Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
mengira


__ADS_3

.


.


.


"Irina? ayo pulang!". ajak Diana.


Irina menganggukkan kepalanya dengan cepat lalu menarik kursi roda Diana dari hadapan Deniel dan mendorongnya tapi ditahan oleh Deniel dengan kakinya.


"kau cacat tapi sombong padaku?". sinis Deniel.


"aku tidak sombong yang mulia tapi aku hanya tidak mau anda ketularan kesialan saya". kata Diana membuat kaki Deniel langsung berpindah dan dengan cepat Ia mengelap sepatunya dengan tisu di bajunya.


"ayo irina! entah kesialan apa yang akan menimpa kakinya, aku tidak mau disalahkan jika yang mulia Deniel sampai kehilangan kakinya karna mencekalku yang pembawa sial". kata Diana.


Deniel semakin kencang saja mengelap sepatunya bahkan dengan cepat melepas sepatunya, Eliziany pun terkena sambar oleh Deniel untuk membuang sepatunya jauh-jauh.


Cashel yang melihat itu tertawa, "lumayan juga kamu Diana". batin Cashel yang bangga dengan keberanian Diana.


Eliziany malah menjadi budak Deniel dengan cara berjongkok mencuci bersih kaki Deniel, kaki Deniel bertengger di lutut Elizia seperti seorang pelayan, balasan Diana hanya 1 kata yaitu kesialan sudah berhasil membuat pasangan itu panik dan takut.


"ada baiknya aku kerjai Pria ini biar semakin takut mendekati Diana". gumam Cashel mengetuk-ngetuk dagunya sambil menyunggingkan senyum tipis.


Cashel mendongak mendengar pikiran Lionel yang minta mereka untuk datang ke Toko karna ada pemesanan mendadak jadi Madam meminta mereka untuk datang supaya ada persiapan esok.


Cashel menyentil kaki Deniel dengan sisa bubuk gatal yang menempel dibalik gaun Diana lalu segera menghilang menyusul Lionel.


.


ke esokan paginya,


Diana terbelalak saat kedua orangtua Deniel mendatanginya dan marah-marah sedangkan Bart Singh sedang tidak ada di Kastil, Ayah Diana harus ke Negara sebelah untuk mengatur sesuatu.


"saya tidak tau yang mulia, saya berusaha untuk pergi tapi kaki terhormat dan suci yang mulia pangeran menghalangi kursi roda saya yang penuh kesialan". kata Diana dengan sangat sopan dan tenang.


"apaa? kamu pikir anakku berbohong ha?". bentak si Ratu.


"saya tidak menyentuhnya sama sekali, lebih baik ratu segera pulang atau kesialan kedua akan terjadi pada kalian berdua, jangan sampai kaki Ratu terkena imbasnya karna terkena kesialan dari saya". kata Diana.


sontak saja si ratu melihat kakinya, dan suaminya dengan cepat menjauhi Diana belum sempat beberapa langkah si ratu menjerit histeris saat ia tergelincir oleh heelsnya sendiri.

__ADS_1


"aku tidak bersalah..! kalian lah yang mendatangi kesialan". kata Diana lalu beranjak pergi dari sana dengan kursi rodanya.


kepanikan luar biasa terjadi, Ibu kandung Deniel dilarikan ke Rumah Sakit dan kakinya mengalami keretakan tulang, Raja tidak menyalahkan Ratu tapi malah menyalahkan diri sendiri karna tidak bisa mengendalikan amarah Ratu hingga mendatangi Diana yang dikenal pembawa sial.


Kabar kesialan keluarga itu sampai ditelinga setiap manusia yang punya telinga, sejak itu tidak ada lagi orang yang berani mendatangi Diana termasuk para pejabat dan Elizart serta Eliziany pun tidak berani mendatangi Diana.


.


sore harinya,


di Kamar Diana (Kastil Tua),


"Nona? maafkan saya..! beritanya sudah kemana-mana". cicit Irina.


Diana tersenyum, "tidak apa..! aku malah senang mereka takut padaku dengan begitu aku punya alasan untuk melawan". balas Diana dengan tenang.


"tapi Nona? bagaimana jika mereka berkomplot untuk mengasingkan Nona?". tanya Irina dengan takut.


"diasingkan kemana lagi? bukankah Kastil ini yang paling terasing?". kekeh Diana.


Diana menatap lurus kedepan sambil mengulas senyum jika mengingat Cashel, Ia senang punya teman setidaknya Diana punya alasan untuk hidup karna berteman dengan Cashel dan Irina, Bart? Diana tidak berharap banyak karna tau Ayahnya bijaksana dan hanya mementingkan orang banyak dibanding anaknya sendiri.


kejam? Bart tidak memikirkan keluarganya ataupun nyawanya sendiri, oleh sebab itu saat diperhatikan oleh Bart sudah membuat Diana bahagia.


.


Diana mendengar suara langkah kaki segera duduk di kursi rodanya dan pandangannya berubah kosong.


ceklek..


"Diana?". panggil Elizia.


Diana memutar kursi rodanya ke Elizia, "ada apa? jangan mendekatiku, saat ini kamu dalam bahaya jika berdekatan denganku, kamu tau sendiri hantuku marah dengan apa yang dilakukan oleh keluarga itu".


Elizia menelan salivanya bersusah payah, "apa kamu sudah mengatakan pada hantu itu kalau aku baik? dia tidak akan melakukan apapun padaku kan?".


Diana menganggukkan kepalanya lalu Elizia melihat sekeliling kamar Diana dan pergi sambil menutup pintu kamar Diana dengan sangat hati-hati.


Irina tersenyum melihat wajah takut Elizia, "saya merasa senang dengan ketakutannya Nona".


Diana diam saja membuat Irina penasaran dan bertanya tapi Diana tidak mengatakan apa-apa hanya tersenyum kecil saja.

__ADS_1


"dimana Cashel? apa dia marah karna aku pernah membentaknya dan mengatainya mesum?". batin Diana menerka-nerka.


Diana tidak tau apa mengapa Cashel tidak lagi datang padanya, Diana berpikir Cashel tersinggung dengan kata-katanya saat itu mengatai Cashel mencari kesempatan dari dirinya.


"dasar aku bodoh sekali..! kenapa aku bisa berpikir seperti itu? diluar sana pasti banyak perempuan super seksi dan profesional mau padanya sebagai Tuan Muda Asiantama, kenapa aku bisa berpikir dia mencari kesempatan pada gadis cacat sepertiku? apa yang salah dengan otakku? apa aku tidak berpikir betapa sempurna nya dia? apa bagusnya aku sampai berani berpikir dia menyukaiku?". oceh Diana seketika tanpa menjeda nafasnya.


Irina membelalak mendengarnya, "a.. apa maksud Nona?".


Diana tersadar melihat Irina, terpaksa Diana menceritakan kejadian saat itu dan ternyata Irina mengatakan bahwa Cashel pasti tidak bermaksud melec*hkan Diana hanya saja Cashel pasti ingin tau apa yang membuat Diana gatal-gatal baru bisa disembuhkan.


"aku tau, itu sebabnya aku menyesalinya". lirih Diana menundukkan pandangannya sambil menghela nafas panjang.


Irina yang kasihan segera memberitau bahwa Diana hanya mengatakan hal yang dipikirkan saja sebab Diana tidak pernah dekat dengan Pria manapun termasuk mantan tunangan Diana sendiri yaitu Deniel.


ditengah malam, Diana tidak bisa tidur hanya memandang kosong ke arah balkon.


"sedang apa?". tanya Cashel


Diana sontak saja menoleh keasal suara dan melihat Cashel tengah bersandar dengan sebelah bahunya sambil bersidakap dada melihat ke arahnya.


"Ander..? aah.. Cashel?". Diana tersenyum melihat Cashel akhirnya muncul disekitarnya padahal Diana tidak tau mengapa Cashel tidak muncul sebelumnya.


Cashel tersenyum miring, "aku dengar kesialanmu". ujar Cashel sambil mendekati Diana lalu mendorong Kursi Roda Diana memasuki kamar dan mengibaskan tangannya sehingga pintu balkon tertutup perlahan tanpa mengeluarkan suara berisik.


Diana tersenyum, "apa aku sudah terlihat sebagai gadis yang kuat melawan mereka?". tanya Diana penasaran.


"tunggu, ada seseorang". bisik Cashel melihat ke arah pintu.


Diana terdiam mendengarkan lalu mengangguk, "aku dengar". jawab Diana setengah berbisik.


Cashel menghilang dan muncul diluar kamar tanpa wujud, "apa yang dilakukan ular kepala 3 ekor rubah bercabang ini?". batin Cashel memperhatikan Elizia tampak meletakkan telinganya di pintu kamar Diana.


"tadi kayaknya aku dengar suara". gumam Elizia lalu berusaha mendengar lebih jelas lagi.


Cashel menghela nafas lalu kembali ke Diana, "kenapa Ular kepala 3 dan ekor rubah itu ada didepan? apa dia tidak ada kerjaan hingga rela jam segini masih mengawasimu?". tanya Cashel.


Diana diam lalu memegang tangan Cashel, "bawa aku ke Kontrakanmu". bisik Diana.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2