Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
hati yang tidak cacat


__ADS_3

.


.


.


"aku tidak ingat". cicit Diana.


Irina menghela nafas lalu tersenyum dan menghibur Diana untuk tidak berpikir hal lain lagi selain fokus dengan Cashel saja.


"kenapa aku harus fokus padanya?". sungut Diana yang tidak melihat mata Irina yang tengah menggodanya.


"apa Nona tidak suka dengan Tuan Cashel? dia setampan dan sehebat itu seperti seorang Pangeran berkuda putih yang selama ini saya khayalkan untuk Nona". ujar Irina.


Diana mendengus pelan, "memangnya kenapa dia Pangeran berkuda putih? dia juga bukan suamiku". gerutu Diana.


"jadikan Tuan Cashel suami Nona". jawab Irina dengan nada sedikit meninggi hingga Diana panik segera menyumpal mulut Pelayan kesayangannya itu dengan pisang disampingnya.


"pelan-pelan saja kenapa keras sekali suaramu? kalau ada yang dengar bagaimana?". Diana melototkan matanya menatap Irina yang menyipit gemas bukan karna marah melainkan merasa lucu dengan Diana yang takut ada yang dengar.


Cashel datang hanya untuk Diana, bukankah sudah jelas ada yang spesial dalam diri Diana tapi gadis itu tidak berpikir dirinya spesial malah masih mengatakan bahwa Diana hanya gadis cacat yang menjadi salah satu manusia dimuka bumi ini yang dikasihani oleh Cashel.


"kalau dipikir-pikir Tuan Cashel tidak mungkin mengasihani Nona". kata Irina melepas pisang di mulutnya sambil membuka kulitnya dan mengunyahnya.


"apa maksudmu Irina? jangan mengada-ngada ya? tidak mungkin Pria sempurna sepertinya menyukai gadis cacat dan putri buangan sepertiku". oceh Diana merendah.


Irina yang kaget berhenti mengunyah sontak saja Ia buru-buru menelan pisangnya sambil mengomeli Nonanya itu, "apa Nona? Nona Cacat? Nona Putri Buangan? tidak ada Nona, semua itu tidak ada lagi".


Diana diam saja mendengar omelan Irina yang sepertinya tidak terima jika Diana adalah gadis cacat dan seorang Putri Buangan padahal begitulah kebenarannya tanpa Diana sadari kalau Diana sudah sembuh total.


mereka terus saja bercerita sampai tidak ingat waktu.


.


ke esokan harinya tepat dimalam hari sekitar jam 9 malam,

__ADS_1


Cashel tengah mengetik di Laptopnya lalu tiba-tiba saja telinganya terasa panas, "haiss..? menyebalkan, pasti ulah anak lampir itu". gerutu Cashel.


Cashel tau jika Diana yang memanggilnya telinganya tidak akan panas melainkan dingin saja sebab Gadis itu memanggilnya dengan Perasaan dan niat ingin berteman saja berbeda dengan Elizia yang memanggilnya malah ada maunya dan niatnya ingin memanfaatkan Cashel saja.


mana ada orang yang mau dimanfaatkan saja terutama bagi Cashel yang seorang Tuan Muda Asiantama.


"Tuan Cashel?". panggil Elizia dengan sangat penuh penghayatan.


Cashel muncul di hadapan Elizia sambil bersidakap dada, "ini semua karena Kak Lionel, kenapa dia membiarkan wanita ular kepala 3 dengan ekor rubah bercabangnya mendengar pembicaraan kami saat itu". batin Cashel dengan jengah.


"Tuan Cashel?". panggil Elizia lagi tapi Cashel tidak juga menyahut suara Elizia karna ingin tau saja apa yang Elizia lakukan.


Elizia menautkan kedua alisnya lalu membuka matanya, "kenapa tidak datang juga? apa cara memanggilku salah?". gumam Elizia.


Elizia mencoba lagi tapi tidak ada juga tanda-tanda kemunculan sosok yang Ia inginkan.


"apa sudah datang ya?". gumam Elizia celingukan.


"Tuan? Ander ah.. Tuan Cashel? saya Elizia ingin jari kelingking saya kembali apakah bisa?". tanya Elizia melihat sekeliling sekiranya Ia melihat Cashel.


Cashel memperhatikan pemandangan dari Kamar Diana yang sudah cantik, Taman yang Diana tanam dan juga kekuatan yang Cashel keluarkan membuat tempat itu menjadi hidup.


Cashel melihat ke arah Kamar Diana lalu matanya melihat gerak-gerik Diana tengah duduk di Ranjang sedang Irina di belakang Diana melepas setiap helai kepangan rambut panjang Diana.


"Diana?". batin Cashel mengulum senyum.


Cashel muncul di depan Diana yang tengah menatap lurus kedepan, Cashel tersenyum memandang wajah Diana lalu Ia mengecup pipi Diana dengan lembut.


Diana membelalak seketika karna mencium aroma tubuh Cashel, mengapa Cashel bisa menyembunyikan aroma tubuh dan keberadaannya? tapi saat mencium pipinya Diana bisa mencium aroma tubuh Cashel.


"Cashel?". Diana meraba kedepan seperti orang buta padahal memang Cashel tidak terlihat.


Irina melihat kedepan Diana dan perlahan Cashel memperlihatkan wujudnya didepan Diana maupun Irina.


"kamu menciumku?". Diana memukul pelan bahu Cashel yang entah sejak kapan sudah berada didepannya.

__ADS_1


"apa hidungmu bermasalah? kenapa tidak menyadari keberadaanku?". ledek Cashel terkekeh lalu berbaring di Ranjang Diana seperti Kamar sendiri.


Diana juga tidak tau apa yang salah dengan hidungnya, "pasti kamu menggunakan Kekuatanmu menutupi hidung kami kan?". tebak Diana.


Cashel tidak mengelak lalu melihat ke arah Diana, "sebenarnya aku sedang kesal karna saudara tirimu itu terus saja memanggilku, telingaku jadi panas saat dia yang memanggilku". kata Cashel sambil memegang tangan Diana dan diletakkan di kepalanya.


Diana yang tidak tau hanya mengikuti gerakan Cashel yaitu mengelus rambut Cashel, "benarkah? kenapa dia bisa memanggilmu?". tanya Diana penasaran.


Irina senyam-senyum dibelakang Diana lalu segera pergi dari Kamar Diana memberi waktu pada pasangan itu yang bahkan tidak menganggap Irina ada.


Cashel menceritakan semuanya sambil memejamkan mata saat kepalanya dibelai lembut oleh Diana, Diana mungkin pernah cacat tapi hatinya tidak pernah cacat selalu menggunakan Perasaan terhadap apapun karna Putri Diana tidak dihargai namun dirinya sangat menghargai apapun yang ada didekatnya.


Diana sampai kaget mendengarnya, "benarkah? aku tidak mengerti kenapa dia seperti itu, mungkin saja dia ingin kamu menjadi temannya ya?".


"bukan teman yang baik, aku tidak suka dimanfaatkan". kata Cashel dengan serius.


Diana terdiam lalu bertanya bagaimana dengan dirinya tapi Cashel segera berpindah di pangkuan Diana hingga Diana jadi kaku dan kikuk.


"lemaskan kakimu Diana..! aku hanya ingin istirahat". pinta Cashel dengan mata terpejam.


Diana pun mendengarkan perkataan Cashel yang alasannya ingin Istirahat, Diana tidak marah malah senang dirinya di jadikan bantal oleh Cashel seolah dirinya berguna.


bagi Diana dari pada memanfaatkan orang lain akan lebih baik bagi Diana malah ingin dimanfaatkan orang lain supaya hidupnya berguna.


"kamu berbeda Diana, sejak awal kita bertemu kamu tidak pernah memintaku untuk menyembuhkanmu semua yang aku berikan padamu karna aku yang menginginkannya bukan karna kamu yang minta padaku". jelas Cashel masih dengan mata terpejam.


Diana tersenyum mengelus kepala Cashel, "aku tidak berharap banyak Cashel selain seorang teman yang ada bersamaku".


"itulah kebaikanmu yang tidak cacat, bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku bisa melakukan apapun dengan kekuatanku tapi hati yang cacat tidak bisa aku sembuhkan, hatimu tidak cacat Diana dan itu aku suka". batin Cashel yang masih memejamkan matanya.


Diana masih mengelus kepala Cashel sampai Pria itu benar-benar terlelap namun Diana masih betah mengelus kepala Cashel seperti seorang Ibu yang sangat tulus menyayangi anaknya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2