
.
.
.
Diana terbangun dipagi hari,
"huh...huh... huh..!". Diana mengedarkan pandangannya betapa terkejutnya Diana bisa melihat sekeliling nya dengan jelas.
"i.. ini..?". Diana meraba matanya dan memperhatikan tempat yang menjadi kamarnya selama ini yang hanya kegelapan saja, kini Diana bisa melihat titik sudut kamarnya itu.
"Ander?". gumam Diana berkaca-kaca mengingat momentnya di malam yang sangat berkesan baginya.
"a.. aku bisa melihat". gumam Diana meraba-raba matanya.
Diana mengangkat selimutnya lalu melihat kedua kakinya, Ia menggerakkan Ibu jari kakinya yang membuat Diana membekap mulutnya seketika.
"b.. bisa bergerak". bisik Diana segera berdiri dan Ia membekap mulutnya saat kedua kaki yang selama ini mati rasa tidak bisa menopang berat badannya kini bisa berdiri kokoh seperti tidak ada sakit sebelumnya.
"a.. aku sembuh". gumam Diana terduduk dilantai lalu menangis bahagia seketika.
Diana tidak pernah berharap sembuh karna selama ini tidak ada harapan baginya untuk sembuh, tapi sejak kedatangan sosok Ander di hidupnya semua berubah total.
.
kini Diana memandang kalung bulan merahnya, "Bunda? seperti yang Bunda katakan, aku akan tetap berpura-pura".
Diana teringat perkataan Ibunya sebelum meninggal, Diana harus kuat dengan apapun yang terjadi kedepannya sampai keajaiban itu datang tapi saat itu tiba Diana tidak boleh memperlihatkan keajaiban itu yang akan mengundang petaka jika penjahat tidak dibasmi terlebih dahulu.
Ceklek...!
Diana merubah ekspresinya menjadi muram dan kosong,
"Diana?? kamu sedang apa dibawah?". Elizia berlari ke arah Diana lalu membantu Diana berdiri hingga Diana bisa melihat wajah Elizia tapi pandangannya masih kosong.
"jadi ini Eliziany?". batin Diana menebak.
"Irinaaaa?". teriak Elizia.
Irina berlari membawa gaun yang sudah digosok olehnya, Irina melempar gaun itu ke Ranjang dan berlari mengitari Ranjang Diana membantu Diana.
__ADS_1
"kenapa kau meninggalkan Diana ha? masih syukur Diana terjatuh di Lantai bagaimana jika di Balkon hah?". marah Elizia ke Irina.
Irina menangis menangkup pipi Diana yang masih memandang kosong, "Nona?? ada apa? apa mimpi buruk lagi?". tanya Irina menahan tangis.
"Irinaaa?? ini kamuu? wajahmu lucu sekali, aku ingin memelukmu". batin Diana.
Elizia mendengar perkataan Irina tersenyum menyeringai, Ia merasa senang bahwa Diana bermimpi buruk.
"teruslah bermimpi buruk Diana, kalau perlu kau harus jatuh dibalkon ini". batin Eliziany.
"syukurlah Diana baik-baik saja". Elizia menghela nafas lega melihat Diana tidak terluka padahal hatinya berbalik.
Elizia berdehem, "sudah..! cepat bantu Diana berganti pakaian, kita harus latihan untuk acara di Kampus beberapa hari lagi". pinta Elizia.
"baik Nona". jawab Irina menundukkan kepala ke Elizia yang sekarang memanggil Nona karna Elizia bukan lagi Putri Mahkota.
Elizia bangkit lalu segera keluar dari Kamar Diana, Irina berdiri tegak sambil menahan tangisnya mengitari Ranjang Diana dan mengambil Gaun untuk Diana.
Diana memperhatikan gerak-gerik Irina namun masih berhati-hati karna Ia takut ada mata-mata lain dibalik pintu kamarnya, Diana akan mengatakan kebenarannya pada Irina saat situasinya sudah aman.
.
Irina mendorong kursi Roda Diana yang kini telah tiba di Kampus, diam-diam Diana memperhatikan tempat kuliahnya yang selama ini menjadi neraka di dunia nyata baginya.
Diana mengerjabkan matanya, "iya..! Cashel, aku ingin melihatnya". batin Diana.
tak disangka Cashel memperhatikan Diana di dalam Aula Raksasa Kampus ternama itu,Cashel bersidakap Dada dilantai tertinggi memandang ke arah Diana seorang.
Lionel yang masuk ke Aula pun mengedarkan pandangannya, "dimana kau Cash?". batin Lionel mencari keberadaan Cashel.
"Diatas". sahut Cashel membuat Lionel mendongak ke atas.
Lionel segera memutar arah dengan masuk ke tempat sepi lalu muncul di samping Cashel,
"sedang apa kau disini Cash? bukankah kau bilang datang kesini hanya untuk melihat Putri Diana?". tanya Lionel melihat ke arah bawah.
"dia bisa melihatku". jawab Cashel membuat Lionel menjatuhkan rahangnya.
Lionel tau makna kata-kata Cashel yang sudah jelas Cashel telah menyembuhkan Diana, Lionel melihat ke arah Diana dan memicingkan matanya tampak gadis itu memang sedikit menggerak-gerakkan bola matanya mencari seseorang yang Ia tebak adalah Cashel.
"kenapa kau tidak mengaku?". tanya Lionel ke Cashel.
__ADS_1
"nanti setelah acara ini selesai". jawab Cashel memperhatikan Diana seorang lalu menyunggingkan senyum tipisnya.
"aktingmu jelek sekali Putri Diana". batin Cashel.
Cashel adalah Pria yang cerdas tentu menyadari gerak-gerik Diana berbohong dengan kebutaan juga lumpuhnya, Cashel telah menyembuhkan kecacatan didalam diri Diana.
Awalnya Cashel ingin menemui Diana untuk menyembunyikan kesembuhannya terlebih dahulu, tapi karna malam itu Diana tampak kebingungan dan juga sudah terlalu malam tentu saja Cashel meminta Diana untuk tidur, kini Cashel lega karna Diana memang sedikit cerdas menutupi kesembuhannya tanpa Cashel beritau.
Lionel memperhatikan saja raut wajah Cashel yang tidak berkedip memperhatikan Diana.
.
pelatihan khusus sebelum acara beberapa hari kemudian,
"apa kalian tidak waras? bagaimana bisa Diana menjadi model gaun kalian? bukankah kalian tau Diana tidak bisa jalan dan tidak bisa melihat?". bentak Eliziany dengan marah.
Diana menoleh dengan pandangan kosong, "apa maksudnya Elizia?". tanya Diana.
Elizia tampak kaget melihat Diana ada dibalik Tirai, padahal Ia tau.
"hmm... tidak tau Diana, mereka ingin kamu ikut andil dalam acara ini karna kamu bisa dijadikan calon putri mahkota selanjutnya, kita berdua harus ikut acara penting ini Diana tapi aku tidak mau kamu sedih karna acara ini...? hmmm?". Elizia tampak sedih tidak mau melanjutkan kata-katanya.
Diana menghela nafas panjang, "apa aku harus ikut? kalian tau sendiri Elizia lebih berbakat dariku". tanya Diana dengan tampang polos dan pandangan kosong andalannya menjalankan kursi rodanya ke arah asal suara Elizia.
Elizia menahan senyumnya sekuat tenaga, Ia memang sengaja membuat drama yang menarik diacara Kampus demi membuat Diana Down dan benar-benar menyerah menjadi calon Putri mahkota selanjutnya.
Elizia tampak membela Diana mati-matian, pertengkaran pun terjadi sungguh akting Elizia tidak bisa dianggap spele karna Ia terlihat sekali sangat membela Diana sampai lengannya lecet.
Diana melerai pertengkaran mereka tapi tidak dihiraukan hingga Dosen tiba-tiba datang, pertengkaran pun terhenti lalu menjadi penengah yaitu Diana harus tetap menjadi model, Diana menangkap tatapan Dosen dan Elizia tampak saling melirik melempar senyum sangat tipis.
"huh..! aku hanya ingin mencari Cashel kenapa aku tidak menemukannya malah terjebak rencana Elizia". batin Diana.
Elizia memegang tangan Diana sambil bersimpuh meminta maaf pada Diana karna tidak bisa membela Diana, Diana menganggukkan kepalanya dan mengatakan bahwa Elizia tidak boleh terluka karnanya, hal itu membuat Elizia merasa diatas awan.
"memang mudah sekali membodohinya". batin Elizia merasa puas.
Diana harus berlatih di panggung yang akan dijadikan tempat gadis buta dan lumpuh itu berpose, sudah jelas rencana Elizia ingin menjadikan Diana tontonan menarik dan menjadi bahan tertawaan sehingga mental Diana akan jatuh lalu mengurung diri dikamar.
.
.
__ADS_1
.