
.
.
.
Elizia mendengar gosip para Pelayan ada Pria Tampan diizinkan masuk Kastil pun segera melihat ke Kastil Diana dan terbelalak melihat Pria tampan yang tengah berbincang dengan Diana.
"apa itu hantunya Diana?". bisik Elizia sungguh pelan.
Elizia akhirnya mengintip untuk mendengar percakapan Diana dengan Pria itu yang tak lain adalah Lionel.
"bulan merah?". bisik-bisik para pelayan.
"apa maksudnya bulan merah?". batin Elizia juga yang masih bersembunyi.
sedangkan Diana tidak tau jika ada Elizia tapi Lionel dan Cashel sudah tau.
"benarkah? jadi yang mulia mengizinkan ya?". Diana manggut-manggut ditempat.
"apa yang kamu kerjakan Diana?". tanya Lionel yang tidak memanggil Diana dengan sebutan Putri.
"aku sedang menanam tumbuhan Kak, biar tempat ini jadi rindang". jawab Diana sambil tersenyum mengusap pipinya yang menghitam seketika.
Lionel terkekeh, "kenapa kamu tidak memanggil bulan merahmu? biarkan dia yang membesarkan pohon-pohon ini".
perkataan Lionel membuat semua yang ada disana saling pandang ditempat dan Diana melebarkan matanya.
"benarkah? apa aku bisa memanggilnya kak?". tanya Diana berbinar sontak saja Diana memegang tangan Lionel.
Lionel seketika melepaskan tangan Diana, Diana meminta maaf tapi Lionel segera menjelaskan.
"Diana..? aku tidak bermaksud menolakmu tapi aku bisa bermasalah dengan bulan merahmu, ku harap kamu hindari sentuhan fisik dengan pria manapun jika kamu ingin dia tetap bersamamu. alasan bulan merahmu ada dihidupmu karna kamu adalah satu-satunya gadis yang masih suci tidak pernah disentuh lelaki ataupun menyentuh lelaki".
Diana seketika memandang Lionel, "benarkah kak? apa dia datang dihidupku karna itu?".
__ADS_1
Lionel menganggukkan kepalanya, sungguh hampir saja Lionel terlempar ke Matahari melihat amarah Cashel saat Diana memegang kedua tangannya, Lionel kan pintar mengarang cerita dan itu sebabnya bisa meredamkan amarah Cashel yang tadi sudah berada di ubun-ubun akan segera meledak.
Irina tersenyum senang mendengarnya, "pantas saja Nona sangat spesial". batin Irina.
Para Pelayan Diana saling pandang ditempat, memang Diana tidak pernah menyentuh lelaki ataupun disentuh tangannya oleh lelaki, tidak disangka keberuntungan datang dari hal itu padahal sebelumnya semua lelaki hanya jijik pada Diana yang cacat.
"lalu apa yang harus aku lakukan Kak? aku tidak tau". tanya Diana melihat kedua tangannya tadi yang mana dirinya ingin membersihkan kedua tangannya itu.
Sungguh Diana tidak tau akan hal itu tapi percaya dengan cerita Lionel yang sangat masuk diakal olehnya.
"kamu bersihkan dengan air !! cuci bersih dengan sabun lalu kembali lagi padaku akan aku ajarkan cara memanggil bulan merahmu". pinta Lionel.
Diana memekik senang berlari kembali memasuki Kastil tua nya hingga Irina berteriak pada Diana yang tiba-tiba saja pergi belum sempat Irina mengikutinya, salah satu Pelayan Diana lah yang menyusul Diana supaya memiliki tempat di hati Diana dan dapat keberuntungan itu.
"biarkan saja". kata Lionel memegang tangan Irina yang hendak mengejar Diana.
Irina melihat mata Lionel, "Tuan? tapi dia Nona saya". cicit Irina yang berusaha melepaskan diri dari tangan Lionel.
"ayo aku bantu menanam pohon". ajak Lionel menyunggingkan senyum tampannya menarik tangan Irina semakin dekat dengannya.
"aku selamat kan Cashel?". tanya Lionel membatin.
"hmm". sahut Cashel masih berwajah masam duduk bersila di Udara dengan lirikan sengitnya seolah belum bisa melupakan hal tadi.
Cashel sudah mengklaim Diana miliknya tentu saja Pria itu marah saat gadis miliknya memegang tangan Pria lain walaupun orang itu Lionel sendiri (Adik kandung Crystal).
Irina tidak bisa fokus dengan Lionel yang sangat tampan malah matanya sibuk menoleh kebelakang mencari-cari Diana, inilah alasan mengapa Lionel tertarik pada gadis pelayan itu walaupun terpesona dengan ketampanannya tapi rasa kagumnya ke Lionel tidak sebesar rasa sayang Irina pada Diana.
Lionel menarik dagu Irina yang matanya terbelalak melihat Lionel tapi hanya beberapa detik saja bola mata Irina melirik ke arah Diana yang belum juga terlihat, Lionel mendekati wajah Irina nyaris seperti orang berciuman sampai bibir Lionel tiba di telinga Irina.
"dia baik-baik saja sebenarnya Cashel ada disini". bisik Lionel.
Irina menjauhkan pandangannya dari Lionel tapi tatapan mereka sangat dekat dengan jarak 5 Cm, "benarkah?". tanya Irina juga mendekat dan nyaris berciuman dengan Lionel.
Lionel mengangguk lalu meminta Irina memejamkan matanya saat Irina membuka matanya, Irina bisa melihat Cashel yang tengah berada di Udara dengan wajah masamnya itu.
__ADS_1
"bagaimana?". bisik Lionel lalu Irina menoleh ke Lionel sambil mengangguk-ngangguk senang bahkan gadis imut itu tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya yang rapi.
"rahasia". bisik Lionel dan Irina dengan cepat mengangguk.
tidak ada yang tau percakapan mereka berdua malah membuat para pelayan yang mengagumi Lionel membuang muka sambil berdecak iri pada pelayan setia Diana itu yang bisa berdekatan dengan Pria setampan Lionel, mereka belum melihat Cashel.
Elizia berusaha mendengar bisikan Lionel dengan Irina tapi tidak bisa karna jarak mereka cukup jauh, "siapa bulan merahnya? apa maksudnya? apa hantu Diana itu bulan merahnya?". gumam Elizia
Elizia bahkan sudah di gigit nyamuk tapi demi keingintahuannya bagaimana cara memanggil hantunya Diana membuatnya rela di gigit nyamuk, Elizia harus bisa dekat dengan hantunya Diana lalu merebutnya bahkan Ia berjanji tidak akan dekat dengan Pria manapun atau menyentuh tangan Pria manapun.
Lionel sengaja berbicara seperti itu untuk mengerjai Elizia biar bintik-bintik sekalian digigit nyamuk, biasanya Tuan Putri manja yang tidak pernah di gigit nyamuk pasti akan mengalami bengkak-bengkak setelah di gigit nyamuk, menyenangkan sekali mengerjai Elizia yang tidak ada jerahnya sama sekali mencari tau tentang Diana bahkan masih berniat merebut hantunya Diana.
Irina berdecak kagum melihat Cashel yang bisa duduk, berbaring di Udara lalu matanya seketika melihat Lionel yang menutupi penglihatannya.
"kenapa memandangnya?". tanya Lionel membuat Irina malu karna ketampanan Lionel lalu segera fokus dengan tanamannya.
Diana kembali dengan tangan yang sudah bersih lalu Lionel berdiri mendengar panggilan semangat Diana.
"Kak?". Diana tersenyum memperlihatkan kedua tangannya.
"kamu menyiksa diri?". tanya Lionel melihat tangan Diana yang sungguh merah.
Pelayan yang mengikuti Diana pun menjelaskan apa yang Diana lakukan tadi hingga Irina khawatir tapi ada Cashel disebelah Diana tengah memandang tak suka tangan Diana yang seperti itu.
"aku tidak mau dia sampai menghilang dariku Kak". jawaban polos Diana itu membuat Lionel melirik ke arah Cashel.
"bukankah sudah jelas? dia sangat ketergantungan padamu Cashel dan aku pikir dia sudah berada di tahap akhir tidak bisa hidup tanpamu, kamu sudah berada dipuncak memiliki hatinya tinggal berada disisinya saja maka semakin hari dia akan mencintaimu". batin Lionel.
Cashel menganggukkan kepalanya lalu meminta Lionel meneruskan Ceritanya ke Diana.
.
.
.
__ADS_1