Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
sedikit merasa bersalah


__ADS_3

.


.


.


di tempat lain,


"Nona maafkan saya". lirih Irina melihat Diana dengan sedih.


saat ini Diana diasingkan ke Kastil yang paling ujung, Diana tidak diberi pelayan selain orang yang mau terkena kesialan Diana saja dan yang mau menerima hal itu hanya Irina saja.


Diana tersenyum, tangannya meraba tangan Irina hingga berhasil menggenggam tangan Irina.


"aku baik-baik saja, aku lebih senang di kurung dari pada di paksa keluar untuk sekolah". jawab Diana tanpa mengeluarkan suara.


Irina menangis membuat Diana memeluknya tapi mendengar perkataan Irina tentu saja Diana langsung terdiam beberapa saat.


"Nona akan tetap kuliah tapi tidak diantar dengan mobil lagi melainkan motor saja, Ibu Ratu II Elizart tidak memberi celah untuk Nona merasa tenang". jelas Irina menahan tangis.


Diana tersenyum, "tidak apa, aku akan kuliah seperti biasa".


Diana tidak heran lagi hidupnya dipenuhi penderitaan dari Ibu tirinya, dan semua rakyatnya di negeri seberang percaya bahwa Diana pembawa sial, Putri Diana mengalami kesialan itu sendiri sehingga kakinya lumpuh, matanya buta dan suara juga menghilang.


dulu Diana sempat beberapa kali mengadu pada Ayahnya tapi dianggap angin lalu saja oleh Ayahnya, Diana dianggap berbohong saja karna ilusi sementara didepan mata Ayahnya sang Istri baru memperlakukan Diana dengan sangat baik melebihi ke Putri kandungnya sendiri, namun itu hanya dimata Ayahnya saja, karna pengaduan itulah Diana mulai kehilangan suaranya tapi anehnya malah rakyat menganggap Putri Diana dilaknat para Dewa karna meragukan kebaikan sang Ratu mereka saja, sehingga Diana kehilangan suaranya.


.


ke esokan harinya,


Cashel duduk di pojok Gedung, Ia memperhatikan kira-kira kendaraan yang mana datang mengantar gadis di atas kursi roda itu.


"dimana dia? apa dia tidak kuliah? ahh.. iya juga pasti keluarganya tidak memberi izin kecuali keluarganya gila". gumam Cashel menebak gadis yang membuatnya merasa terpincut bukan karna suka melainkan sedikit merasa bersalah karna nya membuat gadis itu jadi bulian media dan netizen.


Cashel berdiri dan hendak pergi namun tiba-tiba ia melihat sebuah motor dan dibelakangnya ada gadis pakai helm juga ada kursi roda, kalau di Indonesia seperti pulang kampung saja.


"apa itu dia? ternyata keluarganya memang gila". gumam Cashel tak menyangka gadis itu tetap datang kuliah.


Cashel tidak mendekati gadis itu melainkan hanya melihat dari jauh saja, Irina melepaskan helmnya dan membuka kursi Roda milik Diana serta meletakkannya dengan hati-hati bahkan pelayan setia Diana itu terlihat mengelap tempat duduk Diana dengan ujung bajunya supaya bersih.


"ayo Nona". ajak Irina melepaskan helm yang terpasang di kepala Diana.


Diana di bantu oleh Irina turun dari motornya hingga tiba di atas kursi Rodanya,

__ADS_1


"Nona saya parkirkan motornya dulu ya?". izin Irina sedangkan Diana hanya menganggukkan kepalanya.


Cashel memperhatikan dari jauh, "apa gadis itu memang bisu dan lumpuh?". gumam Cashel menebak.


"matanya katarak kah sampai tidak bisa melihat?". sambungnya lagi sebab beberapa mahasiswi sering mengatai Diana katarak membuat gadis itu tidak bisa melihat.


"sepertinya dia baik-baik saja". gumam Cashel lalu melihat sekeliling serta jam tangannya segera Ia berlari dari sana menuju kelasnya.


Diana menoleh mendengar suara langkah kaki, "aku kira wartawan". gumam Diana lega sebab suara itu semakin menjauhinya, jika wartawan pasti sudah menyerbu nya.


.


.


Toko,


"sampai kapan kau diam kak?". tanya Cashel dengan datar ke Lionel.


"aku tidak diam, aku hanya kesal saja padamu". jawab Lionel.


"tampaknya dia baik-baik saja setelah artikel itu muncul aku yakin keluarganya tidak akan memberi izin dia keluar untuk kuliah tapi kenyataannya salah, dia bisa kuliah tanpa merasa terganggu dengan artikel yang secara terang-terangan membunuhnya". jelas Cashel panjang X lebar.


Lionel melihat Cashel tak percaya, "kau mengawasinya?". tanya Lionel terperangah.


"aku tidak mau dituduh menyakitinya, aku hanya mencari tau". jawab Cashel tenang lalu kembali dengan pekerjaannya.


tak berapa lama Lionel dikagetkan dengan kedatangan seorang gadis memakai helm, lalu dengan kikuk gadis itu membuka helmnya yang ternyata gadis yang sama seperti sebelumnya ingin beli Roti tapi saat itu Toko mereka bekerja sudah tutup.


"Tuan saya beli Roti yang paling enak dan manis". pinta gadis itu semangat yang tak lain adalah Irina.


Lionel membawa Irina ke pemesanan dimana Cashel berada, Irina berlaku seperti biasa karna Ia menghargai Cashel yang tidak mau diganggu, Irina mendapat peringatan dari Diana bahwa Pria Introvert tidak suka diajak bicara oleh orang yang tidak di minatinya.


"terimakasih Tuan, dimana saya harus bayar?". tanya Irina celingukan melihat kasir nya yang tidak tau entah dimana.


"disini". jawab Cashel dengan datar.


"Ehh? iya". Irina pun segera mengeluarkan uangnya dan ternyata kurang, sungguh malu sekali Irina karna tidak mungkin Ia mengembalikan Rotinya.


"bawa saja". kata Cashel.


"Terimakasih Tuan, Terimakasih banyak". ucap Irina dengan cepat menunduk hormat dan berlari meninggalkan Cashel sebab takut Pria Introvert itu berubah pikiran.


Lionel melihat itu pun mendekati Cashel,

__ADS_1


"apa yang kau lakukan padanya Cash? kau membuatnya lari?". ejek Lionel.


"uangnya tidak cukup". jawab Cashel melirik sekilas ke arah jendela kaca yang gelap dari luar tapi yang dari dalam bisa melihat keluar dengan jelas.


"ooh.., ayo kembali bekerja!". kata Lionel dengan semangat membuat Cashel melihat ke arahnya tidak melihat gadis yang tengah melihat arah lain di atas motor.


Cashel belum melihat wajah Diana, di media foto tentang Diana tidaklah ada kecuali saat foto-fotonya masih kecil saat di juluki sebagai putri mahkota sebelum gelar itu dicopot dari dirinya, alasan mereka tidak mau ambil foto Putri Diana karna takut terkena sial.


.


di taman,


"Nona..? Kue nya bagaimana Nona?". tanya Irina dengan senang.


"lelehan nya sangat enak dan manis, apa nama lelehannya?". tanya Diana dengan gerakan tangannya.


"kata Tuan itu ini adalah Tiramisu, menu termanis di Toko mereka". jelas Irina.


"Tiramisu, memang sangat manis aku pikir yang manis hanya coklat saja". kata Diana tanpa suara melainkan gerakan bibir saja.


"Tuan yang menjadi Chef ini adalah Tuan yang pernah memberi Nona makanan sehatnya, Tuan Introvert". kata Irina dengan serius.


Diana terkejut saat Irina mengatakan bahwa Pria yang pernah memberinya pertolongan kecil bekerja di toko itu sementara setaunya Pria itu kuliah di tempat yang sama dengannya, namun Diana tidak merendahkan Cashel malah ingin hidup seperti itu walau sederhana tapi hidupnya berarti untuk dirinya sendiri tidak seperti Diana yang tidak berguna untuk siapapun apalagi untuk diri Diana sendiri.


"kamu tidak banyak bicara padanya kan?". tanya Diana dengan gerakan tangan.


"saya mendengar perkataan Nona". jelas Irina membuat Diana mengangguk lega.


.


sementara di Toko tempat Cashel bekerja,


Cashel keluar dari toko dan melihat sebuah kalung berbandul bulan merah di tutupi awan, Ia tidak tau makna nya tapi yang jelas kalung itu adalah barang antik.


"milik siapa itu?". tanya Lionel.


"entahlah". jawab Cashel lalu tangannya menyimpan kalung itu bukan membuangnya.


"disimpan?". tanya Lionel kaget.


"sepertinya nanti orangnya akan datang mencari kalungnya kesini". jawab Cashel tenang dan Lionel mengangguk saja.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2