkan lebih dalam lagi yaitu Cinta.
"Ayahku memintamu untuk melindungiku?". tanya Diana berkaca-kaca haru akan permintaan Ayahnya yang sangat membuatnya merasa berharga.
Cashel dan Diana berbincang cukup lama, Diana merasa senang ternyata Pria yang menjauhinya adalah Pria yang sama dengan Pria yang menolongnya.
"terimakasih". ucap Diana dengan tulus memandang manik mata Violet Cashel.
Cashel tersenyum, "sepertinya sihirmu membuatku tidak bisa mencari ketenangan lagi".
Diana mengerutkan keningnya lalu Cashel menjelaskan pasti mendiang Ibunya Diana berdoa pada Tuhan yang begitu dekat dengannya sehingga Cashel sendiri yang mendatangi Diana.
Diana semakin senang mendengarnya, "aku senang punya teman yang hebat sepertimu, maaf aku mengiramu hantu". ucap Diana lagi.
Cashel menghela nafas, "kenapa kamu suka sekali meminta maaf?". tanya Cashel heran.
Diana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "aku tidak tau". jawabnya pelan.
Cashel mendengar perut Diana berbunyi lalu Diana yang malu menurunkan pandangannya dengan pipi merona bukan karna cinta tapi karna sungguh malu saat perutnya harus meronta makan didepan Cashel.
"ayo kembali!". Cashel mengulurkan tangannya.
Diana dengan hati-hati menyambut tangan Cashel hingga matanya terpejam lalu muncul di kamarnya, kemunculan Diana membuat Irina kaget tapi dengan cepat Pelayannya itu membekap mulutnya.
"makanlah, jangan menangis lagi". kata Cashel lalu hendak berbalik namun Diana menahan lengan Cashel.
Cashel berbalik, "kalau kamu ingin membalas kebaikanku maka jadilah gadis yang kuat". kata Cashel dengan serius.
Diana terdiam, "jadi gadis kuat?".
Cashel mendekati Diana hingga jarak mereka sungguh dekat, Cashel menundukkan pandangannya lalu berbisik ditelinga Diana, "ya.. berlatihlah supaya menjadi gadis kuat lalu tangkis setiap orang yang ingin menyakitimu".
Diana memutar pandangannya hingga hidungnya mengenai rahang Cashel, Diana segera melangkah mundur karna merasa tidak nyaman begitu dekat dengan Cashel padahal sebelumnya Diana tanpa ragu memeluk Cashel.
Cashel meluruskan tubuhnya lalu tangannya terangkat, Cashel memandang tangannya sendiri lalu tanpa menahan lagi tangannya mengusap pelan puncak kepala Diana dan menghilang dari pandangan Diana.
Irina celingukan melihat sekeliling, dan Diana merasa menghangat merasakan elusan Cashel seperti memberi semangat padanya.
"Nona?". panggil Irina ragu-ragu mendekati Diana karna berpikir sosok itu masih ada didekat Diana.
Diana memutar pandangannya ke arah Irina yang celingukan, "dia sudah tidak ada".
.
.
__ADS_1
pagi-pagi,
Diana duduk dikursi Roda tepat dibalkon, Ia mendengar suara mobil melewati Kastil Tuanya dan Diana tebak Elizia baru saja kembali dari Kampus setelah menginap di Kampus karna acara itu.
"aku harus kuat?". gumam Diana teringat bisikan Cashel.
"Irina?". panggil Diana menoleh kesamping.
"Iya Nona?". sahut Irina berlari ke arah Diana sambil tersenyum secerah mentari.
"perbaiki ekspresimu Irina, aku tidak mau ada yang tau tentang kesembuhanku". bisik Diana seketika Irina mengangguk cepat dan merubah ekspresinya hal itu membuat Diana tersenyum.
akting Irina tidak buruk juga begitulah pikir Diana.
"aku ingin bertemu dengan Ayah". pinta Diana dengan serius.
Irina menganggukkan kepalanya dan membawa Diana keluar dari Kamarnya menuju Ruangan Baca Bart yang sangat aman.
Bart Singh mendengar laporan Diana datang ingin menemuinya pun segera mengizinkan Putrinya untuk masuk ke Ruangan itu, padahal biasanya tidak ada yang boleh masuk ke Ruangan bacanya itu termasuk Eliziany atau Elizart.
.
"Ayah?". Diana menyapa Bart.
Bart tersenyum mendekati Diana, "Ayah sudah tau nak". kata Bart.
Diana mengerutkan keningnya lalu mata Diana yang tadi kosong menatap bola mata Bart yang terkejut.
"apa yang Ayah tau?". tanya Diana sambil meletakkan kedua kakinya ke Lantai lalu berdiri dihadapan Bart.
Bart tidak percaya bahwa Bulan Merahnya Diana begitu cepat menyembuhkan Putrinya, "Bulan merahmu menyembuhkanmu nak? cepat sekali".
Bart tadi terkejut tapi cepat sekali menenangkan dirinya sehingga Diana heran, "siapa bulan merahku Ayah? aku tidak mengerti, bukankah itu hanya dongeng semata". tanya Diana.
Bart memegang kalung Diana, "apa kamu tidak sadar setiap kamu bersama Pria yang menyembuhkanmu itu kalung ini bersinar?".
Diana sontak saja melebarkan matanya dan Irina mengingat-ngingat memang selalu saja Irina melihat kalung Diana menyala padahal tidak ada apa-apa, Irina tidak menyangka Pria yang bisa menghilang itulah yang akan membawa Diana keluar dari neraka ini, Irina berjanji akan menguatkan diri supaya tidak gemetar lagi bertemu dengan sosok Pria itu.
"ja.. jadi? cerita itu nyata? bukan dongeng". tanya Diana memegang kalungnya.
"baiklah, sekarang katakan tujuanmu nak". Bart tau kalau Diana punya keperluan.
Bart saat ini merasa jauh lebih tenang karna Diana sudah sembuh dan selalu dilindungi oleh Bulan Merahnya, Bart bisa fokus dengan rakyatnya.
.
__ADS_1
.
.