
.
.
.
Bubby menarik tangan Rara yang masuk kepelukan Bubby.
"ma.. maaf Tuan..? ka.. kaki saya lemas ja.. jadi saat ditarik terlalu kencang ??." cicit Rara meremas lengan Bubby yang merangkul pinggangnya.
"huhh..! aku sudah menghabisinya, jangan takut." kata Bubby memejamkan matanya.
seketika Bubby membawa Rara teleportasi ke Apartemennya, Rara terkulai lemas kakinya nyaris tidak bertulang.
Bubby benar-benar Pria yang baik mau menggendong tubuh seorang gadis upik abu dan meletakkan tubuh Rara di Ranjang rapi kamar Rara sebelumnya.
"istirahatlah..!" kata Bubby hendak pergi tapi ujung baju Kaosnya ditarik oleh Rara.
Bubby mengambil tangan Rara dan memasukkannya kembali kebalik selimut, "tidurlah..! aku akan kembali beberapa menit lagi."
Rara menggeleng-geleng kepalanya tapi anehnya matanya mengapa bisa mengantuk? apa dirinya baru saja terkena sihir? Rara tidak tahan lagi hingga tertidur seperti terkena bius total, tubuh yang tadi bergetar ketakutan kembali tenang dan semua normal seperti tidak terjadi apa-apa.
Bubby melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 04.09 pagi.
"huuuft..! hari yang panjang." gumam Bubby malas.
Bubby pun pergi dari kamar Rara dan tak lupa menutup pintu Kamarnya, Ia seketika melihat telapak tangannya.
"sudah aku bilang kau akan menyambut tanganku." senyum tipis Bubby yang pikirannya tidak bisa ditebak.
.
sekitar jam 09.36 pagi.
Rara tersentak dari tidurnya, Ia duduk dan menoleh kekiri serta kekanan.
"ke. kenapa aku merasa terhipnotis mendengar suara Tuan Kedua? apa hanya perasaanku saja?." gumam Rara melihat jam dinding.
Rara memekik karna sudah sangat terlambat berlari ke arah Kamar mandi, setelah selesai membersihkan diri dengan tergesa-gesa tapi saat sudah selesai Ia kebingungan.
"i.. inikan bukan kamarku lagi, bajuku mana ada disini." gumam Rara menyesal.
Rara memegang handuk yang melilit tubuhnya, "ba.. bagaimana ini? a. aku tidak mungkin memakai gaun kekurangan bahan itu."
Rara terdiam beberapa saat lalu segera menghubungi Irma, betapa terkejutnya Rara ternyata Bubby telah mengizinkannya libur, sepertinya Irma tidak curiga sama sekali.
__ADS_1
Rara menggigit bibir bawahnya lalu perlahan mencari Jubah mandi di Lemari nya tapi tidak ada, "kemana Jubah mandi yang biasa? apa di buang?." gumam Rara semakin tak karuan saja.
Rara sungguh tidak punya teman dan tidak mungkinlah Rara meminta bantuan Ibunya, yang ada Ibu Lily akan jatuh sakit lagi saat tau Ayahnya mau menjualnya ke Pria Ranj*ng.
tok.. tok.. tok..
"Ehh??." Rara berlari ke arah pintu kamarnya dan menahan pintu yang sudah setengah terbuka.
"Tuann? s.. saya tidak ada pakaian ganti." ujar Rara malu-malu.
"aku juga berpikir begitu, bajumu semalam jangan lupa dibakar. masalah Pakaian mu aku hanya punya ini pakailah!" Bubby mengulurkan tangannya memberikan Kemeja Putihnya yang besar.
glekk..!
"t.. tapi kebesaran Tuan." cicit Rara.
"dari pada gaun tadi malam ini jauh lebih baik." kata Bubby.
Rara terpaksa menerimanya karna tidak punya pilihan.
Bubby terlalu malas memasak karna selera lidahnya hanya suka makanan buatan tangan Rara, Ia hanya membeli roti dari luar. Bubby bisa masak ala barat tapi tidak makanan lokal namun kemampuan Bubby belum seberapa dibanding Cashel yang Privat khusus, berbeda dengan Bubby yang sekedar cari tambahan ilmu saja dan tidak berniat menyempurnakannya seperti Cashel.
Bubby minum seketika langsung tersedak melihat Rara muncul dengan Kemeja Putih miliknya.
"apa Tuan mau saya masakin sesuatu?" tanya Rara sambil melipat lengan Kemejanya yang kedalaman.
Bubby diam sambil melihat arah lain, "apa kau sudah baik-baik saja? tidak perlu sok kuat."
Rara tersenyum, "sudah baikan Tuan, anggap saja saya ingin membalas kebaikan Tuan walau tidak seberapa dengan semua kebaikan Tuan pada saya."
Bubby berdecak dalam hati, mengapa baju yang tidak pernah Ia pakai itu bisa terlihat bagus di tubuh kecil Rara padahal tenggelam namun bisa membuat Bubby gelisah melihatnya.
"apa aku tertarik pada gadis ini? what?? benarkah?? akuuu?? suka sama dia? apa aku sudah gila?? tidak.. tidak.. aku tidak gila, mungkin ini efek karna aku terlalu lama tidak punya pasangan." batin Bubby.
"kalau sudah siap panggil aku ya?." pinta Bubby berdiri dari duduk santainya dan pergi dengan langkah terburu-buru.
Rara melihatnya hanya heran saja, "mungkin Tuan sedang ada urusan." gumam Rara.
Rara tersenyum lebar seketika membuka kulkas, Ia pun mulai menjalankan aksinya masak besar untuk Bubby. hanya butuh waktu 30 menit semua sudah tertata di meja.
"Tuan...?." panggil Rara mengetuk pintu kamar Bubby.
"iya-iya" sahut Bubby lalu Rara pergi dari sana.
Rara ke Kamarnya dan menggaruk kepalanya yang tak gatal, "apa Ponselku terjatuh?." gumam Rara yang tidak menemukan ponselnya.
__ADS_1
Rara mencoba mengingat-ngingat, "pasti diambil oleh Ayah lagi." gumam Rara menghela nafas panjang.
.
Sore hari,
Rara Keluar dari Apartemen Bubby dengan pakaian baru, Bubby membelinya di luar untuk Rara yang awalnya menolak tapi Bubby memaksa karna Ia tidak mau dinilai buruk oleh orang membiarkan seorang Gadis memakai baju Pria dan pasti akan ada gosip miring. Rara tidak mau membuat nama Bubby rusak pun menerimanya.
Rara kembali ke Kontrakannya, betapa terkejutnya Rara saat Ibu Lily tertawa tapi matanya terus saja mengalir dengan kabar dari polisi Suaminya telah meninggal dunia bersama Pria Buntet yang mencoba melec*hkan Rara.
"Ibu??" para Polisi saling pandang kebingungan melihat Ibu Lily tertawa tapi ada kesedihan juga di matanya bercampur kebencian.
"saya tidak mengenalnya Pak..! saya tidak akan mengurus jenazah Pria yang anda bilang suami saya itu." kata Lily berubah datar.
"Ehh? Ma?." Rara merangkul lengan Lily yang menganggukkan kepala.
panjang perdebatan diantara mereka pada akhirnya polisi mengalah dan pergi, Rara merangkul Lily ke sofa tak lupa bertanya keadaan Ibu Lily.
"Mama baik-baik saja nak." kata Ibu Lily tersenyum lega lalu memberikan tas selempang berisi Ponsel dan dompet Rara didapatkan dari Ayah Rara yang sudah tidak ada.
Rara tidak tau penyebab kematian Kedua orang itu, Ia merasa bisa bernafas lega terbebas dari rasa takutnya walau merasa kasihan pada nasib Ayahnya tapi rasa takutnya itu lebih mendominasi dalam diri Rara.
selama beberapa bulan kedepan tidak ada Rentenir mapapun yang mengganggu Rara, Bubby sempat ke Luar negeri selama 2 Bulan untuk menjual Produk Parfum serta Brand Kosmetiknya yang laris dipasaran Internasional.
di Mansion,
"kenapa kak? kok makin kurus banget sih? apa kakak tidak makan?." cecar Tyara melihat Bubby baru saja kembali.
"tidak ada nafsu makan disana." jawab Bubby lesu dan merebahkan diri di Sofa.
Crystal datang membawakan makanan favorit Bubby tapi Crystal dan Tyara merasa heran mengapa Bubby makannya tidak terlalu bersemangat seperti yang mereka tau selama ini Bubby suka makanan itu.
"kenapa sayang?." tanya Crystal mengelus kepala Bubby.
"Bunda? apa Bubby menikah saja Bunda?." tanya Bubby merebahkan kepalanya di bahu Crystal.
Crystal tersentak sementara Tyara tersedak saat minum milik Bubby.
"uhuukk.. uhukkk"
.
.
.
__ADS_1