Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
misteri kalung


__ADS_3

.


.


.


di kampus,


Cashel mengabaikan gosip para mahasiswa maupun mahasiswi tentang kasus Putri Eliziany telah dicabut posisinya sebagai Putri Mahkota karna berbuat gila mencambuk darah keturunan Raja bahkan didepan mata Raja itu sendiri.


nama baik Eliziany yang telah dijaga baik-baik hancur dalam sekejab karna Cashel yang memberi tontonan gratis di Ruangan Rapat penting Kerajaan, bagaimana Raja tidak menggila? Eliziany hanya anak angkat Raja tapi bukannya bersikap baik pada darah dagingnya malah mencambuknya didepan mata Raja.


Eliziany dikatakan gila, bagaimana bisa Eliziany bertindak segila itu? mereka menertawai kebodohan Eliziany.


.


jam Istirahat seperti biasa Cashel duduk di Taman,


"Tuan?". sapa Irina,


Cashel menoleh dan melihat Diana tengah tersenyum dengan tatapan kosongnya, Cashel terhipnotis sesaat lalu menggeleng kepalanya pelan.


"haii?". sapa Diana dengan gerakan tangannya.


Cashel tersenyum tipis lalu membantu Diana menjadi lebih dekat dengannya.


"bagaimana kabarmu Cash?". tanya Diana tersenyum tapi Cashel hanya memandang mata Diana saja dan Irina tidak sengaja melihatnya pun senyam-senyum segera Ia pergi tanpa berbicara apa-apa lagi.


"aku baik, kamu?". tanya Cashel memegang tangan Diana.


mereka berbicara cukup lama, Cashel memandang mata Diana saja sungguh Cashel selalu hanyut didalam kegelapan bola mata Diana.


"kenapa aku bisa jatuh cinta pada gadis ini?". batin Cashel memperhatikan wajah Diana yang sebenarnya sangat cantik.


Diana tertegun saat tangan Cashel menyibakkan rambutnya dibalik daun telinganya sehingga Cashel bisa melihat wajah Diana lebih jelas tanpa di tutupi rambut, Cashel tersadar dari perbuatannya segera meminta maaf.


situasi menjadi hening, "Diana?". panggil Cashel.


Diana menatap lurus ke Cashel, "iya?". sahutnya pelan tanpa suara.


"apa kamu senang bisa berbicara?". tanya Cashel penasaran.


Diana tersenyum lebar, "tidak lagi, aku tidak menginginkan apa-apa selain kasih sayang Ayahku saja". kata Diana dengan mata kosong tersirat sedikit binar di kedua matanya itu.


Cashel memperhatikan mata Diana yang sialnya membuat Cashel ingin memandang mata itu berlama-lama.


"seseorang membantuku sehingga aku tau kalau Ayahku ternyata sangat menyayangiku". ujar Diana dengan gerakan bibirnya yang sangat bersemangat.


Cashel tersenyum, "aku suka matamu". kata Cashel.


Diana terpaku lalu meraba matanya, "apa yang menarik dari mataku?". tanya Diana dengan raut wajah sedih seketika.

__ADS_1


Cashel meminta maaf dan Diana tidak mempermasalahkan hal itu karna Ia sendiri tidak tau apa yang menarik dari matanya.


.


malam harinya,


Eliziany mengamuk dikamarnya yang ranjang empuknya sudah seperti kapal pecah, Eliziany mengobrak-ngabrik isi bantal dan Ranjangnya dengan marah karna statusnya telah dicopot, Elizart pun kini berada di kamar setelah dihukum cambuk oleh Bart Singh karna tidak bisa mendidik anak sendiri, sebab Eliziany bukan anak Bart Singh.


"aku akan habisi kau Diana...? kau membuatku kehilangan segalanya". geram Eliziany dengan tatapan penuh dendam.


Eliziany berteriak memanggil Pelayannya lalu membisikkan rencananya yang semalam sempat tertunda dengan kedatangan Raja secara tiba-tiba, Eliziany bahkan tidak berhenti berpikiran jahat walau tubuhnya saat ini belum sembuh total.


"pergi". usir Eliziany.


Eliziany menyeringai, "aku sudah bersusah payah mendapatkan gelar putri mahkota dan sekarang harus di copot karnamu, aku akan membuat cerita bahwa kau sengaja membuatku melakukan itu supaya kamu mau menjadi adikku, tapi untuk itu kau harus mati dulu".


.


di Kastil tua,


jam 00.26


sementara Diana malah tersenyum di Kamarnya sambil memeluk selimut baru yang diberikan oleh Ayahnya.


Cashel tiba-tiba muncul dan melihat Irina tengah tertidur disamping Diana tepat dimeja belajar, sedangkan Diana sendiri tengah senyam-senyum memeluk selimut baru yang membungkus tubuhnya.


"cantik". puji Cashel membuat Diana terkejut.


Cashel memegang leher Diana hingga gadis itu merasa tenggorokannya terasa dingin lalu Diana berkata A dan suaranya tiba-tiba pulih padahal Dokter memvonis Diana tidak akan bisa sembuh ataupun pulih.


"terimakasih hantu". ucap Diana dengan tulus.


"aku bukan hantu, panggil aku Ander". pinta Cashel dengan serius.


"bukan hantu? lalu kenapa kamu punya kekuatan?". tanya Diana memegang lehernya yang sembuh hanya dengan sentuhan tangan Cashel.


"aku bisa menyembuhkan mata dan kakimu jika kamu mau". kata Cashel membuat mata Diana terbelalak mendengarnya.


bruughhh..


Cashel dan Diana menoleh ke arah pintu kamarnya yang dibuka kasar, 2 Pria berpakaian tertutup muncul memegang senjata aneh seperti obat bius atau racun yang mematikan.


"s.. siapa?". tanya Diana tergagap.


"suaranya muncul lagi". ujar salah satu dari mereka.


Irina terbangun pun melihat kedua Pria berpakaian tertutup itu menjerit seketika tapi langsung pingsan saat ditembak obat bius dileher Irina.


"Irinaaa?". pekik Diana terjatuh dilantai meraba Irina dan memegang kedua pipi Irina.


"kenapa tidak dibunuh?". tanya rekannya.

__ADS_1


"yang dibunuh hanya gadis itu saja". menunjuk Diana dengan ekor mata.


Diana menelan salivanya bersusah payah, Ia tidak bisa berlari karna kakinya bahkan tidak bisa digunakan untuk berjalan.


"tenang saja aku akan melindungimu". kata Cashel.


ada suara tidak ada wujud membuat kedua Pria berpakaian tertutup melihat sekeliling.


"kembalilah ke Tuan kalian sebelum aku buat kalian mati tragis". kata Cashel menggema.


"ha.. hantuuu?".


kedua Pria itu langsung lari terbirit-birit dari kamar Diana.


"kamu tidak apa-apa?". tanya Cashel dan Diana menggeleng tapi meraba-raba wajah pelayannya.


Cashel mengatakan bahwa Pelayannya Diana baik-baik saja hanya dibius saja.


.


sekitar jam 05.03 pagi,


Cashel memandang Diana yang tengah tertidur merangkul lengannya, Ia merasa gemas dengan tingkah Diana baru sehari yang lalu Diana menjerit, berteriak bahkan hendak melukainya dengan garpu kini malah tanpa takut memeluk lengannya, minta perlindungan darinya.


"aku jatuh cinta?". batin Cashel tersenyum memandang Diana yang tidur seperti boneka sungguh menawan.


siapa yang akan mengira kalau gadis yang tengah meringkuk memeluk lengannya kini adalah gadis cacat yang berhasil membuat seorang Cashel tidak bisa tidur hanya sibuk bolak-balik ke Kastil Tua ini demi melihat tatapan kosong gadis itu saja.


Cashel menoleh ke arah pintu kamar Diana terbuka dan Cashel mengerutkan keningnya melihat Bart Singh lah yang datang.


"apa dia disini?". gumam Bart Singh mengedarkan pandangannya.


"Tuan Bulan Merah?". bisik Bart Singh.


Cashel menaikkan sebelah alisnya, " Tuan Bulan merah?". batin Cashel.


"mungkin sudah pergi". jawab Bart Singh sendiri lalu mendekati ranjang Diana.


"sekarang kamu aman sayang, Bulan merahmu telah datang dan sesuai ramalan Bundamu bahwa hidupmu akan bahagia seperti bintang dan awan yang ada dikalungmu". bisik Bart Singh tersenyum lembut mengelus kepala Diana.


Cashel tentu saja melihat kalung Diana yang menyala warna merah darah, Bart Singh melihat kalung itu menyala pun terdiam.


"sepertinya bulan merahmu menemanimu ya?". bisik Bart Singh mengulum senyum lalu menghela nafas lega.


Bart Singh berdiri tegak dan menundukkan kepalanya entah kepada siapa saat ini, sedangkan Cashel melebarkan matanya menatap kalung bulan merah itu dan Bart Singh bergantian.


"mohon yang mulia menjaga putri saya dari kejamnya perebutan tahta ini". ucap Bart Singh seperti Ia memberi hormat pada para Dewa padahal Bart Singh tidak pernah menunduk pada siapapun.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2