
.
.
.
Cashel ternyata sudah menghilang selama 5 jam, Diana sangat takut dengan apa yang menimpa Irina bahkan membayangkan hal-hal buruk terjadi pada Pelayan terdekatnya itu.
Diana tengah mondar-mandir di Balkon menunggu Cashel kembali.
Diana yang sangat takut langsung berlari menyambut kemunculan Cashel Ia memegang kedua tangan Cashel.
"bagaimana? dimana Irina?". tanya Diana dengan khawatir.
"dia baik-baik saja, besok aku akan mengembalikan temanmu". kata Cashel dengan senyuman.
"dimana Irina? izinkan aku kesana". pinta Diana menggenggam tangan Cashel penuh harap.
Cashel diam membuat Diana semakin khawatir dan mempertanyakan keadaan Irina, "percayalah padaku, dia baik-baik saja". ujar Cashel dengan serius.
"aku tidak percaya...! hiks.. hiks.. coba perlihatkan padaku Cash, aku mau melihatnya". Diana berkaca-kaca memandang Cashel dengan rasa takut luar biasa terpancar di bola mata biru gelapnya itu.
Cashel menangkup kedua pipi Diana lalu mengecup mata Diana secara bergantian, Diana masih menangis memegang lengan Cashel.
"jangan menangis!". pinta Cashel yang hatinya terasa sakit melihat pandangan gadis dihadapannya itu.
Diana mengangguk patuh tapi air matanya masih saja berkhianat tidak mau mematuhinya.
"aku tidak tau kenapa air mata ini masih jatuh, aku tidak sengaja". Diana menghapus air matanya.
Cashel merangkul pinggang Diana lalu meletakkan keningnya di Kening Diana lalu pandangan Diana menjadi buram dan tertidur dipelukan Cashel, Cashel hanya ingin Diana tetap beristirahat demi kesehatan tubuh Diana sendiri.
"aku tidak bisa diam lagi Diana..! aku akan menghabisi jal*ng besar itu". bisik Cashel ditelinga Diana sambil menatap nyalang ke arah depan.
"air mata Diana akan aku balas dengan nyawamu". gumam Cashel dengan pandangan tajam dan sudut bibir tertarik sangat tipis.
.
ke esokan harinya,
Diana tersentak bangun dari tidurnya dan kaget melihat kamar yang asing baginya.
__ADS_1
"ini Kontrakan Cashel". Diana berdiri melepas selimut yang membungkusnya dan berlari mencari keberadaan Irina.
Diana di dapur dan melihat Lionel, Ia tidak tau siapa Lionel tapi Diana pernah mendengar bahwa Cashel punya teman di Kontrakan itu yang Diana bisa tebak Lionel lah yang Cashel katakan.
"haii Putri?". sapa Lionel dengan kikuk dibalas Diana dengan tundukan sopan.
"dimana Cashel? Irina?". tanya Diana dengan gugup karna baru pertama kalinya berbicara dengan manusia lain diluar Kastilnya.
"Cashel sedang keluar dan Pelayan Putri ada disana". tunjuk Lionel dengan semua jemari tangannya.
Diana menoleh ke arah tunjuk Lionel, "Irina?". Diana berlari secepat kilat ke arah Irina dan memegang tangan Irina yang sedang tertidur.
Lionel menghela nafas lega, "kenapa aku gugup? huhh...! hei.. sadarlah Lionel kamu itu bukan rakyatnya kenapa harus tunduk?". celoteh Lionel dalam hati.
Diana adalah Tuan Putri tentu saja di hormati tapi sebelumnya memang tidak ada yang menghormati Diana, sejak kasus Elizart terungkap banyak yang prihatin pada Diana.
Lionel kan pelajar saja di negara ini bukan warga tetap dinegara Diana lahir hingga harus tunduk pada Diana, mungkin rasa hormat Lionel hanya sebatas gadis hebat yang bisa menahan penderitaan yang tidak manusiawi itu dan menurut Lionel pantas Cashel jatuh cinta pada Putri Diana.
.
"silahkan makan Putri". Lionel memberi sarapan pada Diana.
"hmm? bisakah kamu jangan memanggilku Putri? aku dengar kamu saudaranya Cashel ya?". tanya Diana dengan ramah.
Diana tersenyum mendengar cerita Lionel lalu mengucapkan terimakasih karna sudah merawat teman dekatnya, Diana tidak menyebut Irina adalah Pelayannya hal itu menunjukkan betapa bernilainya Irina bagi Putri Diana.
"pantas saja dia sampai rela mempertaruhkan nyawanya". batin Lionel tersenyum tipis lalu beranjak pergi dari Diana yang butuh waktu bersama Irina.
Diana merawat Irina yang masih tertidur dengan sabar dan penuh perhatian, cara Diana memperlakukan Diana terlihat oleh Lionel.
tiba-tiba Diana dan Lionel menoleh ke asal suara saat Kontrakan terbilang masih elit itu terdengar ada yang menekan sandi,
"mungkin Cashel". jawab Lionel dan Diana berdiri dari sofa hendak menyambut kedatangan Cashel.
Cashel masuk membawa beberapa Paperbag berisi pakaian untuk Diana dan Irina kedepannya sebab saat ini Irina memakai baju kaus kebesaran Lionel, Lionel harus mengurus Pelayan itu atas perintah Cashel.
"Cashel?". Diana berlari mendahului Lionel yang segera melangkah mundur sambil menahan senyum melihat kedekatan mereka.
Lionel berbalik dan memilih naik ke Kamarnya yang ada di lantai atas.
"ada apa? mau mandi? aku beli pakaian baru untukmu". kata Cashel memperlihatkan paperbag yang Ia bawa.
__ADS_1
"terimakasih kamu sudah menyelamatkan Irina". ucap Diana dengan tulus.
Cashel mengangguk lalu mengelus kepala Diana, "apa kamu udah sarapan?". tanya Cashel sambil menggenggam tangan Diana membawanya menuju sofa.
"aku tidak punya banyak kamar disini jadi aku meletakkan temanmu disini". kata Cashel dengan serius.
Diana mengangguk, "bagiku perlindunganmu lebih berarti dari apapun, aku tidak tau penderitaan apa yang Ia lalui".
Cashel tersentak melihat Diana seolah tau jika ada seseorang yang menyiksa Irina, tidak salah lagi bagi Cashel yang bergerak cepat pula menghabisi Elizart, Diana mungkin belum tau begitu juga media sebab Cashel melakukan cara yang lebih jitu tadi malam, semua akan terungkap dan akan trending topik beberapa saat lagi.
.
sore harinya,
"apa Putri Diana akan menginap disini?". bisik Lionel.
Cashel menganggukkan kepalanya sambil memperhatikan Diana yang tiada lelah mengelap tubuh Irina dengan kain lembab dan basah demi menjaga tubuh Irina jangan sampai bau, Diana memperlihatkan pada Cashel dan Lionel bahwa Irina sangat berarti bagi Diana.
"apa dia belum melihat berita?". tanya Lionel lagi.
"kau lihat saja kak? dia sibuk dengan temannya, akan lebih baik dia tidak usah tau". jawab Cashel.
"kamu membawa Putri Raja apa Raja tau?". tanya Lionel meledek.
"dia sudah memberi izin dan membebaskanku melakukan apa saja di Kastilnya selagi tidak membunuh rakyatnya". jawab Cashel.
Lionel menggeleng kepalanya, "dia seorang Raja tapi demi Rakyatnya tidak tau bahwa anaknya menderita, Aku baru tau seorang Raja juga bisa lemah".
Cashel tidak menjawab sebab memang benar hal itu, Bart Singh mempercayakan Diana pada Bulan Merahnya.
Diana tidak melihat berita bahkan sampai saat ini dirinya tidak punya ponsel, orang buta tidak butuh ponsel jadi Diana tidak pernah membeli Ponsel tapi kalau Irina tentu punya Ponsel walau tidak mahal.
dimalam hari Cashel sudah selesai mengerjakan tugas kampusnya lalu saat melihat ke Ranjangnya tidak ada Diana yang tidur disana, Ia segera keluar dari kamarnya dan melihat Diana tertidur dengan posisi duduk dilantai dengan tangan memeluk perut Irina.
"aku berjanji tidak akan membiarkan temanmu terluka Diana". batin Cashel yang bertekad tidak akan berbuat kesalahan yang sama karna Cashel tidak akan mengizinkan Diana menangis lagi.
Cashel memindahkan Irina dan Diana di Ranjangnya dengan kekuatannya tak lupa Ia menyelimuti Diana, tangannya terulur mengelus kepala Diana.
"semua akan baik-baik saja Diana". kata Cashel dengan lembut lalu Ia beranjak pergi dan kembali ke meja belajarnya memperhatikan saham Perusahaan Asiantama lewat Ipednya.
.
__ADS_1
.
.