
.
.
.
"apaaa?? Bagaimana bisa?". pekik Eliziany tidak percaya mendengar kabar Putri Diana sudah sembuh.
"benar Putri bahkan saat ini Yang Mulia sedang berada di Kastil tua itu". jawab si Pelayan setia Eliziany.
Eliziany berlari keluar kamarnya dan mencari keberadaan Ibunya, pelayan yang bertugas dikamar Ratu II Elizart pun mengatakan bahwa Ratu sedang berada di Taman sambil bersantai minum Teh.
Eliziany berlari dengan gaunnya ke Taman kesayangan Ibu nya dan betapa kagetnya Pelayan yang berjaga bahwa Diana sudah bisa bicara, tanpa banyak bicara pelayan yang berjaga segera melaporkan pada Ratunya, Elizart melempar gelas teh nya seketika mendengar kabar yang membuat moodnya hancur seketika.
"kau yakin? kepalamu akan menjadi bayarannya karna kau sudah merusak mood ku". tanya Ratu Elizart dengan tatapan tajam.
si Pelayan bersimpuh dan memberitahu bahwa kabar itu dari Eliziany yang tengah terkapar lelah didepan Taman akibat berlari jauh dan terburu-buru.
Elizart bangkit dan meninggalkan semua perlengkapan bersantainya menemui Putrinya yang memang kelelahan, Eliziany marah-marah karna Taman bersantai Elizart jauh sekali sampai jantungnya merasa berhenti.
"Putri?". panggil Elizart.
Eliziany berubah cerah walau masih terengah-engah melihat Ibu nya lalu mengadukan hal itu. mereka pun berjalan menuju Kastil Diana.
.
"kamu tidak bicara dengan Ayah Diana?". tanya Bart Singh.
"saya sungguh tidak tau siapa pria itu yang mulia, saya tidak melihat dan tidak bisa melihatnya". jawab Diana dengan kesal karna sejak tadi Bart Singh hanya bertanya sosok yang menyembuhkannya bukan bertanya tentang keadaannya.
"apa kamu akan bicara tidak sopan pada Ayahmu Putri Diana?". tanya Elizart tiba-tiba muncul di antara mereka.
Diana melebarkan matanya mendengar suara Elizart dan Eliziany, "a. aku tidak melakukan apapun, apa kalian akan memukuliku lagi? kenapa kalian tidak meracuniku langsung? kenapa harus sakiti aku secara fisik?". tanya Diana beringsut mundur menjauhi asal suara Ibu tiri dan saudara tirinya yang sok baik.
Bart Singh melihat ke arah Elizart dan Eliziany yang berubah pias, mereka berusaha menjelaskan kalau Diana berhalusinasi.
"iya..! jika aku berhalusinasi maka suaraku tidak akan hilang kan? kalian membuatku kehilangan suaraku, jika kedepannya suaraku hilang kalianlah pelakunya". kata Diana dengan nada gemetar semakin beringsut hingga terjatuh dan Bart Singh berdiri dari tempatnya.
"usir mereka berdua keluar!". titah Bart Singh ke Pengawalnya.
"ba.. baik yang mulia". jawab para bawahan Bart Singh membawa Elizart dan Eliziany.
Elizart meronta-ronta tak terima bahwa Bart Singh mempercayai gadis cacat yang sedang berusaha memfitnahnya, Eliziany pun tak terima akan perlakuan para pengawal itu padahal dirinya Putri Mahkota, Irina berlari ke arah Diana dan membantu Diana naik dan secara sengaja Irina menaikkan lengan baju Diana sehingga luka cambuk di lengan Diana terlihat jelas.
"apa ini?". Bart Singh melihat luka di lengan Diana segera memegang tangan Diana yang meringis seketika.
Bart Singh melihat leher Diana ada bekas cekikan, "Bruukkkhhhh!! ".
__ADS_1
Bart Singh tidak berkomentar langsung keluar dari kamar Diana, sementara Irina memeluk Diana yang gemetaran karna takut suaranya yang baru saja kembali akan hilang lagi ulah Elizart dan Eliziany.
.
di kamar Bart Singh,
"tenangkan dirimu Bart...! dia sudah menemukan bulan merahnya, yakinlah semua akan baik-baik saja tidak ada yang perlu kau takuti lagi, Putrimu akan sembuh oleh Pria Bulan Merah itu". ujar Bart Singh dengan nafas naik turun tidak beraturan.
.
sementara di Kamar Eliziany,
"bagaimana bisa Bunda? kenapa jal*ng kecil itu bisa sembuh? bukankah Bunda memberinya bisa Ular mematikan di lehernya? pitas suaranya sudah hancur kenapa bisa sembuh?". teriak Eliziany dengan marah.
Elizart pun hanya mondar-mandir sambil menggigit ujung kukunya, kini Ia merasa takut jika ramalan yang di katakan oleh mendiang Ratu Pertama akan menjadi kenyataan.
"Bundaa?". teriak Eliziany.
"diam Putri...! apa kamu tidak lihat dia masih buta dan lumpuh ha? hanya modal suara saja tidak akan membuat posisinya kembali lagi". bentak Elizart dan mendengar hal itu terdiamlah Eliziany walau masih marah dengan nafas memburu, Ia tidak bisa berbuat apa-apa.
.
ke esokan malamnya,
Diana meringkuk di sudut kamarnya, "a.. apa orang itu akan datang? ke. kenapa dia menyembuhkan suaraku? a.. apa maunya?". gumam Diana semakin meringkuk saja.
"aku kembali". kata Cashel.
"aahhh". Diana terlonjak kaget mendengar suara Cashel yang berat.
saat ini Cashel menggunakan wajah serta suara aslinya, tapi tidak ada yang melihat wujud Cashel.
"jangan takut". ujar Cashel mendekati Diana yang gemetar semakin beringsut dan beringsut saja padahal ia sudah menempel di dinding Kastil.
Cashel terkekeh lalu tangannya mengelus kepala Diana yang sontak saja gadis itu memejamkan matanya, "aku merindukanmu". kata Cashel.
Diana bukannya suka malah menjerit seketika hingga Irina masuk ke Kamar Diana, "Nonaa?? ada apa??". pekik Irina panik.
"I. Irina..? ada dia disini, ada dia". tunjuk Diana dengan gemetar.
"dimana Nona?". Irina mengedarkan pandangannya sambil memperhatikan sekeliling tapi pintu balkon tertutup.
"dia tidak akan bisa melihatku". bisik Cashel.
Diana terbelalak, "a.. apa kau hantu?".
Cashel teringat cerita Crystal dan Alex dahulu yaitu Crystal sempat dikira hantu, alhasil Ia pun mengarang cerita.
__ADS_1
"aku?? aku pintu kebahagiaanmu". kata Cashel.
"apa yang aku katakan?". batin Cashel menepuk keningnya.
"I.. Irina?". panggil Diana semakin ketakutan.
"kamu tidak mau bahagia?". tanya Cashel penasaran melihat mata Diana yang ketakutan padanya.
Diana menjerit mengatakan bahwa pintu kebahagiaannya hanyalah kematian, Cashel mendengar kata mati itu pun marah.
"apa otakmu hanya ingin mati saja?". tanya Cashel membentak.
Irina mendengar suara seseorang tapi tidak ada siapapun langsung membuatnya pingsan,
bruukkh..
"I.. Irina?". panggil Diana dengan gelisah.
Cashel melihat ke arah Irina, "dia sudah pingsan". jawab Cashel.
"p..pergii..! pergiii!". usir Diana dengan tampangnya yang sangat lucu dimata Cashel.
Cashel tertawa hal itu membuat Diana semakin ketakutan lalu Diana meraba-raba dan menemukan garpu di sudut terbawah meja,
"pergiiii!". jerit Diana sambil bersiap menancapkan garpu itu ke Cashel padahal kakinya gemetar tidak ada kekuatan untuk berdiri kokoh.
Cashel menangkap tangan Diana lalu membalik tubuh Diana sedangkan Diana berusaha melepaskan diri dari pelukan Cashel dan bibir mungilnya Diana tak berhenti juga berteriak mengusir Cashel.
"kamu berisik sekali tuan Putri, kalau begitu aku akan menyimpan kembali suara emasmu sampai kamu siap bertemu denganku". bisik Cashel.
Diana terbelalak mendengar bisikan Cashel sambil mendudukkan Diana dengan hati-hati, seketika tubuh Cashel menghilang lalu Diana memegang lehernya berusaha mengeluarkan suaranya yang kembali hilang.
di luar Kastil,
"haiissshhh?? kenapa aku malah membuatnya bisu lagi?". gerutu Cashel.
Cashel berusaha mengabaikan rasa gilanya yang tidak tahan ingin bertemu dengan Diana, Cashel sangat merindukan mata biru gelap nan kosong itu, tapi bukannya melepas Rindu malah pertengkaran yang terjadi diantara mereka.
DeG...!!
Cashel mendengar percakapan 2 pengawal berpakaian serba tertutup akan menghabisi Diana malam ini juga.
.
.
.
__ADS_1