Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
datang


__ADS_3

.


Part Bonus buat KeUwuan Pasangan yang baru saja dimabuk Cinta yaa?? hehe.. Happy Reading..!!


.


.


.


Diana tiba di Kamarnya dan melihat ke arah ranjangnya tidak ada siapapun.


"apa dia pergi?". gumam Diana dengan kecewa.


Diana sampai berlari menuju Kastilnya tapi nyatanya Kekasihnya sudah tidak ada.


"aah". Diana terpekik saat tubuhnya dipeluk dari belakang.


"kamu mencariku sayang". bisik Cashel mencium leher Diana.


Diana tersenyum malu-malu, "aku pikir kamu sudah pergi". kata Diana sambil merangkul lengan Cashel yang memeluk tubuhnya dari belakang.


"aku butuh nutrisi sebelum pulang ke Kontrakanku". ujar Cashel membalik tubuh Diana menghadapnya.


"nutrisi?". beo Diana dengan serius dan Cashel mengangguk sambil tersenyum begitu tampan karna Nutrisi yang Cashel maksud seperti berbeda dengan Nutrisi yang Diana maksud.


"kalau begitu aku akan buatkan makanan yang enak untukmu walaupun aku belum pernah mencobanya tapi aku bisa melakukannya dengan modal indera pengecapku yang sangat baik". lanjut Diana sambil tersenyum lebar.


Cashel tertawa lepas dan hal itu sangat tampan dimata Diana, Diana malah mengerjab-ngerjab sebab terpana dengan pemandangan itu.


"Nutrisiku bukan makanan sayang". kata Cashel setelah menghentikan tawanya.


Diana tersadar menautkan kedua alisnya, "lalu?". bingung Diana.


Cashel melingkarkan lengannya di pinggang Diana lalu mengecup bibir Diana yang akhirnya baru mengerti maksud nutrisi yang dimau Cashel.


"sudah faham?". tanya Cashel dengan jarak bibir yang begitu dekat dengan bibir Diana.


Diana yang merona menganggukkan kepalanya dan Cashel kembali meminta nutrisi yang Ia inginkan tapi Diana tidak menolak karna jujur saja Diana suka perlakuan Cashel yang membuatnya terasa istimewa juga merasa dicintai dan sangat berharga bagi Cashel.


Cashel mengusap bibir Diana yang basah karna ulahnya, "manis".


Diana menundukkan kepalanya bahkan meletakkan keningnya dibelahan dada Cashel, entah mengapa Ia sangat malu saat ini dan hal itu membuat Cashel tertawa mencium lembut puncak kepala Diana sambil memeluk gadis cacat yang membuatnya tergila-gila walaupun sekarang tidak cacat lagi.


"apa dia menyakitimu?". tanya Cashel dengan lembut.

__ADS_1


Diana menggeleng kepalanya, "aku melawannya".


"bagus..! sepertinya bayi macanku sudah tumbuh besar dengan baik". puji Cashel terkekeh.


Diana tersenyum lebar dipelukan Cashel disebut bayi macan yang artinya Diana tidak membuat Cashel malu padanya malah terkesan bangga dengan perubahan Diana.


"dimana Irina? kenapa dia tidak datang juga? apa Kak Lionel tidak bisa memindahkannya kesini?". tanya Diana dibelahan dada Cashel sambil melingkarkan tangannya di pinggang Cashel dengan erat.


Cashel menceritakan tentang perasaan Lionel pada Irina sontak saja Diana melepaskan pelukannya tapi tangannya masih melingkar di pinggang Cashel dan wajahnya mendongak ke Cashel dengan tatapan tak percaya akan kebenaran itu.


"sungguh?". tanya Diana memastikan lagi.


Cashel terkekeh dan menganggukkan kepalanya.


"kenapa aku tidak tau". gumam Diana yang tidak mengerti Irina padahal Irina selalu mengerti dirinya.


"Irina belum menyukai Lionel, dia tidak berbeda jauh denganmu sangat bodoh dan unik". bisik Cashel menduselkan hidungnya dengan hidung mungil Diana.


Diana menekuk kedua alisnya seketika, "aku tidak bodoh". Diana memukul dada bidang Cashel dengan pelan.


Cashel tertawa, "tidak mengaku?". goda Cashel menaik turunkan kedua alisnya sungguh tampan sekali Kekasih Diana yang satu itu hingga Diana sendiri malu.


Diana tidak menyangka akan disukai oleh Pria seperti Cashel.


Diana membuang muka lalu melepaskan diri dari Cashel, "p.. pokoknya kembalikan Irina, aku mau mandi". sungut Diana dengan malu.


Diana melototkan matanya dan muka nya juga sungguh merah tentu saja terlihat lucu.


"a.. apa?". Diana melindungi aset atas dengan tangan kanan dan aset bawah dengan tangan kirinya.


Cashel tertawa keras dan Diana yang sadar bahwa Cashel memperhatikannya diam-diam bahkan melihatnya saat hendak mandi membuatnya kesal lalu begitu berani memukul-mukul Cashel.


aksi kejar-kejaran pun terjadi diantara mereka, sungguh Diana sangat malu tapi juga tidak terima akan kemesuman Cashel yang diam-diam mengintipnya.


beberapa saat kemudian,


ceklekk...!


Diana dan Cashel berada di lantai dengan posisi cukup intim yaitu Diana menindih Cashel dengan bantal ditangannya, lengan Cashel terangkat karna berusaha melindungi kepalanya yang dipukuli bantal oleh Diana.


kedua pasangan yang baru dimabuk cinta itu menoleh ke asal suara,


"Ayah?". Diana membulatkan matanya.


"ma.. maaf? tadi Ayah sudah mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan". jelas Bart dengan kikuk.

__ADS_1


Diana melihat para pengawal Bart dan 5 Pelayan perempuan yang bekerja dengannya memandang malu-malu ke arahnya, ada yang wajahnya merona lalu Diana tersadar dengan posisinya segera berdiri melempar bantalnya dan membenarkan baju serta rambutnya.


Cashel pun bangkit dan mengecup pipi Diana, "aku pulang". bisik Cashel lalu hendak menghilang tapi Diana mencekal tangannya tentu Cashel berbalik ke arah Diana.


"ada apa?". tanya Cashel.


"pamit dulu dengan Ayahku". pinta Diana sembari tersenyum.


Bart diam melihat hal lain pura-pura tidak melihat padahal yang dibelakang mereka malu dengan keromantisan Diana dan Cashel.


Cashel melihat ke Bart lalu izin dengan kikuk lalu menghilang setelah mendengar jawaban kaku dari Bart juga.


"Cash?". Diana tertawa kecil mengingat wajah kaku Cashel saat izin pada Ayahnya.


Diana tersadar, "maaf Ayah..! Cashel sangat imut". ucap Diana dengan malu.


Bart berubah lembut, "mandilah nak..! temui Ayah di Ruangan kita, ada tamu yang ingin bertemu denganmu".


Diana mengangguk patuh lalu Bart keluar diikuti seluruh pengawalnya, kelima Pelayan Diana berlari memasuki Kamar Diana dan menggoda Diana yang wajahnya makin merah lalu mengomeli mereka semua yang malah terkikik.


Diana adalah Nona yang baik bagi mereka sebab hanya mengomeli mereka saja tidak seperti Elizia atau Elizart yang main pukul, cambuk dan maki.


.


Diana telah selesai bersiap-siap dengan Kelima Pelayannya, Irina belum juga kembali entah apa yang Lionel lakukan pada Pelayan setianya itu, Diana tentu ingin Irina bahagia jadi tidak mempermasalahkan hal itu.


Pintu Ruangan Bart terbuka,


Diana berjalan anggun diikuti kelima Pelayannya betapa terkejutnya Diana melihat Keluarga Deniel ada disana bersama Elizia yang menampilkan senyum manisnya.


Diana memberi hormat kepada mereka semua sebagai anggota bangsawan, Elizia masih berlagak manis karna Ia ingin terlihat baik saja merelakan Deniel pada Diana padahal ada niat terselubung di hatinya itu yang tidak pernah puas dengan hal yang dimilikinya.


"Putri Diana?". En mendekati Diana dan memegang tangan Diana sambil tersenyum ramah.


Diana menekuk lututnya sebagai penghormatan.


Rajab menjelaskan keperluannya bertemu Diana namun Bart sepertinya tidak mau memaksa Diana untuk menuruti permintaan Bart karna Bart tidak akan mau ikut campur masalah Diana.


"Putri Diana sudah dewasa untuk memutuskan segalanya, aku tidak bisa membujuknya atas permintaan kalian jika Putriku sendiri tidak mau melakukannya". ujar Bart dengan sopan.


Rajab dan En tidak bisa berkata-kata karna Bart tidak membantu mereka membujuk Diana, namun Penjelasan Bart yang sejak dulu adalah Ayah yang buruk untuk Diana jadi tidak akan minta apapun pada Diana selain Diana bisa mencari kebahagiaannya sendiri saja membuat pasangan suami istri itu juga tak berkutik.


Elizia masih mendengarkan dengan serius untuk mengetahui masalah mereka lalu akan mengompori mereka semua supaya mau menyatukan Diana dengan Deniel.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2