Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
kaget


__ADS_3

.


.


.


Bubby memperhatikan gerak-gerik Rara lalu tanpa sadar bibirnya tertarik keatas.


"kalau dilihat-lihat dia seksi juga." gumam Bubby menscaner setiap inci wajah Rara segera Ia menggeleng.


"apa yang aku pikirkan?." gumam Bubby sedangkan Rara menoleh ke Bubby yang bergumam itu.


"ada apa Tuan? tuan bilang apa?." tanya Rara.


Bubby tersenyum, "tidak ada..!"


Rara kembali dengan pekerjaannya mencuci piring, Bubby merasa menjadi perempuan sungguh repot bisa masak, mencuci piring, beres-beres Rumah seluas itu, kerja, sungguh Bubby merasa kagum dengan gadis mungil ini yang bisa segalanya tanpa mengeluh.


inilah alasan membuat Bubby tidak pernah merendahkan perempuan, Ia menghormati perempuan tanpa merusak. mungkin Bubby terlihat seperti Pria Playboy tapi sungguh hatinya tidak pernah punya niat mempermainkan perempuan kalau memang iya pasti sudah banyak kekasih Bubby sekarang ini.


semua perempuan bisa Bubby pacari atau bahkan tidur semalam saja, tapi sayangnya Bubby bukan penjahat kelam*n walau banyak perempuan yang mau padanya hingga rela menjadi yang ke 10,11,12 dan ke 100 mungkin.


Bubby berdiri dan duduk disamping westafel Rara yang sedang mencuci piring, "menurutmu perempuan seperti apa tipe idealku?." tanya Bubby ke Rara.


Rara perlahan mengurangi gerakannya, "saya tidak tau Tuan mungkin cantik dan seksi."


Bubby berdecak, "apa aku serendah itu dimatamu?"


"hah?." Rara sontak saja menjatuhkan piringnya hingga pecah dan Rara kaget meminta maaf karna harga piring Bubby bukanlah murah.


"tunggu". Bubby menahan tangan Rara yang siap mengumpulkan beling-beling pecahan piring nya.


"biarkan saja! aku bisa beli baru." jawab Bubby dengan santai.


"ta.. tapi Tuan..? semuanya pecah."


"ya iyalah..! ini bahannya keramik kalau pecah satu ditimpa yang diatas sudah jelas pecah semua." jelas Bubby mematikan kran air.


"maafkan saya Tuan." ucap Rara yang tidak enak Bubby begitu baik.


"baiklah..! sebagai permintaan maaf aku mau jawabanmu, apa aku serendah itu? apa aku begitu buruk? apa semua wanita menilaiku seperti itu? mereka ingin Pria Kaya dan Tampan tapi kami bukan Pria bodoh yang melihat Bentuk tubuh juga wajah saja, apa gunanya cantik dan seksi kalau tidak berguna."


Rara terpaku, Ia tidak mengerti mengapa Bubby bertanya seperti itu.


Bubby memegang bahu Rara yang membisu, "tipe idealku hanya aku yang tau jadi jangan percaya penilaian orang ya? aku tidak suka dinilai buruk olehmu atau Ibu Lily, nanti siapa yang masak untukku? aku tidak mau kalian kesal hingga menambah garam dimasakan yang mau akan makan, aku benci makanan asin." gerutu Bubby.


Rara seketika tertawa hingga Bubby tersenyum mengusap kepala Rara yang terpaku seketika dengan wajah berubah syok dalam hitungan detik.

__ADS_1


"nah begini kan bagus..! sejak kau pulang dari Jerman wajahmu sangat tegang." kekeh Bubby lalu melepaskan tangannya.


Rara menatap kepergian Bubby, "ada apa ini? apa Tuan kedua memberiku angan-angan?."


Rara menggeleng kepalanya, "mana mungkin..! Tuan Muda hanya tidak mau kami memberinya makanan asin, padahal aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu pada Tuan." gumam Rara tersenyum kecut.


Rara berbalik lalu terbelalak seketika saat menyadari sesuatu, "aahh? iya..? Tuan Muda mengenakan Baju yang aku buat." Rara membekap mulutnya yang baru menyadari kebodohannya.


.


di Kamar Bubby,


"huhh..! semoga saja dia mengerti dan tidak akan berniat membuat makanan asin untukku." gumam Bubby mengelus perutnya.


"Bubuuuuu?? bubuuu?."


Bubby menoleh ke Pintu kamarnya, Ia seketika sumringah langsung berlari kearah Pintu dan membukanya terlihatlah oleh Bubby seorang gadis mungil yaitu Asya tengah mengerjabkan mata besarnya berwarna Violet ke Bubby.


"Buubuu?? Asya ain ama bubu oleh?." tanya Asya dengan tingkah lucunya.


Bubby menggendong Asya lalu menciumi wajah Asya bertubi-tubi, "untuk Asya apapun itu akan Bubu lakukan."


Asya menyeringai lebar melingkarkan tangan mungilnya dileher Bubby, hanya Asya satu-satunya yang memanggil Bubby dengan sebutan Bubu padahal Keluarganya sudah meminta Asya memanggil Bubby itu Paman atau Uncle tapi gadis mungil itu sangat keras kepala padahal masih kecil.


"sayang?." Crystal melihat Asya digendongan Bubby.


"sayang? kamu tidak mau ikut Papa sama Mommy karna ingin main sama Bubu ya? memangnya main sama Bubu lebih asik?." tanya Crystal.


"biarkan saja sayang." Dewi Par muncul mengelus kepala Asya yang semakin melingkarkan tangannya dileher Bubby.


"memangnya Kakak Ipar dan Kak Cashel kemana Bunda? Oma?." tanya Bubby.


"mereka ke Pulau Nethal sama Dylon cuma Asya nggak mau ikut." jawab Crystal.


Bubby mencium pipi Asya, "biasanya nempel sama Papa meluluk." gemas Bubby.


Dewi Par dan Crystal pun tertawa, tiba-tiba mereka menoleh mendengar suara riang Dinda menyapa anaknya (anak Crystal adalah anak Dinda begitu juga sebaliknya).


"Maaaa?." senyum menggemaskan Asya ke Dinda (Oma tapi karna cadel memanggil Maa).


Putra menggeleng-geleng kepala saja dengan tingkah Istrinya, Dinda memang sayang sekali pada Asya padahal Dinda juga punya anak kandung alasannya karna anaknya itu sudah besar jadi tidak lagi imut.


Putra Izin pulang dan semua orang mengizinkan Putra pergi, tak lupa Putra mencium kening serta pipi Istrinya dengan mesra.


.


"marmut kecilku sayang." gemas Dinda menciumi wajah Asya yang enggan melepaskan diri dari Bubby.

__ADS_1


Dinda tidak memaksa Asya berpindah kepadanya karna Ia tau kepribadian gadis kecil itu yang terkadang ada Moodnya sendiri, ingin bersama siapa saja yang Asya inginkan berbeda dengan Dylon yang sangat mematuhi Diana. maka, Asya keras kepala walau terkadang mau mematuhi dan bisa juga melawan kehendak papanya itu.


Asya anak Cashel, Dylon anak Diana itu adalah julukan dari Keluarga besarnya.


"sepertinya hari ini Asya memang ingin bersama Bubunya." tawa lebar Crystal.


Asya menyeringai lebar, "Bubu unya asya hali ni, asya itut bubu."


semua yang mendengar perkataan Asya yang lucu tertawa gemas, Bubby mengecup gemas pipi gembul gadis kecil itu tentu dengan senang hati membawa Asya kemana saja hari ini.


Dinda mengerucutkan bibirnya saat Bubby membawa pergi Asya yang tertawa riang dibawa jalan oleh Bubunya itu.


"sudahlah Din..! kenapa kesal hmm? bukankah seminggu yang lalu Asya nempel saja padamu hmm?." tawa lepas Crystal.


Dinda bergelayut dilengan Crystal, "aku mau setiap hari ditempelin oleh Asya Kak, cucu Kakak itu sangat menggemaskan."


Crystal dan Dewi Par menggeleng kepalanya lalu mengajak Dinda ke Ruang tamu.


.


Bubby ternyata membawa Asya ke Apartemennya.


"Asya sayangg? tunggu disini ya? Bubu ambil sesuatu dulu ya?." pinta Bubby meletakkan Asya di Sofa lembut.


Asya mengangguk patuh membuat Bubby gemas mengecup puncak kepala Asya yang sangat patuh.


Bubby berlari ke arah Kamarnya sedangkan Asya duduk manis ditempatnya, tak berapa lama kemudian Rara keluar dari Dapur dan terbelalak melihat seorang gadis kecil menggemaskan duduk patuh disofa.


"heiii?? anak kecil? kok bisa ada disini?." Rara berlari ke arah Asya yang menoleh kekiri serta kekanan seperti berpikir kepada siapa Rara berbicara.


"aduuh..! kamu lucu sekali cantik." Rara duduk bersimpuh dihadapan gadis itu dan pasti langsung jatuh hati pada sosok mungil itu tiba-tiba saja Rara kaget melihat bola mata gadis itu Violet.


.


.


.


Nae mau tamatkan tapi kasihan Bubby dan Tyara belum punya pasangan, wkwk..! kita tambahin Episodenya buat mereka ya biar 1 Novel aja sekalian.


Terimakasih..! semoga Kalian menyukai kisah mereka nanti diselipkan pemeran Utama (Diana dan Cashel) dalam Novel ini yang sudah Bahagia, Nae udah nggak tega kasih masalah buat Pemeran Utamanya.. hahaha..


Kalau Kisah Cashel dan Diana saja ntar jadinya boring (membosankan) wkwkwk...! Selamat beraktifitas pagi..


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2