Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
sebatas kasihan


__ADS_3

.


.


.


Cashel tidak menjawab hal itu malah membuat Lionel yang berdebar, sungguh Ia penasaran siapa gadis yang bisa mengusik ketenangan anak sulung dari Kakaknya (Crystal).


.


sesampainya di Rumah (Kos-an).


"cepatlah..! ayo katakan!". desak Lionel.


Cashel tidak menjawab terus saja berjalan meninggalkan Lionel yang geleng-geleng kepala, Ia harus mengorek ingatan Cashel tapi tidak dilakukan karna hal itu tidaklah dilakukan oleh Pria sejati, Lionel terpaksa mengalah dan akan mencari tau sendiri.


menjelang tidur Cashel perlahan membuka matanya saat bayangan gadis dengan pandangan kosong itu hadir dalam benaknya, ia terduduk lalu meraup wajahnya.


"apa aku harus seperti ini? ada apa denganku? tidak ada yang istimewa darinya". rutuk Cashel sambil mengusap wajahnya beberapa kali supaya kembali normal dan Ia bisa istirahat.


.


pagi-pagi,


Lionel mencari keberadaan Cashel yang sudah tidak ada di Kamarnya, "dimana dia? apa sudah berangkat kuliah?". gumam Lionel menerka-nerka.


.


Cashel berada di Rooftop mengotak-ngatik laptopnya, Ia meminta bantuan Eren (bawahan Cashel) putri sulung Patung (Peretas andalan Alex dahulu), Eren punya kemampuan meretas diatas rata-rata bahkan melebihi kejeniusan Papa dan Mama nya.


Cashel sudah ada di Rooftop cukup lama sekitar 2 jam, tapi Ia masih betah dengan laptopnya menunggu kiriman dari Eren.


Cashel menerima biodata pribadi Putri Diana dan membaca semuanya dengan serius tak disangka Eren cukup lama juga meretas data pribadi seorang Putri Buangan, dilihat dari kesulitan Eren mendapatkan data Putri Diana lebih cepat sudah memberitau bahwa Ayahnya Diana tidak seburuk yang Ia kira.


"Putri Karika Etta Diana". gumam Cashel.


"kenapa sorot matanya bisa mengusikku?". gumam Cashel untuk pertama kalinya Ia gelisah didalam tidurnya tadi malam, entah apa yang salah dengan tatapan Putri penyandang disabilitas fisik itu.

__ADS_1


Cashel berjalan ke arah tepi gedung dan terkejut melihat gadis yang mengusik tidurnya tadi malam ada di taman itu, Ia berbalik dan segera menuruni tangga darurat dengan kecepatan super hingga tiba dilantai terbawah dalam hitungan detik.


"apa dia sendiri? dimana pelayannya?". gumam Cashel mengedarkan pandangannya.


Cashel mendekati gadis yang tengah menatap lurus kedepan, tiba-tiba saja Diana menoleh tajam kearah asal suara karna ia mendengar langkah Cashel walau pelan tapi indera pendengaran nya sangat tajam.


"siapa?". tanya Diana dengan was-was merasa takut jika orang yang datang padanya adalah orang jahat.


"ini aku". jawab Cashel.


Diana tersentak lalu menebak, "Tuan?". tebak Diana dengan gerakan bibir.


Cashel berdehem, "bagaimana kalungmu kemarin? aku tidak menyangka kamu main pergi saja".


Diana menghela nafas lega ternyata yang datang padanya adalah orang baik, Cashel mendengar pikiran Diana pun bertanya mengapa Diana menganggapnya baik, dengan ramah Diana mengatakan Cashel mau menyimpan kalungnya, jika orang lain pasti sudah membuangnya karna apapun benda yang berkaitan dengan Diana adalah suatu kesialan yang harus dihanguskan atau dihancurkan.


"Tuan karna anda mendengar pikiran saya, maka saya akan mengatakan apa yang saya pikirkan".


Cashel menautkan kedua alisnya mendengar pemikiran Diana.


"entah mengapa saya merasa anda bukan orang biasa, karna anda begitu baik mau menyimpan kalung peninggalan Bunda saya maka saya berjanji tidak akan datang ke taman ini sebagai ucapan terimakasih saya kepada anda". kata Diana dalam hatinya juga dengan bahasa tangan.


Diana mengatakan bahwa itu bukan salah Cashel melainkan salah dirinya yang terlalu ceroboh dan tidak sabaran, Cashel sampai terkejut mendengar penjelasan Diana yang sangat bijak dan dewasa tidak menyalahkan orang lain atas apa yang menimpa dirinya.


"tidak perlu..! aku hanya orang biasa tidak usah memanggilku Tuan, lagian aku sudah punya tempat yang lebih tenang". kata Cashel lalu meninggalkan Diana yang mendengarkan langkah kaki Cashel yang menjauh darinya.


Cashel bersandar dibalik dinding, sebenarnya Ia tidak bisa mengendalikan matanya memandang manik mata biru gelap Putri Diana yang kosong dan penuh kesedihan, hanya 1 yang Cashel inginkan saat melihat mata Diana yaitu melindunginya.


"tidak.. tidak.. aku hanya kasihan padanya, iya kasihan". Cashel mengangguk-ngangguk sambil menjaga hatinya yang menurut Cashel tidak mungkin jatuh hati pada gadis seperti Diana.


Cashel memperhatikan Diana dari jauh lalu Irina datang membawa sarapan untuk Diana, jika Ayah kandung Diana tidak ada di Kastil maka jangan harap Diana bisa minum susu walau hanya setengah gelas.


"kenapa aku mengawasinya?". gumam Cashel dengan heran.


Cashel berbalik pergi dan kembali ke kelasnya sambil merutuki otaknya yang bisa menaruh rasa kasihan pada Diana.


.

__ADS_1


selama dikelas, tidak ada hal yang baik untuk didengar oleh Cashel hanya gosip saja mengenai para Dosen tengah sibuk membuat acara untuk menyambut Putri Mahkota Kerajaan sebelah yang dikenal Saudara Tiri Putri Diana.


"Ckk...! omong kosong". batin Cashel berdecak.


jam istirahat, Lionel heran mengapa Cashel minta makan tak jauh dari taman biasa sebelumnya selalu di Rooftop, berkat kecerdasan Lionel akhirnya Ia bisa menebak bahwa gadis yang mengusik pikiran Cashel adalah Putri Diana.


"apa nya yang mengusikmu?". tanya Lionel berbisik ditelinga Cashel.


Cashel melirik Lionel sekilas, percuma saja Ia menutupi semuanya karna Ia yakin bahwa Lionel sudah tau tentang gadis yang mengganggu pikirannya.


"sorot matanya". jawab Cashel.


Lionel mengangguk, "hanya itu?". tanya Lionel dan Cashel menganggukkan kepala.


Lionel tak lagi bertanya, Ia tidak rempong karna masalah Putri Diana memang pantas dikasihani apalagi Cashel punya hati yang lembut walau terkadang hatinya seperti Es Batu.


sementara gadis yang dipandang dari jauh oleh Cashel sedang fokus makan dari suapan Irina, "Nona? sepertinya Putri Eliziany akan kuliah juga disini". kata Irina dengan nada bergetar.


"aku tau". jawab Diana seperti biasa tidak ada suara nya dan sorot matanya tidak berubah sama sekali, bahkan tidak ada senyuman saat mendengar Putri Eliziany yang dikenal baik hati dan tidak sombong itu akan kuliah di kampus yang sama dengannya.


Eliziany dikenal sebagai Saudara yang sangat baik hati tapi hanya didepan Publik saja, bagaimana jahatnya Putri Eliziany dan Ibu tirinya terhadap Diana hanya dirinya saja yang tau, tidak ada yang percaya dengan Diana termasuk ayahnya sendiri.


"dia bersama Tunangan masa kecil Nona ke negara ini". cicit Irina lagi.


"aku tidak memikirkannya lagi Irina, biarkan saja mereka bahagia". balas Diana dengan gerakan tangannya.


Irina menahan tangisnya sekuat tenaga saat Diana mengatakan kebahagiaan Diana adalah saat dirinya menghadapi kematian, Diana merasa hanya kematian yang bisa menghentikan penderitaannya.


"Nona anda tidak boleh bicara seperti itu, Nona akan bahagia". peringatan Irina dengan serius namun nada bicaranya bergetar sambil menghapus air matanya sendiri.


Diana diam saja lalu membuang wajah saat Irina ingin menyuapinya lagi, Irina pun berdiri tegak tidak lagi menyuapi Diana sedangkan Diana mendorong kursi rodanya ke arah depan.


"kenapa anak lampir itu harus kembali? sekarang bagaimana hidup Nona Diana kedepannya?". batin Irina kembali menghapus air matanya yang mengalir tiada henti memikirkan derita Nona nya yang akan datang.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2