Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
pemikiran lain


__ADS_3

.


.


.


Cashel tidak terlalu mendengarkan perkataan Lionel, Lionel merasa diabaikan pun memilih diam dan melanjutkan makannya.


"Putri Awan, sepertinya dia cocok denganmu". kata Lionel tiba-tiba.


"kau mau menjodohkanku kak?". Cashel bertanya dengan nada tenang namun menohok seperti ada sebuah ancaman dalam nada bicaranya.


"apa salahnya kamu menolongnya". jelas Lionel dengan santai.


"kalau begitu kakak saja yang menolongnya". jawab Cashel dengan begitu tenang.


Lionel mendengus, memang sulit berbicara dengan batu atau tembok bahkan Cashel lebih mirip dengan Kulkas 2 Pintu jika Lionel ajak berbicara tentang perempuan pasti Cashel begitu dingin dan acuh.


"coba perhatikan baik-baik Cash". pinta Lionel membujuk siapa tau Cashel mau menolong gadis itu.


Lionel ingin Cashel menyukai perempuan, karna bagi Lionel semua perempuan itu punya ambisinya masing-masing namun Cashel malah tidak suka perempuan berambisi, dan sepengetahuan Lionel hanya gadis yang di juluki Putri Awan sejak lahir itu saja yang tidak punya ambisi apapun selain mati.


Cashel mengabaikan perkataan Lionel, Ia malah berdiri meninggalkan Lionel yang menghela nafas berat.


"sepertinya sulit membuat anakmu jatuh cinta kak". gumam Lionel teringat janjinya pada Crystal yang ingin membuat Cashel membuka hati pada seorang gadis yang butuh perlindungan.


Lionel memandang gadis di atas kursi roda itu, "hanya dia yang punya ambisi ingin cepat mati tapi tidak bisa bunuh diri demi pelayannya". gumam Lionel sangat pelan.


"aku heran dengan anakmu kak..! mana ada perempuan yang tidak punya ambisi, semua perempuan pasti punya ambisi pengen punya suami kaya, pengen cantik, pengen terkenal dan terpopuler, pengen jadi yang terkaya, lalu Ambisi apa yang tidak dimiliki perempuan Coba? bukankah semua perempuan ingin Kaya dan terkenal?". gerutu Lionel mengomeli Crystal yang punya anak sangat aneh.


"aku angkat tangan kak..! biarkan anakmu sendiri yang menentukan pilihannya". Lionel seperti sedang mengajak Crystal bicara padahal tidak ada siapa-siapa disana.


.


"Nona?? aku mendapatkan Rotinya". Irina berlari dengan semangat ke arah Diana.


Diana menoleh ke Irina dengan pandangan kosong, Ia tidak bisa melihat Irina hanya pendengarannya sangat tajam hingga tau dimana letak keberadaan Irina saat ini yang begitu semangat berlari ke arahnya.


"kenapa kamu berlari Irina?". tanya Diana dengan gerakan tangannya.

__ADS_1


"Nona menunggu terlalu lama, saya takut Nona kelaparan". jawab Irina mengelap tangannya setelah mencuci nya di kran air yang tak jauh dari Diana duduk.


Irina membukakan bungkus Roti dan memberikannya ke Diana, Diana melahapnya dengan hati-hati padahal perutnya lapar.


"Irina jika aku mati nanti kamu akan bahagia kan?". tanya Diana dengan gerakan bibirnya.


Irina terhenyak membaca gerakan bibir Irina, Ia pun berpura-pura tidak melihat karna perkataan Diana yang seperti ini bukan yang pertama kali.


"bersabarlah Nona, saya yakin Tuhan akan memberi Nona kebahagiaan itu". batin Irina tampak sibuk membuka bungkus Rotinya sambil sesekali melihat ke arah Diana yang menghela nafas sambil mengunyah rotinya.


.


"sudah saatnya kita kembali masuk kelas Nona!". ajak Irina memperbaiki rambut Diana yang terkena angin.


Diana menghela nafas lalu menganggukkan kepalanya, Ia pun dibawa pergi dari taman itu.


Cashel tengah telfonan dengan Asistennya di Indonesia, "bagaimana? sudah diatasi?". tanya Cashel dengan dingin.


"Sudah..! bagaimana Tuan tau?". tanya si Asisten bernama Abin penasaran, Abin adalah anak lelaki Botak dan Belle yang kini menjadi Asisten kepercayaan Cashel.


"tidak perlu tau". balas Cashel.


Abin disebrang sana pun menyahut akan melakukan yang terbaik supaya Cashel memberinya bonus.


Diana didorong oleh Irina melewati Cashel yang tengah membelakanginya, Diana tak sengaja mendengar perkataan Cashel pun tersenyum miris, Ia merasa iri dengan orang yang bisa bekerja demi mendapatkan bonus setidaknya hidup orang itu cukup berguna tidak seperti dirinya.


"ada apa Nona?". tanya Irina keheranan.


Diana menggeleng kepalanya, lalu Irina melihat ke arah langit dimana cuaca masih mendung, entah mengapa suasana langit bisa sesuai dengan mood Diana, jika Diana biasa-biasa saja mungkin cuaca akan baik-baik saja tapi jika Diana sedih pasti langit mendung, Diana tidak pernah menangis tapi hatinya merintih, air matanya mungkin sudah tidak ada saking terlalu seringnya menangis di malam hari.


Cashel mematikan panggilannya secara sepihak lalu melanjutkan langkah kakinya berlainan arah dengan Diana.


"tidak akan lepas kalian dari genggamanku". gumam Cashel tersenyum miring.


Cashel menaikkan sebelah alisnya mendengar pemikiran seseorang,


"Aku ingin mati".


itulah yang Cashel dengar membuatnya menghentikan langkah kakinya lalu membalik tubuhnya melihat sekeliling, "apa dia bodoh? kenapa dia ingin mati?". gumam Cashel yang tidak tau pemikiran siapa tadi karna sekarang Ia tidak melihat siapapun.

__ADS_1


Cashel menggeleng kepalanya membuang jauh-jauh kata yang mengganggu nalurinya, Ia memasuki kelasnya seperti biasa.


.


di Toko,


Cashel menikmati hari-harinya sebagai Chef Toko Roti, Ia dan Lionel masih akrab-akrab saja.


"Cash..? kenapa kamu tidak mau menyapa Jone dan Jomes?". tanya Lionel ada didepan meja pemesanan dimana Cashel tampak sibuk dengan Ipednya.


"bekerja saja dengan baik". ujar Cashel dengan santai malah tidak ada beban dalam perkataannya membuat Lionel mendengus.


"siapa wanita yang akan jatuh Cinta padamu Cash". kata Lionel yang sudah kesekian kalinya.


"sudah yang ke 129 kali kau mengatakan hal yang sama kak". peringatan Cashel.


"kau menghitungnya? wow..! bukankah memang benar". balas Lionel seolah tidak takut ancaman Cashel.


hari ini Cashel dan yang lainnya pulang lebih cepat dari biasanya, semakin lama Toko itu kian ramai saja, selain Tampan ternyata Cashel sangat berbakat dalam memasak jadi tidak heran banyak yang betah di Toko itu dan berlangganan disana sebab selain dapat cuci mata juga bisa cuci lidah karna rasa Roti buatan Cashel sangat enak.


"apa sudah tutup?". tanya seorang gadis dengan bahasa Inggris saat Cashel keluar bersama Lionel sementara Jone dan Jomes sudah pulang duluan.


"sudah". jawab Lionel juga dalam bahasa yang sama.


"Ehh?? Tuan? Tuan yang kasih makan sehat ke saya kan?". tanya gadis itu yang tak lain adalah Irina kini berubah bahasa Indonesia.


Cashel melirik sekilas ke arah Irina, Ia membuang muka karna enggan menanggapinya.


"ternyata benar kata Nona kalau Tuan ini sangat tertutup dan benci di ganggu, lebih baik aku fokus beli Roti saja". batin Irina tentu saja Cashel dan Lionel mendengar pemikiran Irina.


"maaf ya dek! Toko nya sudah tutup". ucap Lionel sopan tapi jujur saja Ia penasaran siapa gadis yang mengenal Cashel tidak suka diganggu seolah kenal Cashel saja padahal tidak ada wanita yang dekat atau mengenal Cashel.


"benarkah Tuan? padahal saya jauh-jauh kesini untuk mendapatkan Roti disini". lirih Irina menundukkan pandangannya dengan sedih.


"carilah toko Roti yang lain Dek, maaf ya?". Lionel buru-buru berkata ke Irina yang mendongak ke arahnya tapi Lionel tidak melihat mata Irina sedangkan Irina memperhatikan Lionel yang berlari mengejar Cashel.


Irina berbalik pergi menuju ke arah lain, Ia berlari cukup jauh dan ternyata Toko nya sudah tutup padahal masih jam 5 Sore biasanya Toko itu tutupnya sampai malam.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2