Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
menjauh


__ADS_3

.


.


.


diam cukup lama, perut Gadis di kursi roda itu pun mulai berbunyi.


"Nona?". isak tangis Irina.


"kenapa kamu cengeng sekali Irina? ini bukan pertama kalinya aku kelaparan kan?". tanya Gadis itu dengan bahasa isyaratnya.


Irina semakin menangis saja, pikirannya sungguh meribut tanpa Ia ketahui Cashel dan Lionel mulai terganggu dengan ocehan dalam otak kecil gadis berpakaian biasa itu.


"mau apa?". tanya Lionel menahan lengan Cashel yang hendak berdiri.


"membantu orang tidak makan". jawab Cashel mengabaikan Lionel lalu melangkahkan kaki ke arah Gadis yang berisik itu.


Cashel tidak melihat paras gadis di kursi Roda itu hanya mendekati Irina dan memberikan 1 bungkus makanan yang diberikan Lionel untuknya.


"a.. apa ini Tuan?". tanya Irina dengan bahasa Inggris.


"aku tau kalian bisa bahasa Indonesia". kata Cashel dengan wajah datarnya.


Irina terkejut mendengar Cashel bisa berbahasa Indonesia, gadis yang di kursi Roda itu hanya mendengar suara berat Cashel yang Ia tebak Pria baik tapi Ia tidak berbicara karna Ia memang bisu hanya membuatnya merasa rendah saja.


"te.. terimakasih Tuan Muda". ucap Irina kikuk entah bagaimana caranya Cashel bisa tau bahwa mereka butuh makanan.


"aku bukan Tuan Muda hanya Pria miskin yang juga di asingkan". kata Cashel dengan tampang datarnya lalu melangkah pergi meninggalkan kedua gadis itu yang terhenyak.


"diasingkan?". gumam gadis di kursi roda itu tanpa suara menoleh ke arah Cashel dengan instingnya mendengar langkah kaki Cashel yang menjauh darinya.


"sudah?". tanya Lionel


"hmm.. ayo pergi..! tempat ini tidak tenang lagi, sepertinya aku harus cari tempat baru". kata Cashel.


"ya". jawab Lionel pun tak bisa berkata-kata sebab Ia juga suka ketenangan tanpa mendengar isi pikiran manusia.


Lionel memang cerewet tapi mendengar pikiran orang lain juga tak membuatnya suka, terkadang kelebihannya itu juga membuatnya suka hal yang tenang walau bibirnya suka mengoceh.

__ADS_1


"siapa tadi Irina?". tanya Gadis di kursi roda itu memutar arah ke Irina dengan bahasa Isyarat dan kebetulan Irina melihat ke arah Nona nya.


"saya tidak tau Nona Diana, saya pikir dia adalah orang yang baik entah bagaimana dia tau kita butuh makanan". kata Irina dengan semangat membuka kotak makanan yang diberikan oleh Cashel.


Irina terdiam melihat isi kotak itu adalah makanan sehat, ia sudah lama sekali tidak memberi Nona nya makanan sehat sebab harganya sangat mahal dan tidak sesuai dengan uang yang ia punya.


"apa itu sayuran Irina?". tanya Diana tersenyum cukup lebar ketika hidungnya mencium aroma khas sayur tanpa suara sambil memegang ujung baju Irina.


"be.. benar Nona". jawab Irina dengan gugup melihat senyum Diana yang sudah lama tidak terlihat.


.


sejak saat itu selama beberapa hari kedepan Cashel tidak datang lagi ke taman itu, taman itu menjadi tempat Putri Diana menenangkan diri.


"apa ini tempat barumu Cash?". tanya Lionel terkekeh merasakan tempat yang jauh lebih tenang dari sebelumnya yaitu taman di lantai teratas Kampus itu.


"hmm..! lumayan". jawab Cashel.


"lihatlah aku beli pakaian baru dengan gaji pertamaku Cash". Lionel memamerkan set baju baru yang Ia beli lewat busana model ternama di London.


"hmm". jawab Cashel fokus dengan lukisannya.


Lionel menghela nafas panjang, Ia menyimpan baju nya karna Cashel sama sekali tidak tertarik dengan perkataannya.


Cashel menghentikan aktifitasnya, "apa itu saja yang kau fikirkan Kak?". tanya Cashel.


"iya, kau sudah tau kan bagaimana Keluargamu? mereka akan menjodohkanmu di umurmu yang tepat 26 tahun sementara kamu belum memiliki kekasih untuk menikah di umur 27 tahun". ujar Lionel.


"jika aku tidak menemukannya aku tidak akan menikah, belum ada wanita yang menarik". kata Cashel dengan serius lalu kembali melanjutkan aktifitasnya.


Lionel mengangguk saja, "semoga saja kamu tidak dipaksa menikah seperti di drama, Novel ocehan Tyara yaitu nikah Kontrak". ledek Lionel.


"apa kau fikir hidup kita dongeng kak? aku tidak akan membuang waktu menikah seperti itu". jawab Cashel tanpa beban.


Lionel mendengus seolah Cashel punya perempuan idaman saja padahal siapapun tau Cashel tidak punya tipe Ideal, setiap kali ditanya keluarganya selalu saja jawabannya adalah simpel yaitu gadis yang bisa membuatnya tertarik atau jatuh Cinta dipandangan pertama.


"dari sekian juta perempuan di Indonesia tidak ada yang membuatmu tertarik". cibir Lionel.


Cashel diam saja, Ia menoleh ke ponselnya saat ponselnya bergetar memperlihatkan potret Bunda nya yang artinya panggilan dari Crystal.

__ADS_1


Lionel meledek Cashel anak Bunda tapi baru beberapa saat saja ledekannya buyar saat Ia juga di VC oleh sang Ibunda (Jessica), Lionel berdiri dan menjauh dari Cashel.


.


Cashel berbicara cukup lama dengan Crystal dan Keluarganya, Ia sampai pusing mendengar celotehan Tyara dan Bubby mengenai sosok gadis yang bisa menggerakkan hati batu Kakaknya itu.


Cashel menghela nafas panjang setelah mematikan ponselnya, "perempuan...!". gumam Cashel pelan memikirkan perkataan keluarganya.


Cashel menyunggingkan senyum miringnya, "mana ada gadis yang bisa menggoyahkan mataku apalagi hatiku". gumam Cashel seolah merasa hatinya tidak akan goyah dengan cara gadis manapun saat memandangnya.


"hati-hati dengan perkataanmu Cash..! kamu baru saja berkata sombong nanti Tuhan menghukummu". sambar Lionel tiba-tiba sudah duduk disamping Cashel mendengar perkataan Cashel.


"hmm..! ku harap perkataanmu benar". kata Cashel dengan santai membuat Lionel geleng-geleng kepala saja.


"ayo ke Toko..!". ajak Lionel melihat jam tangannya.


Cashel pun melihat jam tangannya lalu menoleh ke Lionel dengan tanda tanya, lalu Lionel menjelaskan bahwa hari ini mereka kedatangan 2 karyawan baru dan itu membuat Cashel mengerti.


.


di taman sunyi,


"kenapa Tuan baik itu tidak terlihat lagi ya Nona". kata Irina dengan raut wajah penasaran sambil membenahi rambut Diana.


Diana tersenyum kecut lalu berkata dengan bahasa Isyaratnya, "mungkin dia merasa kita mengganggunya, aku rasa kita memakai tempatnya".


"bagaimana Nona bisa tau?". tanya Irina heran.


"Nada bicaranya saat itu sangat dingin dan terkesan menjaga jarak dari kita, biasanya Pria seperti itu Introvert suka hal yang menenangkan dan benci diganggu". jelas Diana dengan gerakan tangan dan tatapan kosongnya yang memiliki sorot kesedihan mendalam.


"benarkah? Nona sangat hebat bisa mengenali kepribadian orang hanya dengan mendengar nada bicaranya". puji Irina dengan bangga.


Diana tersenyum saja, Ia memejamkan matanya merasakan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, terkadang Ia lebih senang di Kamar saja karna tidak ada yang spesial baginya kuliah di kampus ternama ini malah Ia merasa diperlakukan seperti kuman dan hama yang harus dibasmi, walau matanya tidak bisa melihat tapi nada bicara dosennya sudah membuat Diana tau bahwa dirinya adalah beban bagi mereka.


"padahal Pria itu sangat tampan Nona". kata Irina tersenyum lebar membayangkan jika Pria yang kemarin itu adalah pangeran berkuda putih untuk Nona nya tapi Ia tau kalau Pria itu bukan orang kaya.


Irina memang suka berkhayal untuk Nona nya supaya bisa lepas dari belenggu menyesakkan di Rumah megah keluarganya sendiri.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2