
.
.
.
tidak ada yang tidur diantara mereka sampai matahari terbit memancarkan sinarnya, Bubby dan Rara beraktifitas seperti biasa sama ketika mereka menjadi Tuan dan Pelayan, saat ini status mereka berdua saja yang membedakan yaitu suami-istri.
"Tu.. ehh? By? apa aku bisa bekerja seperti biasa?." tanya Rara gugup.
Bubby menganggukkan kepalanya, "apa bekalku sudah siap? kita berangkat bersama."
Rara ingin menolak tapi melihat tatapan Bubby membuatnya menunduk tak berani lagi menolak. tidak ada pembicaraan apapun diantara mereka, saat mereka berjalan bersama keluar dari Apartemen pun tidak ada sepatah katapun keluar dari bibir masing-masing bahkan saat didalam Mobil menuju Perusahaan Brand Asiantama tidak ada juga yang mulai pembicaraan.
Bubby keluar dari Mobilnya bersama Rara membuat tanda tanya muncul dibenak para Karyawan Perusahaan Bubby, Bubby melihat Rara kesulitan membawa bekalnya mengambil alih semua dari tangan Rara.
"ayo jalan!" titah Bubby.
Rara menunduk pun menuruti perintah Bubby sambil melihat tangan Bubby yang mengambil alih bawaannya, awalnya Rara bingung hubungan apa yang mereka jalani ini tapi melihat Bubby begitu baik padanya tentu hati Rara berdebar.
"Tuan Muda." sapa Lisa berlari ke arah Bubby.
Bubby melangkah mundur dan menepi ke sisi Rara.
"menjauhlah." titah Bubby.
"aah..! maaf Tuan, saya ingin memberitau Tuan Muda kalau Peneliti Kimia ini sedang dicari-cari oleh seseorang Tuan." lapor Lisa tersenyum manis.
"siapa ya?." gumam Rara.
"temui itu di Ruangan tunggu." titah Lisa ke Rara dengan nada penuh penekanan seperti bos yang tegas saja.
Lisa tidak tau kalau Rara itu sudah resmi menjadi Istrinya Bubby, Bubby menahan tangan Rara yang segera menoleh ke Bubby.
"siapa yang berani menerima tamu dijam yang tidak tepat ini?." tanya Bubby dengan raut wajah serius tidak ada kesan ramahnya sama sekali.
Lisa gelagapan lalu menjelaskan situasinya bahwa orang itu menangis, setiap hari selalu saja datang kesini hanya demi bertemu dengan Rara tapi karna Rara libur tidak bisa berbuat apa-apa.
.
Bubby merangkul bahu Rara berjalan ke arah Ruangan tunggu, perbuatan Bubby itu membuat semua karyawan perempuan terbelalak tidak percaya.
"apa maksudnya?." gumam Lisa melotot tak terima.
Rara jangan ditanya lagi bagaimana pucatnya semakin pucat saja Ia saat berada di Ruangan tunggu ada Boni yang berdiri dengan raut wajah menyedihkan.
__ADS_1
Boni melihat Rara bersama Bubby pun menelan salivanya bersusah payah, niatnya mau memohon ampunan tapi melihat Bubby Ia tidak berani berkata-kata lagi.
"kau sudah tau kan? silahkan pergi ! kalau sampai aku melihatmu lagi akan aku tambah masa hukuman anakmu." ancam Bubby dengan senyum miringnya.
Boni gemetar ketakutan lalu segera pamit pergi tanpa berani berbicara ke Rara. Rara menoleh ke Bubby dengan raut wajah bingung.
"ada apa By? hukuman apa?." tanya Rara.
"sana kerja..! aku tidak akan memberimu kelonggaran jika malas bekerja." titah Bubby mengusap kepala Rara.
Rara menatap kepergian Bubby dengan raut wajah sendu, "Pria itu adalah suamiku, bolehkah aku mencintaimu kan? kalau kamu selalu baik padaku lalu bagaimana caraku melindungi hatiku yang semakin terpaut dalam padamu." gumam Rara.
.
Rara keluar dari Ruangan itu terbelalak melihat banyak perempuan menunggunya, mereka mencecar Rara berbagai pertanyaan tapi Rara hanya tersenyum dan menggeleng tanpa mau menjawab.
selama berhari-hari, berminggu-minggu Rara sudah kebal dengan masalah yang Ia hadapi di Perusahaan barunya, Rara tetap bekerja seperti biasa bahkan dirinya merasa hidup bisa dekat dengan Bubby adalah hal yang paling membahagiakan baginya.
"nak?." panggil Lily.
"Ehh? Mama? kok Mama kesini?." Rara kaget ternyata Lily mengunjunginya ke tempat kerjanya.
Rara membawa Lily ke Ruangan khususnya dibuat Bubby untuk Rara seorang, "apa Mama udah sembuh?." tanya Rara khawatir memegang kening Lily.
Rara tersenyum lebar, "tidak pernah sedikitpun Biby berkata kasar pada Rara Ma, Keluarganya juga sangat baik."
Rara menyerocos menceritakan tingkah Keluarga besar Asiantama kalau Bubby membawa Rara menginap 2-3 malam di Mansion Asiantama.
"apa kalian sudah pecah telur?." tanya Lily ambigu.
Rara melebarkan matanya karna tau apa maksud pertanyaan Lily pun menunduk dengan wajah merona, Lily tersenyum lebar malah Ia semakin tidak sabar menunggu memiliki cucu menggemaskan.
"Mama tidak marah?." tanya Rara dengan polos.
"apanya yang marah? kenapa Mama harus marah?." tanya Lily malah heran.
"umur Rara masih muda jadi nanti kalau..? hmm." Rara tidak melanjutkan perkataannya.
Lily tertawa terbahak-bahak lalu mengatakan pada Rara bahwa dulu Ia menikah di umur belia yaitu 17 tahun dan mengandung Rara di umur 18 tahun bagaimana dengan Rara? bukankah sudah wajar punya anak, betapa malunya Rara dengan ledekan Lily.
.
di Apartemen,
"Ra?." panggil Bubby.
__ADS_1
"iya." sahut Rara mendongak ke Bubby.
"kita makan apa?." tanya Bubby tersenyum lebar.
Rara tampak berpikir, hubungan mereka semakin akur layaknya pasangan bahagia walau awalnya tidak sengaja melakukan hubungan itu tapi mereka sama-sama mau jadi tidak ada yang protes juga dan yang paling utama mereka sudah halal.
"apa si Lisa masih mengerjaimu?." tanya Bubby dengan serius.
Rara tersenyum lebar, "banyak yang membelaku By, tidak usah khawatir."
Bubby mengelus pipi Rara, "baguslah..! hidupmu akan jauh lebih baik jika kamu mengokohkan hatimu itu."
Rara menganggukkan kepalanya lalu menambahkan lauknya ke Bubby yang tersenyum tampan dan makan dengan lahap sambil memandang Rara.
"aku berniat ingin membuka restaurant baru." ujar Bubby.
"ha?" Rara.
Rara tercengang mendengar penjelasan Bubby bahkan sudah menyiapkan segalanya untuk Restaurant itu.
"tapi aku tidak punya uang By." tolak Rara.
Bubby seketika teringat akan hal itu, "aah.. iya..! aku baru sadar kenapa kartu yang aku berikan padamu tidak pernah digunakan?."
Rara gelagapan, "ke.. kenapa harus di gunakan kan aku juga punya uang, kamu sudah baik pada Mamaku membelikan Rumah yang layak untuknya, aku tidak butuh apa-apa lagi."
Bubby menghela nafas, "kamu itu sekarang Istriku bukan pembantuku dan Mamamu itu adalah wanita terhormat yang sudah melahirkan marmut kecilku ini ke dunia yang sama denganku kalau diplanet lain mana mungkin aku bersamamu sekarang."
Rara menunduk malu karna Bubby selalu saja bicara hal manis dan sering tersenyum padanya, Rara bisa diabetes akut karna selalu saja melihat ketampanan suaminya itu.
Bubby mengapit dagu Rara dan berkata, "mengerti?? bahkan seorang Pelayan pun aku gaji bagaimana dengan istriku hmm? kamu tidak mau bulan madu tapi belanjakan uangku juga tidak mau? dasar marmutku yang aneh."
"kalau begitu aku boleh membantu anak-anak sekolah dengan uangmu By?." tanya Rara.
Bubby menautkan kedua alisnya dan Rara menjelaskannya bahwa Ia ingin memberi beasiswa untuk anak-anak yang kurang mampu supaya tidak putus sekolah, serta menolong anak-anak jalanan untuk disekolahkan gratis, setidaknya hidup mereka akan berubah jika disekolahkan tinggi.
"lakukan apa saja maumu Ra, uangku uangmu..!" kata Bubby mengecup bibir Rara.
Rara tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya yang rapi dan memeluk Bubby karna malu dipandang intens oleh Bubby.
.
.
.
__ADS_1