Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
ditangkap


__ADS_3

.


.


.


Rara ditatap sinis oleh Lisa, "aaahhh?" pekik Rara saat kakinya di cegal oleh Lisa.


"Rara??" Irma berlari ke arah Rara dan membantu Rara.


"kenapa kamu melamun sih? kalau jalan di dekat Rubah betina itu harus fokus nanti ekornya menyipakmu." kata Irma menyindir Lisa.


"apa katamu!." bentak Lisa tak terima.


"apaaa?." tantang Irma dengan mata melotot.


"kau berani melawanku ya?." teriak Lisa.


"memangnya siapa kau?? kekasihnya Tuan Kedua juga bukan, jangan kau kira aku bodoh tidak tau maksudmu tadi ya? aku diam karna ada Tuan Kedua." marah Irma.


"sudah- sudah kenapa kalian jadi bertengkar? aku baik-baik saja." Rara menengahi.


"DIAM!!" teriak Irma dan Lisa dengan nada tinggi beda intonasi.


Rara tersentak lalu rekan Rara menarik Rara pergi untuk membiarkan Irma memberi pelajaran pada Gadis sombong yang sok diistimewakan oleh Bubby itu. padahal Bubby memang baik pada semua perempuan.


.


Rara tiba di Ruangan dengan pintu yang sangat terlihat begitu berkualitas, "huuh..!"


Rara masuk setelah merasa tenang, "Tuann?."


Rara menutup pintu Ruangan Bubby, tiba-tiba Rara menjerit saat Bubby memegang bahunya dari belakang.


"ada apa?." tanya Bubby mengangkat tangannya dari bahu Rara.


Rara terduduk lemas, "ma.. maaf Tuan..! s.. saya masih trauma malam itu kejadiannya juga sama." ujar Rara dengan nada bergetar.


Bubby merasa bersalah lalu berjongkok, "maaf..! aku tidak sengaja, aku tadi mau keluar untuk memanggilmu tapi pintunya tiba-tiba ada yang ketuk dan aku bersembunyi."


Rara mengangguk, "tadi ada masalah di Labor, Kak Irma sama Kak Lisa bertengkar Tuan."


Bubby mengulurkan tangannya tapi Rara bangkit sendiri terpaksa Bubby melihat tangannya yang kembali dapat penolakan.


"aku berjanji akan membuat tanganmu menyambut tanganku." batin Bubby tersenyum tipis melihat tangannya.


Bubby heran pada Rara, karna hanya Rara satu-satunya gadis yang menyukainya tapi menolak segala kebaikannya, uluran tangan Bubby. setau Bubby kalau Perempuan suka sama Pria itu pasti akan berusaha didekati tapi Rara malah berbeda semakin suka malah semakin menjauh serta menjaga jarak.


"berikan Kotak makanmu tadi!" titah Bubby berdiri tepat dihadapan Rara.


Rara melangkah mundur, "saya ma.. makan apa Tuan?." tanya Rara tergagap.


Bubby menunjuk sebuah plastik di meja Kerjanya lalu Rara menoleh dan beralih ke Bubby dengan tanda tanya.

__ADS_1


"aku beli di luar tapi aku mau makananmu tadi sangat wangi." jelas Bubby yang memang merasakan aroma masakan Rara walau tertutup rapat.


Rara menganga, "tapi saya hanya buat nasi goreng sosis biasa Tuan dan telur mata sapi, tidak ada yang istimewa."


"ckkk...! cepatlah." desak Bubby.


Rara akhirnya menurut mengambil bekal makan siangnya, Ia menoleh ke gerombolan perempuan yang asik dengan pertengkarannya bahkan segala isi kebun binatang terlontar dari bibir Lisa.


"huuh..! kenapa aku harus terikat lagi dengan Tuan Muda Kedua? kalau begini terus hatiku tidak akan bisa diselamatkan lagi." gumam Rara lesu.


selama beberapa hari Rara selalu bertukar makanan dengan Bubby yang beli di luar, makanan Rara seperti candu bagi Bubby padahal menu nya tidak mewah tapi sangat enak dilidah elit Bubby.


suatu hari Rara pulang malam-malam.


"apa masih ada angkot jam segini?." gumam Rara mengedarkan pandangannya gelisah.


Rara melihat jam tangannya lalu mencari dompetnya dan mengintip isinya tidaklah banyak, Rara sudah menghabiskan semua uangnya dengan membeli semua perabotan Rumah di Kontrakan nya dengan Ibu Lily.


"ini dia...!".


Rara melotot seketika saat 4 Pria berbadan besar tiba di hadapannya.


"waah..! aku tidak menyangka gadis upik abu dulu makin mulus dan cantik, pasti bos Suka."


"apa yakin ini dia?"


"mata melototnya itu udah jelas dia orangnya."


Rara melihat kekiri dan kekanan tidak ada orang, Ia mendorong keras salah satu dari mereka dan segera berlari.


"woooiiii"


"kejaaar!!"


Rara berlari sekuat tenaga karna langkahnya juga tidak sebanding dengan langkah Pria dibelakangnya.


Ciiiittt.... !!!


Rara seketika berhenti mendadak ketika ada Mobil dari arah lawan mengarah padanya dan menyorot wajahnya hingga begitu silau membuat Rara menutupi matanya dengan lengan kanannya.


"ini dia anak durhaka itu Bos, berarti hutang saya lunas kan Bos?." tanya Pria berkumis tebal yang Rara kenali adalah suara Ayahnya.


"bawa dia..!" titah Pria Buntet yang tidak sabar menjadikan Rara sebagai jal*ngnya.


"tidaaaakkk...! lepaskan akuuu! brengs*kkkk" jerit Rara meronta-ronta hingga tasnya terjatuh.


salah satu Pria mengambil tas Rara seketika isinya tercecer, Rara berteriak memohon pada Ayahnya untuk menyelamatkannya.


.


di Ruangan Gelap,


Rara dipaksa memakai gaun seksi, gadis itu berusaha memberontak dan menangis sampai sekujur tubuhnya bergetar, Ia tidak tau bagaimana nasibnya kedepannya jika dirinya tidak bisa lepas dari belenggu ini.

__ADS_1


"Tuaaannn?? tolong aku..! bisakah Tuan mendengarku? hanya Tuan satu-satunya harapanku, apa itu mungkin?." batin Rara menangis sesegukan.


"tolong jangan menangis ya? make up mu belum kering jadi luntur." bujuk si penata rias.


Rara bahkan tanpa malu mengusap matanya hingga si penata rias memekik, ketika pengawal datang betapa ngerinya Pria itu melihat wajah Rara yang seperti hantu.


sulit mendandani Rara hanya bisa memakaikan pewarna bibir tipis dan pewarna pipi yang tidak warnanya lembut tidak mencolok, bagian mata Rara tidak dirias.


Rara mengedarkan pandangannya melihat Ruangan itu sudah tidak ada orang hanya ada Ranjang saja di tempat itu, "apa yang harus aku lakukan? bagaimana caranya aku bisa lari?." gumam Rara yang frustasi sejak tadi tidak melihat adanya jendela.


Rara berlari mengitari Ruangan itu sekiranya menemukan jalan sampai ia mendengar langkah kaki, Rara panik langsung masuk ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam.


"Tuaaannn?? selamatkan akuuu." batin Rara menjerit dengan tubuh kian gemetar mendengar suara langkah kaki itu begitu dekat.


Pria Buntet tadi memanggil Rara, Rara membekap mulutnya ketakutan dengan mata berkaca-kaca.


"kemarilah Baby?? aku akan menyenangkanmu, Ayahmu sudah menjualmu padaku karna hutangnya banyak, apa kau tega membiarkan Ayahmu mati karna terlilit hutang hmm??."


Rara menggeleng kuat saat langkah kaki itu semakin dekat ke arahnya.


"ooh..? kau didalam ya?." si Buntet begitu senang merogoh-rogoh sakunya mencari kunci kamar mandi.


Rara membelalak mendengar pintu itu seperti bisa dibuka dengan kunci bukan di dobrak, Rara menggeleng lalu dengan tubuh gemetar Ia mencari sesuatu untuk membantunya hingga Ia menemukan sebuah tongkat bisbol yang entah kenapa bisa ada di sana.


ceklekk...


"Babyy..? Hmmmmfft...?"


srrrkkkkk


"aaahh."


Pria Buntet tadi tiba-tiba menghilang dan terjatuh dari lantai 20, Bubby menatap sinis si Buntet yang sudah bersimbah dar*h itu.


"dasar sampah..!" umpat Bubby lalu kembali ke Ruangan kosong tadi.


Rara sedang berusaha menggapai tongkat bisbol karna tubuhnya gemetar membuat tenaganya tidak ada.


"aku disini! ayo pulang." Suara Bubby seketika membuat Rara balik badan.


"T.. Tuannn?." Rara menangis melihat Bubby.


Bubby menghela nafas melihat pakaian Rara dengan cepat Ia melepas Jaketnya dan memakainya ke tubuh Rara.


"masih mau disini?." tanya Bubby mengulurkan tangannya.


Rara tanpa berpikir menyambut tangan Bubby walau terlihat oleh Bubby tangan kecil itu bergetar dan wajah Rara sangat pucat seperti kehilangan banyak darah saja.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2