
.
.
.
Elizia menebarkan senyumnya, "Tuan? Ander? saya ingin Tuan menyembuhkan saudara saya, saya sangat menyayanginya". kata Elizia dengan sangat lembut.
Cashel memutar bola matanya dengan malas mendengar permintaan Elizia yang ingin menjilatnya saja supaya Cashel mau berteman dengannya lalu merampasnya dari Diana.
lucu sekali pemikiran Elizia, ingin sekali Cashel melempar Elizia dari balkon ini tapi tidak bisa karna nama Elizia masih baik-baik saja.
"apa yang harus aku lakukan supaya nama wanita ini semakin jatuh lalu aku bisa menghancurkannya?". batin Cashel.
"Tuan? bukankah Tuan sangat hebat? suara Diana sangat sulit disembuhkan tapi Tuan bisa menyembuhkannya". kata Elizia lagi sambil celingak-celinguk.
"aku tidak akan menurutimu karna Diana sendiri tidak meminta hal itu padaku". ujar Cashel dengan tenang.
Elizia tidak menyerah membujuk Cashel bahkan bibirnya mengatakan kalau Ia rela di gantikan supaya Diana sembuh padahal hanya dibibir saja dihatinya tidak.
"kalau begitu aku akan mengambil suaramu". kata Cashel sambil menyeringai.
Elizia langsung panik dan meminta perlindungan dari Diana hingga Cashel tertawa lepas sangat menggelegar dan Diana hanya diam saja sambil mengikuti permainan Cashel mengerjai Elizia.
"Diana??". pinta Elizia menggenggam tangan Diana dan Diana bisa merasakan betapa takutnya Elizia saat ini.
"harus ada harga yang diminta...! kau memintaku untuk hal yang tidak diinginkan oleh Diana, bukankah kau ingin Diana bisa melihat dan berjalan? artinya aku harus mengambil gantinya karna aku menuruti permintaanmu". kata Cashel dengan nada menggelegar seperti hantu sungguhan saja.
Cashel telah menulikan pendengaran Irina yang tengah ketiduran di lantai dengan lengan menjadi bantalan seperti mengawasi Diana jika Nona nya itu berteriak meminta tolong dari perbuatan licik Elizia.
"ta.. tapi aku meminta demi Diana". balas Elizia dengan tangan yang kian dingin saja.
"Diana tidak meminta apapun padaku jadi jangan harap aku akan melakukannya untukmu karna yang bisa memerintahku hanya Diana saja, jika dia memintaku saat ini menjatuhkanmu dari balkon ini akan aku lakukan". kata Cashel dengan nada menusuk.
"D.. Diana? ke.. kenapa dia seperti itu?". tanya Elizia dengan nada bergetar ke Diana.
"aku sudah bilang dia cukup menyeramkan Elizia bahkan Irina juga takut padanya". balas Diana.
"kenapa kamu tidak minta bisa melihat padanya? dengan begitu dia tidak akan minta imbalan yaitu suaraku, aku tidak mau cacat Diana tapi aku mau kamu sembuh". kata Elizia masih bisa-bisanya berkata hal baik-baik walau dirinya sendiri sedang ketakutan.
__ADS_1
"apa gunanya aku bisa melihat kalau pada akhirnya aku juga tidak bisa melihatnya Elizia". kata-kata Diana seperti tamparan bagi Elizia.
"D.. Diana aku.. aku mau keluar saja, katakan padanya untuk tidak melakukan apapun padaku". pinta Elizia memelas.
"kenapa? kau tidak meminta apapun padaku? aku akan membuatmu menjadi Putri mahkota tapi aku minta kau serahkan tubuh ibumu sebagai santapanku". kata Cashel seperti iblis sungguhan saja.
Elizia yang awalnya mendapat secercah cahaya kini langsung ambruk nyalinya mendengar permintaan Cashel,
"t.. tidakk..! aku tidak mau ibuku anda makan". pekik Elizia histeris lalu berlari keluar kamar Diana beberapa kali Elizia harus tersungkur karna takut padahal kamar Diana tidak gelap sama sekali.
Diana tersenyum saat Cashel segera mengibaskan pintu kamar Diana, "aktingmu benar-benar bagus Cashel, aku sempat mengira kalau kamu memang raja iblis yang haus akan darah manusia".
Cashel menyunggingkan senyum tipisnya, "Raja iblis sudah mati ditangan Bundaku". kata Cashel mengulurkan tangannya ke Diana.
Diana tidak menyambutnya membuat kening Cashel mengkerut,
"kenapa tidak menyambut tanganku?". tanya Cashel heran.
"hah? benarkah? dimana tanganmu?". tanya Diana mengerjab polos dan linglung sebab Ia memang tidak melihat Cashel.
Cashel menepuk keningnya, "aku lupa". decak Cashel lalu menunjukkan wujudnya lalu Diana kaget ternyata Cashel sangat dekat dengannya.
Cashel menarik tangan Diana karna Ia sendiri juga kaget hingga lupa kalau dirinya punya kekuatan tapi Ia juga kehilangan keseimbangan dan terjatuh lalu Cup...!
bibir Diana mendarat di benda kenyal yang sama dan saat membuka mata betapa terkejutnya Diana ada Cashel dibawahnya dan benda kenyal itu ternyata bibir Cashel.
"aah? ma.. maaf". Diana segera berdiri dengan kikuk dan wajahnya sangat merah telah menempelkan bibirnya di bibir Cashel yang menurut Diana adalah Pria sempurna hingga tidak cocok dengan Diana yang cacat.
Cashel terdiam beberapa detik dengan posisi yang sama, "aku kembali...! tidurlah". kata Cashel lalu menghilang dari pandangan Diana.
Diana memukul-mukul kepalanya dengan kesal karna melakukan kesalahan, "apa-apaan kamu Diana?? kenapa malah menempelkan bibirmu padanya?".
"apa Cashel marah? haisshh". Diana sampai frustasi sendiri padahal seharusnya Diana lah yang marah karna itu adalah kecupan pertama nya Diana tapi karna pernah melakukan kesalahan pada Cashel membuat Diana takut Cashel tidak mau lagi berteman dengannya.
.
Cashel muncul di ranjangnya, Ia menatap lurus ke langit-langit kamarnya.
"a.. apa itu? ke.. kenapa aku ingin melahapnya?". gumam Cashel memegang dadanya yang jantungnya terasa ingin melompat-lompat keluar.
__ADS_1
"kenapa detaknya keras sekali? haissshh". Cashel berdecak.
"iya aku tau aku jatuh cinta bisakah kau berhenti berdetak tidak normal heh?". rutuk Cashel memandang jantungnya yang kian berdentum.
Cashel yang frustasi membawa diri berolahraga jam segitu di alat fitness yang ada di ruangan Lionel.
"sedang apa Cash?". tanya Lionel dengan mata setengah terpejam, rambut berantakan tapi sangat seksi.
Cashel kaget dengan cepat melompat ke udara hingga kakinya menggantung di Udara.
"apa yang kau lakukan malam-malam begini? apa kau tidak tidur?". tanya Lionel menggaruk-garuk lehernya melihat jam dinding masih menunjukkan pukul 02.43 pagi.
"terserahku". jawab Cashel kembali menurunkan kakinya dan kembali berolahraga lalu Lionel mengangkat bahunya tidak peduli lagi dan berbalik kembali ke ranjangnya dengan posisi telungkup.
.
pagi-pagi di Kastil megah,
Elizart di sibukkan dengan keadaan Eliziany yang tengah kejang-kejang karna demam tinggi.
semua orang berpikir Elizia seperti itu karna menginap di kamar Diana yang sedang dikelilingi kesialan hingga Elizia jatuh sakit.
sedangkan yang menjadi bahan pembicaraan tengah duduk dikursi roda memandang lurus di balkon kamarnya, Irina datang membawa sarapan sambil senyam-senyum.
"Nona? ada baiknya mereka takut dengan Nona, saat saya minta sarapan mereka malah lari dan membiarkan saya di dapur sehingga saya bisa memasak apa saja untuk Nona". oceh Irina sambil meletakkan menu sarapan di meja dekat Diana.
"Nona?". Irina memegang tangan Diana yang tersentak kaget menoleh ke Irina.
"ada apa Nona? kenapa Nona melamun?". tanya Irina cemas.
Diana tersenyum dan menggeleng kepalanya, "apa aku ke kampus hari ini?".
Irina menggeleng kepalanya juga dan mengatakan bahwa Diana tidak perlu lagi susah-susah ke kampus karna pihak kampus akan memberikan materi khusus untuk Diana tanpa harus datang kesana lagi.
.
.
.
__ADS_1