Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
bujukan (Part.1)


__ADS_3

.


.


.


Cashel membawa Diana ke Vila di kelilingi Salju.


"kamu membawaku kesini? sebenarnya ini dimana?". tanya Diana berdecak kagum melihat keindahan Vila itu.


Diana berlari ke tepian Vila dibalik Kaca melihat salju, Diana tidak pernah melihat salju hanya mendengar saja untuk pertama kalinya melihat salju, tapi saat pertama kali Cashel membawa Diana ke Vila ini Diana tidak sempat memperhatikan sekitar saking syoknya tau kebenaran Cashel dan Ander adalah orang yang sama.


"di Kontrakanku ada pria". jawab Cashel menjentikkan tangannya sehingga terbentuklah api unggun di tungku pemanas.


"hebat sekali punya kekuatan ya? kamu bisa melakukan apapun tanpa berpikir". kata Diana sambil memperhatikan salju di balik kaca.


"sedang apa disana?". tanya Cashel melirik Diana yang tampak seperti anak kecil melompat-lompat ditempat melihat salju diluar sana.


"aku boleh keluar?". tanya Diana berbinar semangat.


"kalau kamu mau sakit silahkan saja, aku tidak ada baju ganti untukmu jika basah-basah nanti dan aku tidak mau menghangatkanmu, aku tidak mau kamu katai mesum". jawab Cashel santai.


Diana tak lagi bersemangat, dengan langkah lunglai Ia mendekati Cashel tapi tidak duduk disofa Cashel melainkan berdiri tak jauh dari Cashel.


"apalagi? kamu mau bilang aku mesum?". tanya Cashel dengan lirikan tenangnya.


Diana menautkan kedua jemarinya, "maaf". cicit Diana.


Cashel menaikkan sebelah alisnya, "untuk?".


Diana menurunkan pandangannya dan menunduk setunduk-tunduknya karna merasa bersalah telah menyinggung seorang Cashel Alexander Asiantama.


Diana menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah dekat dengan Pria jadi tidak bisa berpikir jernih saat ada laki-laki melihat tubuhnya padahal Diana tau kalau dirinya cacat dan tidak sebanding dengan perempuan sempurna diluar sana, Cashel sangat sempurna dan sangat cocok dengan perempuan sempurna tidak mungkin Cashel suka dengan tubuh gadis cacat sepertinya.


"maafkan aku, kamu tidak akan memutuskan pertemanan kita kan? aku janji tidak akan berpikir macam-macam dan aku juga berjanji membantumu menemukan perempuan sempurna yang bisa menjadi pendampingmu nanti". kata Diana dengan tulus.


Cashel berdehem mendengarkan cerita Diana, "padahal aku sudah menyembuhkannya, kenapa dia bilang kalau dia cacat? apa dia tidak sadar sudah bisa bicara, melihat dan jalan?". batin Cashel.


"kamu tidak mau memaafkanku? katakan apa yang harus aku lakukan supaya kamu memaafkanku?". tanya Diana dengan pandangan takut-takut.


Cashel menghela nafas berat, "duduklah!". titahnya pelan.


Diana melirik sofa yang di lirik oleh Cashel dan terdiam beberapa saat melihat Sofa yang lain.

__ADS_1


"kenapa? kamu mau bilang aku mesum lagi?". sambar Cashel.


Diana melebarkan matanya dengan cepat menggeleng dan duduk disamping Cashel sambil memutar tubuh ke arah Cashel seolah bersiap menunggu hukuman.


"baiklah aku maafkan". jawab Cashel membuat senyum Diana merekah sempurna.


Cashel melihat itu segera membuang muka memandang api yang dihadapannya.


"tapi kamu belum jawab, kenapa saudaramu dibalik pintu?". tanya Cashel mengalihkan.


"aah.. iya.. Elizia ingin sekali bertemu denganmu jadi aku membuat cerita yang sedikit berlebihan tentangmu, aku minta maaf". ucap Diana lagi.


Cashel menghembuskan nafas dengan pelan, "kenapa kau suka sekali meminta maaf? apa aku semenakutkan itu?".


Diana menggeleng kepalanya, mereka berdua berbicara cukup lama tidak tau waktu sedangkan di Kastil Tua yang menjadi tempat tinggal Putri Diana masih ada Elizia yang tidak bisa menahan diri akhirnya membuka pintu kamar Diana.


ceklek...!


Elizia masuk dengan langkah pelan dan mengendap-ngendap, "aku sampai ketiduran tapi tidak dengar apapun". batin Elizia mengedarkan matanya yang melihat kegelapan saja.


Elizia mengumpat pelan karna matanya tidak bisa melihat dengan jelas, "kastil ini benar-benar jelek". gumam Elizia yang jengkel dengan kegelapan sementara kamarnya sangat terang.


sebenarnya kamar Diana terang benderang tapi saat tidur tentu saja lampu dimatikan tidak seperti Elizia yang tidak bisa tidur jika gelap.


dughh..


"aahh?". Elizia meringis mengangkat sebelah lututnya yang terbentur sudut ranjang Diana.


Elizia dengan cepat membekap mulutnya, suara ditahan sekuat tenaga tapi matanya berair karna rasa sakit itu sambil mengumpat didalam hati.


Elizia bersusah payah menelusuri kamar Diana tapi tidak ada apapun, jika Elizia menghidupkan lampu pasti pelayan Diana akan terbangun.


"siapaa?". tanya Irina terdengar serak seperti baru bangun tidur.


Elizia mematung ditempat dengan gerakan terhenti sambil menahan nafas, Irina tidak mendengar apapun lagi pun hanya berpikir dirinya salah dengar lalu kembali tidur.


Elizia terpaksa keluar dari kamar Diana, Elizia mengamuk di kamarnya karna tidak menemukan Diana pasti gadis cacat itu dibawa pergi oleh hantu itu.


"aku jadi ingin memiliki hantunya". pekik Elizia histeris.


.


Ke Esokan harinya,

__ADS_1


Diana terkejut dengan kedatangan Bart yang baru saja kembali dari negeri sebelah.


"bagaimana kabarmu Putri?". tanya Bart memegang tangan Diana yang duduk di kursi Roda.


Diana berlagak sebagai gadis buta yang lumpuh karna banyak pengawal yang mengawasinya, bisa saja salah satu diantara mereka seorang mata-mata.


"baik Ayah". jawab Diana sambil tersenyum.


"Ayah akan urus sisanya". kata Bart mengelus kepala Putrinya yang tersenyum mengingatkannya pada sosok Istri pertama yang dicintainya tapi rasa cinta Bart kepada Rakyat lebih besar ketimbang ke Istrinya.


Bart melirik kebelakang saat mendengar suara langkah kaki yang ternyata Elizart bersama Putrinya yaitu Eliziany.


"anda sudah kembali yang mulia?". sapa Elizart dengan senyuman tipisnya.


Bart berdiri lalu Elizia menoleh ke Ibunya karna tak percaya Bart bisa bersimpuh didepan Diana, kalau seperti ini terus Elizia bisa kehilangan statusnya sebagai calon putri mahkota lagi.


"sedang apa kalian disini?". tanya Bart dengan dingin.


Elizart mengatakan seharusnya Bart menemuinya atau para pejabat tapi Bart malah menemui Diana yang cacat dan tidak berguna sebagai calon penerus tahta selanjutnya, Bart tertawa kecil.


"kau urus saja ranjang para pejabat itu". kata Bart dengan sarkas lalu meninggalkan Diana dan mereka semua yang membeku ditempat.


Elizia memandang punggung Ayahnya sedangkan Elizart menyusul Bart dengan tangan terkepal dan muka memerah, bisa-bisanya Bart mengatainya seperti itu didepan para pengawal rendahan juga anaknya.


Elizia tau perjuangan Ibu nya dan tidak mempermasalahkan hal itu sebab demi Elizia supaya tetap bertahan sebagai penerus tahta, Elizia tak heran lagi dengan pertengkaran Bart dengan Elizart karna Bart tidak akan bisa menceraikan Ibunya sebab semua pejabat berpihak pada mereka berdua, kecuali Bart mundur dari tahta.


"Diana?". panggil Elizia mendekati Diana dan tersenyum manis.


Irina melihat sikap Elizia seperti itu hanya menyumpah serapah didalam hati, Ia terpaksa pergi karna Elizia memintanya keluar dari kamar Diana.


Elizia mendorong kursi roda Diana ke arah sofa lalu Ia duduk dengan anggun disana tanpa bersimpuh seperti yang Bart lakukan.


"ada apa Elizia?". tanya Diana dengan pandangan kosong.


"kapan kamu mempertemukanku dengan hantumu?". tanya Elizia.


Diana menghela nafas panjang, "aku berusaha membujuknya tapi dia tidak mau hmm.. kamu jangan khawatir ya? aku akan berusaha".


Elizia masih menahan rasa kesalnya sambil tersenyum lalu memegang tangan Diana, "aku akan menunggu". kata Elizia dengan senyuman padahal hatinya sangat geram karna sulit sekali bertemu dengan hantunya Diana.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2