
.
.
.
Diana datang ke Kampusnya, sejak turun dari mobilnya gadis itu menjadi pusat perhatian banyak orang.
"apa Cashel ada di Taman ya?". gumam Diana menebak.
Diana sudah datang ke Dosen yang dimaksud Lionel tapi ternyata Cashel sudah keluar beberapa menit yang lalu, Diana pun tidak menyerah mencari Cashel ke Taman biasa.
Diana tersenyum lebar melihat sosok yang Ia cari sedang berada di Kursi biasa melukis sesuatu, "Cashel?". gumam Diana pelan.
Diana mengangkat gaunnya dan berlari dengan hati-hati ke arah Cashel, sedangkan Cashel melukis dengan penuh perhatian dan tidak merasakan kehadiran Diana saking seriusnya sambil tersenyam-senyum.
Diana mengintip lukisan Cashel membuat matanya membulat sempurna sebab Cashel tengah menggambar wajahnya dengan begitu indah seperti seorang pelukis profesional.
"Cashel?". panggil Diana.
Cashel sontak saja menoleh dan terkejut melihat Diana berada dibelakangnya memandang ke buku gambar yang Cashel pegang sepertinya Diana sangat ingin lukisan itu untuknya.
"Diana kau?". Cashel berdiri meletakkan buku gambarnya dan menarik lengan Diana hingga gadis itu mendekat ke arah Cashel dan dengan lembut Cashel mengecup lama kening Diana.
"aku tidak menyangka dengan kedatanganmu sayang". bisik Cashel lalu memeluk Diana dengan mesra.
Cashel seolah baru bisa bernafas saat ini setelah memeluk kekasihnya yang membuatnya tidak bisa fokus selalu saja memikirkan Diana.
"kamu bisa melukis Cash?". tanya Diana membalas pelukan sang Kekasih.
"hmm, sedikit". jawab Cashel mengecup bahu Diana.
Diana terus bertanya hingga Diana tau kalau Cashel jurusan Arsitek tentu bisa melukis dan gambar Cashel tidak kalah hebatnya dengan pelukis profesional, Ia malu-malu meminta lukisan yang Diana lihat tadi.
Cashel tersenyum tampan, "akan aku sempurnakan untukmu sayang". kata Cashel sambil mendudukkan Diana disampingnya.
Diana menunggu Cashel menyempurnakan lukisannya, tidak menggunakan kekuatan hanya modal pensil hitam saja sudah membuat lukisan itu sangat hidup dan Cashel membubuhi warna dengan kekuatannya tepat di bola mata lukisan wajah Diana saja.
"tatapan yang membuatku jatuh cinta". kata Cashel.
Diana mengambil buku gambar itu dan meraba lukisan wajahnya, "jadi begini wajahku saat tidak bisa melihat?". tanya Diana dengan lirih ke Cashel.
__ADS_1
Cashel menganggukkan kepalanya dengan senyuman mengelus kepala Diana.
Diana tidak menyangka melihat wajahnya sendiri dalam lukisan Cashel itu sangat sedih, Ia saja berkali-kali menghapus air matanya yang mengalir pasti Ibundanya sedih sekali melihat kondisinya saat itu yang persis seperti mayat hidup yang tidak mau hidup tapi ingin mati saja.
"aku mau memajangnya". Diana memeluk lukisan yang Cashel berikan.
Cashel tertawa dan membiarkan Diana melakukan apapun untuk kesenangannya, Diana sangat suka dengan lukisan sederhana Cashel yang membuat Diana tau bagaimana rupanya dulu sebelum sembuh.
.
Cashel merubah penampilannya menjadi wujud aslinya tidak ada yang tau rupa Cashel sebagai orang miskin di Kampus itu.
"kenapa menggunakan wujud aslimu Cash?". tanya Diana penasaran.
Cashel terkekeh, "aku berpacaran dengan seorang Tuan Putri, aku harus menjaga nama baiknya supaya tidak dijelekkan manusia tukang gosip". jelasnya santai.
Lukisan Diana? sudah diantar langsung oleh Cashel di Kamar Diana bahkan sudah memajangnya.
Diana tersenyum lalu tangannya yang lain memegang tangan Cashel tengah menggenggam tangannya, mereka berjalan melewati banyak orang yang terperangah melihat mereka berdua, ada yang sempat merekam tapi tidak bisa seolah kamera nya mati.
"kenapa kamera mereka mati?". gumam Diana pelan.
Cashel tertawa kecil, "biar mereka percaya kalau aku ini hantu".
"tidak masalah". jawab Cashel.
Cashel meminta pengawal yang mengantar Diana untuk pulang, mereka yang melihat Pria mata Violet itu pun segera menunduk hormat dan bubar dengan teratur tanpa protes sepatah katapun.
Diana merangkul lengan Cashel yang menggenggam tangannya, Ia tanpa malu mengikuti Cashel yang mengajaknya naik taksi. sebenarnya bisa saja Cashel bawa Diana menghilang tapi Ia ingin menjadi sepasang kekasih normal saja bersama Diana.
mereka menghabiskan waktu bersama di luar sampai tidak ingat waktu, bermain di pasar, taman hiburan, sungguh jauh dari kesan mewah tapi Diana malah bergembira padahal Ia Tuan Putri dan Cashel adalah Tuan Muda Asiantama yang terhormat.
Cashel suka kesederhanaan dan menurutnya Gadis yang mencintainya dengan tulus akan bahagia dengan kesederhanaan yang paling penting kan bersama orang yang dicintai saja.
"ada apa?". tanya Diana malu dipandang Cashel seintens itu.
"kenapa aku baru sadar kamu sangat cantik hari ini sayang". Cashel tersenyum memandang paras Diana yang memang sangat cantik.
Diana menundukkan kepalanya dengan malu, "a.. aku hanya tidak mau kamu malu punya pacar sepertiku".
Cashel mengulum senyumnya, "aku tidak pernah malu asalkan hatimu tidak cacat dan malu dibawa bermain seperti ini, bukankah perempuan suka belanja di tempat mewah?".
__ADS_1
Diana seketika memandang Cashel dan menggeleng kepalanya cepat, "a.. aku tidak suka belanja di tempat mewah". jawabnya serius.
Cashel tertawa lalu mengecup pipi Diana yang semakin merona saja saat ini, "aku suka itu".
.
mereka makan bersama di Vila Salju, betapa terkejutnya Diana saat tau Ia berada di Negara asing sebab ini sudah ketiga kalinya Cashel membawa Diana kesana dan hari ini Ia baru tau negara yang Ia tempati kini.
"bukankah kamu ingin main keluar?". tanya Cashel mengelus lembut pipi Diana.
Diana berbinar seketika, "boleh?". tanya Diana.
Cashel mengangguk dan hal itu membuat Diana memekik senang lalu Cashel memakaikan jaket tebal untuk kekasihnya sebelum melepasnya keluar bermain salju.
Diana bermain seperti bocah kecil yang baru saja diizinkan main keluar Rumah oleh kedua orangtua nya, Cashel tertawa melihat tingkah lucu Diana yang melompat-lompat di tengah salju.
"sudah sayang? kamu bermain hampir 2 jam". teriak Cashel.
Diana menoleh ke Cashel dan berlari ke arah Cashel tanpa malu melompat memeluk Cashel, "hangat". gumamnya senang hal itu membuat Cashel tertawa segera membawa masuk kekasihnya yang seperti bayi saja.
.
"kenapa?". tanya Cashel melihat Diana yang tampak tidak berani memandang matanya karna malu.
"punya kekasih yang memiliki Kekuatan Super sangat menyenangkan, aku merasa berada di negeri mimpi". jawab Diana dengan jujur melihat kedua tangannya yang memakai sarung tangan.
Cashel tersenyum mendengarnya, "ini bukan mimpi sayang..! aku sudah bilang kalau aku ini kebahagiaanmu".
Diana melebarkan senyumnya lalu berubah sedih tentu Cashel bertanya dan Diana menjelaskan tentang permintaan Rajab bersama Istrinya yang ingin Cashel menemui anak perempuan mereka berdua.
Cashel tertawa melihat wajah Diana seperti itu sungguh lucu bahkan Diana terlihat tidak berdaya menolak permintaan mereka padahal dulu kedua orang itu jahat padanya, Diana mengomeli dirinya sendiri yang tidak bisa menjadi orang jahat walau sebentar saja.
Cashel menahan tangan Diana yang memukul kepalanya sendiri sebab Cashel tidak suka Diana terluka.
"kamu adalah gadis yang baik sayang..! tidak usah merasa bersalah ya? aku akan menemui Putri mereka, kamu atur saja pertemuan kami bagaimana?". Cashel memandang lembut Diana.
Diana mengangguk lalu meminta maaf pada Cashel yang membuat hidup Cashel tidak bisa tenang sesuai keinginannya, Cashel benar-benar tergila-gila pada Diana yang bertingkah seperti itu.
.
.
__ADS_1
.