
.
.
.
Crystal memicingkan mata Violetnya memandang Sang Putra Bungsunya itu, Crystal sangat tau watak Bubby yang tidak bisa ditebak karna bisa menutupi segala ekspresinya.
"terlibat Nark*b*?." tanya Crystal lagi.
Bubby menggeleng-geleng kepalanya, "tidak Bunda."
"geng Mafia?? Bunda sudah bilang tidak mau kamu masuk dalam pergaulan yang salah sayang." tatap tajam Crystal.
"enggak Bunda..!." jawab Bubby merengek lalu memeluk Crystal dengan manja seperti anak perempuan.
Crystal memejamkan matanya, "ayo jujur sama Bunda sayang."
Bubby tersenyum lebar, "Bubby membawa seorang wanita yang baru pulang dari Rumah Sakit ke Apartemen Bunda..! aku jadikan seorang Asisten, dia butuh tempat tinggal."
"Wanita? umur berapa?." tanya Crystal.
"hmmm?? aku tidak tau Bunda karna dia baru pulang dari Rumah Sakit terlihat sangat kurus nanti aku bilang umur 50 tahun ternyata tidak, heheh..! Bunda adalah wanita tercantik kok dihati ini." goda Bubby.
Crystal mengerutkan keningnya sambil mengulum senyum, "siapa nama Ibu itu?."
"Ibu Lily..! kalau Bunda penasaran boleh datang ke Apartemen, ya sudah..! Bubby ke Kamar ya? tidak tahan mau mandi." kata Bubby mengecup pelipis Crystal dan menghilang dari pandangan Crystal.
"Ibu Lily?." gumam Crystal.
ke esokan harinya,
Crystal pergi ke Apartemen Bubby tanpa wujud dengan cara teleportasi (menghilang), dan ternyata apa yang Bubby katakan memang benar.
"anakku memang tidak berbohong." batin Crystal mengulum senyum lalu kembali ke Mansion.
Alex terkejut dengan munculnya Crystal tiba-tiba, "sayangg?? kamu dari mana aja hmm?."
Crystal memutar bola matanya dengan malas, ketiga anaknya sudah dewasa tapi Alex tidak juga dewasa. sungguh sabar sekali Crystal merawat bayi besarnya yang satu ini.
__ADS_1
"aku keluar sebentar sayang..!" jawab Crystal mengelus punggung Alex yang memeluk tubuhnya serta mengguncangnya pelan kekiri dan kekanan.
.
Cashel berada di Ruangan terbuka, pandangannya yang tajam mengedar melihat banyaknya manusia yang mencalonkan diri sebagai 2 Asistennya setelah Abin.
Abin disamping Cashel tersenyum lebar, Ia merasa senang karna jika Cashel yang mencari pekerja pasti tidak akan salah.
"ini semua rangkup Profil mereka semua dalam 1 berkas ini Tuan." kata Abin memberikan 1 berkas yang tebal berisi profil 1000 peserta yang telah dipilih dari 10.000 peserta yang mendaftar.
Cashel membacanya lalu Abin memberi aba-aba pada seluruh peserta yang mencalonkan diri, banyak yang terlihat pongah dan sombong karna berasal dari sekolah terbaik pasti akan diterima, ada juga yang percaya diri bukan karna pendidikannya tapi karna yakin akan pekerjaannya (pekerja keras).
Cashel hanya butuh waktu 15 menit membaca semua itu, Ia bukan tipe Pria yang mencari pendidikan tinggi seorang karyawan karna banyak karyawan tetapnya hanya tamatan S1 dari Universitas tidak terkenal.
tap...!!
Abin menoleh ke Cashel yang menutup berkas setebal itu yang artinya sudah dibaca oleh Cashel.
"Latihan Fisik..!" titah Cashel.
"baik Tuan Muda." jawab Abin lalu menunduk sopan saat Cashel keluar Ruangan menuju Ruangan pelatihan fisik yang mereka maksud.
"ayo...! kita ke Ruangan Latihan Fisik...!" ajak Abin.
Cashel duduk di Kursi Kebesarannya di tengah matras luas, Cashel sangat tampan dengan Baju Formal warna terang pilihan Diana.
"lepas heels kalian !" titah Abin.
Cashel mencari sendiri yang terbaik dari itu semua tanpa melihat latar belakang pendidikannya, menurut Cashel Kesehatan serta kekuatan fisik lebih utama dari pada kepintaran karna masalah kinerja di Perusahaan akan diajari serta bisa dilatih jadi tidak pernah pandang bulu.
.
.
semua penampilan perempuan berantakan setelah melewati tahap kedua yang Cashel inginkan hingga hanya menyisakan 20 orang yang tersisa, lebihnya sangat melow dan menggelikan, bagaimana mau kerja di Perusahaan Besar seperti miliknya jika Pertahanan tubuhnya lembek? Cashel tidak suka karyawan lemah fisik kecuali di Perusahaan cabangnya dibagian tertentu, karna hal Utama seorang Asisten di Perusahaannya butuh kekuatan Fisik.
"aku butuh seorang Asisten yang kuat fisik." kata Cashel singkat lalu mengibaskan tangannya pada 80 perempuan dan lelaki yang gagal menjadi kandidat pilihan Cashel.
80 orang yang gagal Keluar dengan lesu juga raut wajah sebagian tidak terima.
__ADS_1
"Ujian terbuka.!" kata Cashel sembari menatap 20 Orang yang tersisa.
Abin merasa takjub dengan 20 perempuan yang lulus tahap kedua, sungguh hebat bisa mengalahkan 30 orang lelaki dari 1000 peserta bahkan tidak ada 1 pun lelaki lulus di tahap ini.
Cashel mengulurkan tangannya lalu dengan cepat Abin memberikan Profil 20 orang yang lulus, Cashel menatap datar Abin yang semangat sekali bekerja dengan perempuan tangguh.
Cashel mewawancarai 20 perempuan yang lulus hanya dengan 5 pertanyaan, Ia juga bisa melihat banyak dari mereka tidak memiliki pendidikan yang sangat tinggi namun fisiknya bagus.
"hanya dalam 30 menit Tuan muda bisa memilih 5 orang yang terbaik?." gumam Abin berdecak kagum.
Abin sangat yakin dengan pilihan Cashel tidak pernah salah, 15 orang tadi diletakkan di Perusahaan Cabang bukan di Pusat, mereka tidak protes karna Cashel sangat adil dalam memilih mereka tanpa ada pihak orang dalam.15 orang yang tidak lulus di tahap ketiga itu sempat kaget saat salah satu seorang Putri Pejabat tidak lulus di tahap kedua padahal tamatan Universitas di London sama seperti Cashel.
"Nite, ButterFly, Sarah, Momo, Lanita. kalian yang terbaik dari 1000 peserta." kata Cashel dengan wajah datar.
"terimakasih Tuan Muda." jawab mereka berlima serentak dan sopan.
"tahap terakhir..! aku tanya pada kalian jika kalian bisa menjawabnya dan aku terkesan pasti akan aku terima langsung menjadi Asisten kedua dan ketigaku." kata Cashel berdiri dengan gagah memasukkan kedua tangannya di saku celana.
mereka tidak menjawab tapi menunduk sopan sebagai rasa terimakasih, Cashel hanya menanyakan hal sederhana namun cukup menguras logika dan akal dalam merangkai kata-katanya supaya bisa membuat Cashel berkesan.
"ButterFly dan Momo..!" Cashel menyukai jawaban kedua perempuan itu.
"terimakasih Tuan." jawab Fly dan Momo begitu jantungan.
"Tuan? ta.. tapi saya hanya tamatan SMA dan saya sempat kuliah namun tidak tamat, apa Tuan tidak malu memperkerjakan saya?." tanya Momo menunduk takut.
"buktikan saja kemampuanmu sisanya tidak usah pikirkan..!" kata Cashel dengan dingin membuat Momo bersorak gembira dalam hati.
"terimakasih Tuan..! saya akan buktikan kemampuan saya." jawab Momo merasa kagum dengan kebijakan Cashel dalam mencari karyawan.
hanya sebatas kagum saja bukan niat ingin memiliki, Abin memanggil seseorang untuk membawa kedua perempuan yang dinyatakan menjadi Asistennya ke Ruangan yang telah Abin sediakan.
"aku butuh 1 diantara kalian menjadi Pengawal Istriku..! kalian bertiga lulusan ilmu beladiri, mari aku lihat kemampuan kalian satu sama lain." kata Cashel.
Pengawal? mereka kebingungan saat Cashel butuh Pengawal sebab tidak ada dalam surat lowongan pekerjaan Asiantama yang beredar tentang hal ini, tapi mereka tentu tidak mau ketinggalan saat Cashel mengatakan gaji nya yang 2 kali lipat lebih banyak dari Asisten karna Cashel membeli nyawa mereka.
bagi seorang Pengawal tentu saja wajar membeli nyawa terlebih lagi mereka memang lulusan Ilmu beladiri, karna kecilnya lowongan pekerjaan Pengawal membuat mereka harus berlomba-lomba mendaftar pekerjaan apapun dari pada menganggur.
.
__ADS_1
.
.