Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
diam-diam


__ADS_3

.


.


.


"pelan-pelan saja, tidak perlu terburu-buru saat ini aku rasa Putri Diana sudah berada di tahap ketergantungan padamu, 1 tahap lagi yaitu tidak bisa hidup tanpamu dan pada akhirnya dia akan mencintaimu". kata Lionel menepuk pundak Cashel.


Cashel mengangguk dengan senyum tipisnya.


.


malam harinya,


Elizia mendatangi kamar Diana tapi gadis itu tidak ada di Kastil tua itu membuat Elizia marah tapi tidak menyerah mencari Diana.


Diana berada di Taman Kastil megah memetik beberapa tanaman untuk ditanam di Kastil Tua nya, bagaimanapun Diana sudah bisa melihat dan ingin mengisi kekosongan waktunya dengan membuat hal yang berguna mempercantik Kastilnya.


"bagaimana Irina?". tanya Diana sambil tersenyum lebar.


"sangat cantik Nona". jawab Irina tersenyum cerah.


kelima Pelayan yang bekerja bersama Diana berlari dengan raut wajah panik menghadap Diana, betapa syoknya Irina mendengar kabar Elizia mengamuk di Kamar Diana bahkan mengacak semua isi benda di Kastil Diana.


"kenapa dia marah?". tanya Diana penasaran.


"hmm..? kami tidak yakin Nona, salah satu pelayannya mengatakan bahwa Pangeran Deniel membatalkan Pertunangannya dengan Nona Elizia dan mungkin itu yang membuatnya marah".


Diana menghela nafas panjang sedangkan Irina berdecak tak suka.


"bukankah Pangeran Deniel sejak dulu memang bukan miliknya? lalu kenapa dia menyalahkan Nona saat Pangeran haus tahta itu membatalkan pertunangannya? apa jangan-jangan mantan Nona kalian itu menyalahi Nona Diana lagi?". cerocos Irina yang memang bawel.


para pelayan itu hanya menundukkan pandangan, mereka juga tidak bisa mengelak karna tugas mereka hanya ingin melapor saja supaya Diana berhati-hati, jujur saja mereka ingin bekerja dengan Diana yang memperlakukan Irina dengan sangat baik seperti seorang sahabat bukan bawahan yang patut di injak-injak.


"sudahlah Irina, aku akan temui Elizia". Diana memberikan tanaman yang Ia petik ke Irina.


"kenapa Nona? nanti Nona dicakar lagi". bantah Irina.


Diana tersenyum lalu berjalan meninggalkan mereka semua, Irina mendumel kesal sambil berlari mengejar Diana karna tidak ingin Diana terluka.

__ADS_1


Diana bertemu dengan Elizia di perbatasan taman Kastil tua nya Diana.


"Elizia? ada apa? kenapa kamu mengacau di kamarku?". tanya Diana dengan serius.


"ada apa? ini semua karnamu Diana..!! kau yang membuat masalah dalam hidupku sampai kehilangan tahta, bundaku, ketenaran dan Calon suami". bentak Elizia.


Diana menatap Elizia yang sedang sangat marah wajahnya memerah, "apa kamu tidak salah Elizia? siapa yang merebut semua itu? apa harus aku kenang siapa yang merebut dan yang direbut? aku tidak ada masalah dengan calon suamimu itu, sejak awal dia hanya mengincar tahta ini saja". jelas Diana.


"omong kosong...!! bukankah kau juga ingin tahta?". berang Elizia melangkah mendekati Diana.


"tidak...! jika aku ingin tahta sejak dulu aku merebutnya". jawab Diana


"lalu kenapa tidak dari dulu ha? apa karna hantumu itu?". maki Elizia.


"bukan..! karna aku sadar kalau nyawaku yang kalian anggap tidak berarti sangat berarti bagi Ibunda ku". jawab Diana.


"tidak usah sok baik dan mencari alasan saja". jerit Elizia lalu menampar Pipi Diana dan hal itu membuat para pelayan heboh bahkan Irina pun berani menampar Elizia.


Elizia yang marah segera menampar Irina, "dasar pelayan rendahan berani kau menamparku". maki Elizia.


Diana melihat itu segera menarik Irina menjauh lalu menampar Elizia disisi lain, "aku terima kalau aku disakiti Elizia tapi aku tidak terima kau melukai sahabatku". teriak Diana juga marah.


seketika kegaduhan antara 2 Putri itu pun terjadi, kelima pelayan yang baru mengekori Diana tercengang melihat amarah Diana terpancing saat pelayannya di tampar, sungguh membuat mereka iri pada Irina.


"kau tidak boleh menamparnya, dia sahabatku...! aku tidak akan membiarkan siapapun merendahkannya termasuk anak angkat sepertimu". teriak Diana.


Elizia menggila menjambak Diana tapi Diana yang sedang memendam rasa marah karna sikap Cashel akhirnya melampiaskan semua hal itu pada Elizia dengan dalih awalnya Irina, pertengkaran mereka mengundang banyak Para Pengawal yang berdatangan berusaha melerai mereka berdua.


Diana yang ingin cepat dan tidak mau kalah menggunakan kekuatan fisiknya yang selama ini diam-diam berlatih pada Ayahnya, Diana membanting tubuh Elizia yang terjatuh dengan punggung mendarat di kerikil.


Elizia menjerit kesakitan, "aaahhh".


Diana memperbaiki rambutnya yang sudah tidak terbentuk lagi,


"aku bukan Diana yang dulu sangat lemah". kata Diana dengan tegas lalu meninggalkan Elizia yang terkapar dengan rasa sakit luar biasa dipunggungnya.


Irina berlari menyusul Diana sambil memekik senang, tamparan di pipinya tidak membuatnya menangis atau sedih malah Ia bahagia dengan keberanian Diana melawan Elizia bahkan bisa membanting putri nenek lampir itu.


.

__ADS_1


Diana berada di Kamarnya melihat sekeliling membuatnya menghela nafas berkali-kali lalu melihat ke arah Irina yang pipinya merah tapi tampaknya Irina sudah kebal dengan rasa sakit mungkin ketularan Diana.


"kami akan membersihkannya Nona". kata Para Pelayan dibelakang Irina dengan hati-hati.


"terimakasih". ucapan Diana yang spele itu membuat Para pelayan itu dengan senang hati bekerja pada Diana, mana ada kesialan dalam diri Diana melainkan memang gosip untuk menjelekkan nama baik Diana saja.


Irina tersenyum senang saja memandang Diana yang memperhatikan tamparan di pipinya begitu juga Irina yang mengobati pipi Diana, "nona sangat berani". batin Irina memekik senang.


Para Pelayan yang sedang bersih-bersih di kamar Diana hanya curi-curi pandang melihat Diana dan Irina yang sangat dekat juga akrab.


malam harinya,


"kemana Cashel? kenapa dia tidak datang?". gumam Diana yang memang sudah ketergantungan pada Cashel.


Cashel ternyata sudah muncul di Kamar Diana dengan posisi bersila diUdara, Ia sangat merindukan gadis cacat itu yang membuat pikiran Cashel cenat-cenut tidak sabaran ingin memilikinya hingga merasa dirinya sudah tidak waras.


"kenapa pipinya?". Cashel tersentak melihat dari sinar cahaya lampu pipi Diana memerah.


Cashel hendak turun tapi tidak jadi, Ia menjentikkan jari telunjuknya dan bekas tamparan di pipi Diana hilang tanpa harus di cium.


Diana yang belum sadar akan keberadaan Cashel pun melangkahkan kakinya ke Ranjang dan berbaring diatas Ranjang.


"Cashel?". gumam Diana sambil memejamkan matanya.


Cashel mengulum senyum mendengar bibir mungil Diana memanggilnya, "panggil aku terus Diana..! aku ada disisimu". batin Cashel.


Cashel segera menyirami Diana dengan cahaya gemerlap kecil yang membuat gadis itu langsung terlelap.


Cashel berada di atas Diana lalu meraba wajah Diana dengan lembut, ibu jarinya memainkan bibir Diana yang tidak tebal dan tidak tipis.


Cashel mengecup bibir Diana, "manis". bisik Cashel.


Cashel berbaring disisi Diana sambil memainkan jari telunjuknya di puncak hidung Diana yang sangat mancung.


"maaf aku harus cari kesempatan di dalam kesempitan, aku tidak tahan ingin memakan bibirmu". seringai Cashel yang memainkan jari telunjuknya di bibir Diana.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2