Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 100


__ADS_3

Selepas kepergian Fachri, Fara terus menangis dan menangis. Air matanya terus mengalir seolah takkan ada habisnya. Fara menangisi kepergian orang-orang yang paling berarti dalam hidupnya, keluarganya tercinta. Ibu, Ayah, dan Fachri kakaknya. Orang-orang yang selama ini selalu ada untuknya, mendukungnya, menghujaninya dengan cinta, memanjakannya, kini sudah tiada lagi. Tinggalah Fara sebatang kara, tak tahu lagi apa yang harus diperbuatnya. Tujuan hidupnya adalah membahagiakan kedua orang tuanya dan membuat mereka bangga, tapi sekarang mereka telah tiada.


Fara hanya menangis dan menangis, tak mau makan dan minum. Berkali-kali Fara jatuh pingsan. Kemudian sadar dan kembali menangis lagi. Hasan dan Husein mengurus semua keperluan pemulangan dan pemakaman jenazah Fachri, sementara Harun ayah mereka masih di tahan pihak kepolisian.

__ADS_1


Meskipun kondisinya sangat lemah, Fara memaksa untuk datang ke pemakaman. Kemarin Fara tidak sempat mengantarkan Ayah dan Ibunya ke peristirahatan terakhir karena masih harus memantau kondisi Fachri. Kali ini Fara benar-benar ingin datang ke pemakaman, mengantar sendiri jenazah kakaknya ke peristirahatan terakhirnya. Ibu dan Ayahnya dimakamkan di makam yang sama dengan posisi bersebelahan. Kali ini pun jenazah Fachri akan di makamkan di sampng jenazah Ibunya. Fara berusaha menguatkan diri. Kali ini Fara sudah tidak menangis lagi. Fara tidak ingin keluarganya melihatnya sedih dan menangis. Dan mungkin air matanya juga sudah habis. Wajah Fara sangat pucat dengan tatapan yang kosong. Fara mengenakan baju panjang berwarna putih lengkap dengan kerudung. Fara tidak memoleskan make up sedikitpun, membuat wajahnya yang sembab terlihat jelas, juga matanya yang hitam dan cekung. Fara tidak peduli dengan penampilannya yang menyedihkan. Kali ini Adrian, kekasih Fara turut datang untuk mendampingi Fara melewati masa-masa sulitnya.


Prosesi pemakaman berjalan lancar. Cuaca yang cerah namun teduh berawan menjadi pertanda jika bumi menyambut baik jenazah Fachri. Lantunan doa-doa dipanjatkan usai makam tertutup sempurna. Fara bersama Adrian menaburkan bunga dan menyiram air di atas makam. Satu persatu saudara yang lain melakukan ritual yang sama.

__ADS_1


Prosesi pemakaman telah berakhir, satu persatu pelayat meninggalkan area pemakaman. Tapi Fara masih bergeming di sana. Fara berdoa dan terus berdoa. Berpindah dari satu makam ke makam yang lainnya. Dari makam ibunya, makam Ayahnya, laku makam Fachri kakaknya. Tak lupa Fara menabur bunga dan menyiram air di ketiga makam keluarganya. Gundukan tanah itu masih basah, sebasah hatinya yang penuh air mata.


Perasaan bersalah terus menghantui Hasan dan Husein, meski mereka tak bisa berbuat apa-apa, selain terus menjaga dan memantau kondisi Fara.

__ADS_1


Hari sudah beranjak siang. Sinar matahari yang semula lembut dan teduh kini sudah berubah menjadi panas menyengat. Adrian membujuk Fara untuk pulang, tapi Fara tetap menolak. Keringat mengucur deras di kening dan wajah Fara. Adrian memayungi Fara agar gadis itu sedikit terlindung dari sinar matahari. Tapi kemudian Fara malah jatuh pingsan tak sadarkan diri. Dengan sigap Adrian menangkap tubuh Fara yang jatuh.


Adrian lalu menggendongnya menuju tempat yang teduh, berusaha untuk membuat Fara tersadar tapi tidak berhasil. Adrian lalu membawa Fara ke rumah sakit dengan di bantu Hasan dan Husein. Fara mengalami kelelahan berat, dehidrasi, dan anemia. Untuk sementara Fara harus dirawat di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2