
.
.
.
Cashel memeluk Diana dengan lembut, "aku memaafkanmu jangan merubah sifatmu ya? biar aku yang jahat kamu tidak perlu menjadi jahat sayang". bisik Cashel.
"kamu baik Cashel..! sangat baik". Diana tidak terima Cashel menyebut dirinya jahat padahal bagi Diana malah sebaliknya.
Cashel tersenyum saja, jujur saja Diana adalah satu-satunya manusia yang mengatakan dirinya baik padahal Keluarganya sendiri mengatakan Cashel jahat, tidak punya hati selalu mementingkan diri sendiri, dan Cashel tidak mengelak karna Cashel memang jahat dan kejam.
sikejam tak punya hati dari Asiantama, itulah julukan Cashel dahulu. sepertinya Tuhan melembutkan hati Cashel khusus untuk Putri Diana hanya Diana yang bisa membuat Cashel menjadi baik sesuai perkataan Diana sendiri yang mengatakan Cashel sangat baik.
.
di Kastil,
"ada apa Elizia?". tanya Diana melihat Elizia datang menemuinya sementara Diana sedang bersiap dibantu Eka yaitu salah satu dari 5 Pelayan yang suka bekerja dengan Diana.
Eka dan yang lainnya melangkah mundur memberi jalan untuk Elizia sehingga mereka berada dibelakang Diana.
"kamu mau ke Istana Pangeran Deniel Diana?". tanya Elizia dengan ramah.
Diana melihat Elizia dengan seksama, "aku tidak mau kamu membuatku menjadi bonekamu lagi Elizia". batin Diana yang tau Elizia pasti merencanakan sesuatu lagi.
Diana tidak habis fikir setelah Elizia kehilangan segalanya tapi pikirannya yang haus tahta itu tidak bisa hilang, Elizia yang masih saja bisa berpikiran jahat dan merugikan Diana saja.
"hmm". jawab Diana sambil membenahi gaun depannya.
"apa aku boleh ikut? aku ingin melihat adiknya Pangeran Deniel". tanya Elizia dengan senyuman manisnya.
Diana menatap Elizia yang tersenyum manis, "kamu bisa minta izin pada Ayah".
perkataan Diana tentu membuat Elizia melebarkan matanya karna Ia sedang di hukum oleh Bart untuk tidak keluar Rumah masalah Elizia yang memprovokasi Bart, jika Elizia melanggar maka Ia akan kehilangan jari telunjuknya.
"apa tidak bisa ikut saja? Ayahanda sangat sibuk dan aku tidak mungkin merepotkannya". tanya Elizia masih ramah dan sabar.
__ADS_1
Diana menggeleng kepalanya, "aku tidak bisa melanggar perintah Ayah..! walaupun kamu bukan seorang Putri mahkota lagi tapi kamu harus tau kalau kamu tinggal dikawasan Kastil kekuasaan Ayah, kamu harus izin pada Ayah walau sibuk sekalipun".
Elizia merubah ekspresinya, "apa kamu takut aku merebut Pangeran Deniel darimu? tenang saja Diana aku akan membelamu nanti untuk bersatu dengannya".
Diana tidak bisa mengerti alur pikiran Elizia, "sebenarnya apa yang kamu mau Elizia? bukankah kamu tau peraturan bangsawan di tempat ini sangat banyak? kamu seorang mantan Putri mahkota apa kamu sudah melupakan hukum kita? aku tidak akan pernah bisa bersatu dengan Pangeran Deniel yang sudah meninggalkanku karna keputusannya sendiri itu sama saja mencoreng nama baik Kerajaannya sendiri".
Elizia merasa tertampar oleh kata-kata Diana saking semangatnya Ia ingin Diana dan Deniel menyatu membuatnya lupa hukum bangsawan.
"kalau begitu izinkan saja aku ikut". Elizia bersikukuh mau ikut dengan Diana.
"sana temui Ayah dulu..! Ayah mengantarku ke gerbang kalau aku membawamu sama saja aku mencari amarah Ayahanda". jawab Diana dengan sabar lalu berbalik meminta Eka membenarkan gaun depannya.
Elizia yang awalnya marah seketika mengepal karna Bart juga akan mengantar Diana, Ia keluar dari Kamar Diana.
"Nona?". Eka memandang Diana.
Diana tersenyum, "tidak apa..! Elizia memang seperti itu sejak dulu, sebenarnya aku kasihan padanya tidak punya Ibu lagi sama sepertiku tapi setidaknya aku punya Ayah sedangkan dia tidak punya Ayah kandung. huhhh...! tapi dia tidak berubah juga".
pelayan Eka dan yang lainnya merasakan betapa baik hatinya Diana, sebenarnya Diana bisa saja membujuk Bart menukar Kamarnya dengan Kamar Elizia tapi Diana tidak mau padahal sudah punya kekuasaan untuk mendepak Elizia.
.
Diana disambut baik oleh Rajab dan En, sedangkan Deniel sedang berada di Perpustakaannya seolah tidak berani bertemu dengan Cashel yaitu sosok hantu Putri Diana.
"dimana hantumu Putri Diana". tanya En penasaran.
"dia akan datang yang mulia karna dia sedang ada urusan sebentar". jawab Diana dengan sopan.
Rajab meminta En membawa Diana masuk ke Ruangan biasa, Diana diperlakukan begitu baik oleh pihak Istana itu padahal Diana merasa tidak nyaman diistimewakan oleh mereka.
"aku lebih suka bersama Cashel". batin Diana teringat hari kencan pertama nya dengan Cashel, mereka berdua bersenang-senang dalam kesederhanaan jauh dari kesan mewah.
"aku juga". bisik Cashel ditelinga Diana.
Diana berdiri seketika dengan raut wajah kaget membuat En dan Rajab juga ikut berdiri dengan wajah panik bertanya pada Diana.
"aah..? bukan itu yang mulia..! maafkan saya, saya.. hm..? saya...?". Diana tergagap bingung menjelaskan masalahnya.
__ADS_1
"Cashel? kamu sejak tadi melihatku? kamu disampingku?". tanya Diana dengan kesal tapi dalam pikiran saja.
"hmm..? aku melihat belah*n dad*mu yang terlihat tadi". bisik Cashel seketika wajah Diana memerah lalu Ia memekik menutupi wajahnya yang malu.
En dan Rajab kebingungan dengan perubahan wajah Diana lalu bertanya dengan sopan lagi.
"maaf yang mulia..! teman saya sangat jahil dan sejak tadi dia ada disini bersama kita maka nya saya sedikit kesal". jelas Diana dengan sopan padahal wajahnya sangat merah saat ini.
Cashel seketika memperlihatkan wujudnya berada disamping Diana, En dan Rajab benar-benar langsung menghormati Cashel yang mau datang melihat Putrinya.
"jika bukan karna Putri Diana aku tidak akan melakukannya". jawaban Cashel yang terdengar seperti manusia kejam tapi tidak membuat Rajab dan En sakit hati.
Diana menatap kesal Cashel yang mengerjainya bahkan sekali lagi Diana tertipu bahwa Kekasihnya itu mesum menggunakan kekuatannya demi keuntungan sendiri dan seenak jidatnya saja, walau begitu Cashel tidak pernah melec*hkan kekasihnya itu hanya senang memandang saja.
.
Cashel dan Diana berpegangan tangan dibawa ke suatu Ruangan tertutup tapi tempat itu berlapiskan berlian, sungguh kamar itu sangat Indah membuat Diana semakin yakin bahwa Putri Rajab dan En sangat disayang.
"ada apa?". bisik Cashel melihat Diana tengah menatap sendu En yang mengelus wajah Putri kesayangannya.
Diana menggeleng kepalanya sambil menghapus air matanya cepat dan tersenyum ke Cashel, Cashel tau kalau Diana sangat rindu kasih sayang seorang Ibu.
"geser sayang..! biarkan Tuan Cashel melihatnya". pinta Rajab menarik lengan En yang menciumi wajah Putri mereka yang sangat pucat.
"Putri Erika Tuan, nama anak saya Erika dan umurnya 18 tahun". Rajab menjelaskan ke Cashel dengan sopan.
DEG...!!
Cashel melihat gadis berumur 18 tahunan itu tengah terkapar tidak berdaya, bukan maksud Cashel jatuh cinta pada gadis itu tapi Ia tiba-tiba teringat adik kecilnya Tyara yang seumuran dengan Putri yang sedang meregang nyawa itu.
"ada apa Cash? apa kondisinya sangat parah?". tanya Diana mengelus lengan Cashel yang tampak terdiam memandang Putri Erika Ababa.
.
.
.
__ADS_1