
.
.
.
pagi-pagi,
Cashel melakukan VC dengan Tyara dan Bubby dan selisih jam dinegara mereka 6 jam,
"ya ampun Kak...! kakak harus minta maaflah sama gadis itu, kasihanlah kak siapa tau itu peninggalan Ibu nya". oceh Tyara yang mana nalurinya sebagai perempuan mengerti cerita Cashel.
"kakak kok tumben datang keacara begituan? kalau Bunda tau kakak bisa digantung terbalik". omel Bubby tak percaya bahwa Cashel mengajak Lionel ke acara Party demi mengetahui bagaimana sih pergaulan yang ditakutkan oleh Bunda nya.
"kakak hanya pengen lihat saja, lagian tidak ada yang menarik sama sekali". kata Cashel dengan santai.
Cashel memang akrab dengan Tyara dan Bubby, walau kedua adiknya pekacilan, tidak bisa diatur tapi jika dijadikan buku diary, adik-adiknya itu bisa menjaga rahasia dari Bunda mereka.
"Cash? sedang bicara sama siapa?". tanya Lionel tiba-tiba muncul.
Cashel menjawab bahwa bicara dengan kedua adik cerewetnya, Lionel pun mengambil ponsel Cashel dan mulai berceloteh panjang. Cashel geleng-geleng kepala saja sebab tau mereka bertiga punya kepribadian yang hampir sama yaitu asik sedangkan Cashel malah kebalikannya.
.
Cashel berangkat ke kampus dengan sepeda sementara Lionel tetap dengan mobilnya, setiap hari minggu saja Lionel naik sepeda selain hari minggu tetap bawa mobil.
semua orang membicarakan tentang Putri Mahkota yang baru dan berbakat, Cashel menunggu di kelas dan ternyata Dosen memberi tau bahwa hari ini mereka tidak ada kelas karna semua Dosen akan mengadakan rapat penting.
Cashel terlihat cuek saja saat teman sekelasnya berhamburan keluar Kelas dan mencari tempat-tempat favorit bersama teman, Cashel pergi ke taman biasa.
"apa dia belum sembuh juga?". batin Cashel yang memang menunggu Putri Diana.
Cashel duduk di kursi panjang sambil melukis pemandangan, Cashel seorang Arsitek tentu tangannya bisa melukis dengan baik.
"permisi Tuan?". sapa Irina.
Cashel menoleh dan pandangannya menurun melihat Putri Diana untuk pertama kalinya di kursi Roda, gadis itu terlihat pucat dengan pandangan kosong dan sorot mata yang sedih seperti banyak memendam luka.
"apa Tuan sedang sibuk?". tanya Irina dengan sopan.
Cashel terhenyak seakan matanya terhipnotis dengan tatapan kosong gadis itu, "tidak". jawab Cashel singkat.
"Nona? apa perlu Nona bicara berdua saja? apa perlu saya saja yang mengatakannya?". tanya Irina sopan ke Diana.
__ADS_1
Diana menggeleng kepalanya, Cashel melihat gerakan tangan Diana yang membuat Irina pasrah lalu meninggalkan Diana dengan Cashel.
"bagaimana caraku berbicara dengannya? apa dia menyimpan kalungku? sudah berhari-hari lamanya, aku tidak bisa bersuara". batin Diana yang tentu didengar oleh Cashel.
"dia benar-benar tidak bisa bersuara, tapi matanya indah tidak seperti yang dikatakan para wanita penggosip itu". batin Cashel diam saja menunggu Diana memulai pembicaraan dengannya tanpa berbicara sepatah katapun.
"a.. apa tuan bisa bahasa Isyarat?". tanya Diana dengan gerakan bibir dan gerakan tangannya.
Cashel malah memperhatikan Diana yang kini ada hadapannya, Cashel melambai-lambaikan tangannya ke Kiri dan ke kanan, dan jujur saja ia terkesima dengan sorot mata Diana yang tidak berubah.
"aku tidak tau, coba bicara lewat pikiranmu saja". ujar Cashel merasa kejeniusannya dipertanyakan sebab tidak bisa bahasa isyarat.
Diana malah bingung, "maksudnya apa?". batin Diana tidak mengerti.
"maksudnya bicara lewat pikiran saja, aku mendengar pikiranmu". jawab Cashel.
Diana melebarkan matanya dengan kaget saat Cashel bisa menjawab pikirannya, Cashel melirik bola mata biru gelap Diana, mengapa Ia bisa terhipnotis dengan tatapan kosong itu?
mereka terdiam beberapa puluh menit, lalu Diana mengatakan lewat pemikirannya apakah Cashel menemukan kalungnya berbentuk bulan purnama merah dan ada awan bintang didalamnya.
"awan bintang?". beo Cashel.
"oh.. jadi itu awan dan bintang". gumam Cashel lalu mengeluarkan kalung Diana.
walau tidak tau mengapa Cashel meminta tangannya pun hanya menengadahkan tangannya, Cashel memberikan kalung itu pada Diana tanpa mengatakan apa-apa.
Diana seketika berkaca-kaca meraba-raba kalung itu, "te.. terimakasih Tuan". ucap Diana tanpa suara.
Cashel memperhatikan gerakan bibir Diana pun menggeleng kepalanya, Ia benar-benar heran dengan pemikirannya mengapa dirinya malah memperhatikan bibir mungil nan pucat itu.
Cashel membuang muka,
"aku tidak salah apa-apa tapi walau begitu kau boleh meminta apapun sebagai balasan, aku akan bertanggung jawab dengan apa yang telah terjadi padamu, aku tidak bermaksud membuatmu sakit". kata Cashel lalu menoleh ke arah Diana yang sudah tidak ada ditempatnya.
Cashel mengedarkan pandangannya dan terperangah melihat Putri Diana mendorong kursi Rodanya menjauhinya tanpa meminta apa-apa, Irina berlari ke arah Diana lalu tampak bahagia melihat Diana menangis haru memeluk kalung peninggalan ibunya.
"apa dia barusan mengabaikanku? dia tidak minta tanggung jawab?". gumam Cashel terheran-heran.
seumur hidupnya Cashel tidak pernah diperlakukan seperti itu, sementara Diana tidak ingat lagi kelebihan Cashel yang membuatnya heran mengapa Cashel bisa mendengar isi pikirannya? saat ini Diana menemukan kalungnya yang tidak dibuang oleh Cashel adalah yang paling membahagiakan dari apapun.
Cashel memperhatikan Irina yang mendorong kursi Roda Diana, tampaknya kedua gadis itu memang menjaga jarak dari Cashel dan Ia mendengar pemikiran Irina yang tidak mau mengganggu Pria tertutup dan suka ketenangan seperti dirinya.
.
__ADS_1
di Toko Kue,
sejak saat itu Cashel tidak bisa berpikir jernih, Ia teringat cara Diana memandangnya, tidak ada yang spesial dari tatapan Diana, tidak ada memuja, serakah, ambisi, memelas, manja, tapi hanya tatapan kosong yang tidak ada semangat hidup.
"apa yang salah denganku?". batin Cashel meraup wajahnya didepan cermin.
Cashel terkejut saat keluar dari toilet ada Lionel tengah bersidakap dada dengan mata memicing curiga menatapnya.
"ada apa? kau sembunyikan sesuatu dariku?". tanya Lionel dengan pandangan mencurigakan.
"aku hanya memikirkan sesuatu". jawab Cashel melewati Lionel.
"memikirkan apa? perempuan?". tanya Lionel.
"diamlah". ketus Cashel.
Lionel semakin bersemangat mencari tau kebenarannya tapi Cashel tetap tidak berbicara apapun pada Lionel, Cashel kan tidak pernah merasakan jatuh cinta atau tertarik pada lawan jenis. kini Cashel beberapa kali harus terluka saat memasak Kue yaitu terkena Oven.
"ada apa Cash? tidak biasanya kamu begini". tanya Lionel mengambil alih pekerjaan Cashel.
Cashel meraup wajahnya, mereka tidak memikirkan luka itu karna cepat sembuh hanya saja keseriusan dan tingkat konsentrasi Cashel yang terpecah artinya adalah masalah serius.
"sudah selesai kan? hanya itu saja kan?". tanya Lionel menunjuk Oven nya dan Cashel meliriknya mengganggukkan kepala.
.
"aku terganggu dengan tatapan seseorang". ujar Cashel dengan serius menyisir rambutnya dengan jemari tangannya.
"perempuan?". tebak Lionel.
"jangan katakan pada siapapun". pinta Cashel serius membuat Lionel melebarkan matanya lalu membekap mulutnya begitu dramatis.
"katakan siapa?". tanya Lionel setelah berhasil menguasai diri dengan rasa keterkejutannya akan pengakuan Cashel.
"aku hanya terganggu saja, aku tidak jatuh cinta padanya". jelas Cashel yang tidak terima Lionel berpikir dirinya jatuh cinta.
"iya.. iya.. aku tau, siapa?". tanya Lionel yang tidak memusingkan hal itu karna jika sudah berhasil mengganggu pikiran Cashel artinya gadis itu punya celah memiliki hati Cashel.
.
.
.
__ADS_1