Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 163


__ADS_3

"Sudah lama sekali saya bermimpi untuk menikahkan Anya dan melihat dia hidup bahagia. Kemarin saat kamu melamar, saya terlalu terkejut dan gembira sampai seperti ini! Saya yakin kamu adalah jawaban dari doa-doa saya selama ini, tolong jaga putri saya dan bahagiakan dia, mungkin umur saya tidak lama lagi, apa kamu sanggup?"


"Insya Allah Pak, saya akan usahakan semampu saya..."


"Jadi kapan kamu akan menikahi Anya?"


Husein berfikir sejenak, sebelum kemudian menjawab dengan yakin.


"Besok Pak, saya akan menyuruh orang-orang saya untuk menyiapkan semuanya dan juga menghubungi keluarga saya...saya harap Bapak bisa menunggu...Dan semoga Bapak bisa segera dioperasi setelahnya..."


"Baik, saya suka pemuda yang tegas seperti kamu, baiklah tolong diurus semuanya. Maaf saya tidak bisa membantu Banyak..."


Anya merasa seperti patung. Nasibnya sedang dibicarakan di depan matanya, namun dirinya sama sekali tidak dilibatkan.


Namun Anya juga tidak tega memotong, karena Bapak terlihat begitu antusias. Anya tidak ingin melihat Bapak kambuh lagi.


Setelah selesai bicara dengan Bapak, Anya mengikuti Husein yang berjalan keluar.


"Apa maksudmu? Tidak mungkin kita akan menikah!"

__ADS_1


"Kenapa tidak mungkin? Aku akan menikahimu Anya dan aku berjanji akan berusaha membahagiakanmu semampuku...ini demi kebaikan dan kesembuhan Ayahmu juga..."


"Kamu tidak perlu menikahiku, hanya karema untuk menenangkan Ayahku, ini tidak adil buatmu..."


"Apanya yang tidak adil? Aku menyukaimu dan aku memang nerniat menikahimu? Apa yang salah Anya?"


"Aku bukan wanita yang pantas untukmu! Kamu tahu kan kalau aku sudah..."


Tiba-tiba Husein membekap mulut Anya dengan tangannya. Husein tidak ingin Anya melanjutkan perkataan yang tidak-tidak, sebab Zaki dan Ibu sudah berdiri di belakang mereka.


"Apa dia sudah tahu tentang masa lalumu Anya?"


Yang dimaksud Zaki adalah tentang masa lalu Anya yang pernah hamil di luar nikah. Tanpa Zaki tahu, Bahkan Husein sudah tahu yang lebih buruk dari itu.


Anya hanya mengangguk lemah.


"Aku sudah tahu semuanya dan aku berjanji akan mencintai adikmu dan membahagiakannya semampuku..."


"Baiklah kami percaya padamu, tolong jangan kecewakan kami..."

__ADS_1


"Tapi kak...", Anya masih mencoba mengelak.


"Terimakasih banyak Kak, aku akan segera mengurus dan menyiapkan semuanya, mohon bantuannya..."


Akhirnya Anya hanya bisa terduduk dengan pasrah.


"Tenanglah nak, serahkan semua ini pada Allah, kalau ini yang terbaik, pasti akan dimudahkan jalannya. Jalanilah dan terimalah, jika memang ini takdirmu. Kalau kamu belum mencintainya, insya Allah seiring berjalannya waktu cinta akan tumbuh dalam ikatan yang halal. Kalau kamu merasa belum pantas menjadi istri, maka perbaikilah dirimu agar menjadi pantas. Ibu akan selalu mendoakanmu nduk..."


Kata-kata penghibur Ibu akhirnya bisa menenangkan Anya dan membuat Anya merasa jauh lebih baik.


"Ya Bu, mohon doa restunya. Ibu temani Bapak dan fokus rawat Bapak saja. Biar aku siapkan acara pernikahan sederhana saja, kalau bisa biar dirumah sakit saja..."


Sementara itu tanpa sepengetahuan Anya, Husein sudah bertindak dengan sangat cepat. Husein sudah menyuruh orang-orangnya untuk mengurus semuanya. Dan juga memberi kabar kepada Hasan dan Ayahnya.


"Dasar anak kurang ajar! Bagaimana bisa kamu memberitahuku mendadak begini?"


"Sabar Hasan, situasinya benar-benar darurat, nanti pasti akan kuceritakan semuanya. Sekarang tolong bantu Ayah untuk bersiap-siap, jika memang tidak ada agenda yang lebih penting dari pernikahanku!"


"Baiklah-baiklah, aku akan mengurus semuanya untukmu. Kirimkan saja alamat lengkap orang tua Anya dan rumah sakitnya. Ku pastikan kami semua akan datang besok"

__ADS_1


"Terimakasih banyak Bro, aku tahu kamu memang selalu bisa diandalkan..."


__ADS_2